
Kota Dragokarta malam ini dihebohkan oleh teror bom besar-besaran. Seseorang meretas megatron di pusat kota yang sedang ramai dan merekam dirinya sendiri. Wajahnya tertutup topeng dan pakaiannya sangat norak, baik dalam hal mode maupun warna. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Puzzle. Ia menuntut G:0 untuk memecahkan teka-teki darinya yang akan merujuk pada tempat ia menyembunyikan bom.
Beberapa saat kemudian, G:0 sudah berada di depan megatron. Kapten Rian yang merasa diremehkan oleh penjahat itu hanya bisa melihat G:0 dari belakang bersama anak buahnya.
"G:0, jangan gengsi meminta bantuan kami jika kau tidak bisa menjawabnya," kata kapten Rian yang direspons oleh G:0 dengan jari jempol dan telunjuk membentuk bulat dan tiga jari lainnya berdiri tegak, tanda oke.
[Bodoh, jaga wibawamu! Dia sedang mengejek kita, tapi kau malah memberikan isyarat merendahkan diri sendiri.]
Clara mengomel dari markas, yang langsung ditenangkan oleh Jonathan. Tak lama kemudian, sosok di megatron itu berbicara pada G:0.
[Baiklah, G:0. Pahlawan super yang berhasil mengalahkan banyak musuh. Aku memberimu petunjuk. Waktumu hanya enam puluh menit setelah aku selesai membacakan soal terakhir.]
"Wah, bicaramu seperti pembawa acara kuis Family 100 di babak terakhir," kata G:0 sambil cengengesan, membuat orang-orang di sekitar melihatnya dengan tatapan aneh.
[Petunjuk pertama, pernah pergi, tak pernah kembali, tapi selalu ada. Petunjuk kedua, tempat penyimpanan. Petunjuk ketiga, Umpa.]
Semua orang mulai berpikir, termasuk Clara dan kapten Rian. Melihat semua orang sibuk, Puzzle tertawa.
[Aku ingatkan kembali, waktumu hanya enam puluh menit. Bom itu akan meledak jika -]
"Museum Pahlawan," kata G:0 santai. Semua orang langsung tercengang melihat ia menjawab tak sampai satu menit dari waktu yang diberikan.
[Ba, bagaimana kau bisa menjawab secepat itu?]
"Akhir-akhir ini aku punya hobi aneh, yaitu menyingkat sesuatu dari suku kata terakhir dari kata pertama dan suku kata pertama dari kata terakhir. Misalnya marman untuk kamar mandi, motti untuk remot tivi, tibak untuk roti bakar, nelmess untuk Lionel Messi, noro untuk -"
"Cristiano Ronaldo," jawab orang-orang di sekitarnya serentak. Tapi G:0 menggelengkan kepalanya.
"Bukan, tapi Valentino Rossi." .
* * *
Pada dasarnya Grafit tidak bodoh. Menurut tes yang pernah Clara lakukan padanya, ia memiliki IQ sedikit di atas rata-rata. Ia hanya butuh sekali dua kali latihan untuk bisa mengingat tentang tata krama dan cara menggunakan alat-alat elektronik di rumah. Bahkan Clara hanya butuh beberapa minggu saja untuk mengajari Grafit baca tulis. Grafit juga belajar banyak hal secara otodidak, seperti memasak masakan tertentu, mengendarai sepeda, menggunakan pisau cukur dan sebagainya.
Namun karena sejak lahir sampai berusia sekitar dua puluhan tahun tinggal hanya bersama gurunya dan binatang-binatang di gunung rahasia, wawasan Grafit sangat sempit dan ia begitu polos sehingga ia terlihat bodoh. Seandainya ia menjalani hidup manusia normal, bukan tidak mungkin ia lebih cerdas daripada Clara.
Maka wajar jika penjahat itu melemparkan tantangan rematch untuk G:0. Ia kembali meretas megatron di pusat kota untuk mengikrarkan tanding ulang tersebut. Namun ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Ia mengubah peraturannya.
[Ada tiga petunjuk. Petunjuk pertama akan kukatakan saat ini. Petunjuk kedua akan kau temukan jika kau berhasil memecahkan petunjuk pertama. Demikian juga petunjuk ketiga. Setiap petunjuk akan menuntunnya ke tempat yang berbeda. Di tempat-tempat itu juga ada bom yang telah kuletakkan sendiri sehingga hanya aku yang mengetahuinya. Aku akan memberikan batas waktu sampai tengah malam nanti. Inilah petunjuk pertama: Jika kanan adalah benar, lalu apakah bentuk tunggal dari masa lalu kiri?]
Video pengumuman itu juga tersebar di dunia maya. Clara, Jonathan dan Grafit menontonnya bersama dari sebuah channel Youtube. Semua orang ikut mencoba memecahkan petunjuk pertama dari Puzzle itu. Tidak seperti yang lain, Grafit tidak terlalu menganggap tantangan itu serius.
“Kenapa kita tidak mengecek saja di kamera pengawas kita? Katanya, dia sendiri yang meletakkan bom-bom itu. Bukankah dia menggunakan pakaian yang sangat mencolok? Tentu tak sulit menemukannya,” kata Grafit sesaat setelah video itu selesai.
Meski tidak yakin Puzzle menggunakan kostum noraknya saat meletakkan bom, Clara dan Jonathan memeriksa rekaman dari kamera-kamera pengawas dua hari terakhir. Benar saja, mereka menemukan sosok yang berpakaian Puzzle di tiga tempat, sejumlah dengan petunjuk yang akan diberikan kepada G:0.
Tidak berapa lama setelah melapor polisi, bom itu berhasil dijinakkan oleh tim penjinak bom. Lebih parah dari sebelumnya, pertunjukan ini bahkan selesai sebelum petunjuk Puzzle sampai di tangan G:0.
“Sepertinya aku tahu kenapa Grafit bisa mengalahkan Puzzle dengan mudah,” kata Clara mencoba mengambil kesimpulan. “Bukan karena Grafit yang terlalu jenius, tapi karena kita langsung berpikir tinggi tentang kecerdasan Puzzle. Sangat jelas, penjahat itu memiliki pemikiran sepolos Grafit sehingga tak heran hanya Grafit yang memahaminya.”
“Masuk akal.” Jonathan tertawa diikuti oleh Clara setelah mereka membayangkan penjahat yang kepolosannya selevel dengan Grafit dan mereka hampir ketakutan karenanya.
* * *
Suasana kota Dragokarta malam itu sungguh tenang. G:0 menatap langit yang meski tanpa sinar rembulan, penuh dengan bintang. Ia menikmati kedamaian malam itu. Sementara itu, Clara sedang tertidur dan Jonathan masih memperhatikan monitor pengawas sambil sesekali bermain dengan ponselnya.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras yang membuat tanah bergetar. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali. Clara terbangun dari tidurnya dan Jonathan hampir terjatuh dari kursinya. Mereka melihat ke monitor pengawas, melihat apa yang sedang G:0 lihat dari atas gedung tertinggi di kota itu.
Ada tiga tempat yang mengepulkan asap hitam tebal. Tak lama kemudian kota menjadi gempar dan bunyi sirene bergema melengkapi kekacauan ini. Mereka masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.
Tak lama kemudian, megatron pusat kota kembali diretas. Sekarang bukan hanya megatron, tapi seluruh siaran televisi dan berbagai website juga tak lepas dari retasan Puzzle. Sekarang penjahat berpakaian eksentrik itu sedang berdiri di hadapan hampir semua warga kota Dragokarta dengan pose angkuhnya. Dari balik topengnya terdengar suara tawa yang mengejek.
“Sigmund Freud pernah berkata, ‘Even if all parts of a problem seem to fit together like the pieces of a jigsaw puzzle, one has to remember that the probable need not necessarily be the truth and the truth not always probable’. Bahkan jika semua bagian dari sebuah masalah tampaknya cocok satu sama lain seperti potongan puzzle, kita harus ingat bahwa kemungkinan belum tentu kebenaran dan kebenaran tidak selalu mungkin.”
Semua orang terpaku dengan ucapan Puzzle. Mereka mulai sadar bahwa orang itu bukanlah lawan yang dapat dianggap remeh. Bahkan melihat apa yang dilakukannya malam ini, ia adalah salah satu penjahat paling kejam yang pernah G:0 hadapi.
“Ingat, jangan pernah melewatkan petunjuk dari Puzzle. Jangan pernah!”
Dan siaran itu berakhir dengan tawa jahatnya.