
Sudah sejak dulu warga Dragokarta mendengar berbagai macam cerita tentang bukit yang berada di tengah kota bernama Mauri itu. Konon di sana diyakini sebagai satu-satunya tempat di kota ini yang masih murni dari peradaban modern. Beberapa orang mengaku pernah melihat benda-benda kuno di sana, khususnya yang biasa digunakan dalam upacara adat kuno.
Sebagian besar warga masih percaya kalau tempat itu dihuni oleh berbagai makhluk halus. Sebagian juga percaya di sana ada binatang buas yang mengerikan dan belum pernah teridentifikasi jenisnya. Dan rumor yang terkenal sejak sekitar dua puluh tahunan yang lalu adalah tentang bukit Mauri yang merupakan pangkalan alien.
Dengan berbagai jenis rumor-rumor misterius demikian, wajar jika tempat itu adalah tempat yang paling jarang dikunjungi manusia. Maka, merupakan pemandangan yang sedikit aneh jika melihat bukit Mauri dipenuhi oleh para petugas polisi dengan anjing pelacak dan langitnya dihiasi oleh beberapa helikopter yang mengeluarkan suara-suara ribut.
“Apa-apaan ini?” tanya Jonathan dengan nada kesal.
Clara membuang mukanya dan pura-pura tidak mendengar pertanyaan Jonathan itu. Padahal ia sangat tahu kesalahannya yang membuat Jonathan sekesal itu. Tapi ia tidak bisa terus-terusan bersikap merasa bersalah seperti itu. Ia perlu melemparkan pembelaan.
“Ayolah, Kapten Rian yang pertama kali meminta bantuan kita. Ia juga memberikan banyak petunjuk untuk kita. Jadi wajar jika aku -”
“Masalahnya, kita juga belum tahu pasti apakah makhluk itu benar-benar ada di bukit Mauri atau tidak. Cukup hanya G:0 yang memastikannya dulu sebelum kita mendapatkan jawaban yang pasti lalu melapor pada kekasihmu itu.”
“Oke, kuakui aku sedikit panik karena sudah dua minggu sejak dimintai tolong oleh Kapten Rian, kita belum menunjukkan sedikit pun kontribusi untuk kasus ini.”
Jonathan kembali memberikan tatapan kesal. “Akui saja kalau kau sedang ingin mencari perhatian pacarmu itu, walau melalui G:0. Alasanmu itu hanya membuat skuad kita terlihat menyedihkan.”
“Oke, aku harus mempertegas ini. Pertama, Kapten Rian belum menjadi pacarku. Maksudku, bukan pacarku. Kedua, aku tak pernah membuat skuad kita terlihat menyedihkan. Justru dengan segera melaporkan dugaan kita tentang bukit Mauri ini, menegaskan kalau kita lebih pintar daripada kepolisian.”
Dan ternyata G:0 benar-benar terlihat menyedihkan karena tidak ditemukannya setitik pun hal mencurigakan di bukit itu. Hal ini diperparah dengan ditemukannya Tuan Priyono, seorang juragan kambing yang diduga diculik oleh alien, di tempat yang cukup jauh dari bukit Mauri.
* * *
Jonathan memeriksa jam di tangannya dengan perasaan sedikit kesal. Kemudian ia menatap ke arah pintu terminal kedatangan dan suasana di dalam masih sepi. Ia harus menunggu hampir dua jam karena baru tahu penerbangan pesawat yang ditumpangi oleh orang yang ditunggunya tertunda setelah ia sampai di bandara itu.
Ia pun memutuskan untuk kembali membaca berita dari ponselnya sambil satu tangannya memegang paging board. Hingga akhirnya seorang wanita berdiri di depannya dengan wajah kesal.
“Serius? Kau menggunakan paging board untuk menjemputku?” Wanita itu melihat tulisan di papan nama itu dan kembali menatap Jonathan dengan tajam. “Tidak, kau memang sengaja ingin membuatku marah.”
Jonathan menatap ke arahnya lalu tersenyum. Ia sangat bahagia melihat wajah kesal Joice, adik perempuannya. Apalagi ketika beberapa orang yang melewati mereka tersenyum. Wajar saja, karena Jonathan tidak hanya menulis nama Joice di paging board itu, melainkan ‘JOICE CENTIL’.
Di perjalanan, mereka sudah berdamai. Joice bercerita banyak tentang perjalanannya ke Amerika, terutama tentang pelatihan yang ia jalani di sana. Sayangnya, sejak dulu Jonathan tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berbau astronomi.
Sudah beberapa bulan terakhir, sejak kasus pembunuhan berantai yang melibatkan teman-teman sekampusnya dulu, Joice memutuskan untuk berganti pekerjaan. Ia melepas pekerjaannya di salah satu badan penelitian antariksa milik negara dan memilih bekerja di tempat yang menurutnya lebih menyenangkan dan lebih santai namun masih sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasainya, yaitu di planetarium dan observatorium dengan jabatan sebagai kepala seksi pertunjukan.
“Hhah, aku jadi ingat ketika pertama kali kau memutuskan untuk mendalami astronomi. Alasanmu waktu itu adalah karena kau adalah penggemar horoskop.”
“Dan kau juga mempercayainya begitu saja.”
Mereka pun mulai bernostalgia banyak hal tentang masa lalu mereka yang dulu sangat tidak akur dan penuh dengan ‘kriminalitas’ kecil.
“Bagaimana kabar mama dan papa?” tanya Joice yang langsung membuat wajah Jonathan murung,
“Masih membenciku,” jawab Jonathan singkat. Joice menatap kakaknya itu dengan iba.
:”Ayolah, kau masih belum memaafkan mereka?”
“Bagaimana aku bisa memaafkan mereka jika mereka tidak pernah sekalipun merasa menyesal, apalagi meminta maaf padaku. Bagi mereka, anak sulung mereka telah tiada dan aku hanyalah alien yang sedang menyamar menjadi anak sulung mereka.” Sebenarnya Jonathan tidak suka membahas tentang hubungannya dengan kedua orang tuanya, apalagi di depan Joice. Ia pun segera mengganti topik. “Bicara tentang alien, kau sudah mendengar rumor tentang teror alien di kota kita?”
“Belum. Tapi aku yakin kalau itu hanya lelucon,” jawab Joice.
“Sejak dulu aku menjumpai komunitas-komunitas pecinta alien dan UFO. Sebagian besar dari mereka sangat terobsesi untuk menemukan bukti-bukti tentang keberadaan makhluk dari luar planet ini, tapi beberapa di antara mereka mulai lelah mencari dan lebih memilih untuk merekayasa agar mereka segera mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Mereka akan membuat video dan foto palsu, crop circle palsu dan kesaksian-kesaksian palsu. Aku yakin, apa yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulah dari orang-orang bodoh itu. Mereka hanya cari sensasi, seperti hendak mencari perhatian.”
“Kami tidak seperti itu,” bentak Jonathan. Namun beberapa detik kemudian ia mengatupkan mulutnya dan menahan malu. “Maksudnya mereka.”
“Ayolah, sebagai mantan anak jenius, kau pasti tahu faktanya. Bahkan area 51 yang selalu kalian anggap sebagai ‘sarang alien’ hanyalah sebuah pangkalan militer rahasia untuk mengembangkan pesawat-pesawat tempur generasi baru.
Jonathan menatap adik perempuannya itu dengan kesal. Ia kesal bukan karena keyakinannya dianggap salah, tapi karena ia mulai berpikir keyakinannya memang benar-benar salah.
“Oke, kembali ke teror yang terjadi akhir-akhir ini. Sepertinya kali ini berbeda. Polisi telah menyelidiki keterkaitan di antara para korban, termasuk kemungkinan mereka anggota salah satu komunitas pecinta alien dan UFO, hasilnya nihil. Dan apakah kau menganggapnya rekayasa setelah mengetahui kondisi korban yang penuh dengan bekas aniaya, sementara mereka sama sekali tidak ingat dengan apa yang terjadi?”
Joice mulai meragukan opininya setelah mendengar beberapa fakta yang diutarakan kakaknya. Tapi ia mendapatkan satu pemikiran yang mengembalikannya pada keyakinan awalnya.
“Sebelum mengatakan itu adalah perbuatan alien, sebaiknya kita mengubah perspektifnya. Apakah itu mungkin perbuatan manusia?” tanya Joice yang membuat pikiran Jonathan sedikit terbuka. “Kejadian pembunuhan berantai yang lalu membuatku berpikir kalau manusia adalah makhluk yang sangat mungkin melakukan kejahatan apa pun. Aku takkan heran ada manusia yang melakukan penculikan dan penyiksaan itu lalu melimpahkan kesalahan mereka pada pihak lain, termasuk pihak yang bahkan belum bisa dipastikan eksistensinya.”
Jonathan semakin setuju dengan pendapat Joice. Percakapan ini sangat berarti baginya, khususnya bagi G:0. Beberapa hari terakhir mereka bingung harus melakukan apa karena berasumsi lawan mereka kali ini benar-benar alien atau hantu. Makin lama, tanpa disadari, mereka makin menutup kemungkinan kalau penjahat itu adalah manusia biasa.
“Sebagai orang yang mengabdikan dirinya untuk pengetahuan tentang luar bumi, aku merasa terhina karena banyak orang, bahkan pihak kepolisian, yang langsung percaya kalau kasus penculikan dan penganiayaan itu adalah perbuatan alien. Jika ada makhluk dari planet lain berhasil datang ke bumi ini, bisa dipastikan mereka jauh lebih cerdas. Apakah mereka melakukan tindakan amatir dan tak berguna seperti itu? Kurasa tidak. Polisi harus berhenti berpikir kalau itu adalah perbuatan alien.”
Pidato penutup dari Joice itu semakin mencerahkan pikiran Jonathan. Ia pun tersenyum lalu mencubit pipi adiknya itu sebagai bentuk ucapan syukur.
“Terima kasih, Adikku. Seumur hidup, baru kali ini aku merasa kau berguna sebagai adik,” ujar Jonathan yang membuat adiknya bingung.