
Clara menyeruput minumannya sambil melihat ke arah pintu kafe dengan cemas. Ia sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu, meski janji temu yang dibuatnya adalah untuk lima menit yang akan datang. Ia terlihat sangat antusias.
Beberapa saat kemudian, lonceng penanda kedatangan tamu berbunyi. Clara kembali melihat ke arah pintu dan kali ini yang telah ditunggunya telah datang.
“Rosalia,” sambut Clara.
Gadis bernama Rosalia itu melambai. Pakaiannya sangat keren untuk ukuran wanita tomboi sepertinya. Ia mengenakan jaket kulit warna hitam yang dipadukan dengan celana jins dan sepatu boot yang senada dengan jaketnya. Kacamata hitam tergantung di leher kaos putihnya.
Setelah berbasa-basi sejenak, Rosalia pun ingin tahu tujuan Clara mengajaknya bertemu. “Karena aku merasa sebelum kejadian di tempat mantan pacar Grafit, kau dan pria cupu itu terlihat sangat tidak menyukaiku. Aku juga tahu kalian yang mempengaruhi Grafit untuk putus denganku.”
Clara tersenyum malu. Ia tidak bisa menyangkal ketidaksukaannya dan Jonathan dengan mantan pimpinan begal itu, khususnya ketika wanita itu memacari Grafit yang polos itu.
“Justru karena kejadian itu kami sadar kalau kau tidak seburuk yang kami sangka. Bahkan adalah teman yang menyenangkan.”
“Maksudmu, setelah aku membantu Grafit menyamar menjadi G:0, kalian masih berpikir aku buruk?”
Merasa kesalahpahaman ini akan berlanjut, Clara langsung membahas bagian yang pasti akan disukai oleh Rosalia. “Aku ingin kau menjadi sidekick G:0.”
“Apa?” Rosalia benar-benar terkejut dengan tawaran yang diberikan oleh Clara.
“Aku ingin kau menjadi superhero juga dan mendampingi G:0 menumpas kejahatan.”
Rosalia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia sedang tidak salah dengar. Matanya memandang curiga ke arah Clara karena tidak ingin tertipu.
“Kau sungguh-sungguh?” Clara menjawab pertanyaan Rosalia itu dengan anggukan kepala. “Kenapa?”
“Well, sebenarnya sejak dulu aku punya rencana untuk mencari pendamping G:0. Rencana itu semakin kuat saat kita ditangkap oleh Padoha. Saat itu aku berpikir, ada saat di mana G:0 sedang tidak bisa menyelamatkan Dragokarta, mungkin karena diculik atau karena terluka seperti saat melawan Candy Boy. Seandainya ada pahlawan yang lain, tentu keamanan Dragokarta bisa tetap terjaga. Itu adalah alasan pertama. Alasan kedua, kami butuh pahlawan super yang ahli dalam menggunakan senjata.”
“Ahli dalam menggunakan senjata?”
“Benar. Saat melihat Padoha, aku sadar kalau G:0 sangat tertinggal dalam hal senjata. Apalagi sejak Ungravity ditemukan dan para penjahat mulai berkembang, G:0 tidak bisa lagi mengandalkan kemampuan pengendalian gravitasinya. Memang Jonathan mengusulkan untuk memperlengkapi G:0 dengan senjata, tapi aku tahu ia takkan bisa menggunakannya dengan baik. Grafit buruk dalam hal senjata.”
Rosalia mengangguk-angguk. Ia mulai memahami maksud Clara. “Lalu, kenapa harus aku? Bukankah kalian bisa mencari kandidat lain yang lebih baik dengan latar belakang lebih bersih?”
“Ayolah, kau juga pasti tahu kalau kaulah satu-satunya kandidat terbaik untuk itu. Kau mengenal kami sangat baik dan kemampuan bertarungmu sangat luar biasa. Bahkan hampir mengimbangi Grafit. Dan aku yakin, sebagai mantan begal, kau pasti fasih dalam menggunakan senjata.”
Rosalia menatapnya karena mendengar kata ‘begal’ sehingga membuat Clara salah tingkah. “Baiklah, seandainya aku terima tawaran itu, apa untungnya bagiku?”
“Kau akan mendapatkan gaji.”
“Aku tidak membutuhkan gaji,” kata Rosalia. “Aku ingin hak penuh untuk menentukan senjata apa saja yang ingin kupakai, termasuk kostum. Aku ingin kendaraan khusus yang kurancang sendiri dan akses penuh untuk masuk ke markas G:0.”
Clara berpikir sejenak lalu mengulurkan tangannya. “Setuju, kecuali syarat terakhir.”
“Tidak mau. Justru yang terakhir adalah syarat utama.”
Setelah bergumul dengan pikirannya sendiri, akhirnya Clara setuju. “Baiklah.”
“Juga nama, aku yang menentukan. Aku takut mendapatkan nama seburuk G:0”
“Yah, padahal aku sudah menyiapkan nama yang bagus,” kata Clara dengan wajah kecewa.”
“Apa itu?”
“Bad Girl.”
Rosalia kembali menatap Clara tajam. Ia seperti sedang marah. “Apakah kau sengaja memilih nama itu karena pengucapannya terdengar seperti kata begal?”
Clara memasang wajah rasa bersalahnya sambil mengangguk. “I, iya.”
“Baiklah, aku suka nama itu.”
* * *
“Bagaimana kalian bisa selamat?” tanya G:0.
[Rosalia yang telah menyelamatkan kami. Bukan, saat ini namanya adalah Bad Girl. Dia kujadikan pahlawan super untuk mendampingimu.]
“Wah, itu adalah ide yang keren,” kata G:0. “Tapi, bukankah dulu Jonathan menawarkan diri untuk menjadi pahlawan super, bahkan memintamu untuk membiayai pakaian super rancangannya?”
[Ya, makanya saat ini ia menggila. Mulutnya terus menggerutu sejak Bad Girl menyelamatkan kami. Tapi kita lupakan dulu masalah itu. Sekarang fokus kalahkan si brengsek yang hampir membunuh kami itu.]
Benar kata Clara, G:0 harus mengembalikan fokusnya pada Sang Pendongeng. Kini ia bisa lebih tenang karena kedua sahabatnya telah selamat.
“Aku merasa dia adalah lawan yang hebat. Aku tak pernah sefrustrasi ini saat bertarung.”
[Kau tahu kenapa ia memilih tempat seperti Hutan Kuning? Pertama, pepohonan akan menyulitkanmu untuk menyerangnya menggunakan pengendalian gravitasi. Kedua, sepertinya berkaitan dengan teknik bertarungnya.]
“Benar, dia memanfaatkan pepohonan untuk menghilang dan menyerangku tiba-tiba.”
“Benar sekali.”
[Jonathan!]
[Baik, baik, aku akan mengubah saturasi kacamatanya sehingga mengganti warna kuning menjadi warna lain. Ya, aku bisa melakukan apa-apa kecuali menjadi pahlawan super. Walau aku juga yang merancang senjata-senjata yang akan digunakannya.]
Clara menatap Jonathan dengan perasaan geram. Ia mulai muak dengan keluhan pria itu.
Kembali ke pertarungan, G:0 menatap Sang Pendongeng tajam. Saat ini ia mulai bisa berpikiran tenang. Ia akan membangun kembali rencana yang sempat dibuatnya. Diam-diam ia mengendalikan angin dengan gravitasinya lalu menggerakkan dedaunan ke arah Sang Pendongeng. Ketika sudah cukup banyak dedaunan menutupi kaki lawannya itu, ia segera menambah gravitasinya.
“Sial, apa yang kau lakukan?” kata Sang Pendongeng saat sadar ia tak bisa menggerakkan kakinya. G:0 pun berlari menyerangnya. Tapi pria berjubah itu berhasil melepaskan diri sebelum G:0 menghampirinya dan menghilang.
G:0 tersenyum. Ia menangkap salah satu daun yang sedang jatuh dari pohon dan melemparkannya ke salah satu sudut setelah menambah gravitasinya. Kemudian terdengar jeritan Sang Pendongeng.
“Bagaimana bisa?”
Tanpa sepengetahuan Sang Pendongeng, G:0 bisa melihat gerakannya karena bekas koyakan di jubahnya. Ia sadar kalau jubah itu menjadi kunci bagaimana Sang Pendongeng bisa menghilang dan tiba-tiba muncul di tempat lain. Jubah itu seperti jubah tembus pandang milik Harry Potter. Ditambah kemampuan Sang Pendongeng bergerak cepat, maka tak heran jika ia bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu sekejap tanpa terlihat.
“Jubah yang unik. Apakah itu pemberian Kraken?” tanya G:0 sedikit mengejek.
Sang Pendongeng membuka jubahnya karena ia pikir sudah tidak berguna lagi. Sambil menahan rasa sakitnya di bahu kiri akibat tusukan daun yang dilemparkan G:0 tadi, Sang Pendongeng mengeluarkan tongkat pendek berbentuk kayu yang langsung memanjang ketika ia menekan sebuah tombol.
“Jika kau menginginkanku untuk berhenti menghindar, aku akan berhenti menghindar. Tetapi kau harus menerima konsekuensinya.”
Sang Pendongeng mengarahkan ujung tongkatnya ke arah G:0. Ternyata tongkat itu mengeluarkan semacam gelombang ultrasonik yang membuat G:0 pusing. Bukan hanya G:0, bahkan Clara dan Jonathan yang terhubung melalui alat komunikasi juga merasakan hal yang sama.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Sang Pendongeng. Ia menyerang G:0 yang sedang menutup kupingnya sambil menahan pusing dengan tongkatnya itu. Serangan itu membuktikan kalau tongkat itu tidak biasa bukan hanya karena bisa mengeluarkan gelombang ultrasonik, melainkan karena terbuat dari Ungravity dan mengeluarkan aliran listrik, dua kelemahan G:0.
Sontak G:0 terkapar tak berdaya karena serangan itu. Aliran yang dihasilkan tongkat tersebut ternyata tidak main-main. Jika bukan G:0, mungkin orang yang terkena serangan itu akan hangus.
Aliran listrik itu juga merusak seluruh peralatan elektronik yang ada di kostum G:0, termasuk alat komunikasi dan kacamata kamera. Kini Clara dan Jonathan tidak bisa memantau G:0 lagi.
“Bagaimana? Keren, bukan? Benda ini diberikan langsung oleh Geppetto. Kau pasti mengenalnya. Ia adalah wanita yang luar biasa. Aku berharap suatu hari ia mau menerima tawaran kencanku padanya.”
Lagi-lagi Sang Pendongeng mengeluarkan kebiasaan buruknya, yaitu mengintimidasi. Ia memang selalu menikmati momen ketika lawannya marah padanya. Ia tahu, orang yang dipenuhi kemarahan takkan bisa berpikiran jernih.
“Aku tak akan mengambil resiko untuk bermain-main lebih lama lagi denganmu. Kita akhiri saja di sekarang.”
Sang Pendongeng mengangkat tongkatnya tinggi dan keluar sesuatu semacam mata pisau di ujung benda itu. Ia bersiap untuk menghujamkannya ke tubuh G:0.
Tiba-tiba terdengar suara seperti tembakan dan sesaat kemudian tongkat Sang Pendongeng terpental. Dengan kondisi tubuh yang sedang lemah, G:0 berusaha melihat ke arah sumber suara tembakan itu. Ia terkejut melihat sosok wanita berpakaian ketat serba hitam dengan topeng di wajahnya.
“Aku sudah di lokasi,” kata wanita itu.
[Bagus, Bad Girl. Bagaimana kondisi G:0?]
“Masih hidup.”
Dia adalah Rosalia a.k.a. Bad Girl. Sang Pendongeng sempat panik karena tidak menyangka akan menghadapi manusia bertopeng yang lain. Ia pun mengeluarkan sebuah benda yang ketika ia tekan tombolnya, berubah menjadi semacam senapan.
[Beri aku waktu, maka aku akan menciptakan senjata yang lebih hebat dari itu. Di otakku penuh dengan ide tentang senjata, yang sayangnya tidak didukung oleh seseorang.]
Jonathan menatap Clara dengan wajah mengejek setelah mengeluarkan kata-kata sarkas itu. Namun Clara pura-pura tidak melihatnya.
“Bagiku, hebat atau tidaknya senjata selalu bergantung pada penggunanya. Dan kalian beruntung karena aku adalah pengguna senjata yang hebat,” sesumbar Rosalia.
Dan ia benar-benar membuktikan perkataannya. Ia segera berlari ke arah lawannya sambil menghindar dari peluru-peluru yang mengarah padanya. Clara dan Jonathan sempat cemas karena Bad Girl belum juga membalas dan hanya menghindar.
Hingga beberapa saat kemudian, saat ia merasa waktunya sudah tepat, Bad Girl melompat sambil melepaskan tembakan. Langsung mengenai Sang Pendongeng dan membuatnya roboh seketika. Clara, Jonathan dan G:0 tercengang melihat aksi kerennya itu.
“Terima kasih atas pujiannya, meski kalian masih mengatakannya dalam hati,” kata Bad Girl yang sudah berada dalam posisi berdiri.
[Jika kau bisa melakukan gerakan seperti itu, aku akan mengizinkanmu menjadi pahlawan super.]
Jonathan yang mulutnya masih menganga melihat ke arah Clara.
[Mulai sekarang aku akan berhenti mengeluh.]
* * *
Suasana aula kantor walikota sudah mulai ramai. Bangku-bangku sudah penuh oleh para penonton yang sedang menunggu para kerabatnya untuk tampil. Walikota Dragokarta baru tiba dan duduk di bangku terdepan dan ternyaman, bersebelahan dengan kepala dinas pendidikan kota.
Jonathan, Grafit dan Rosalia sudah duduk bagian tengah. Mereka, sama seperti penonton lainnya, mulai mengipas tubuh mereka dengan berbagai benda. Jonathan dengan buku tipisnya, Grafit dengan potongan kardus yang ia temukan di lantai dan Rosalia yang sudah siaga membawa kipas mini.
Lalu perhatian mereka tertuju ke arah panggung, ketika Clara keluar dengan sebuah buku tebal. Ini adalah gilirannya. Saat sudah sampai di tengah panggung, ia memberi hormat kepada para penonton. Wajahnya terlihat sangat tenang. Kemudian ia membuka lembar bukunya.
“Dongeng tentang empat pahlawan super. Alkisah ada empat orang sahabat yang memiliki kemampuan super. Yang pertama bisa menerbangkan benda-benda tanpa menyentuhnya. Yang kedua bisa memperbaiki banyak benda hanya dengan menyentuhnya. Yang ketiga bisa membuat pakaian hanya dengan menjentikkan jarinya. Dan yang terakhir adalah yang paling jenius, yang bisa menciptakan banyak benda menarik dengan kekuatan pikirannya. Mereka bekerjasama untuk menolong orang banyak. Pada suatu hari -”