G:0

G:0
BIARLAH MISTERI TETAP MENJADI MISTERI



“Iya, aku tahu hidupku masih bergantung dari uang Mama. Tapi aku membelinya dari tabunganku. Aku berhak untuk membelikan apa saja, termasuk untuk papa. Mungkin Mama bisa tega membiarkannya menjadi gelandangan, tapi aku tidak. Aku janji itu adalah bantuanku yang terakhir untuknya.”


Clara mengakhiri percakapannya dengan sang mama. Ia memegang keningnya seakan untuk menahan rasa pusingnya. Entah bagaimana mamanya bisa tahu perihal dirinya yang membelikan rumah untuk papanya.


“Punya orang tua seaneh mereka benar-benar merepotkan. Grafit, bagaimana rasanya tidak pernah punya orang tua? Pasti menyenangkan.”


Grafit yang sedang melewati Clara langsung menghentikan langkahnya dan memberikan tatapan tajam. “Non serius ingin aku menjawabnya?”


Clara memberikan senyum merasa bersalah dan membiarkan Grafit melanjutkan perjalanannya.


“O ya, kau jadi pergi ke hutan rahasia?” tanya Clara saat teringat rencana yang disampaikan Grafit tadi malam.


“Jadi. Aku masih ragu dengan penawar yang diberikan Candy Boy itu. Guruku pasti bisa memastikan apakah tubuhku benar-benar sudah pulih atau belum. Sekalian aku ingin mempelajari beberapa jurus lagi dan menunjukkan materi Ungravity pada guru. Mungkin beliau bisa mengendalikan gravitasinya. Biar bagaimanapun, benda itu hanyalah tiruan Batu Raya. Pasti ada cara untuk mengendalikannya.”


“Katakan saja kau rindu gurumu,” goda Clara yang membuat Grafit tersenyum malu.


“Ya, ketika hampir mati karena racun itu, aku mengingat orang-orang yang kusayangi dan guruku adalah salah satunya. Setelah sembuh, aku jadi merindukannya. Beliau adalah orang tua bagiku.”


“Bolehkah aku ikut? Kebetulan saat itu ada acara di perusahaan mama dan biasanya aku diminta mendampinginya. Di gunung itu jaringan internet sangat sulit. Akan menjadi alasan yang bagus bagiku untuk memutuskan komunikasi sementara dengannya.”


Grafit geleng-geleng kepala. Mereka memiliki alasan yang sangat bertolak belakang. Akhirnya Grafit setuju, tapi hanya sampai kaki gunung saja. Grafit akan ke hutan rahasia, sementara Clara meneruskan perjalanannya untuk mendaki ke puncak gunung.


“Baiklah, aku akan memilih alasan yang lebih baik. Rencananya Kapten Rian akan datang ke acara itu. Setelah mengetahui kalau ia adalah bagian dari Kraken, aku tidak ingin melihat wajahnya.”


Akhirnya Grafit mengangguk tanda menerima alasan terbaru Clara.


Tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan Jonathan masuk dengan wajah cemas. “Grafit, aku ikut denganmu ke hutan rahasia. Tidak, tidak perlu ke hutan rahasia. Aku akan ke puncak gunung saja.”


“Apakah kau memasang penyadap di sini?” tanya Clara bersiap menghajar Jonathan.


“Penyadap? Untuk apa? Aku hanya ingin menghindar dari internet selama beberapa hari.”


“Kenapa?”


“Aku gagal mendapat tiket hari pertama penayangan film Spiderman terbaru. Ini sangat penting bagiku karena menurut rumor, film itu akan memiliki banyak kejutan, terutama tampil atau tidaknya Spiderman dari versi sebelumnya. Untuk itu, hari itu aku harus putus hubungan dengan internet agar tidak bertemu dengan spoiler sedikit pun.”


Clara menggeleng kepalanya. Sepertinya hanya Jonathan yang rela mendaki gunung agar tidak melihat spoiler sebuah film. Tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah Jonathan.


*          *         *


“Jadi salah satu alasanmu bertemu dengan gurumu adalah untuk mempelajari jurus baru? Apakah jurus tertinggi kaum Miel? Kau seperti Kenshin Himura yang kembali menemui gurunya untuk mempelajari Hiten Mitsurugi,” kata Jonathan saat mereka sedang di tengah perjalanan menuju gunung. “Kalau dipikir-pikir, ceritamu mirip dengan Kenshin Himura. Sama-sama tinggal berdua dengan gurunya sejak kecil, sama-sama merantau ketika beranjak dewasa dan sama-sama memilih untuk memberantas kejahatan. Bagaimana kalau pulang dari sini kau panjangkan rambut dan warnai menjadi merah?”


“Jangan pengaruhi dia dengan ide gilamu,” ujar Clara.


“Tapi aku menyukai film itu. Hanya saja, aku lebih suka Sanosuke Sagara daripada Kenshin Himura,” kata Grafit yang membuat Jonathan tersenyum karena merasa dibela.


Ponsel Clara berdering. Ada sebuah pesan masuk dari ibunya yang bertanya tentang keberadaannya. Clara hendak membalas sebagai pemberian kabar terakhir sebelum ia mendaki gunung, namun urung dilakukan ketika ia melihat pesan berikutnya.


“Seperti yang kuduga, si Brengsek Rian mendekati mama. Lihat, mereka bahkan berfoto bersama.” Clara menunjukkan foto di ponselnya.


“Bicara tentang Kapten Rian, apakah kalian yakin kalau dia adalah anggota Kraken?” tanya Grafit yang masih meragukan hal itu sampai sekarang.


“Dia memang brengsek, tapi kita belum mendapatkan bukti yang lebih kuat untuk itu selain rekaman itu. Lagipula, kita masih belum tahu pasti maksud dari ucapannya. Kita juga harus segera mencari tahu tentang kongres Kraken. Apapun itu, pasti acara yang sangat serius.”


Jonathan dan Grafit setuju. Mereka pun sepakat untuk semakin menjauhi urusan G:0 dari segala sesuatu yang berhubungan dengan kepolisian. Setelah menempatkan Kapten Rian sebagai orang yang patut dicurigai, mereka sudah tidak memiliki nama polisi yang bisa dipercaya lagi.


“Apakah kau tidak takut mamamu akan marah karena kau tidak hadir ke acara itu,” tanya Jonathan pada Clara.


“Sedikit. Tapi sebentar lagi hari ibu, aku hanya tinggal memberinya hadiah yang menyentuh. Kalau kurang ampuh, coba lagi di hari Natal dan Tahun Baru.” Clara tertawa senang seakan memuji kecerdasannya sendiri. 


“O ya, berbicara tentang ibu, bukankah ibumu adalah warga kampung sekitar? Apakah kau tidak punya keinginan untuk mencari tahu?”


Ekspresi Grafit berubah menjadi tidak nyaman. Bukannya tidak pernah memikirkannya, ia hanya bingung jika membahasnya. Clara memberi kode pada Jonathan untuk tidak menanyakannya lagi dan segera mencari topik pembicaraan yang lain. Tapi tidak sempat karena Grafit akhirnya berbicara.


“Kata guru, ada misteri yang sebaiknya tetap dibiarkan menjadi misteri.” Suara Grafit terdengar lirih. “Semua anggota kaum Miel mengalami hal yang sama. Dulu pernah ada anggota yang mencoba untuk mencari ibunya. Ia pikir bertemu dengan wanita yang melahirkannya dapat memberikan kebahagiaan. Ternyata tidak. Semua ibu yang mengorbankan putranya untuk kaum Miel mendapatkan penghargaan seumur hidup dari seluruh warga kampung. Segala kebutuhannya dipenuhi dan ia menerima gelar yang membuatnya akan dihormati di setiap acara adat kampung. Ketika anggota kaum Miel itu bertemu dengan ibunya, luka selama ini ditutup oleh sang ibu kembali terbuka. Wanita itu bahkan semakin merasa bersalah karena telah menggantikan putranya dengan semua kesenangan dunia. Bukannya  menerima kembali putranya, ia malah bunuh diri.”


Clara dan Jonathan termangu mendengar cerita itu. Mereka cukup memahami situasi itu dan tak menyalahkan tindakan sang ibu. Seandainya ia tidak menerima imbalan untuk pengorbanan atas anaknya, mungkin hatinya takkan sehancur itu. Mereka pun sadar bagaimana menderitanya Grafit yang pasti merindukan orang tuanya namun harus mau menahan semua itu.


Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di kaki gunung. Setelah mengucapkan salam perpisahan serta menyepakati waktu dan tempat bertemu besok, Grafit pergi meninggalkan kedua rekannya. Clara dan Jonathan mencari basecamp dengan bertanya pada warga sekitar. Meski baru tahun dari sana, Clara sudah lupa tempatnya. Alasannya, tahun lalu ia datang dalam keadaan frustrasi karena baru memergoki tunangannya selingkuh dengan sepupunya.


Akhirnya mereka sampai di basecamp. Di tempat itu sudah ada beberapa orang yang bersiap untuk mendaki bersama mereka. Clara dan Jonathan mencoba berbaur dengan pendaki lain agar ketika mendaki nanti mereka sudah memiliki teman yang bisa menolong mereka. Di tempat itu mereka juga mendapatkan berbagai informasi tentang keadaan jalur yang akan mereka lewati dan peraturan tak tertulis selama mendaki, baik dengan sesama pendaki atau warga sekitar.


“Kalian harus hati-hati. Di gunung itu ada makhluk misterius yang suka menyerang manusia, terutama yang melanggar peraturan,” kata seorang warga yang umurnya sudah uzur. Ia menceritakan mitos-mitos lain yang membuat para pendaki bergidik ketakutan.


“Apakah yang ia maksud adalah kaumnya Grafit?” bisik Jonathan yang dijawab dengan anggukan.


“Aku masih ingat kakek ini. Tahun lalu dia juga menceritakan hal yang sama pada kami. Makanya, ketika pertama bertemu Grafit, aku mengira dia monster.”


Setelah ia selesai bercerita dan para pendaki meninggalkannya, Clara mendekati kakek tua itu untuk menanyakan sesuatu. Memang Grafit tidak ingin tahu siapa ibunya, tapi tidak dengan Clara. Ia sangat penasaran.


“Permisi, Kek. Saya pernah dengar salah satu mitos tentang monster itu. Apa benar warga sekitar mengorbankan seorang bayi laki-laki tiap beberapa tahun untuk monster itu.” 


Ucapan Clara itu membuat si kakek terbelalak seakan bola matanya hendak melompat keluar. “Tahu dari mana? Itu adalah rahasia warga setempat.”


Clara bingung harus menjawab apa. Terpaksa ia berkata, “Tahun lalu Kakek yang mengatakannya padaku. Kalau tidak salah, saat itu Kakek dalam keadaan mabuk.”


Wajah si kakek langsung memerah karena malu. Ia memang tidak ingat pernah menceritakannya, tapi ia tidak menyangkal jika itu mungkin terjadi mengingat ia memang sering mabuk.


“Lalu, apa yang ingin kalian ketahui?”


“Emm, aku hanya ingin tahu, apakah ibu dari bayi yang terakhir dikorbankan masih hidup?”


Si kakek mulai berpikir. Sesekali ia melirik Clara seakan ragu untuk menjawab. “Aku ingin kalian berjanji untuk tidak memberitahukan ini pada orang lain.”


“Kami janji.”


“Sebenarnya, saat pengorbanan terakhir, tidak ada warga memiliki bayi laki-laki yang baru lahir. Karena tenggatnya sudah semakin dekat, akhirnya kami memutuskan untuk menculik bayi dari salah satu pengunjung dari kota yang singgah di tempat ini. Kalau tidak salah, mereka dari Dragokarta”


Clara dan Jonathan terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau selama ini mereka berada di kota yang sama dengan orang tua kandung Grafit.