G:0

G:0
SEPERTI MIMPI



Jonathan masih tidak terima karena G:0 dikenal sebagai pengacau di kalangan para pejuang dari seluruh daerah. Ia malah memaki Kapten Rian yang menyebabkan tuduhan itu. Namun ia tidak bisa memberikan pembelaan yang kuat. Pada kenyataannya, jika memang Kapten Rian sedang merencanakan perlawanan terhadap Kraken, bukan tidak mungkin ia terganggu dengan tindakan-tindakan G:0 yang tidak sevisi dengannya.


“Apalagi setelah kejadian kemarin, ia pasti sangat marah karena kita membiarkan Tarjo pergi membawa undangan kongres, satu-satunya jalan untuk menyusup ke dalam Kraken,” kata Clara yang membuat Jonathan semakin bingung untuk mencari pembelaan.


“Argh, seharusnya kita tidak percaya dengan penipu itu.” Jonathan menggebrak meja di depannya, yang langsung ia elus setelah Clara menatapnya tajam penuh amarah. “Eh, maaf.”


“Mungkin untuk beberapa waktu ini kita menghindar dari Kapten Rian. Ia pasti sangat marah  pada G:0. Jika ada tindak kejahatan yang bisa dilaporkan polisi, sebaiknya laporkan saja. Dia sangat suka jika kepolisian dapat menangkap lebih banyak penjahat, maka kita biarkan saja dia mendapatkannya. Pokoknya, buat dia sibuk dengan tugasnya agar tidak punya cukup waktu untuk mengejar kita.”


“Teman-teman, sepertinya mengejar kita akan menjadi tugas yang menyibukkannya,” kata Grafit sambil menunjuk ke arah televisi.


Sebuah acara berita sedang mengabarkan kasus pembunuhan seorang nenek tua di rumahnya tadi malam. Menurut beberapa saksi mata, mereka melihat G:0 keluar dari rumah korban dengan tangan memegang pisau yang berlumuran darah lalu terbang ke langit.


*          *         *


“Bagaimana mungkin? Kemarin G:0 berada di rumah persembunyian Tarjo. Bahkan Kapten Rian juga di sana. Ini pasti rekayasa,” kata Jonathan.


“Kejadiannya tengah malam, berarti setelah kita pergi dari rumah Tarjo. Lokasi pembunuhan itu juga tidak jauh dari rumah Tarjo. Tak ada alasan bagi Kapten Rian untuk tidak mencurigai G:0”


“Yang membuatku bingung adalah para saksi. Bagaimana mereka bisa melihat G:0 saat kejadian? Apakah ada G:0 yang lain? Atau mereka berbohong?” tanya Grafit yang membuat Clara dan Jonathan juga ikut bertanya-tanya.


“Benar juga. Semua tuduhan itu bermula dari mereka. Hanya mereka yang punya jawaban untuk teka-teki ini. Kita harus menginterogasi mereka.”


Jonathan menatap Clara. “Caranya?”


Clara berpikir sejenak. Ya, dia memang belum memikirkan caranya. Mereka bukan polisi yang bisa menginterogasi para saksi atau memeriksa TKP. Ia hanya bisa berkata, “Untuk beberapa hari atau minggu ke depan, kita libur patroli dulu. Selain agar kita punya waktu untuk menyelidiki kasus ini, kupikir Kapten Rian akan lebih serius mengejar G:0.”


“Libur lagi? Kita sudah banyak libur dan kota ini sedang membutuhkan bantuan kita untuk menumpas kejahatan. Memang kita sedang menghadapi masalah, tapi kita tidak boleh mengabaikan tugas utama kita. Kita harus -”


“Paman Jason menginap di rumahmu? Baik, kau boleh menginap di sini,” potong Clara yang langsung membuat wajah Jonathan tersenyum.


“Terima kasih. Untung saja libur. Aku sedang mengerjakan aplikasi untuk membantu para pria dari salah satu masalah terbesar mereka. Namanya Terserah. Jadi, ketika mereka bertanya pada pacar mereka mau makan di mana dan pacar mereka menjawab terserah, maka mereka hanya perlu menekan tombol dan aplikasi ini akan memilih tempat kencan secara acak. Ada filternya juga. Lalu aplikasi ini -”


“Tidak tertarik.” Clara mengarahkan telapak tangannya ke wajah Jonathan untuk menyuruhnya diam dan dia pergi ke kamar.


Jonathan melihat Grafit yang masih asyik menonton berita di televisi. Kemudian ia duduk di samping pemuda itu sambil tersenyum.


“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Jonathan. Grafit melihatnya dengan penuh curiga.


“Aku mau melatih jurus yang baru diajarkan guruku.”


“Boleh aku ikut? Aku hanya akan melihat-lihat saja.”


Grafit menatapnya dengan ragu. Setelah Jonathan terus-menerus membujuknya, akhirnya ia mengizinkan temannya itu untuk ikut latihan. Sayangnya, Jonathan tak tahu kalau latihan Grafit kali ini membutuhkan lokasi tertinggi yang bisa ditinggali manusia tanpa menggunakan alat bantu, yaitu sedikit di bawah tropopause yang jaraknya sekitar dua belas sampai delapan belas kilometer dari permukaan bumi.


Jonathan sangat tidak bahagia ketika berada di tempat itu.


*          *         *


“Kuharap ini bukan kencan karena aku sudah berjanji takkan kencan denganmu lagi.”


Kapten Rian mengangkat kepalanya. Ia tersenyum saat melihat seorang wanita sudah berdiri di hadapannya. Wanita yang selalu membuatnya terpesona. Wanita yang dengan yakin ia akui sebagai idamannya.


“Sayang sekali aku tahu kau bukan pria. Jika tidak, aku juga berharap takkan kencan denganmu lagi,” kata Kapten Rian sambil tersenyum. “Silakan duduk. Kita punya banyak waktu malam ini.”


Clara duduk dengan wajah penuh curiga. Wajahnya lebih garang dari biasanya. Bukan karena semakin tidak menyukai pria di hadapannya, tapi ekspresi itu justru sebagai bentuk sikap defensifnya. Ia masih merasa bersalah karena mengingat yang diucapkan oleh Dozo beberapa hari yang lalu.


“Langsung saja kita bahas tentang G:0. Ada apa dengannya?”


“Setelah kau memesan sesuatu.”


Clara benar-benar sadar akan ketidakberdayaannya. Ia pun mengikuti perkataan Kapten Rian. Pria itu memanggil seorang pelayan dan mau tak mau Clara menyebut beberapa nama dari menu itu. Demikian juga dengan Kapten Rian.


“Aku sudah memesan, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan.”


Kapten Rian tersenyum melihat kegalakan Clara. Memang, sifat galaknya itu yang pertama kali membuatnya terpesona.


“Justru aku ingin mendengar sesuatu darimu. Pasti G:0 menyampaikan sesuatu padamu, seperti penyangkalan.”


Wajah Clara terlihat bingung dengan ucapan Kapten Rian. Akhirnya ia menyadari sesuatu yang terkandung dari kalimat itu.


“Kau juga ragu kalau G:0 pelakunya, kan?”


Kapten Rian menghela napas panjang sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. Ada kata yang tergantung di ujung lidahnya, namun ragu untuk ia keluarkan. Setelah melihat tatapan Clara yang menunggunya berbicara, ia pun berbicara.


“Bukannya karena aku mempercayai kekasihmu itu, tapi karena bukti-buktinya terlalu lemah dan ada yang aneh dengan kesaksian para tetangga.”


“Dia bukan kekasihku,” tegas Clara. “Memangnya ada apa dengan bukti-bukti dan kesaksiannya? Eh, kalau aku boleh tahu.”


Kapten Rian merapatkan kursinya dan mencondongkan tubuhnya pada Clara. “Tolong rahasiakan ini. Pembunuhannya dilakukan dengan sangat ceroboh dan brutal, terutama korbannya adalah wanita tua. Aneh saja seseorang yang memiliki kekuatan super melakukan pembunuhan seperti itu. Padahal ia hanya perlu menerbangkan korbannya dari langit dan menjatuhkannya.


“Wah, kau memang psikopat,” kata Clara sambil menggeleng kepala. “Lalu kesaksiannya?”


“Semua saksi sama-sama merasakan hal yang aneh. Saat melihat G:0 keluar dari rumah korban, mereka seakan bermimpi.”


“Bukankah itu hanya kiasan?”


“Menurutmu?”


Pertanyaan Kapten Rian itu membuat Clara berpikir. Ketika ia belum menemukan jawabannya, telepon Kapten Rian berbunyi. Pria itu menjawab panggilan dan wajahnya terlihat pucat di tengah perbincangan.


“Terjadi pembunuhan dan para saksi mengatakan kalau G:0 yang melakukannya,” kata Kapten Rian. “Dan temanmu yang bernama Jonathan itu adalah salah satu saksinya.”