G:0

G:0
LYNGBAKR



Suasana gedung kongres mencekam. Kematian Draugr sudah cukup mengerikan, kini ditambah dengan kondisi adanya penyusup di tengah-tengah mereka. Tapi tidak ada yang lebih khawatir dibandingkan para penyusup itu sendiri. 


Beberapa penjaga sudah berdiri di setiap barisan dengan senjata mereka, membuat para peserta tidak bisa bergerak sedikit pun. ketegangan terpampang nyata di setiap wajah mereka. Mago dan penyusup lain merasakan penyesalan karena gagal melarikan diri sesuai rencana. Untungnya, mereka punya rencana rahasia. Di pertemuan terakhir mereka, Explo membekali setiap pejuang yang menyusup sebuah kancing yang akan meledak dan mengeluarkan asap jika dibenturkan ke lantai. Ledakan itu juga akan mengirimkan sinyal pada Explo dan akan menjadi tanda baginya untuk meledakkan pintu gedung dan menciptakan jalur pelarian.


Para pejuang sudah bersiap untuk meledakkan benda itu. Namun gerakan mereka terhenti ketika melihat seorang pria muda berjalan dan naik ke atas panggung dengan langkah yang mantap. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Ia segera mengambil alih podium dari wanita tadi. Kehadirannya adalah pemandangan yang sangat mengejutkan bagi para pejuang dan beberapa anggota kongres yang mengenalnya.


“Terima kasih, Siren.” Pria itu mengalihkan perhatiannya pada seluruh peserta kongres. Ia meletakkan telapak tangannya di wajah dengan jari telunjuk menyentuh dahi. “Kraken yang Agung. Perkenalkan, aku adalah Lyngbakr, putra dari Hafgufa. Mungkin sebagian besar dari kalian sudah mengenalku sebagai Kapten Rian.”


Para peserta kongres mulai ribut dan saling berbisik. Mereka seakan lupa dengan kondisi mencekam yang tadi melingkupi mereka. Kapten Rian adalah salah satu musuh besar Kraken yang selama ini sangat mengganggu bagi mereka. Banyak di antara mereka yang pernah merasakan dingin dan sumpeknya ruang penjara karena pria itu.


“Aku sangat mengerti jika kalian tidak percaya kalau aku adalah anak Hafgufa, atau ada yang mempertanyakan loyalitasku pada Kraken melihat apa yang telah kulakukan selama ini. Aku tak memaksa kalian untuk percaya. Tapi sebagai permintaan maafku atas apa yang telah kulakukan selama ini pada Kraken, aku telah membawa beberapa musuh kalian ke tempat ini.”


Para peserta semakin ribut. Mereka tidak percaya dengan ucapan Kapten Rian. Tetapi mereka menunggu. Sangat baik jika benar musuh-musuh Kraken yang menyusup ke tempat ini memang sengaja didatangkan olehnya. Sementara itu, para pejuang semakin khawatir.


Kapten Rian, yang juga mengaku bernama Lyngbakr, mengangkat tangannya sehingga terlihat sebuah cincin di salah satu jemarinya. Ia menatap ke arah seluruh peserta kongres.


“Anak-anak asli Kraken pasti akan diberikan cincin seperti ini ketika ia baru dilantik. Masalahnya, banyak orang di luar Kraken yang mengetahuinya dan membuat tiruannya. Tapi ada satu rahasia di balik cincin ini, yang bahkan tidak diketahui oleh banyak anak-anak Kraken.”


Tiba-tiba lampu dipadamkan, membuat semua orang semakin panik. Mago dan para pejuang lain berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri. Sayangnya, kesempatan itu menghilang dengan cepat saat ada cahaya yang terpancar dari panggung. Cahaya itu mengenai langit-langit gedung dan membentuk gambar gurita raksasa, simbol dari Kraken.


“Cincin ini dirancang oleh seorang loyalis Hafgufa sesuai dengan permintaannya. Jika batu di cincin ini diputar, maka akan mengeluarkan cahaya yang membentuk simbol Kraken.”


Seluruh peserta kongres mencoba apa yang baru saja dilakukan Kapten Rian pada cincinnya. Dan benar, sebagian besar cincin mereka mengeluarkan cahaya seperti yang dikeluarkan oleh cincin Kapten Rian.


Kemudian perhatian para peserta kongres tertuju pada orang-orang yang cincinnya tidak mengeluarkan cahaya. Para pejuang yang berada di gedung itu merasa terpojok karena tentu saja cincin mereka tidak mengeluarkan cahaya itu. Padahal mereka mendapatkannya dari Kapten Rian.


“Hadirin, aku persembahkan para musuh Kraken,” kata Kapten Rian yang disambut oleh tepuk tangan dari Siren.


Halu segera mencabut kancing bajunya dan melemparkannya ke lantai, diikuti oleh para pejuang lainnya. Kemudian terjadi ledakan dan asap mulai mengepul memenuhi ruangan. Lampu pun menyala dan para penjaga mulai mencari para penyusup itu.


Sayangnya, sebagian besar  Ledakan terjadi di beberapa tempat dan udara mendadak menyesakkan karena asap. Ketika lampu dinyalakan, para pejuang itu telah menghilang dari tempatnya.


“Mereka menuju lubang udara,” teriak salah seorang peserta. Dan memang benar, beberapa pejuang yang menyusup terlihat melompati lubang udara itu.


Segera para penjaga melepas tembakan ke arah mereka. Hanya dua orang yang lolos, selebihnya harus menjauh dari lubang udara dan terpaksa memberikan perlawanan.


“Sebagai bentuk penghargaan atas hubungan kita selama ini, aku menawarkan kalian untuk menyerahkan diri. Kalian takkan menang melawan kami,” ujar Kapten Rian dari podium. “Menyerahlah. Aku tahu ini seberapa besar kemampuan kalian. Bahkan jika kalian semua benar-benar berkumpul di tempat ini, kalian takkan bisa menang.”


Mago dan para pejuang yang tersisa sama sekali tidak menunjukkan sikap ingin menyerah. Mereka tetap memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melawan. Bagi mereka, menyerah adalah pilihan terburuk. Mereka akan tetap disiksa, bahkan dibunuh. Namun sebelumnya mereka akan dipermalukan di depan publik sehingga bisa menghancurkan mental para pejuang lainnya.


“Kau telah mengenal kami selama beberapa tahun terakhir. Tentu kau tahu kalau kami takkan menyerah,” jawab Mago. Kemudian ia mengarahkan tongkatnya kepada Kapten Rian dan sebuah kilatan seperti petir menyambar dari benda tua itu.


Kapten Rian berhasil menghindar dan serangan itu merupakan pertanda bahwa pertarungan dimulai. Para penjaga dan beberapa peserta kongres mulai maju menyerang, sedangkan para pejuang sudah bersiap untuk melawan.


Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi dari atas, menghancurkan atap dan reruntuhannya menimpa beberapa peserta kongres. Kemudian dari atap yang berlubang itu terbanglah Ahool dengan tubuh kelelawarnya, melempar bom-bom mini buatan Explo ke arah tribun dan panggung. Kemunculan kedua pejuang itu diikuti oleh para pejuang lain. Mereka seperti menghadirkan kembali adegan ikonik film Avengers:Endgame ketika para pahlawan super datang dan bersiap untuk membantu Avengers yang sedang sibuk melawan Thanos.


“Sudah kubilang, walaupun kalian semua datang, kalian akan tetap kalah.”


Lalu beberapa kursi di tribun terbuka dan ada berbagai senjata di sana. Ternyata itu adalah senjata milik para prajurit Kraken yang saat itu menjadi peserta kongres. Mereka mengambil senjata mereka masing-masing dan mulai melawan para pejuang.


Tentara Langit dengan kekuatan manipulasi cuacanya menurunkan hujan dan petir sehingga merusak sebagian senjata orang-orang Kraken yang kebanyakan terbuat dari alat elektronik. Air hujan itu juga dimanfaatkan Malie si ahli air sebagai senjata.


Kuda-kuda tangguh datang menghampiri para Ksatria Cavalo dan bertugas untuk mengacaukan barisan orang-orang Kraken. Halu mengacaukan pikiran orang-orang Kraken sehingga mereka melihat kuda-kuda itu seperti monster. Sementara Fantome yang memiliki kekuatan berbagai makhluk gaib berubah wujud menjadi Frankenstein yang menghajar mereka bak Hulk.


Di antara para pejuang itu, Dozo terlihat paling menonjol. Selain karena tubuh besarnya, ia menggunakan pedang dan tameng yang memiliki kekuatan luar biasa. Dengan sekali tebas, ia berhasil merobohkan belasan orang. 


Hal itu menarik perhatian Kapten Rian. Ia pun membuka jas dan kemejanya dengan cepat. Terlihat seluruh tubuh bagian atas hingga lengannya dilingkupi baju besi. Ia pun melompat ke arah Dozo. Melihat sang pengkhianat itu mendekatinya, Dozo segera menebaskan pedang ke arahnya.


Tanpa diduga, baju besi itu berhasil menahan tebasan pedang tersebut. Dozo sampai tercengang saat melihat Kapten Rian bergeming setelah menerima serangannya. Kapten Rian tersenyum lalu menggerakkan tangannya sebelum melepaskan tinju ke arah Dozo. Pria besar itu segera melindungi dirinya dengan tameng. Dan untuk kedua kalinya ia dibuat terkejut oleh kekuatan Kapten Rian. Pukulan itu berhasil membuatnya terpental jauh. Para pejuang yang mengenal seberapa besar kekuatan Dozo terkejut. Baru kali ini mereka melihat Dozo terpental seperti itu. 


Beberapa pejuang telah berhasil ditaklukkan, sementara sisanya sudah hampir mencapai titik akhir. Mereka sudah berada di ujung tanduk. Dozo dan para pejuang tidak bisa menutupi kesedihan di mata mereka. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan kejahatan Kraken demi kota mereka masing-masing, kini mereka harus mengakhirinya semuanya di sini, di momen yang terasa sangat singkat dan sia-sia ini.


Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh sebuah suara misterius. Semakin lama suara itu semakin jelas. Seperti suara teriakan. Asalnya dari langit. Ketika mereka melihat ke arah suara itu berasal, sebuah benda terhantam keras ke dalam gedung bagaikan meteor.


Mereka melupakan sejenak pertarungan mereka itu lalu dengan kompak melihat ke arah jatuhnya benda itu. Ternyata bukan benda, melainkan seseorang berkostum serba hitam. Ia memberikan senyumannya pada orang-orang di sana.


“G:0!” teriak beberapa orang yang mengenal sosok itu.


“Terima kasih karena tidak menungguku untuk memulai pesta ini,” gumamnya.