G:0

G:0
IT’S A BUSY DAY



Tiupan angin dingin membelai malam itu, menambah nuansa mencekam. Baru saja seorang pria menculik seorang wanita yang baru pulang dari kantornya. Ia membawa sanderanya yang sudah terikat ke atap sebuah gedung tua lalu meletakkannya begitu saja. 


Tak lama kemudian, G:0 melesat di langit yang gelap dan mendarat tepat di depan penculik itu. Pria dengan bekas luka memanjang di wajahnya itu tersenyum, menunjukkan kalau ia memang sengaja menunggu kedatangan G:0


"Sudah kuduga, kau juga salah satu peserta sayembara itu," ujar G:0 ketika pertama kali melihat ekspresi wajah lawannya. 


"Ya, aku yang akan memenangkan sayembara itu karena malam ini aku akan membunuhmu."


Pria itu menyeringai sambil mengeluarkan lalu mengacungkannya pada G:0. Lebih dari semenit ia melakukannya, tapi G:0 hanya menatapnya dengan ekspresi bingung. 


"Sekarang rasakan ini."


G:0 benar-benar bingung karena melihat si penculik yang masih mengacung-acungkan pedangnya seperti orang yang sedang menghadapi vampir dengan salib besar.


"Maaf, mungkin kau salah paham. Aku -"


Belum selesai G:0 berbicara, penculik itu berteriak dan mencoba menghampiri G:0 dengan serangan pedangnya. G:0 bergeming dan dengan santai menunjuk ke arah sepatu si penculik. 


Seperti biasa, benda yang ditunjuk G:0 akan meningkat gravitasinya. Hal ini membuat si penculik terjerembab dengan sepatu yang masih melekat dengan lantai. Pedang yang tadi dibanggakannya melayang dan jatuh tepat di depan G:0.


"Aku harus mengatakan ini pada kalian. Aku memang tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk materi yang diberikan pria bertato naga itu, tapi hanya terhadap benda itu saja. Aku masih bisa mengendalikan gravitasi benda lain. Dan aku tidak menjadi lemah hanya karena melihat atau memegang materi ini. Bagiku, ini tidak seperti kristo, klepon, teflon -"


Di markas, Clara langsung merebut alat komunikasi yang menghubungkan mereka dengan G:0 dari Jonathan setelah pemuda berkacamata tebal itu menyuruh G:0 mengatakan Krypton. 


"G:0, selesaikan itu lalu pulang," perintah Clara. 


"Tak bisakah sampai aku berhasil mengatakannya? Penculik ini sedang menungguku menyelesaikan ucapanku," bisik G:0 dengan nada sedikit memohon. 


"CEPAT SELESAIKAN!"


Teriakan Clara itu membuat Jonathan terperanjat dari kursinya dan G:0 menunduk berulang kali sambil mengatakan maaf. Pemandangan yang cukup aneh bagi penculik itu. 


*          *         *


Sayembara yang telah dibuat oleh pemimpin geng tato naga bernama Kraken tempo hari telah memicu banyak penjahat datang dan menjawab tantangan itu. Wajar karena hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan. Hal itu memicu semakin meningkatnya tingkat kejahatan di Dragokarta.


Ya, target mereka adalah G:0 dan satu-satunya cara untuk mengundang G:0 adalah melalui tindak kejahatan. Situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Kapten Rian. Ia membuat pernyataan yang memengaruhi pandangan publik bahwa G:0 adalah penyebab dari kekacauan ini. Gelombang protes pun mulai bermunculan menuntut G:0 menyerahkan diri dan berhenti melakukan aksi-aksi stand alone. Hal itu membuat Clara dan Jonathan semakin membenci manusia yang bernama AKP Ferianto alias Kapten Rian.


Lalu, apa pengaruh dari pengumuman pemimpin Kraken yang dirasakan langsung oleh G:0? Tidak ada. Ia hanya semakin sibuk. Sejauh ini belum ada penjahat yang sulit dikalahkannya. Memang, ada materi baru dari kelompok Kraken yang konon sesakti batu Raya. Tapi hal itu membuat G:0 meningkatkan kewaspadaannya dan ada Clara yang selalu bisa mengatasi setiap masalah.


Misalnya saja penjahat yang menggunakan Ungravity sebagai peluru seperti saat perampokan lalu. G:0 hanya perlu meningkatkan gravitasi untuk tubuh penjahat itu hingga ia menempel ke tanah. Atau ada yang menggunakannya untuk tameng. G:0 hanya perlu melempar sebuah mobil ke langit. Ketika mobil itu sudah berada tepat di atas kepala si penjahat, ia langsung meningkatkan gravitasi untuk kendaraan itu.


Apalagi Clara berhasil mendapatkan bahan kostum G:0 baru yang biasa dipakai untuk rompi anti peluru. Mengingat Ungravity tidak sesolid logam, maka kostum itu akan menjadi pengganti kulit kebal G:0. Jadi, mereka tak perlu khawatir jika ada yang mencoba menyerang G:0 diam-diam menggunakan Ungravity, baik dalam bentuk peluru, pisau, panah dan sebagainya.


“Aku butuh liburan,” keluh Jonathan saat mereka baru saja mendampingi G:0 mengalahkan penjahat yang sempat berhasil menjebak G:0 dengan kurungan yang dibuat dari Ungravity.


“Bukan hanya kau, aku juga membutuhkannya. Tapi jika kita libur sehari saja, kota ini akan menjadi semakin kacau dan G:0 yang akan disalahkan untuk itu,” kata Clara yang tadi menyuruh G:0 untuk mengangkat kurungan itu dengan tangannya. Selain bukan materi yang solid, Ungravity juga tidak berat. Bahkan dengan ukuran yang sama, beratnya kalah dengan kayu.


"Aku juga punya kehidupan pribadi yang harus kujalani di pagi, siang dan sore hari. Gara-gara terlalu sibuk beberapa hari ini, aku tidak sempat bekerja dan bermain game. Pekerjaanku di rumah hanyalah tidur."


"Kau beruntung. Aku harus bekerja walau dalam keadaan mengantuk dan lelah sekalipun. Jika bolos, ibuku akan tahu dan dia akan mengusirku."


"Apakah kita akan seperti ini selamanya?"


Mendengar pertanyaan itu, mata Clara langsung terang dan duduknya kembali tegak. "Ayo bertaruh, sampai kapan kondisi seperti ini akan terjadi. Atau begini saja, jika minggu depan kondisinya masih seperti ini, aku akan kalah. Sekarang kita tentukan apa taruhan kita."


Jonathan terlihat tertarik. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil memikirkan taruhan yang ia inginkan. Bukankah ini kesempatan untuk menjadi pacar Clara? Ia sudah menunggunya sejak masih duduk di bangku TK. 


"Baiklah minggu depan!"


*          *         *


Minggu depan


 Prediksi Clara benar-benar menjadi kenyataan. Para penjahat kelas teri tidak melihat peluang yang bagus lagi untuk mengalahkan G:0 walau memiliki Ungravity. Justru usaha mereka harus berujung di kantor polisi. 


Jika awalnya G:0 harus menangani paling sedikit delapan kejahatan dalam semalam, dua hari ini ia hanya menangani tiga kasus kejahatan dan dua di antaranya tidak ada hubungannya dengan sayembara yang diadakan pemimpin Kraken. 


 "Sepertinya tidak akan ada lagi penjahat," kata Clara setelah menuntun G:0 menangani seorang penjambret. "Aku mau tidur dulu."


"Tentu tidak. Kita selesai seperti biasanya. Bagaimana jika nanti ada penjahat?"


Jonathan menatap Clara tajam seakan hendak marah. Tapi ia tak kuasa. Apalagi Clara berdalih ia harus bangun pagi karena di sekolah akan ada acara. 


"Aku juga ingin cepat pulang?"


"Tumben kau mau pulang secepat ini?" tanya Clara dengan nada sinis. "Mau mabar, ya?"


"Apa? Mabar? Kebahagiaan itu sudah lama direnggut dariku. Sekarang aku hanya ingin tidur."


Clara tidak ingin protes. Ia mendengar dari Joice, adik Jonathan, kalau kakaknya sedang sibuk dengan proyek game terbaru yang membuatnya mengurung diri terus di kamar sepanjang matahari bersinar. Dan tentu saja, malamnya ia harus mengurus G:0 yang mana hampir dua minggu terakhir sangat sibuk.


Tapi Clara belum siap untuk berkorban demi Jonathan. Ia pergi menuju kamarnya tanpa mempedulikan Jonathan dan G:0. Ia tidak ingin mendengar komentar sinis dari pak Dodo dan penjilatnya jika Clara datang terlambat dan dalam kondisi mengantuk. 


[Halo. Jonathan. Kau masih di sana?]


Jonathan mendekatkan mulutnya ke mikrofon dan bertanya ada apa. 


[Tidak ada. Aku hanya merasa kau sedang sedih dan butuh teman bicara.]


"Terima kasih karena kau memperhatikanku. Tidak seperti nenek sihir itu," kata Jonathan. "Kau tidak lelah?"


[Tentu saja tidak. Aku selalu tidur sepanjang siang.]


"Benar juga. Kau tidak punya kehidupan lain selain menjadi G:0."


Tidak terdengar lagi respons dari G:0. Jonathan bisa melihat G:0 sedang termenung sambil melihat kota dari atas sebuah gedung. 


Wajah itu, Jonathan tahu Grafit memasang wajah itu saat mengenang masa lalunya yang menyedihkan. Pertarungan dengan Black Samurai telah mengorbankan 'kehidupan lain' yang pernah dimiliki oleh Grafit. Jonathan yakin sekarang Grafit sedang merindukan wanita yang pernah dicintainya. 


"Aku akan berbicara pada Clara agar kau punya kegiatan rutin saat pagi dan siang hari. Kau harus merasakan hidup yang sebenarnya," kata Jonathan yang disambut ucapan terima kasih bernada ceria dari Grafit. "Pokoknya jangan pernah segan untuk mengatakan apa saja yang kau inginkan padaku."


[Baiklah. Kau memang selalu bisa kuandalkan.]


Jonathan merenungi kalimat terakhir yang Grafit ucapkan. Ia senang mendengarnya, tapi ia merasa tidak pantas menerimanya. Sejak dulu ia selalu merasa rendah diri. Hal ini tak terlepas dari masa lalunya sebagai anak yang dianggap memiliki IQ tinggi. Pada perjalanannya, ia tak bisa memenuhi ekspektasi tinggi dari orang di sekitarnya, terutama ayah dan ibunya. Ia pun semakin terpuruk karena kecanduannya pada game online. 


Puncaknya ketika dia tidak mau kuliah. Kedua orang tuanya selalu menyepelekan dirinya. Sekarang ia sudah bekerja sebagai freelancer di sebuah perusahaan game online, tapi kedua orang tuanya tetap menganggapnya sebagai orang gagal. Seperti beberapa hari yang lalu, ketika ibunya membandingkan dirinya dengan adiknya, Joice, yang adalah sarjana dari universitas ternama dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan internasional.


"Aku bukanlah orang yang bisa diandalkan. Aku tidak seperti Clara?"


"Apakah kau tidak menyadarinya? Bentuk kepala kalian sama. Tubuh kalian juga sama tinggi dan kurusnya. Mata dan warna kulit kalian juga sekilas mirip. Aku pernah membayangkan seandainya kalian menggunakan pakaian dan masker yang sama lalu kau menggunakan rambut palsu yang mirip dengan Clara. Aku yakin, takkan ada yang bisa membedakan kalian."


"Bukan itu maksudku." Jonathan diam sejenak dan membayangkan apa yang pernah Grafit bayangkan itu. Kalau dipikir-pikir, benar juga. "Maksudku, kau ingat dua minggu yang lalu, ketika aku menyuruhmu untuk beraksi di siang hari? Itu adalah keputusan pertamaku untuk G:0 tanpa pengawasan Clara. Dan lihat hasilnya, ternyata itu jebakan dan kau sampai terluka," ujar Jonathan dengan nada sedih. "Seperti kata Clara, aku hanya akan membuat kekacauan jika tidak ada dia."


Grafit tidak langsung merespons. Ia menghela napas sebentar sambil mengatur kembali posisi mengintainya. Ia baru saja ingin mengatakan sesuatu yang menurutnya bisa menghibur, tapi Jonathan mendadak meneriakinya karena sesuatu yang ia lihat di salah satu monitor pengawas. 


"G:0, jalan Aster blok BF. Seorang pria sedang dikejar beberapa orang bersenjata. Sepertinya pria itu terluka dan ia sedang menuju ke sebuah rumah. Rumah berpagar hitam yang berada di seberang Biomart."


G:0 langsung meluncur ke tempat yang dikatakan oleh Jonathan. Untungnya, rumah itu tidak sulit ditemukan. Rumah itu tidak terkunci sehingga G:0  tidak kesulitan untuk memasukinya. Keadaan di dalam rumah itu sangat gelap dan berbau kurang sedap. G:0 melangkah masuk dengan yakin. Baginya, berjalan di dalam kegelapan bukan hal yang baru. Ia sering melakukannya saat di hutan rahasia dulu.


“Hati-hati. Jangan sampai kita dijebak lagi.” Jonathan mewanti-wanti.


“Tenang saja. Hanya keledai yang bisa terjebak dua kali.”


Tiba-tiba sebuah benda terjatuh tepat di atas kepala G:0. Ia tidak bisa melihat benda apa itu, tapi kemungkinan adalah Ungravity karena ia tak bisa mengendalikan gravitasinya. Tak ada lagi untuk menghindari benda itu. Jonathan menyuruh untuk memukul benda itu dan G:0 melakukannya sambil berharap bisa mementalkan benda itu.


Tanpa disangka, benda itu pecah dan menyemburkan serbuk yang akhirnya melingkupi sekujur tubuh G:0. Tiba-tiba beberapa orang pria muncul dari balik kegelapan. Salah satunya tertawa sambil memegang sebuah tongkat besi.


“Wah, wah, ternyata benar kalau G:0 sangat mudah dijebak. Jika tidak, akan sia-sia Ungravity sebanyak itu. Aku harus mengemis pada brengsek itu untuk mendapatkannya.”


Jonathan masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Khususnya G:0, yang merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya.


[Ada apa, G:0?]


“Sepertinya aku kehilangan kekuatanku. Aku tak bisa mengendalikan apa-apa.” itu.