
Markas G:0 berada di salah satu ruangan di dalam apartemen Clara. Ruangan yang cukup luas itu rencananya akan digunakan Clara untuk ruang kerjanya sebagai desainer. Berhubung mimpinya sebagai desainer sedang terhambat dan demi tegaknya keamanan kota, ia mengubahnya menjadi markas.
Oleh karena itu, Jonathan memiliki akses untuk masuk ke apartemennya kapan saja. Namun sebagai syarat tak tertulis, ia tidak boleh menjelajah ke dalam apartemen kecuali markas dan dapur. Clara sangat tegas untuk aturan ini mengingat Jonathan pernah ketahuan menyembunyikan kamera mini di kamar mandinya.
Jonathan merasa iri dengan Grafit yang tinggal di sana. Tinggal satu atap dengan Clara adalah mimpinya sejak kecil. Terkadang ia hanya bisa mengintip Grafit yang sedang menonton di ruang tamu.
Grafit tidak memiliki banyak kegiatan. Selain menangkap para penjahat, ia menghabiskan banyak waktunya di dalam apartemen untuk menonton dan berolahraga. Clara membatasi kegiatannya di luar karena kondisi emosi Grafit yang labil sejak pertarungannya dengan Kichigai yang membuatnya kehilangan wanita yang ia cintai.
Siang itu Grafit sedang berolahraga. Ia melakukan beberapa gerakan bela dirinya, hanya saja sambil menempel di langit-langit.
Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang sedang membuka kunci pintu. Pasti Jonathan. Karena jika Clara datang, biasanya ia membunyikan bel terlebih dulu untuk memastikan Grafit tidak sedang dalam keadaan telanjang.
"Hai, Jonathan. Tumben kau datang jam segini. Biasanya kau -"
Grafit berhenti berbicara dan hanya tercengang karena dengan posisi tubuh yang terbalik ia melihat seseorang yang sama sekali tidak mirip dengan Jonathan. Ia adalah seorang wanita.
"SETAAAAAAAANNNNNNN!!!"
Setelah berteriak kencang, wanita itu pingsan.
* * *
Grafit, Clara dan Jonathan memandang wanita yang sedang berbaring di sofa itu. Mereka sedikit khawatir tapi sama sekali tidak terlihat terkejut seakan ini bukan pertama kalinya terjadi. Mereka mengenal wanita itu. Dia adalah Joice, adik Jonathan.
"Sepertinya dia berhasil mencuri kuncimu dan menduplikasinya lagi. Aku salut dengan kegigihannya untuk berkenalan dengan Grafit," ujar Clara.
"Andai ia menggunakan kegigihan itu untuk pekerjaannya, pasti sekarang ia sudah bekerja di NASA," sambung Jonathan. "Apakah tidak ada efek samping karena ingatannya sering dihilangkan? Karena ini sudah yang ketiga kalinya."
"Ada. Kata guruku, jika seseorang sering dihilangkan ingatannya, ia akan kehilangan banyak ingatan masa lalunya," jawab Grafit.
"Aha! Bagaimana jika kau hilangkan saja semua ingatannya dan kita tinggalkan dia di hutan?"
Setelah menyampaikan ide itu, Jonathan menerima pukulan di kepalanya dari Clara.
"Jangan kurang ajar. Dia temanku."
Tiba-tiba Joice terbangun dan membuka matanya perlahan. Ia merasa terkejut dan bingung setelah melihat orang-orang yang dikenalnya berdiri di hadapannya.
"Halo, Adikku. Bagaimana pingsannya? Nyenyak?"
"Kenapa setiap pingsan aku selalu berakhir di sini?" tanya Joice sambil memegang kepalanya.
"Karena kau ketahuan mencuri dan menduplikasi kunciku untuk menggoda Grafit, jadi kau pingsan sebagai mekanisme pertahanan diri."
Joice masih tidak ingat kenapa dia bisa di apartemen Clara. Tapi ia ingat pernah menduplikasi kunci Jonathan baru-baru ini dan rencananya untuk menemui Grafit diam-diam.
"Kali ini aku punya alasan yang kuat untuk bertemu dengannya. Andai Clara dan Jonathan tidak melarangku untuk bertemu dengannya, aku tak perlu mencuri kuncimu."
Clara dan Jonathan saling pandang seakan sedang mendiskusikan apakah harus mendengarkan alasan Joice atau tidak.
"Oke, sekarang katakan alasannya."
Joice menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia menegakkan punggungnya dan mengibas rambut panjangnya seakan sedang melakukan sebuah ritual.
Clara dan Jonathan spontan berdiri dan hendak protes, sedangkan Grafit mengangguk-angguk tanpa sadar sedang dijelek-jelekkan oleh Joice.
"Lalu, apa hubungannya denganmu?"
"Kalian tahu apa persamaan dari para korban? Mereka kuliah di kampus yang sama. Bukan hanya itu, mereka ikut klub modern dance. Dan jika lebih spesifik lagi, mereka sama-sama berada di klub itu lima tahun yang lalu. Kalian tahu apa yang terjadi lima tahun yang lalu? Seorang anggota di klub itu tewas bunuh diri dengan cara melompat dari atap kampus, dan atap adalah tempat yang paling sering digunakan klub itu untuk latihan menari."
Ketiga orang itu mendengar cerita Joice dengan wajah tegang, seolah sedang menonton film horor. Joice memang menceritakannya dengan sangat baik.
"Jangan bilang kau juga kuliah di kampus itu dan ikut klub itu lima tahun yang lalu," kata Clara.
"Ya, memang begitu." Kini ketiga orang itu histeris karena tak menduga pernyataan Joice. "Untuk itu, aku ingin Grafit menjadi pengawalku. Hanya ketika pulang dan pergi kerja atau ketika sedang tugas di lapangan."
Clara dan Jonathan memasang wajah berpikir, sedangkan Grafit langsung menyetujuinya. Jonathan pun akhirnya setuju. Clara sama sekali tidak menyangka Jonathan memberi jawaban seperti itu, padahal selama ini ia tidak suka ada cowok yang mendekati adiknya. Kemudian Clara menarik Jonathan ke markas mereka.
Kini tinggal Joice dan Grafit. Tanpa malu, Joice pindah duduk ke sebelah Grafit. Kemudian ia bertanya, "Boleh kupeluk tanganmu?"
Grafit menggaruk kepalanya seraya memperhatikan tangannya. Lalu ia menjawab, "Boleh."
Joice kegirangan dan langsung memeluk tangan Grafit dengan manja.
Sementara itu di dalam markas.
“Seandainya salah satu pembunuhan itu terjadi di daerah pengawasan kita, mungkin pelakunya terekam di salah satu kamera pengintai kita,” ujar Jonathan. Clara tidak peduli dengan ocehan Jonathan. Ia melihat pria itu tajam.
"Kenapa kau setuju? Kau tahu emosinya masih labil. Bagaimana kalau ia tak sengaja menunjukkan kekuatannya dan ada yang melihat?"
Jonathan menggelengkan kepalanya sambil menepuk pundak Clara dan memasang ekspresi yang menurutnya cool tapi menurut Clara menyebalkan.
"Sudah saatnya kita memberikan kehidupan selain kehidupan G:0 pada Grafit. Kita tak mungkin mengurungnya terus. Kau tahu? Dia pernah merasa sedih saat kami membahas tentang betapa sibuknya kita di pagi dan siang hari."
Clara merenungkan kata-kata Grafit. Memang benar. Ia membawa Grafit ke kota bukan dengan tujuan mengikat hidupnya sebagai G:0, tapi untuk memperkenalkan dunia di luar hutan rahasia.
"Baiklah. Mungkin kau benar. Sudah saatnya bagi Grafit untuk move on dari masa lalunya yang menyedihkan."
Mereka keluar markas dan berkata setuju dengan permintaan Joice.
"Tapi dengan syarat, kau harus memberikan semua informasi tentang pembunuhan itu. Baik lokasi-lokasi dan waktu-waktu kejadian, identitas para korban, anggota klub yang masih hidup dan orang-orang yang dijadikan tersangka."
Sebagai pecinta novel dan film misteri, Clara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk beraksi layaknya detektif. Joice memahaminya sehingga ia tidak bertanya. Sejak dulu Clara sangat menggilai novel detektif. Ia juga mengoleksi banyak sekali unsolved case yang dibelinya dari berbagai tempat.
“Baik, Sayangku. Aku akan menuliskan semua informasi yang kau butuhkan. Akan lebih keren jika kau bisa memecahkannya lebih dulu dari polisi. Kalau si bodoh G:0, dia takkan bisa."
Lagi-lagi Clara dan Jonathan berdiri dan membelalakkan mata seakan tak terima G:0 dihina seperti itu. Tapi Joice cuek saja karena tak tahu yang sebenarnya terjadi.
Visi awal diciptakannya G:0 memang untuk menghancurkan organisasi Black Samurai. Dan jika ingin berkata jujur, motivasi awal Clara melakukannya adalah karena ingin balas dendam dengan mantan tunangannya yang selingkuh dengan sepupunya, yang juga merupakan anggota Black Samurai.
Tapi Clara, Jonathan dan Grafit sepakat jika G:0 bertugas untuk memberantas kejahatan tanpa memilih pelaku dan jenis kejahatannya. Mereka juga akan menangkap penjahat yang tidak berkaitan dengan organisasi kejahatan manapun. Hanya saja, kebetulan atau tidak, mereka tidak pernah menangani kasus yang membutuhkan kemampuan inteligensi. Selain G:0 hanya mengandalkan kekuatan fisik dan pengendalian gravitasi dalam mengatasi kejahatan, mereka terhalang oleh kepintaran Grafit.
Kasus pembunuhan berantai ini akan menjadi pengalaman yang baru bagi mereka. Apalagi G:0 bisa mendekati calon korban tanpa harus menggunakan penyamaran apapun.
Pasti akan sangat menyenangkan, batin Clara.