G:0

G:0
DONGENG ADALAH KISAH YANG MUSTAHIL



“... dan mereka pun hidup bahagia.” Clara menutup buku dongeng berjudul Cinderella sambil tersenyum. Demikian juga dengan Grafit yang sedari tadi mendengar Clara membacakan buku itu.


Ya, Clara sedang berlatih untuk lomba mendongeng yang diadakan dinas kota untuk guru-guru TK. Sejak diculik oleh ‘alien’ lalu, pak Dodo banyak mengalami perubahan. Meski tidak mengingat kejadian di gedung pertunjukan, sepertinya ia merasa trauma. Apalagi setelah keluar pernyataan polisi bahwa penculik sebenarnya adalah oknum yang memfasilitasi kliennya untuk membalas dendam. Ia bersikap baik, terutama pada guru yang ia sadari selama ini telah ia sakiti. Tentu saja nama Clara berada di urutan teratas. Maka tak heran ketika ada undangan lomba mendongeng, Clara ditunjuk untuk mewakili sekolah. Padahal sir Edi sudah jauh hari mempersiapkan diri untuk lomba itu.


“Bagaimana? Mendengar dongeng lebih baik dibandingkan menonton anime, kan? Lebih masuk akal dan mengandung pesan moral yang sangat baik.”


Grafit memasang wajah tidak setuju. Clara tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu mengingat sepanjang ia cerita, Grafit terlihat senang.


“Kurasa dongeng lebih tidak masuk akal,” kata Grafit yang membuat Clara semakin terkejut.


“Lebih tidak masuk akal? Bagian mananya? Apakah tidak lebih masuk akal dibandingkan seorang ninja yang bisa memperbanyak dirinya atau bajak laut yang bisa memelarkan tangannya?”


Grafit tidak merasa bersalah dengan perkataannya itu. Dengan santai ia menjawab, “Kalau Naruto bisa memperbanyak dirinya karena ia mempelajari sebuah jurus dan Luffy bisa memelarkan tangannya karena memakan buah iblis. Tapi cerita Cinderella sangat tidak masuk akal, bahkan hanya perihal sepatu saja.. Pertama, pangeran mencarinya hanya dengan modal sepatu kaca. Pertanyaannya, apakah mungkin di seluruh negeri tidak ada wanita yang memiliki ukuran kaki yang sama dengan Cinderella. Kedua, jika sepatu itu pas di kakinya, kenapa bisa terlepas dari kakinya? Ketiga, itu adalah sepatu hak tinggi. Bukankah ia lebih kesulitan berlari dengan menggunakan satu sepatu? Apakah ia tidak memiliki spontanitas untuk melepas sepatu yang satu lagi? Lalu yang keempat, jika semua benda mewah yang diberikan peri berubah wujud setelah lewat tengah malam, kenapa sepatu kaca yang tertinggal di tangga itu tidak berubah wujud juga?”


Clara mematung mendengar penjelasan dari Grafit, seakan tak terbantahkan. Kemudian ia mengumpulkan semua buku dongengnya lalu menuju kamar sambil menggerutu, “Dasar wibu.”


*          *         *


“Oh, begitu. Iya, iya.”


Sejak tadi Jonathan, Grafit dan Rosalia hanya bisa melihat Clara yang sedang serius menjawab telepon dari Kapten Rian. Mereka sedang menunggu kabar tentang pria sulur kacang. Mereka juga berharap pria itu sudah sadar sehingga bisa memberikan petunjuk tentang sosok berjubah kemarin dan bagaimana kronologisnya sehingga ia diikat di sebuah pohon hanya dengan menggunakan sulur kacang..


“Bagaimana? Dia sudah siuman?” tanya Jonathan sesaat setelah Clara menutup panggilan teleponnya.


“Sudah. Sayangnya, ia menolak untuk memberikan keterangan,” jawab Clara. “Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu.”


“Apakah itu sesuatu yang lebih  penting dari nyawanya? Kemarin ia hampir mati. Jika ia tidak mengatakan siapa pelakunya pada polisi, nyawanya akan tetap terancam.”


“Ada dua kemungkinan alasan ia menutup mulut. Pertama, ia tahu pelakunya adalah polisi atau orang yang bisa mempengaruhi kepolisian. Kedua, orang yang dicintainya sekarang ada di tangan penjahat itu dan terancam dibunuh jika ia memberikan kesaksian,” analisis Clara.


“Atau yang ketiga,” sambung Rosalia yang membuat Clara sedikit terkejut. “Dia melakukan kejahatan yang mana akan terungkap jika sosok berjubah itu tertangkap.”


Opini Rosalia itu masuk akal, meski probabilitasnya setara dengan dua kemungkinan yang dikatakan oleh Clara sebelumnya. Namun Clara mengapresiasi keterlibatan Rosalia itu dengan mengangkat jempolnya. Jonathan pun mulai menyadari sikap baik yang ditunjukkan Clara pada Rosalia akhir-akhir ini, seperti yang ia lakukan. Tapi ia berharap motivasi Clara bersikap seperti itu tidak sama dengannya.


Clara adalah wanita normal, katanya dalam hati mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


“Sebaiknya kita fokus dulu pada korban. Jonathan, selidiki profilnya. Cari tahu semua informasi tentangnya. Aku merasa ia memiliki hubungan yang erat dengan pelaku.”


Tidak seperti biasa, kali ini Jonathan tidak langsung melakukan perintah Clara. Ia menatap Rosalia dengan perasaan malu. Clara bingung melihat sikap Jonathan yang seperti sedang kebingungan. Ia merasa perintah yang diucapkannya barusan sudah cukup jelas.


“Eh, apakah kau sedang menyuruh Grafit?” tanya Jonathan dengan nada gugup.


“Grafit? Memangnya dia bisa mencari informasi seseorang? Menggunakan komputer saja dia tak pernah.” Clara semakin bingung. Kemudian Jonathan menarik lengannya dan membawanya ke dapur.


“Kumohon, mulai sekarang, kau bisa berbicara sedikit hormat padaku. Biar bagaimana pun, aku lebih tua darimu. Jadi, jika ingin meminta tolong, gunakanlah bahasa yang lebih lembut. Jangan seperti sedang memberi perintah.”


Jonathan semakin salah tingkah. Ia tidak menyangka Clara tidak memahami maksudnya. Tapi, ia tidak memiliki nyali untuk mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Untung saja Clara akhirnya mengerti alasan Jonathan bersikap seperti itu.


“Karena Rosalia, ya? Kau tidak ingin terlihat inferior di depannya?”


Mata Jonathan berbinar karena Clara akhirnya mengerti, namun kembali meredup karena merasa malu. Sampai sekarang ia selalu menyangkal tentang perasaannya pada Rosalia belakangan ini.


“Baiklah, aku akan bersikap sopan padamu. Tapi aku punya permintaan. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu aku ingin mengatakannya, hanya saja aku tidak ingin melukai perasaanmu. Berhubung kau menyukai Rosalia, aku yakin perasaanmu takkan terluka lagi.”


“Memangnya apa permintaannya?”


Clara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan Jonathan tahu, jika Clara tersenyum seperti itu, ada rencana gila di kepalanya dan takkan ada yang bisa menghentikannya untuk mencapai rencana itu.


*          *         *


“Namanya adalah Wilson Dhani, seorang pegawai di dinas perpajakan. Belum berkeluarga dan tinggal sendiri. Menurut postingan-postingan di media sosialnya, gaya hidupnya terkesan mewah. Setelah kuselidiki, ternyata dia memang memiliki hak kepemilikan untuk berbagai properti. Hal yang tak mungkin ia miliki jika melihat dari pendapatannya. Orang tuanya tergolong berasal dari kalangan menengah ke bawah dan ia sama sekali tidak terlibat dalam bisnis atau investasi apa pun.”


“Wow, sangat menggambarkan jati dirinya yang sebenarnya,” respons Clara pada laporan yang disampaikan oleh Jonathan.


“Kau tahu yang lebih ‘wow’? Semua itu ia dapatkan dalam kurun waktu setahun. Kata teman-temannya, setahun belakangan ini hidupnya seperti dongeng karena banyak hal mustahil nan indah yang terjadi padanya.”


“Hei, lebih mustahil cerita-cerita yang ada di anime,” kata Clara karena tiba-tiba teringat percakapannya dengan Grafit tadi siang. Ia berhenti membicarakannya ketika sadar Jonathan menatapnya dengan bingung. “Apakah tidak ada yang mencurigainya?”


“Tidak ada. Beberapa kali ia diperiksa oleh polisi atau lembaga pemberantas korupsi, ia selalu lolos karena tidak ada bukti yang mengindikasikan tindakan korupsi. Semua harta yang ia dapatkan ‘bersih’. Padahal bukannya tidak ada pegawai di kantornya yang tertangkap karena kasus korupsi.”


Clara masih menggeleng kepalanya tanda tak percaya. Ia semakin percaya kalau si pria sulur kacang bukanlah orang baik dan pria berjubah kemarin malam tahu akan hal itu.


Tiba-tiba mata Clara tertuju pada salah satu monitor yang merekam keadaan di danau buatan Romansa. Ada seorang pria yang sedang mendayung perahu kecil ke tengah danau. Pria itu menggunakan jubah yang mirip dengan yang ada di hutan kota kemarin.


“G:0, segera ke danau buatan Romansa. Sepertinya pelaku yang kita cari ada di sana.”


G:0 langsung bergerak ke lokasi yang dimaksud. Ia membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di danau itu. Sambil menunggu G:0 tiba, Clara dan Jonathan memperhatikan gerak-gerik sosok itu. 


Perahu kecil tersebut berhenti tepat di tengah danau. Kemudian ia mengangkat sebuah benda yang ada di perahu dan membuangnya ke danau lalu kembali ke tepian. Jantung Clara dan Jonathan berdetak lebih kencang dari biasanya. Mereka takut yang dibuang itu adalah manusia.


[Di mana dia?]


G:0 sudah tiba setelah sosok berjubah itu menghilang. Kemudian Clara menyuruh G:0 untuk ke tengah danau dan menyelam. Untungnya G:0 sangat ahli dalam hal menyelam. Ia segera masuk ke dalam danau, tepat di titik sosok berjubah itu membuang sesuatu. Dengan kacamata khusus buatan Jonathan, G:0 mampu melihat di dalam air. Tidak sampai satu menit, ia menemukan benda itu.


Segera G:0 mengeluarkan benda itu dari air danau dan membawanya ke tepian. Benda itu seperti tubuh manusia dan dililit oleh lakban hitam. Tanpa menunggu perintah, ia membuka lilitan itu dan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.


Seorang wanita terbujur kaku dengan warna kulit yang mulai memucat. Bagian atas tubuhnya ditutupi bikini, namun bagian bawahnya terlihat aneh. Bersisik dan memiliki ekor seperti ikan.


“PUTRI DUYUNG!” teriak Clara dan Jonathan bersamaan.