
Suasana di kantor polisi saat itu sedang tenang. Tidak ada kasus yang cukup menyibukkan para petugas. Mereka hanya sibuk dengan dokumen-dokumen yang belum mereka kerjakan beberapa minggu belakangan. Keadaan di sel juga sangat tenang. Para tahanan sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, yaitu merenungi nasib.
“Siapa namamu?” tanya seorang tahanan yang tangannya dipenuhi dengan tato pada tahanan bertubuh besar yang ada di hadapannya “Rumpel…”
“Rumpelstiltskin,” jawab tahanan bertubuh besar itu.
“Sulit sekali. Sebaiknya kau pertimbangkan untuk mengubah nama itu.”
“Kau tidak tahu kenapa aku memilih nama itu.”
“Aku tak peduli,” potong pria bertato itu. “Aku hanya tahu tokoh dongeng yang memiliki nama itu adalah seorang pecundang yang menjual kekuatan luar biasanya dengan harga yang sangat tak layak.”
Rumpelstiltskin menatap pria itu seakan tak terima dengan semua pernyataannya. Mengejek tokoh licik itu sama saja dengan mengejeknya.
“Pedagang bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Dia adalah orang jenius, bahkan psikopat jenius. Kalau menurutmu orang menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan musuh atau merebut kekuasaan, bukankah itu terlalu klise? Tapi Rumpelstiltskin hadir dengan penawaran adil bagi orang-orang yang putus asa, membuat posisinya menjadi bias. Ia bisa menjadi pahlawan, juga di detik yang sama menjadi sosok paling kejam. Ia membuat protagonis harus mengambil langkah antagonis jika ingin menentangnya, karena kejahatan yang dilakukannya adalah legal, dengan selembar kesepakatan.”
Pria bertato itu tertawa. Rumpelstiltskin tidak tahu maksud tawa itu. Apakah karena tidak mengerti atau karena ia memang menertawakan idenya.
“Itulah bodohnya dia. Rumpel entah apalah itu merasa dia adalah orang yang jenius sehingga kekalahannya disebabkan oleh faktor remeh dan membuatnya terlihat bodoh. Bayangkan, dia hanya menyuruh korbannya untuk menebak namanya agar terlepas dari kesepakatan yang mereka buat. Kau tahu kenapa itu bisa terjadi? Itu karena ia berpikir dirinya yang menentukan jalan cerita.” Pria itu tertawa seakan tak berhenti memprovokasi Rumpelstiltskin. “Sama sepertimu saat ini.”
Rumpelstiltskin terkejut. Memang benar kata pria itu, ia bisa berada di tempat ini karena terlalu gegabah dan berpikir pria bernama Tarjo yang menjadi kliennya itu adalah orang bodoh. Ia berpikir semua pasti terjadi sesuai dengan rencananya.
“Nama itu terlalu kecil untuk orang sebesarmu. Kalau kau mau, aku punya nama yang lebih bagus untukmu.”
Rumpelstiltskin menatap pria itu. Ia curiga sekaligus percaya padanya. Tapi mendapatkan saran nama tidaklah beresiko.
“Memangnya, apa nama yang kau punya?”
“Sang Pendongeng. Bukankah kau ingin menentukan jalan cerita?”
Rumpelstiltskin mengangguk seakan senang dengan nama itu. Kemudian ia fokus pada lawan bicaranya tersebut. Melihat dari sikap dan gaya bicaranya, ia pasti bukan orang sembarangan. Akan sangat bagus baginya jika memiliki kenalan seperti pria itu.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu? Apakah kau bukan orang biasa?”
Pria itu kembali tertawa. “Tergantung kau mendefinisikan orang biasa itu seperti apa. Tapi bagiku aku bukanlah orang biasa, karena aku bekerja di suatu organisasi yang luar biasa.”
“Organisasi apa? Bisakah aku bergabung juga?”
Pria bertato itu tidak langsung menjawab. Ia tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di lantai. Beberapa detik setelah menutup matanya, ia berkata, “Kraken, dan siapa pun bisa bergabung jika kami menganggapnya layak.”
* * *
G:0 berlari menuju lokasi pertemuan yang telah disepakatinya dengan Sang Pendongeng: Hutan Kuning. Dinamakan Hutan Kuning karena di ekosistem itu sebagian besar ditumbuhi oleh pohon unik yang berwarna kuning, mulai dari batang, ranting dan daunnya. Meski masih ada tanaman dengan warna lain, seluruh hutan akan terlihat kuning di siang hari karena cahaya matahari yang memantul dari pohon-pohon unik tersebut.
Ini adalah kali pertama ia ke tempat itu, baik sebagai G:0 atau sebagai Grafit. Kesan pertamanya pada tempat itu tidak terlalu bagus. Tapi ia menganggapnya akibat kemarahannya pada Sang Pendongeng karena menculik dua orang penting dalam hidupnya.
G:0 mencari asal suara itu. Ia melihat Sang Pendongeng sudah berada di kejauhan, dihalangi oleh pepohonan. Kemudian sosok berjubah itu membuka tudungnya sehingga terlihat wajahnya yang sangat menyeramkan dengan rambut panjang dan brewok tebal.
“Katakan, di mana kedua temanku?”
“Maksudmu, Hansel dan Gretel?”
“Mereka bukan tokoh dongeng. Mereka adalah orang-orang biasa yang tak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.”
Sang Pendongeng tertawa hingga membahana ke sekeliling hutan. Selang berapa lama, ia berhenti tertawa dan menatap G:0 tajam.
“Kau tahu kenapa aku suka dengan dongeng?” tanya Sang Pendongeng. G:0 bingung karena tidak tahu apakah itu pertanyaan yang harus dijawab atau tidak. “Waktu kecil, dongeng adalah satu-satunya hal yang pernah diberikan ayahku sebelum ia meninggalkan kami. Dongeng juga yang dipakai ibuku agar aku percaya kalau kami baik-baik saja.”
“Eh, berarti dongeng itu berhasil untukmu.” G:0 benar-benar bingung harus memberikan reaksi seperti apa.
“Sayangnya, karena dongeng, aku sempat tidak tahu kalau dunia ini kejam. ‘Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya’, kupikir kata-kata itu bukanlah kebohongan, terutama ketika ibuku berhasil mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk memberikan kami hidup layak. Ternyata itu bukan akhir dan hidup kami tidak bahagia setelah itu. Ibuku ditangkap saat mengantarkan sebuah tas besar milik pelanggannya, yang tak ia ketahui berisi obat-obatan terlarang. Kau tahu ‘akhir’ untuk ibuku? Hukuman mati.”
G:0 tertegun mendengar cerita itu. Cukup gelap sehingga rasa simpatik sempat tumbuh di hatinya. Namun ia menyadarkan dirinya kalau orang itu telah menculik Clara dan Jonathan.
“Lain kali kau boleh bercerita padaku tentang masa lalumu, tapi saat ini aku ingin tahu di mana kau sembunyikan teman-temanku.”
“Ah, iya. Hansel dan Gretel. Saat ini mereka sedang memainkan peran mereka.”
“Mereka bukan Hansel dan Gretel!” Tiba-tiba G:0 teringat dengan cerita tentang dua kakak beradik itu, yang baru ia dengar dari Rosalia. “Maksudmu, sekarang mereka ada di Rumah Kue Jahe?”
Sang Pendongeng tersenyum seakan mengiyakan pertanyaan G:0. “Seperti di cerita, mereka berdua akan dimasak. Hanya saja kali ini mereka takkan bisa lolos.”
G:0 menggeram karena marah lalu berlari dengan cepat ke arah Sang Pendongeng. Tangannya diarahkan pada penjahat itu, namun ia tak mampu mengendalikan gravitasinya. Sepertinya ia menggunakan Ungravity. Tapi itu tak mengurangi hasrat G:0 untuk menghajarnya.
Tak disangka, Sang Pendongeng menggeser tubuhnya hingga tertutup pohon di dekatnya dan ia sudah tak ada lagi di sana. Mata G:0 berkeliling mencari sosok berjubah itu. Secara mengejutkan ia sudah berada cukup jauh dari tempat G:0.
“Seperti yang kukatakan, aku menyukai dongeng kecuali akhirnya. Untuk itu, aku memberikan akhir cerita yang logis kepada para tokoh. Jack terjerat sulur dari pohon kacang karena keserakahannya, Putri Duyung menjadi buih karena usahanya merebut suami orang lain, Pinokio harus dihukum karena suka berbohong. Demikian juga dengan Hansel dan Gretel. Bocah ingusan yang tidak memiliki kekuatan apa pun tapi berlagak hebat. Mereka berpura-pura menjadi pahlawan super dengan memperalatmu demi kepuasan pribadi. Sepertinya aku tidak salah memberikan akhir yang layak bagi mereka, yaitu menjadi makan malam sang penyihir.”
G:0 mengarahkan tangannya ke dedaunan yang ada di atas Sang Pendongeng sehingga jatuh dan bersiap menghujam kepalanya. Sayang, sosok berjubah itu berhasil menghindar. Ia bahkan sembunyi di balik pohon dan menghilang lagi.
Tidak seperti biasa, kali ini G:0 benar-benar tidak bisa tenang. Ia seperti sangat frustrasi menghadapi penjahat yang gila dongeng itu. Bahkan ia tidak bisa lagi mengendalikan kemampuannya. Ia menaikkan dan menurunkan benda-benda di hutan dengan sembarangan. Tentu saja tindakannya itu tidak mampu menaklukkan Sang Pendongeng.
Dan keadaan berbalik ketika Sang Pendongeng menghampiri G:0 dengan cepat dan berhasil melemparkan tinjunya. Pahlawan super kita itu sampai terpelanting jauh. Meski cukup keras dan dipukul dengan sarung tangan dari Ungravity, G:0 langsung berdiri seakan tidak merasakan apa-apa. Amarahnya telah menutupi rasa sakitnya.
Namun ia mengatur napasnya sejenak. Ia mulai sadar kalau cara ini takkan berhasil membuatnya tenang. Ia harus seperti Clara dan Jonathan yang selalu membuat strategi. Ia harus membuat strategi. Sayangnya, sebelum strategi itu dibuat, Sang Pendongeng kembali memprovokasinya.
“Ternyata benar kata Tarjo, kau adalah sosok yang sangat gigih. Sebaiknya aku menceritakan bagaimana kondisi kedua temanmu itu,” kata Sang Pendongeng setelah kembali menjaga jarak cukup jauh dari G:0. “Mereka diikat oleh rantai yang panjang, masing-masing di tiap ujungnya. Lalu aku menyangkutkan tali itu di sebuah tiang yang diberikan penahan. Posisi Hansel tergantung di atas sebuah oven besar dengan tubuh terikat dan ditambah sebuah beban, sedangkan Gretel tertidur di sisi lain dengan leher yang terikat rantai. Jika penahan itu terlepas, tubuh Hansel akan terjatuh ke atas oven yang otomatis menarik leher Gretel. Bagaimana? Indah, bukan?”
G:0 semakin marah. Ia berlari mengejar Sang Pendongeng dan tak peduli penjahat itu akan menghilang dan muncul di tempat lain. Ia benar-benar tak peduli lagi dengan strategi. Yang dipedulikannya sekarang adalah menangkapnya dan membuatnya memberitahukan posisi kedua temannya.