G:0

G:0
ESCAPE PLAN



Sebuah minibus berwarna abu-abu dengan tulisan Kendaraan Tahanan melaju kencang menyusuri jalanan di pinggir kota. Rotator yang menyala bersama dengan dua mobil lain yang mengiringinya cukup baik untuk menarik perhatian warga yang berada di sekitar jalan. 


Di dalam, ada beberapa tahanan yang dijaga ketat oleh para petugas. Salah satunya bernama Candra Septiadi atau yang sering disebut  Candy Boy. Sejak kendaraan itu bergerak, ia terus menutup matanya seakan sedang tidur. Ada dua tahanan lain di minibus itu yang merupakan anak buahnya. Meski sama-sama berstatus tahanan, mereka masih mencoba menjaga bos mereka dengan terus menatapnya dan bersiap untuk bertindak jika terjadi sesuatu pada Candy Boy.


Komandan para petugas itu, yang sedari tadi duduk di samping pengemudi, membalikkan kepalanya untuk mengawasi situasi para tahanan. Sebelum ia kembali ke posisi duduk normalnya, sang sopir mendadak banting setir sehingga para penumpang panik. Beberapa detik kemudian, minibus itu menabrak mobil yang mengawal di depan dan belakang mereka sebelum akhirnya keluar jalur jalan.. 


Menariknya, tidak ada satu pun di antara mereka yang terluka. Hanya saja, tubuh mereka terasa berat dan tak bisa digerakkan. Yang lebih mengherankan adalah kunci dari saku sang komandan melayang menuju Candy Boy. Ya, penjahat itu bisa bergerak. Dengan kunci itu, ia membuka borgol di tangannya dan anak buahnya. Kemudian mereka berjalan keluar dengan santai.


Di luar, sebuah mobil sedan berwarna merah menghampiri mereka. Sopirnya membuka jendela dan menyerahkan rompi yang terbuat dari materi ungravity dan sebuah kotak pada Candy Boy. Sambil mengenakan rompi itu, ia membalikkan badannya dan tersenyum.


“Kerja bagus. Aku tahu kau cukup pintar untuk tidak menolaknya. Di sini ada antidotnya.” Candy Boy membuka kotak itu. “Sekarang ia mulai terkontaminasi. Waktumu hanya tiga puluh menit sebelum khasiatnya hilang. Aku hanya memiliki ini dan butuh waktu seminggu untuk membuatnya. Jadi, jangan menghabiskan waktu untuk menangkap kami lagi dan carilah seseorang untuk menyuntikkannya. Kau takkan bisa melakukannya sendiri.”


Candy Boy melemparkan kotak itu pada lawan bicaranya lalu tertawa sebelum pergi bersama anak buahnya. Di sisi lain, G:0 hanya bisa menatap kepergian para penjahat itu dengan kesal sambil memegang kotak berisi antidot yang akan menyelamatkan nyawanya. 


*          *         *


Beberapa hari sebelumnya


“Non, saya lapar,” kata Grafit dengan nada memelas. Clara menatapnya tajam, tapi akhirnya ia pergi untuk mengambilkan makanan untuk rekannya itu.


Sudah tiga hari ia harus mengurus Grafit yang sedang sakit. Awalnya, ia masih melakukan dengan tulus dan penuh perhatian. Namun, melihat Grafit sudah bersikap berlebihan dan terlalu manja, ia mulai kesal. Ia merasa diperlakukan seperti asisten pribadinya.


“Ternyata semua pria sama saja, sangat manja jika sedang sakit,” gerutu Clara. Ia sengaja masuk ke markas untuk menghindari Grafit. Di sana sudah ada Jonathan yang duduk santai sambil melihat ponselnya. Sejak Grafit sakit, kegiatan patroli tentunya diliburkan. Namun Jonathan tetap datang untuk berjaga-jaga seandainya ia dibutuhkan.


“Memangnya selama ini kau pikir Grafit berbeda dengan pria lain? Atau jangan-jangan selama ini kau lupa kalau dia pria?” Jonathan merespons gerutuan Clara dengan santai. Tapi ia menutup mulutnya ketika menyadari Clara tidak suka ia melakukannya.


“Tapi bukan itu yang paling mengesalkan darinya. Kita dengar Candy Boy bilang ia akan mati di hari ketujuh setelah terkena racun itu, artinya tinggal empat hari lagi. Tapi tidak ada tanda-tanda kita akan mendapatkan antidot itu. Dan lihat dia, sikapnya terlalu santai, seakan tidak terjadi apa-apa.”


“Sehebat apapun dan sepolos apapun seseorang, dia pasti akan takut jika tahu sedang menghadapi kematian. Grafit juga pasti seperti itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa dilakukannya hanya pasrah. Mungkin sikapnya yang menyebalkan itu hanyalah sebuah bentuk pengalihannya terhadap perasaan takut itu.”


Clara setuju dengan ucapan Jonathan. Ia melihat wajah Grafit, wajah polos itu. Selama ini ia tak pernah membayangkan akan kehilangan Grafit. Sejak awal mengenalnya, ia melihat Grafit seperti seseorang yang takkan pernah menghadapi kematian. Seperti yang dikatakan Jonathan tadi, hanya saja yang sering ia lupakan adalah Grafit itu manusia.


Karenanya, Clara selalu menolak untuk membayangkan seandainya kemungkinan terburuk yang terjadi. Apakah ia akan sanggup menghadapinya? Tentu ia akan merasa bersalah, baik pada Grafit maupun pada gurunya. Ia membawa pemuda itu ke kota dengan harapan akan menjalani kehidupan normal. Tapi ia justru menjadikannya pahlawan super yang berakhir pada kematian, tak sampai dua tahun sejak ia membawanya dari hutan rahasia.


Lalu, skuad ini akan berakhir. Motivasi hidupnya dan Jonathan akan lenyap lalu mereka harus menghadapi kehidupan normal mereka yang menyedihkan. Tak ada lagi kebanggaan di dalam diri mereka.


“Kau tahu, Jonathan? Bahkan meski ia yang menghadapi kematian, aku masih memikirkan diriku sendiri. Memprediksi apa yang terjadi padaku dan pada skuad ini jika ia telah tiada. Apakah kau tidak berpikir selama ini kita terlalu kejam padanya?”


Clara merasakan sesuatu yang hangat bergerak di pipinya. Ternyata air matanya sudah mengalir. Jonathan kembali mengingat masa lalu yang ia lalui bersama Grafit dan skuad ini. Statusnya sebagai pelopor skuad ini tak lagi menjadi kebanggaannya, melainkan alasan yang kuat baginya untuk menyalahkan diri sendiri. Grafit adalah orang terbaik yang pernah ia kenal. Grafit adalah satu-satunya orang yang bisa melihat kebaikan dalam dirinya dan yang bisa memujinya dengan tulus.


“Apa yang harus kita lakukan untuknya?” kata Jonathan yang ternyata sudah menangis juga.


“Entahlah, tapi aku akan  melakukan apapun asal Grafit selamat.”


“Aku juga.”


Di tengah tangisan mereka, sebuah berita menarik perhatian mereka. Berita itu mengabarkan sebuah penyanderaan di salah satu pusat perbelanjaan kota Dragokarta. Yang membuat berita itu menarik adalah tuntutan penyandera untuk bertemu dengan G:0. Melihat sudah lebih dari setengah hari mereka menyandera dan sudah ada beberapa sandera yang mereka lukai, tentu mereka sangat serius dengan tuntutan itu.


“Bagaimana ini? Kita tak mungkin mengirim Grafit yang sedang dalam kondisi seperti itu,” kata Clara. Jonathan juga menolak kemungkinan untuk menugaskan Grafit sebagai G:0 saat ini.


“Aku bisa. Aku akan menemui penjahat itu.” Terlihat Grafit sudah berada di dekat pintu sambil memegang bahu kirinya.


“Tidak boleh. Itu akan sangat berbahaya bagimu.” Clara langsung menolak tawaran dari Grafit.


“Tunggu, sepertinya ia memang harus pergi,” kata Jonathan setelah teringat sesuatu. “Kalian ingat apa yang dikatakan Candy Boy saat itu? Ia meminta bantuan G:0. Mungkin penyandera itu adalah anak buahnya dan dikirim untuk bernegosiasi dengan G:0. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk mendapatkan antidotnya.”


“Baiklah, kau boleh pergi. Tapi jangan paksakan diri dan langsung kembali ke markas jika kau merasa tidak sanggup,” kata Clara yang dijawab dengan anggukan oleh Grafit.


Tanpa menunggu lagi, Grafit langsung menuju kamarnya untuk berganti kostum. Ketika ia hendak keluar jendela, Clara kembali memberikan nasehat padanya untuk lebih berhati-hati dan menghindari pertarungan fisik dengan penjahat itu.


“Tenang, Non. Aku pasti akan baik-baik saja.”


Grafit pun mengangkat satu tangan dan kakinya keluar jendela. Ketika tangan dan kaki yang lain hendak menyusul, kepalanya membentur tiang kisi-kisi jendela sehingga tubuhnya terpelanting ke belakang dan rebah di lantai apartemen.


“Sepertinya aku punya ide lain,” kata Clara. “Kita membutuhkan seseorang.”


*          *         *


“Terima kasih, kami sangat berterima kasih untuk bantuanmu,” kata Clara dan Jonathan.


“Aku tidak meminta kata terima kasih dari kalian, tapi kata maaf. Grafit-ku dalam kondisi separah ini, tapi kalian tidak memberitahukanku. Kalian kejam.”


Clara dan Jonathan saling pandang mendengar kata ‘Grafit-ku’. 


Karena Grafit tak bisa menjumpai para penyandera itu, mereka meminta bantuan pada seseorang yang memiliki postur sedikit mirip Grafit dan juga sangat lincah, yaitu Rosalia si Bos Begal. Demi Grafit, untuk pertama kalinya kostum G:0 digunakan oleh orang luar. Tentu saja Rosalia sangat senang membantu. Bahkan sekarang ia yang mengambil alih tugas Clara dan Jonathan untuk mengurus Grafit.


“Sebuah kaset DVD,” kata Jonathan sambil menunjukkan isi kotak yang diberikan penyandera itu.


“Tunggu apa lagi? Mari kita lihat isinya. Putar saja di komputer itu.”


“Candy Boy adalah orang yang cerdas. Aku tidak ingin dia mengelabui kita dua kali. Jika kita memutar ini di laptop atau komputer, aku khawatir isinya virus dan dia bisa melacak alamat IP kita dan menemukan lokasi apartemen ini. Sebaiknya kita putar di DVD Player saja,” saran Jonathan.


Grafit menatap Clara dengan senyuman. Beberapa minggu yang lalu, Clara menyembunyikan DVD Player itu karena Grafit bersekongkol dengan Jonathan untuk mengerjainya. Dengan terpaksa, Clara mengeluarkan benda itu lagi.


“Bukankah itu Candy Boy?” kata Rosalia ketika monitor menampilkan wajah penjahat itu.


“Sepertinya video ini direkam sebelum ia ditangkap.”


[Hai, G:0. Jika kau menonton video ini, bisa kupastikan kau terkena racunku. Mungkin saat ini racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhmu dan bersiap menghancurkanmu dari dalam. Entah aku sudah mengatakannya padamu atau belum, batas waktumu hanya seminggu. Jika kau ingin selamat, aku ingin kau membantuku.]


“Pantas saja. Jika ia ingin membunuh G:0, tentu ia akan menggunakan racun yang lebih kuat dan mematikan. Ternyata ia ingin memanfaatkan keadaan,” kata Clara geram.


[Maksudnya adalah membantuku untuk melarikan diri.]


Mereka terkejut mendengar ucapan Candy Boy. Membantunya untuk melarikan diri? Itu sama saja dengan menyuruh G:0 melakukan tindak kejahatan.


[Anak buahku yang akan mengaturnya dan akan memberikan instruksi selanjutnya padamu. Ingat, jika rencana ini gagal, aku hanya akan mendekam di penjara dan berusaha lolos lagi di lain waktu. Sedangkan kau, mungkin ini akan menjadi akhir dari cerita hidupmu. Pikirkan itu baik-baik.]


Video itu berakhir. Mereka segera menjauh dari pemutar DVD dan menunggu lama. Ternyata tak ada ledakan seperti di film-film. Selanjutnya, Jonathan dan Grafit menatap ke arah Clara seakan menunggu sesuatu juga.


“Kenapa kalian menatapku?”


“Seperti yang kita tonton tadi, pria itu menyuruh kita untuk membantunya melarikan diri dan itu merupakan tindakan kriminal yang cukup serius.”


“Dan kami tahu kalau Non tidak pernah setuju jika kita melakukan tindak kriminal sekecil apa pun, meski saat melawan penjahat.”


Clara balas menatap mereka. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Bukankah tadi sudah kubilang? Aku akan melakukan apapun asal kau bisa selamat.”


Grafit dan Jonathan ikut tersenyum. Sementara Rosalia yang baru dari dapur membawa bubur masakannya bingung melihat mereka bertiga hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.