
Gedung itu terlihat gelap dan sunyi. Aroma anyir darah dan apek bercampur menyengat hidung. Clara berjalan menyusuri ruang di antara kursi-kursi yang kesepian karena telah lama diabaikan. Debu-debu berterbangan mengganggu pernapasan, membuat Clara harus menutup hidungnya.
Ia tersenyum ketika melihat seorang pria duduk sendiri di antara kursi-kursi itu. Matanya nanar ke arah layar besar di hadapannya. Ia sedang bernostalgia dengan masa lalunya di tempat yang sama. Mata yang nanar itu telah lelah mengeluarkan air mata. Wajahnya sudah sangat pucat. Di dekat tangan kanannya yang berlumuran darah kering, tergeletak sebuah pisau dengan lumuran yang sama.
“Papa,” kata Clara. Pria itu menoleh lalu tersenyum. Clara berinisiatif untuk duduk di sebelahnya dan menemainya bernostalgia.
“Kau ingat saat papa membawamu ke tempat ini?”
“Tentu saja. Itu adalah satu-satunya kenangan indah yang kumiliki bersama Papa.”
Chef Barney terdiam. Ia kembali mengembalikan keheningan ruangan itu dan Clara hanya mengikutinya saja.
“Sebenarnya dulu papa akan menikah dengan wanita lain. Wanita yang sangat papa cinta."
Clara terkejut. Ia belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya.
"Dua minggu sebelum pernikahan, papa mengadakan reuni bersama teman-teman alumni papa sambil mengundang mereka untuk pernikahan papa. Mamamu juga ikut. Saat itu mama baru saja kehilangan ibunya dan membuatnya hidup sebatang kara. Sementara papa merasa tertekan karena sadar kalau papa masih terlalu muda untuk menikah.
"Kami pun menghabiskan malam dengan meminum banyak minuman beralkohol. Bahkan ketika semua teman kami sudah pulang, kami masih mabuk.
"Paginya, papa terbangun di kamar kos mama. Kami tidak melakukan apa-apa karena seluruh pakaian kami masih utuh di tubuh kami. Belum sempat pergi, para tetangga menggerebek dan mengarak kami ke rumah ketua RT. Sesuai adat di daerah itu, kami dipaksa untuk menikah saat itu juga."
Clara semakin terkejut karena cerita papanya berkembang jauh dari yang bisa ia bayangkan. "Lalu, bagaimana dengan calon istri Papa itu?"
Chef Barney terdiam sesaat lalu air mata mulai mengalir di pipinya. "Ia adalah wanita paling lembut yang pernah papa kenal. Ia juga seorang penyendiri yang sulit bergaul dengan orang lain. Baginya, hanya papa orang yang paling ia percaya dan ia cintai. Hatinya sangat hancur saat itu dan ia tidak memiliki orang untuk berbagi dukanya. Beberapa hari kemudian, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
Clara membiarkan papanya menangis. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria yang selama ini ia kenal sebagai sosok yang paling santai dan cuek seakan tidak memiliki perasaan, memiliki luka yang sangat besar.
"Papa menyayangi mama, tapi tidak bisa lebih dari sayang kepada keluarganya. Beberapa kali papa ingin berpisah dengan mama, tapi papa takut meninggalkan seorang wanita lagi. Papa takut kehilangan tanggung jawab atasnya dan membiarkannya menanggung masalahnya sendiri. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Papa adalah satu-satunya masalah di hidupnya. Bahkan papa juga membuatmu menderita."
Clara memeluk sang papa yang masih menangis tersedu-sedu dan berulang kali mengucapkan kata maaf. Ia tidak menduga ada luka yang sangat besar di hati pria itu. Ia memang tidak membenarkan semua yang telah dilakukan oleh pria itu. Tapi ia memahami alasannya.
"Bercerailah dengan mama jika papa memang tidak bisa bahagia dengannya," kata Clara yang membuat papanya membelalakkan mata. "Aku hanya tak ingin melihat kalian menderita. Papa tidak perlu mengkhawatirkan mama. Ia adalah wanita yang sangat kuat. Seandainya pun ia menghadapi masalah yang tak bisa ditanggungnya, aku akan ada untuk membantunya. Demikian juga jika hal itu terjadi pada Papa. Putrimu ini telah dewasa. Aku akan bertanggung jawab atas kalian dan kebahagiaan kalian."
Saat itu, di ruangan pengap dan gelap berbau anyir bercampur apek itu, sebuah hubungan antara ayah dan anak mulai bergerak ke arah pemulihan. Meski tak bisa menghapus semua kesalahan yang telah dilakukan sang papa terhadapnya dan mamanya selama ini, ia berhasil melepaskan maaf dengan tulus. Clara hanya berharap kedua orang tuanya berbahagia meski tak lagi bersama.
* * *
Sebulan kemudian…
Jonathan dan Grafit menyeruput semangkuk mie instan dengan semangat seakan sedang melakukan sebuah kompetisi makan cepat. Mereka sudah tidak peduli dengan percikan kuah mie yang berterbangan ke sekeliling mereka dan mendarat di beberapa tempat. Tentu Clara akan mengamuk jika melihat ini. Tapi mereka tahu kalau wanita itu sedang pergi karena ada urusan pribadi.
Sayangnya, mereka tidak menyangka Clara akan datang lebih cepat dari yang mereka duga dan sangat tiba-tiba. Sebelum mie yang mereka santap benar-benar habis, Clara membuka pintu apartemen dan masuk dengan terburu-buru. Hanya saja, yang tidak mereka sangka juga, Clara mengabaikan kejorokan yang mereka buat dan langsung menghidupkan televisi yang ada di hadapan mereka.
Mereka sama-sama menyaksikan berita tentang pembebasan Il Capitano dari penjara karena kurangnya bukti yang dimiliki oleh para penegak hukum. Ternyata hasil rekaman yang diperoleh dari cara ilegal tidak bisa digunakan menjadi alat bukti di pengadilan sementara pihak penyidik gagal menemukan alat bukti yang kuat lainnya, seperti penghipnotis yang disewa oleh Il Capitano untuk menghipnotis Chef Barney di malam kejadian itu.
“Ya, kenapa kita bisa melupakan si penghipnotis itu?” gumam Clara. Melihat hal tersebut, Jonathan langsung mengambil laptop dan segera sibuk mengutak-atiknya.
“Ketika menyelidiki identitas para tamu, aku tertarik dengan salah satu di antara mereka. Lihat ini.” Jonathan mengarahkan layar laptopnya kepada Clara dan Grafit. Mereka melihat seseorang yang mereka kenal di acara malam itu.
“Caesar!”
“Ya. Saat pria itu mencoba merayu dan memeluk Grafit, aku melihat sebuah kalung yang menggantung di lehernya. Sepertinya aku pernah melihat kalung itu sebelumnya. Lalu aku teringat dengan rekaman hasil sadapan kita dulu, saat kita pertama kali menyadari keberadaan sosok Kraken. Kalian ingat? Pria yang memberikan sayembara bagi para penjahat untuk mengalahkan G:0. Ada seseorang yang menggunakan topeng perak dan top hat. Ia memegang kalung yang sama dengan yang digunakan pria bernama Caesar itu.”
Clara dan Grafit mendekatkan mata mereka ke layar laptop untuk melihat dengan seksama kalung yang dipakai pria bertopeng itu.
“Memang, sepertinya ini bukan benda yang umum untuk dijadikan liontin,” ujar Clara.
“Ya, sebenarnya itu bukan liontin. Menurut sebuah artikel yang kubaca di salah satu situs tentang hipnotis, itu adalah jenis pendulum langka yang digunakan para penghipnotis jaman dulu, tepatnya di jaman renaissance. Jika Il Capitano benar-benar menyewa seorang penghipnotis untuk memanipulasi ingatan papamu seperti yang pernah ia katakan, maka pria bernama Caesar itu adalah tersangka utamanya.”
Clara mengetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil berpikir. Firasatnya mengatakan hal yang sama dengan tebakan Jonathan. Pria itu memang terlihat mencurigakan sejak awal. Hanya saja mereka masih harus menyelidikinya lebih dalam lagi.
Sebentar lagi skuad G:0 akan tahu jika pria itu adalah musuh yang sangat mengerikan bagi mereka.