G:0

G:0
RUSH MONEY



Skuad G:0 berkumpul untuk mendiskusikan rencana jahat yang berhasil mereka deteksi. Mereka sadar jika lagu terbaru Muzic Box berhasil mencapai tujuannya dan orang-orang menarik semua uang mereka dari bank, maka kekacauan yang Clara sebut tadi dengan istilah Rush Money akan terjadi.


“Tapi menimbulkan kejadian semasif itu tidaklah mudah. Tidak cukup hanya dengan lirik-lirik dari lagu,” kata Jonathan.


“Itulah kenapa sebelumnya ia berlatih dengan menggunakan lagu-lagu sebelumnya. Kemungkinan ia melihat percobaannya itu berhasil, maka ia meningkatkan levelnya. Kekacauan ekonomi akan menjadi prestasi besar baginya.”


“Tidak hanya itu. Coba perhatikan lirik di bagian chorus.”


Kau sedang sekarat, namun berlagak kaya


Peti-petimu berkarat, tinggal menunggu waktu untuk binasa


“Kalian ingat keributan di sebuah bank yang disebabkan oleh salah satu nasabah karena permintaannya untuk menarik semua uangnya ditolak oleh bank tersebut? Ia lalu berteriak kalau bank-bank di kota ini sedang sekarat. Hal ini juga berkaitan dengan isu bahwa salah satu bank terbesar di Dragokarta memiliki aset sangat berharga di bank Richmore, yang mana ikut lenyap bersama ledakan yang disebabkan oleh Puzzle beberapa bulan yang lalu. Kehilangan aset itu membuat bank tersebut secara finansial sudah bangkrut, namun tetap bertahan dengan tabungan-tabungan baru para nasabah,” cerita Rosalia.


“Dengan pancingan dari lirik lagu Muzic Box, sangat mudah untuk menimbulkan kepanikan yang membuat para nasabah menarik semua uang mereka dari bank.”


Diskusi mereka semakin menunjukkan titik terang. Mereka semakin yakin jika Muzic Box sedang merencanakan Rush Money di Dragokarta, atau mungkin sampai pada tingkat nasional. Sayangnya, Grafit masih belum mengerti dengan isi diskusi itu.


“Jadi, kenapa orang-orang tidak boleh menarik uang mereka sendiri di bank.” 


“Gampangnya begini, uang tunai yang kita tabung di bank tidak semua mereka simpan dalam bentuk tunai. Sebagian besar akan mereka putar, misalnya dengan meminjamkannya pada nasabah lain dan menginvestasikannya dalam bentuk aset berbunga. Hal itu akan membuat uang yang kita tabung tadi bisa menghasilkan uang lagi.


“Nah, jika semua nasabah mengambil uang mereka dan jumlahnya lebih banyak dari cadangan tunai yang bank miliki, maka bank harus menjual aset-aset mereka yang tentunya dengan harga yang lebih rendah dari yang seharusnya. Bahkan tidak jarang mereka gagal menyediakan uang tunai sejumlah yang diminta oleh para nasabah,” terang Clara.


“Apabila hal ini yang terjadi, maka pemerintah terpaksa turun tangan demi terpenuhinya hak para nasabah dengan menyalurkan dana bantuan yang berasal dari obligasi. Dampak terparahnya adalah terjadinya resesi ekonomi yang akan menyulitkan masyarakat luas.”


Grafit mengangguk-angguk. Rekan-rekannya berpikir ia sudah mengerti, sebelum ia kembali bertanya, “Jadi, kenapa Rush Money berbahaya? Lalu, apa itu resesi dan ekonomi?”


Clara dan Jonathan memutuskan untuk tak melibatkan Grafit dalam diskusi mereka. Sementara Rosalia pamit pulang karena hari sudah mulai larut dan ia memiliki kehidupan lain yang lebih penting dari skuad G:0.


“Kenapa kau tidak lapor saja pada pacarmu?” tanya Jonathan pada Clara.


“Tidak bisa. Ini masih dugaan saja, tidak ada bukti yang kuat. Kita tak bisa memberikan lirik lagu sebagai bukti.” Clara menyadari tatapan aneh dari Jonathan. “Kenapa?”


“Kau tidak menyangkal waktu aku katakan pacarmu. Apakah kalian sudah pacaran?”


Setelah Clara pergi, giliran Grafit yang menatap aneh ke arah Jonathan. “Apa maumu?”


“Tidak. Aku hanya heran. Biasanya kau marah jika melihat tanda-tanda kedekatan Non dengan Kapten Rian. Ada apa?” Grafit mendekatkan wajahnya ke wajah Jonathan untuk menggodanya. “Apakah karena kau menyukai Rosalia?”


Seperti Clara, wajah Jonathan juga merah padam karena malu. Ia mendorong Grafit agar menjauh darinya. “Bukan urusanmu!”


“Hhah, sepertinya kita memiliki hubungan yang aneh. Dulu kita membenci Kapten Rian, sekarang ia menjadi pacar Non. Dulu kau menyukai Non, sekarang malah menyukai Rosalia, mantan pacarku yang dulu kau benci. Dulu aku menyukai Patricia, sekarang tidak lagi karena tahu dia adalah bagian dari Kraken, musuh besar kita.” Tiba-tiba wajah Grafit tersenyum berubah menjadi sedih. “Ah, sepertinya aku masih menyukainya.”


*          *         *


Setelah Clara pikir-pikir, ide Jonathan untuk memberitahukan Kapten Rian tentang lirik lagu dan dugaan rencana jahat Muzic Box tidaklah buruk. Bukan dalam bentuk laporan resmi, tapi sebagai cerita seorang wanita pada kekasihnya yang kebetulan seorang polisi di salah satu kencan mereka.


“Teori yang menarik. Tapi kau tahu sendiri kalau penyelidikan tidak bisa dilakukan berdasarkan hal-hal ini,” kata Kapten Rian setelah mendengar cerita Clara.


“Ya, aku tahu. Aku hanya mengutarakan analisisku. Kau tahu sendiri kalau aku adalah penggila misteri. Aku mudah mencurigai apa pun yang ada di sekitarku. Untuk itu, jangan pernah mencoba untuk selingkuh di belakangku.”


Kapten Rian tertawa mendengar lelucon kekasihnya. Sesaat ia membayangkan betapa beruntungnya ia bisa berpacaran dengan wanita yang telah memikat hatinya sejak perjumpaan mereka itu. Setelah melewati berbagai usaha, akhirnya ia bisa merebut hati wanita pujaannya tersebut.


“Tapi aku adalah tipe polisi yang selalu menghargai laporan dari masyarakat. Aku akan lebih mengawasi keadaan di beberapa bank. Jika memang dibutuhkan, aku akan memberikan himbauan kepada pihak bank untuk lebih waspada dan langsung melapor jika ada penarikan uang yang tak wajar.”


Clara tersenyum karena pengaduannya mendapatkan respons yang serius dari pacarnya. Ia pun menyantap baksonya dengan hati senang. Sementara Kapten Rian hanya tersenyum memandang Clara. Sesekali ia menyeka mulut Clara yang belepotan karena kuah baksonya.


“Bukannya ingin menghina teorimu, tapi aku belum pernah melihat ada lagu yang bisa mempengaruhi penggemarnya sekuat itu. Memang aku pernah mendengar beberapa kasus pembunuhan yang dilakukan karena terinspirasi oleh sebuah lagu, tapi sebagian besar pelakunya memang memiliki gangguan mental. Sedangkan dalam kasus-kasus yang kau katakan tadi, para pelakunya tidak punya masalah mental apa pun dan motivasi mereka untuk melakukan kejahatan itu cukup kuat. Jadi -”


Ucapan Kapten Rian terhenti ketika ia menyadari Clara sedang tercengang melihat televisi yang ada di belakangnya. Polisi itu membalikkan badan dan melihat sebuah berita yang mengejutkan. Berita itu menayangkan kerusuhan yang terjadi di sebuah bank. Terlihat beberapa orang yang diindikasi sebagai nasabah bank itu marah dan saling menyerang. Bahkan mereka juga merusak fasilitas yang ada di sana.


Menurut reporter yang bertugas di sana, keributan ini dipicu oleh peraturan bank tentang pembatasan jumlah uang tunai dalam sehari, sementara para nasabah ingin menarik semua uang mereka di sana. Hal ini disebabkan oleh rumor yang beredar bahwa bank tersebut di ambang kebangkrutan dan jika para nasabah tidak menarik uang mereka segera, maka uang-uang tersebut takkan pernah kembali.


Ternyata keributan seperti itu juga terjadi di beberapa bank lainnya. Bahkan sebagian besar nasabah tersebut sudah mulai melakukan tindakan anarkis. Dilaporkan bahwa keadaan cukup genting dan stabilitas perbankan mulai terganggu. Pernyataan walikota tentang ketidakbenaran rumor tersebut tidak digubris oleh para nasabah.


“Rush Money, seperti yang kukatakan tadi,” kata Clara yang matanya belum terlepas dari layar kaca. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Sepertinya teorimu itu benar.” Kapten Rian yang juga masih tercengang melihat ke arah Clara. “Kita harus menangkap Muzic Box.”