
Belasan tahun yang lalu
Tarjo membuka matanya, namun ia masih belum bisa melihat dengan jelas. Kepalanya masih pusing dan pandangannya kabur. Ia mencoba mencari ingatan terakhirnya sebelum pingsan. Ya, ia sedang dikejar oleh para preman suruhan seorang rentenir tempatnya meminjam uang. Pelariannya sampai ke gunung dan ia tersesat. Ia juga ingat akan diserang oleh binatang buas yang suara dan tubuhnya mirip harimau. Itulah ingatan terakhirnya.
Pandangannya mulai jelas. Ia terkejut melihat sekitarnya. Sebuah ruangan kecil yang terbuat dari kayu. Ia teringat dengan kopernya. Koper coklat dari kayu yang berisi barang-barangnya. Ia mencari ke sekelilingnya, ternyata tidak ada. Kemudian ia menuju pintu ruangan itu.
Ia kembali terkejut ketika menyadari ruangan itu berada di atas sebuah pohon besar. Namun keterkejutannya memudar ketika melihat pemandangan di luar. Ternyata ia berada di hutan yang sangat indah. Pohon-pohonnya tumbuh dengan asri dan teratur. Binatang-binatang seperti rusa, babi hutan, badak dan gajah berjalan dengan santai, tidak seperti hutan lainnya di mana mereka kebanyakan menyembunyikan diri. Burung-burung dan berbagai serangga juga berterbangan dengan bebas seakan menghiasi hutan ini.
“Waiho!”
Tarjo menjerit sekuat mungkin saat melihat satu sosok menyapanya dengan posisi terbalik, tepat di depan wajahnya. Ia terjatuh ke belakang dan memohon agar tidak dibunuh dengan mata terpejam. Namun, tak ada terjadi apa-apa pada dirinya. Kemudian ia membuka matanya perlahan berharap sosok itu hanya halusinasinya. Ternyata sosok itu masih ada. Kini makin terlihat jelas.
Tak salah lagi, ia adalah manusia sepertinya. Yang aneh adalah: dia terbang! Bagaimana bisa manusia terbang tanpa menggunakan alat bantu?
* * *
Senyum Grafit masih melekat di wajahnya meski sudah berjam-jam berlalu sejak ia memasangnya saat baru meninggalkan gurunya dan hutan rahasia. Ia terlihat sangat bahagia. Meski hanya sempat mempelajari satu jurus dan itupun masih harus disempurnakan lagi dengan latihan sendiri, Grafit senang karena sang guru sudah memastikan kondisi tubuhnya sehat. Ia juga senang karena bisa menceritakan hal-hal yang ia alami selama di kota. Tak lupa sang guru memberinya beberapa nasehat, terutama karena statusnya sekarang sebagai pembela kebenaran.
“Guru juga mengatakan sebentar lagi ia takkan kesepian karena waktu pengorbanan sudah dekat. Ia akan mendapatkan murid baru,” kata Grafit. “O ya, kemarin Non bilang ingin membeli kado untuk hari Ibu. Apakah sudah terpikir akan membeli apa? Aku masih ingat tahun lalu Non sampai stres karena memikirkannya. Kata Non, mama Non adalah orang yang paling berharga. Ia telah banyak hidup menderita untuk memastikan Non bisa hidup bahagia.. Karenanya, penting bagi Non untuk membuatnya bahagia, termasuk ketika menerima pemberian Non. Ah, aku iri.”
Berbeda dengan Grafit yang bahagia, Clara dan Jonathan justru merasa frustrasi setelah mendengar fakta tentang orang tua kandung Grafit. Mereka bahkan memutuskan untuk batal mendaki dan menghabiskan waktu di kota terdekat sebelum kembali untuk menjemput Grafit. Dan ungkapan rasa iri yang dikatakannya barusan menambah frustrasi mereka.
Setelah melalui perdebatan yang sengit, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap merahasiakan informasi itu dari Grafit. Mereka tidak ingin membuat psikologi Grafit labil karena mengetahui sebuah kenyataan yang jauh berbeda dengan yang selama ini ia yakini. Namun demikian, mereka sepakat untuk melacak keberadaan orang tua Grafit. Seandainya Grafit tahu dan ingin bertemu dengan orang tuanya, mereka bisa segera membantu.
“Jadi, kau sudah bisa mengendalikan Ungravity?” tanya Jonathan berusaha melupakan masalah tentang orang tua kandung Grafit.
“Tidak. Guruku juga. Tapi dia mengatakan sesuatu yang menghiburku. Kita butuh memiliki kelemahan, karena dengan itu, kita akan berusaha untuk lebih kuat lagi.”
“Masuk akal,” timpal Clara. “Lalu, ada kabar menarik dari guru?”
“Beberapa bulan yang lalu ia melihat Pak Presiden berkeliaran di sekitar hutan rahasia. Sepertinya ia berusaha untuk masuk lagi. Untungnya, aku sudah memberitahu guru tentang siapa dia sebenarnya, jadi guru malah membingungkannya dan semakin menjauhkannya dari hutan rahasia.”
Yang Grafit maksud Pak Presiden adalah panggilan untuk seseorang yang pernah dibawa guru Grafit masuk ke hutan rahasia belasan tahun yang lalu. Sebenarnya ia adalah Tarjo, seorang penipu yang sedang melarikan diri dari lintah darat. Namun ia menolak untuk memberitahukan identitas aslinya.
Di hadapan Grafit dan gurunya, ia mengaku sebagai utusan langit dengan bermacam-macam nama seperti Bret Pit, Dapit Bekam, Mekel Jeksen, Albet Ensten, Herkules, Jek Sperow dan masih banyak lagi. Tapi pria itu mengaku lebih suka dipanggil pak Presiden. Ya, memang terdengar tak asing. Maka dari itu, ketika pertama kali mendengar cerita itu, Clara dan Jonathan langsung tahu jika pria itu penipu.
Tapi Pak Presiden bukanlah orang baik. Meski dilepas dengan baik-baik oleh Grafit dan gurunya, ternyata ia diam-diam mencuri sebongkah kecil Batu Raya. Pikirnya, karena dikeramatkan kaum Miel, batu itu pasti berharga. Ternyata batu itu tidak ada nilainya. Sampai ia melihat kesempatan untuk menjualnya dengan harga mahal pada Black Samurai yang saat itu sedang berseteru dengan seorang pahlawan super yang bisa mengatur gravitasi, seperti kaum Miel. Karena perbuatannya itu, G:0 hampir kalah karena Kichigai membuat peluru dari batu itu yang akhirnya berhasil menyarangkannya ke tubuh G:0.
“Oke, kita sudah sampai. Kau mau langsung diantar ke rumahmu atau mampir ke markas?”
“Ke apartemen saja dulu. Laptopku di sana.”
Jonathan memandang tasnya yang berisi berbagai perlengkapan mendaki, yang sama sekali tidak dipakainya. Ia memandang ke arah Clara yang sepertinya mengerti dengan perasaannya. Memang, pada dasarnya mereka bukanlah pendaki gunung. Hanya saja, yang mereka lakukan itu cukup memalukan.
Akhirnya mereka sampai. Clara memarkirkan mobilnya di parkiran di basement. Mereka turun dari mobil dengan wajah yang letih. Semakin letih ketika mereka mengingat masa-masa sibuk melawan kejahatan akan segera kembali menghampiri.
“Grafit, langsung mandi. Aku juga mau mandi. Jonathan, kalau mau pulang, kunci saja pintunya,” kata Clara. “Malam ini kita akan patroli lagi. Selain kemarin, kita sudah beberapa kali absen karena G:0 kurang sehat.”
“Mungkin aku datang terlambat. Aku ingin nonton di bioskop dulu. Film Spiderman menungguku.”
Jonathan ke markas untuk mengambil laptopnya. Ia tidak sengaja menekan tombol power dan laptopnya hidup. Pandangannya teralihkan oleh pesan masuk dari adiknya, Joice. Kemudian ia mengkliknya dan muncul sebuah foto yang membuat perjalanan ‘isolasi diri’nya hancur berantakan. Foto Spiderman versi Tobey Maguire, Andrew Garfield dan Tom Holland sedang berpelukan.
“Dasar adik durhaka! Lihat saja pembalasan dariku! Lihat saja!”
“Tidak!”
Jonathan berhenti berteriak karena Clara berteriak lebih kencang. Kemudian ia menuju kamar Clara karena berpikir wanita itu sedang menghadapi masalah. Tapi yang ia dapati adalah Clara yang sedang tercengang melihat layar ponselnya.
“Ada apa?” tanya Jonathan. Grafit yang masih menggunakan handuk baru datang.
“Lihat ini,” kata Clara sambil menunjukkan layar ponselnya. Jonathan dan Grafit mendekatkan mata mereka ke ponsel itu. Mereka hanya melihat foto Kapten Rian dan mamanya. Foto itu sudah ia tunjukkan pada mereka kemarin.
“Ada apa dengan kapten brengsek ini?” Jonathan kembali bertanya.
“Bukan dia. Bukan juga mamaku. Lihat baik-baik pria yang ada di belakangnya. Yang mengenakan kemeja putih.”
Jonathan dan Grafit kembali melihat, kali ini mereka fokus pada sosok yang ditunjuk Clara. Kemudian mereka bersama-sama membelalakkan mata dan berteriak, “Pak Presiden!”