G:0

G:0
KARMA



“Apa? Karma? Bukankah nama itu sudah dipakai untuk acara meramal dan membuka aib yang ada di televisi?”


Jonathan dan Grafit tertawa karena tiba-tiba membayangkan wajah salah satu pembawa acaranya yang menurut mereka lucu.


Kembali ke acara tadi. Sesaat sebelum Grafit membawa Clara ke tenda itu, ia tak sengaja mendengar pembicaraan antara Dito dan Ben tentang sepinya permintaan untuk pertunjukan Karma. Saat mendengar itu, pikiran Jonathan langsung menjalar ke berbagai hal, melahirkan berbagai spekulasi dan yang paling masuk akal adalah pertunjukan yang mereka sebut Karma itu berkaitan erat dengan penculikan ‘alien’ yang sedang mereka usut.


Menurut referensi dari beberapa film yang ia tonton, Jonathan berasumsi kegiatan ilegal seperti itu mendapatkan pelanggan bukan dari iklan, tapi dari mulut ke mulut. Ia teringat dengan salah satu korban penculikan, yaitu dokter Panji Gumilang. Dari penyelidikan mereka, orang yang paling memiliki motif untuk menjahatinya adalah dokter Edward yang beberapa bulan lalu diadukan oleh dokter Panji atas tuduhan malpraktik yang mengancam kariernya.


“Kita belum tahu jelas acara seperti apa Karma itu. Yang pasti, kita sudah tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Aku senang dengan pilihanmu. Pria tua itu memang sedikit menyebalkan, bahkan untukku yang belum pernah bertemu dengannya secara langsung.” Jonathan menatap Clara lalu tersenyum. “Atau kita biarkan dia disiksa sebentar lalu menyelamatkannya?”


Senyum Clara juga sempat mengembang, lalu ia menggeleng kepala dan berkata jika itu adalah tindakan yang picik dan tidak sesuai dengan prinsip mereka sebagai penegak keadilan.


“Grafit, malam ini kita akan mengawasi rumah pak Dodo.”


Grafit yang baru masuk ke markas dengan sebungkus keripik memasang wajah berpikir. Ia pun melemparkan pertanyaan pada Clara, “Jadi, pak Dodo itu benar-benar ada? Kupikir Non hanya mengarangnya saja, karena menurutku Non adalah orang baik yang tidak pernah membenci siapa pun.. Memangnya siapa dia?”


Wajah Clara memerah karena malu. Ia melihat Jonathan cekikikan melihat ekspresi wajahnya.


“Pak Dodo adalah kepala sekolahku. Aku tak benar-benar membencinya. Tiba-tiba saja namanya terlintas di benakku. Tenang saja, kita akan pastikan dia tidak terluka karena kita akan -”


“Oh, bos Non yang brengsek itu, ya? Yang pernah menghina Non di depan guru-guru lain hanya karena Non menolak untuk membuatkan kopinya? Yang pernah menyerang Non karena ada orang tua murid yang mengadu anaknya telah Non pukul, padahal Non sudah bilang kalau anak itu menangis karena terjatuh? Yang pernah melarang petugas kebersihan membersihkan kelas Non hanya karena Non tidak datang ke acara ulang tahun anaknya sehingga Non harus membersihkan kelas sendiri, termasuk muntah salah satu anak yang membuat Non tak selera makan selama seharian?”


Tiba-tiba amarah Clara muncul setelah mendengar rentetan dosa bosnya dari mulut Grafit. Ia menatap Jonathan dengan wajah geram lalu berkata, “Mungkin kita akan membiarkannya disiksa sebentar.”


*          *         *


G:0 mengawasi rumah pak Dodo dari pohon yang tumbuh di seberangnya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Waktu luang itu ia gunakan untuk membahas episode terbaru anime One Piece dan Attack on Titan yang baru sempat mereka tonton kemarin. 


Tiba-tiba perhatian mereka terusik oleh kedatangan sebuah van hitam yang berhenti tepat di belakang rumah pak Dodo yang gelap, sepi dan jarang dilalui orang. Beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari van itu sambil membawa tas. Dengan cekatan, mereka memasang sebuah benda yang terlihat seperti lampu lalu disatukan dengan ujung sebuah tiang. Salah satu di antara mereka mengawasi rumah dengan mengintip dari balik pagar.


Tak disangka, pak Dodo keluar dari pintu belakang rumahnya. Ia membawa senapan dan kepalanya celingak-celinguk seakan sedang mencari sesuatu di tengah kegelapan. Sesuai dugaan Clara dan Jonathan, orang-orang itu mengangkat lampu tadi dan menyalakannya. Ketika pak Dodo sedang berusaha melindungi matanya dari cahaya lampu yang menyilaukan itu, salah satu dari mereka menembakkan sesuatu ke wajah pak Dodo sehingga pria berkumis itu pingsan. Ternyata seperti itulah trik alien dan UFO-nya.


“Aku akan mengikutinya,” kata G:0 bersiap untuk terbang.


[Tidak usah.] 


Jonathan dan G:0 terkejut dengan ucapan Clara. 


“Kenapa? Apakah kita membiarkan mereka menculik dan menyiksa pak Dodo?”


[Mereka baru mengirimiku pesan dan mengundangku untuk menonton pertunjukan Karma secara langsung. Datang ke acara itu adalah pilihan yang lebih baik daripada mengikutinya sekarang.]


*          *         *


Sesuai dengan undangan yang diberikan oleh Highlight Event Organizer, Clara berangkat ke kantor mereka sore ini. Lebih tepatnya, dua hari setelah penculikan pak Dodo. Saat baru tiba, Clara diminta untuk menyerahkan alat komunikasi yang dimilikinya. Lalu seluruh tubuhnya diperiksa untuk mendeteksi alat penyadap atau semacamnya. Untung saja Clara tidak mengikuti saran Jonathan untuk mengenakan anting yang berisi kamera pengawas. Menurutnya, G:0 yang mengintai di sekitarnya sudah cukup untuk membuatnya aman.


Kemudian ia diminta untuk mengenakan penutup kepala layaknya pelaku kejahatan yang akan dieksekusi. Alasan mereka adalah demi kerahasiaan lokasi acara. Yang lebih mengejutkannya adalah Clara bukan satu-satunya undangan. Ada beberapa orang yang juga dikenakan penutup kepala dan dimasukkan ke dalam van seperti Clara. 


Van itupun melaju perlahan. G:0 pun mulai mengikutinya secara diam-diam. Tujuan perjalanan van itu adalah bukit Mauri. Jonathan dan G:0 sempat terkejut karena ternyata tebakan mereka tempo hari tidak salah. Namun mereka pun tahu kenapa polisi tidak menemukan sesuatu yang aneh di bukit tersebut. Hal itu dikarenakan ada terowongan rahasia yang tertutup oleh batu dan hanya bisa dibuka dengan menggunakan sebuah remote.


“Bagaimana ini? Aku tidak bisa masuk.”


Benar kata G:0, ia tidak bisa melanjutkan pengintaiannya ketika batu itu kembali menutup terowongan setelah van yang ditumpangi Clara sudah masuk. Jonathan menghela napas dan hanya bisa pasrah. Ia berharap Clara tahu apa yang harus dilakukannya di dalam. Tanpa alat penyadap apa pun.


Sementara itu, van yang ditumpangi Clara dan beberapa orang lainnya berhenti, menandakan akhir dari perjalanan mereka. Para kru Highlight Event Organizer membuka penutup kepala mereka dan mempersilakan mereka untuk masuk ke sebuah pintu. Mereka sama sekali tak menyangka, di balik pintu batu yang tua itu ada gedung yang mewah. Mereka diarahkan ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa kursi yang menghadap pada sebuah dinding cermin


Clara melihat ke sekitarnya. Dari ekspresi para tamu lainnya yang santai dan tidak sekikuk dirinya, ia bisa menyimpulkan kalau hanya dialah tamu yang pertama kali berada di ruangan itu. Dengan kata lain, jika tebakan Clara benar, mereka adalah ‘pelanggan’ acara ini.


Kemudian fokus Clara beralih ke dinding cermin itu. Ia melihat wajahnya sambil menebak maksud cermin itu ditempatkan di sana. Tangannya meraba rambutnya, lalu ia mencabut sebuah jepit rambut yang melekat di sana lalu meletakkannya di pangkuan.


Tiba-tiba cermin itu berubah menjadi kaca biasa yang tak lagi memantulkan kondisi di ruangan tersebut. Mereka justru bisa melihat ruangan di sebelah. Di ruangan yang serba putih itu ada seorang pria yang duduk di kursi dalam keadaan terikat. Wajahnya sangat lesu seperti kurang tidur. Dan seperti yang Clara duga, pria itu adalah pak Dodo.