G:0

G:0
PERSEKUTUAN SEMBRANI



Dozo melihat kertas undangan yang ia terima secara misterius beberapa hari yang lalu. Ia telah mengikuti rute peta yang ada di dalamnya dan yang ia dapati sekarang hanyalah sebuah bus besar yang sudah dipenuhi dengan karat dan rumput yang menjalar. Ia kembali mengingat apa yang memotivasinya untuk memenuhi undangan tersebut. Tentu saja karena undangan itu adalah sebuah ajakan untuk bersekutu melawan musuh yang sama, yaitu Kraken. Ia sudah siap dengan kemungkinan undangan ini hanya jebakan dari orang-orang Kraken, tapi ia justru sangat kesal karena berpikir undangan ini hanyalah perbuatan iseng.


Tiba-tiba pintu bus terbuka dengan bunyi berdecit yang menyakiti gendang telinga. Seorang pemuda menyambutnya dengan senyum. Dilihat dari pangkasan cepak dan tubuh tegapnya, Dozo berpikir kalau ia adalah seorang tentara. Tebakannya hampir tepat. Dia adalah seorang polisi.


Ia mengajak Dozo masuk. Tak disangka, di lantai bus itu ada sebuah pintu yang menghubungkan mereka ke sebuah ruangan. Ternyata di ruangan itu sudah menunggu beberapa tamu undangan lainnya. Wajah mereka seakan tidak bersahabat karena masih belum yakin dengan undangan tersebut. Seperti Dozo, mereka tetap menjaga kewaspadaan jika ternyata Kraken yang merancang pertemuan ini.


Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Rian dan dia adalah seorang polisi dengan pangkat Ipda. Ia baru lulus dari akademi kepolisian. Para undangan yang berjumlah sekitar sepuluh orang merasa kesal setelah tahu yang mengundang mereka adalah bocah ingusan. Memang, dilihat dari penampilan, sikap dan auranya, mereka bukanlah orang biasa. Setidaknya mereka selevel dengan Dozo yang sudah puluhan tahun menjalani perang melawan Kraken. 


“Saya mengerti jika Bapak Ibu meragukan saya karena usia saya yang masih muda dan meski seorang polisi, pangkat saya takkan cukup berguna untuk Bapak Ibu. Saya juga mengundang Bapak Ibu yang luar biasa bukan untuk memimpin atau menggurui Bapak Ibu. Tapi anggap saja saya sebagai seorang auditor. Saya ingin tahu, sepanjang perjuangan Bapak Ibu di kota masing-masing, apakah ada yang sudah berhasil mengalahkan Kraken?”


Seluruh ruangan mendadak heboh. Hampir semua mencemooh pemuda itu dengan berbagai kata kasar. Pemuda itu hanya tersenyum seakan tak terpengaruh.


“Meski Kraken masih ada, tapi kekuasaan mereka di kota Aurora melemah. Pergerakan mereka bahkan cenderung di bawah tanah. Semua takkan terjadi jika Tentara Langit tidak ada.”


“Ya, demikian juga dengan kota Oktopolitan. Kami akui, Kraken menguasai para pejabat di sana, tapi mereka tidak berani untuk bertindak semena-mena pada masyarakat. Itu karena kami para Ksatria Cavalo secara konsisten memberikan perlawanan atas kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.”


Dan masih banyak lagi pengakuan atas pencapaian yang mereka lakukan di kota mereka masing-masing seakan ingin mematahkan ucapan pemuda itu.


“Saya adalah anak Hafgufa.”


Semua tamu undangan mendadak terdiam. Wajah mereka terlihat ketakutan, terlebih ketika pemuda itu menunjukkan sebuah tanda luka di tangannya, mirip dengan yang dimiliki oleh Hafgufa. 


Ya, Hafgufa. Nama itu sudah cukup lama tidak mereka dengar. Sebuah nama yang di masa muda mereka menebarkan teror dan mimpi buruk. Hafgufa adalah nyanyian kematian yang membuat mereka terus menutup telinga hingga terus terjaga setiap malam. Saat nama Hafgufa belum memudar, mereka takkan berani untuk menyombongkan diri seperti yang mereka lakukan barusan.


“Jangan takut. Saya bukanlah orang Kraken. Justru karena pengkhianatan yang telah mereka lakukan pada Hafgufa, saya adalah orang yang paling ingin menghancurkan Kraken. Tapi apa yang bisa saya lakukan jika seorang diri? Kraken adalah makhluk dengan tentakel yang banyak, panjang dan mematikan. Tentakel itu seperti kepala ular Hydra yang jika dipotong akan tumbuh dua kali lipat. Kita takkan bisa membunuh Kraken jika hanya sibuk memotong tentakel mereka. Kita harus mengincar kepalanya dan di ruangan ini hanya saya yang mengenal isi kepala Kraken. Tapi kita semua harus bersatu.”


Seluruh tamu undangan saling memandang. Mereka masih belum mempercayai kata-kata pemuda itu sepenuhnya, tapi mereka tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak mempercayainya. Memang, selama ini mereka hanya sibuk memberantas kejahatan yang dilakukan oleh Kraken tanpa tahu kapan semua berakhir. Apa yang mereka lakukan selama ini ibarat usaha menguras lautan.


“Aku setuju. Kita memang harus bersatu untuk bisa mengalahkan Kraken selama-lamanya.”


Dozo menjadi orang pertama yang menyetujui usul dari pemuda bernama Rian itu. Kemudian satu per satu tamu undangan menyusul hingga semua suara bulat untuk bersatu. Dan hari itu adalah hari pertama Persekutuan Sembrani dibentuk. Persekutuan para pemimpin pejuang yang memiliki satu musuh, yaitu Kraken, dan satu tujuan, yaitu menghancurkan Kraken.


*          *         *


Siren menatap G:0 yang baru tiba sambil tersenyum. Meski pahlawan super itu datang, ia merasa masih menguasai keadaan dengan Kapten Rian yang sedang berada di bawah kendalinya. Ia bisa menggunakan polisi nyentrik itu sebagai senjata atau sebagai sandra.


“Halo, Tampan. Lama tak bertemu. Merindukanku?” tanya Siren dengan nada menggoda.


“Anggap saja itu sebuah pujian karena aku menyukaimu. Sekarang katakan, apakah kau ada di pihak polisi arogan ini atau pahlawan berkostum yang sepertinya masih pemula ini? Aku akan membawa pulang siapa pun yang tak kau pilih.”


[Sepertinya ia tahu kalau Bad Girl ada di pihak G:0. Lagipula, ia terlihat senang ketika tahu kalau Kapten Rian adalah pemimpin sebuah persekutuan. Apa namanya? Ah, Persekutuan Sembrani.]


[Ya, apapun itu, sepertinya persekutuan itu sangat penting bagi Kraken. Tapi itu justru membuat kita tidak bisa merelakan Kapten Rian pada Siren.]


[Tapi jika G:0 memilih Kapten Rian, Siren akan membawa Bad Girl.]


[Kita bisa menyelamatkannya nanti. Kapten Rian lebih penting!]


[Hei, apakah karena ia pacarmu, kau berkata ia lebih penting dari sahabatmu sendiri?]


[Apakah karena kau menyukai Rosalia, makanya kau pilih dia?]


[Ini tak ada hubungannya dengan perasaan sukaku padanya. Ingat, kau yang membuat Rosalia menjadi Bad Girl! Kau harus bertanggung jawab atas keselamatannya dalam menjalankan tugas sebagai Bad Girl!]


“Hei, apakah kalian tidak sadar kalau Bad Girl bisa mendengar percakapan kalian?”


Mereka berdua mendadak membisu setelah G:0 mengingatkan mereka. Ya, G:0 bisa melihat bagaimana terkejutnya Bad Girl selama kedua sahabatnya itu sedang berdebat.


“Tenang saja, aku akan menyelamatkan mereka berdua,” janji G:0. Kemudian ia melangkah ke hadapan Siren lalu berkata, “Bagaimana jika kita membiarkan saja mereka pulang ke rumah mereka masing-masing?”


Siren tertawa mendengar jawaban G:0. Ia pun membuat Kapten Rian melepaskan tembakan ke arah Bad Girl. Skuad G:0 bernapas lega ketika tahu tembakan itu meleset beberapa inci.


“Jika kau tidak memberikanku pilihan, maka aku akan memilih sendiri tanpa persetujuanmu. Aku akan pilih polisi arogan ini.”


Kapten Rian berjalan ke arah Siren tanpa kemauannya sendiri. Pistolnya masih mengacung ke arah Bad Girl. Pengaruh hipnotis wanita itu makin kuat di tubuhnya hingga kesadarannya mulai memudar.


“Kenapa kau memilihnya?” tanya G:0 seperti yang ditirukannya dari Clara.


“Tanya saja pada teman-teman kalian yang sekarang sedang bersembunyi di markas.” Siren memegang telinganya sebagai isyarat dia tahu kalau G:0 dan Bad Girl menggunakan alat komunikasi di telinga mereka. “Aku ingin sekali menyelesaikan pertarungan kita hari ini. Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga daripada kemenangan atasmu.”


Siren melemparkan bom mini ke jendela untuk membuat lubang besar dan ke arah Bad Girl untuk mengalihkan perhatian lalu kabur bersama Kapten Rian melalui lubang besar itu. G:0 lebih memilih untuk menyelamatkan Bad Girl dari bom itu daripada mengejar mereka.


Skuad G:0 masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka sama sekali tidak menyangka jika Kapten Rian sangat berharga bagi Kraken. Sebagai pahlawan yang melihat penculikan itu terjadi di depan mereka, mereka pun berjanji untuk menyelamatkan Kapten Rian dari tangan Kraken, meski pria itu telah bersikap menyebalkan.