G:0

G:0
AKHIR DARI MISI PERSEUS



G:0 berhasil membuat Lyngbakr bertekuk lutut di hadapannya. Melihat hal tersebut, para pejuang semakin bersemangat. Tinggal beberapa orang Kraken lagi yang bertahan dan mereka akan meraih kemenangan. 


[G:0, Bad Girl, akhiri pertarungan. Sekali lagi, akhiri pertarungan. Katakan pada seluruh pejuang untuk segera pergi dari sana.]


G:0 dan Bad Girl terkejut mendengar perintah Clara yang terdengar seperti ketakutan. 


"Ada apa? Kami di sini sedang menguasai pertarungan. Sebentar lagi Kraken akan kalah," sumbar Bad Girl. 


[Tidak, ini tidak seperti yang kalian lihat. Kekuatan Kraken tidak hanya sebesar yang ada di gedung itu. Mereka masih memiliki banyak -]


Ucapan Clara terhenti karena sebuah ledakan dahsyat dari salah satu sisi gedung. Orang-orang, khususnya para pejuang, terkejut dan melihat ke arah ledakan. 


Beberapa sosok muncul di balik kepulan asap akibat ledakan tersebut. Sebagian dalam wujud manusia, sebagian robot dan sebagian manusia yang sedang mengendarai robot. Beberapa pernah menjadi lawan G:0, seperti kawanan Dancing Shadow, The Vanishers, Padoha dan Geppetto dengan baju robot mirip Iron Man. 


[Ya, kenapa kita tidak ingat kalau mereka adalah bagian dari Kraken dan seharusnya ada di kongres itu?]


Benar kata Jonathan. Para pejuang lain juga berpikiran demikian. Di antara sosok-sosok yang baru muncul itu, terdapat lawan-lawan berat mereka. 


Sementara itu, G:0 dan Geppetto saling bertatapan. Meski yakin tidak pernah bertemu, apalagi mengenalnya, Geppetto merasa sedih melihat G:0 terluka. 


G:0 lengah. Ia berhenti mengendalikan tubuh Lyngbakr. Mantan polisi itu segera menjauh dari G:0 dan mendekati teman-temannya yang baru datang. Bahkan ia memeluk pundak Geppetto. 


"Kau tahu apa perbedaan antara aku Kichigai?" tanya Lyngbakr pada G:0 yang masih termangu. "Kichigai menjadikannya sebagai sandera, sedangkan akh menjadikannya sebagai sekutu. Geppetto adalah kunci untukku masuk ke Kraken dan mendapatkan kepercayaan dari mereka. Bukan hanya itu -"


Tiba-tiba Lyngbakr mencium Geppetto atau Patricia. Semua orang terkejut, termasuk Clara dan Jonathan di markas. Namun, hanya G:0 yang patah hatinya. 


[Untung aku sudah putus dengan bajingan itu.]


Jonathan melihat ke arah Clara, seakan ingin mengatakan jika selama mereka pacaran, ia telah diselingkuhi. Tapi Clara pasti tahu itu. Jonathanpun batal mengatakannya karena tidak ingin membuka apa yang sengaja Clara tutup.  Ia lebih menghiraukan perasaan G:0 atau Grafit yang sangat memuja Patricia. 


[Bad Girl, sepertinya kami hanya bisa berbicara padamu karena G:0 pasti sulit berpikiran jernih sekarang. Kalian harus benar-benar kabur. Mereka yang baru datang ibarat tim inti Kraken. Kalian takkan bisa mengalahkan mereka, apalagi kondisi kalian sudah lelah karena pertarungan tadi.]


[Ya, dan kami mendapatkan informasi kalau sebelum datang ke sana, mereka telah menghancurkan kota dan markas para pejuang yang mereka tinggalkan. Ada baiknya para pejuang kembali ke asal mereka sekarang.]


Kali ini Bad Girl menuruti perkataan Clara dan Jonathan. Diam-diam ia mendekati Dozo dan menceritakan tentang apa yang terjadi pada daerah asal mereka. Para pejuang yang tersisa sepakat untuk mengakhiri perjuangan mereka dengan kekalahan. Masalahnya sekarang adalah cara mereka untuk kabur. 


"Aku akan menahan mereka. Kalian pergi saja," kata G:0 membuat para pejuanh terkejut. 


"Bagaimana caranya?" tanya Bad Girl. 


G:0 tidak menjawab. Ia hanya maju beberapa langkah lalu memasang kuda-kuda dengan tangan mengarah padanya. 'Tim inti' Kraken pun merespons dengan sikap siaga. 


Tiba-tiba G:0 mengarahkan tangannya ke lantai. Tak lama kemudian tanah bergetar. Semua orang panik. Gedung itu seakan hendak runtuh. Orang-orang Kraken juga sadar jika mereka tak bisa menggerakkan kaki mereka. 


[Bad Girl, sekarang waktunya! Bawa para pejuang keluar dari sana!]


"Ta, tapi bagaimana dengan G:0? Dia juga dalam bahaya."


[Kau tak tahu kemampuan G:0. Ia pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri.]


Bad Girl pun menuju para pejuang dan memberi kode pada mereka untuk melarikan diri. Sementara itu, G:0 masih berdiri di tempatnya. Terlihat amarah tergurat di wajahnya. Lyngbakr dan anak buahnya panik dengan situasi tersebut. Atap dan dinding gedung mulai runtuh, sementara mereka tidak bisa bergerak ke mana-mana. 


Tak lama kemudian, seluruh gedung runtuh. Bad Girl dan para pejuang hanya bisa melihat dari jauh dengan hati yang sedih. Sedih karena mereka tidak tahu apakah Misi Perseus benar-benar berhasil atau tidak. Serta sedih karena seorang pahlawan super yang kemarin masih mereka remehkan, hari ini mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan mereka. 


*          *         *


Seluruh karyawan dan pengunjung swalayan Ceria panik. Mereka berlarian menjauhi bagian perkakas. Di sana seorang pria bertopeng tertawa jahat sambil memegang sebuah mesin paku tembak. Ia melemparkan tembakan paku ke sembarangan arah.


“Kalian tidak bisa ke mana-mana. Seluruh akses keluar swalayan telah kami tutup.”


Beberapa anak buahnya yang juga bertopeng dan bersenjatakan mesin paku tembak menghalau dan mengarahkan para karyawan dan pengunjung untuk berkumpul di depan bos mereka.


“Perkenalkan, namaku adalah Nailer. Sebentar lagi kami akan menguasai Dragokarta. Sebagai korban untuk aksi pertama kami, kalian akan diberi kehormatan untuk menjadi donatur kami. Sekarang, serahkan uang kalian.”


Para sandera terdiam. Tidak ada pergerakan dari mereka. Semua anak buah Nailer juga bingung harus melakukan apa.


“Bodoh! Kumpulkan uang mereka!”


“Maaf, Bos. Apakah uang saja? Ponsel dan perhiasan tidak usah?” tanya salah satu anak buahnya. Nailer berpikir sejenak.


“Ya, uang saja. Kita masih baru di kota ini, akan susah untuk menjual barang curian karena belum punya kenalan penadah.”


“Tapi banyak dari mereka yang tidak bawa uang tunai. Boleh bayar pakai Sh*peepay?”


“Iya, Bos. Sandera di sini juga hanya punya saldo G*pay dan OV*. Kita terima saja?”


“Bagaimana mungkin kalian tidak membawa uang tunai?!”


“Le, lebih aman, Pak. Apalagi swalayan ini melayani pembayaran dengan dompet digital apa saja,” kata seorang karyawan swalayan.


“Kenapa? Kalian sangat menyulitkan para perampok seperti kami saja. Lain kali kalian harus menyiapkan uang tunai, ya,” ujar salah satu anak buah Nailer dengan polos.


Nailer terlihat marah. Wajahnya memerah seperti kepiting yang direbus. Ia pun menembakkan mesin paku tembaknya ke langit sambil berteriak tak keruan.


“Aku punya uang tunai.” Sebuah suara terdengar dari ujung koridor. Mereka semua melihat ke arah sumber suara itu. Seseorang berkostum sedang bersandar di salah satu tiang swalayan sambil menikmati apel segar. “Tapi kalian harus mengambil sendiri.”


Para anak buah Nailer terbengong. Mereka merasa sosok itu terlihat keren.


“Bodoh, serang dia!” teriak Nailer. Mereka pun tersadar lalu berlari menyerang.


Sosok itu adalah Bad Girl. Ia tersenyum lalu mengeluarkan beberapa bola besi dari sabuknya lalu melemparkannya ke arah mereka. Tak butuh waktu lama, semua anak buah Nailer tumbang. Sang bos ketakutan karena menyadari sosok itu bukanlah orang biasa. Ia pun menembakkan mesin pakunya ke arah Bad Girl, namun tak ada satu pun yang mengenai sasaran.


“Penguasa Dragokarta? Ayolah, aku sangat sakit hati karena kau ingin merebut statusku itu,” kata Bad Girl sambil berjalan mendekati Nailer yang sudah kehabisan paku.


“Ja, jangan mendekat. Aku hanya bercanda. Kumohon, ampuni aku. Aku masih pemula. Aku takkan mengulanginya lagi. Aku akan kembali menjadi kuli bangunan.”


Nailer yang tadi terlihat arogan kini berlutut memohon sambil menangis. Bad Girl mengeluarkan tongkat pengaitnya dan menyentuh pundak Nailer dengan ujung benda itu. 


“Baiklah, aku akan mengampunimu. Tapi kau harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu.”


Tak lama kemudian, terdengar suara sirene dari mobil polisi. Pintu swalayan dibuka dan para aparat keamanan itu mendapati anak buah Nailer yang sudah pingsan dan Nailer yang menangis dengan celana yang basah. Para sandera segera berlari ke arah pintu keluar untuk menyelamatkan diri.


Sementara Bad Girl sudah melarikan diri. Kini ia berdiri di atas sebuah gedung yang tak jauh dari swalayan sambil melihat para polisi membawa penjahat-penjahat itu.


[Kerja bagus, Bad Girl.]


Clara menyapa pahlawan wanita itu dengan pujian melalui alat komunikasi. Bad Girl tersenyum. Meski tak seaktif G:0, sudah sebulan ini ia menggantikan sang pengendali gravitasi untuk memberantas kejahatan di kota Dragokarta.


Ia dan para pejuang berhasil meloloskan diri dari keruntuhan gedung kongres. Sayangnya, G:0 tidak bersama dengan mereka. Berhari-hari mereka menunggu kabar tentang korban reruntuhan itu, namun tak ada ditemukan korban yang mengenakan kostum seperti yang G:0 punya. Lebih mengejutkannya lagi, Lyngbakr dan ‘tim inti’ Kraken juga tidak ada di bawah reruntuhan itu. Sepertinya mereka berhasil menyelamatkan diri.


Namun di bawah reruntuhan itu ditemukan mayat-mayat peserta kongres. Para pejuang berpikir mereka adalah orang-orang Kraken yang memang sengaja dibiarkan mati oleh Lyngbakr. Mungkin karena mereka sempat menentang kepemimpinan Lyngbakr atau dinilai kurang pantas menjadi anggota Kraken. Merekapun mendapatkan jawaban yang lebih masuk akal ketika sebuah berita mengabarkan tentang kekejian para pejuang yang menyerang dan membunuh orang-orang Kraken. Publik pun mulai memberikan simpati pada Kraken dan sebaliknya, mereka menghujat para pejuang atas tindakan keji mereka.


Terlepas dari semua itu, Clara, Jonathan dan Rosalia merindukan Grafit. Mereka merindukan sosok polos penyuka anime dan KPop. Meski yakin Grafit baik-baik saja, mereka sangat ingin melihatnya. 


“Bagaimana kabar Grafit sekarang, ya?” tanya Bad Girl tiba-tiba. Clara dan Jonathan tersentak. Rasa rindu yang mulai terlelap kini bangkit lagi.


[Jika dia selamat, bukankah seharusnya dia kembali pada kita?]


[Ya, sejak beberapa hari yang lalu aku berpikir alasan Grafit tidak kembali, Apakah ia diculik oleh Kraken? Atau saat ini ia berada di suatu tempat dalam keadaan amnesia?]


“Kau terlalu banyak menonton sinetron, Jonathan.”


Bad Girl tersenyum mendengar spekulasi dari rekannya itu. Tiba-tiba fokusnya teralihkan oleh sebuah keributan di depan swalayan. Terlihat Nailer berhasil menyerang salah satu polisi dan merebut pistolnya. Ia pun menyandera salah satu karyawan swalayan yang baru saja bebas.


“Sepertinya tugasku belum selesai,” kata Bad Girl. Ia mengambil pistol dan membidik penjahat itu.


Tetapi sebuah kejadian mengejutkannya. Ia melihat pistol yang dipegang oleh Nailer tiba-tiba terjatuh. Bukan hanya itu, tubuh Nailer mendadak naik ke atas dan melayang di udara. Setelah melayang setinggi kira-kira dua meter, tubuh itu berputar-putar. Penjahat itupun kembali memohon sambil menangis.


[Ada apa, Bad Girl?]


Bad Girl tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang menikmati momen itu. Ia tahu siapa yang melakukan hal tersebut pada Nailer.


“Sepertinya kita harus mengadakan pesta penyambutan.”