
Berkali-kali Clara meneriakkan nama Grafit dari luar kamarnya. Ia sudah berdandan dengan gaun merah yang menampilkan bahunya. Ia memadukannya dengan sepatu hak tinggi berwarna sepadan dan beberapa perhiasan yang sederhana tapi memberikan kesan mewah.
“Wah, cantiknya,” puji Jonathan yang membuat Clara tersenyum bangga.
“Maaf karena tidak bisa mengajakmu ke acara itu. Aku tidak bisa apa-apa karena undangannya sangat terbatas. Kami saja bisa ikut karena Dicky sangat menyukai bakat Grafit sehingga ingin memperkenalkan Grafit kepada salah satu agensi kenalannya.”
“Tidak masalah, aku paham. Yah, walau sebenarnya aku sangat ingin membantu penyelidikan. Tapi tak apalah.”
“Kau juga bisa membantu dari jauh. Aku akan membutuhkanmu untuk menyelidiki lebih banyak setiap informasi yang kudapat.”
Jonathan mengangguk sambil tersenyum. Ia terlihat sudah bisa mengikhlaskan diri karena tidak ikut ke acara yang dianggapnya sebagai ‘surga’. Clara lega karena sebelumnya ia merasa tidak enak. Apalagi sebelumnya Jonathan ngotot meminta dana untuk membuat armour. Ia tidak tahu ada apa dengan Jonathan, tapi ia tahu rekannya itu sedang butuh perhatian lebih.
“Oke, aku sudah siap.”
Clara dan Jonathan berpaling untuk melihat Grafit yang baru keluar dari kamarnya. Mereka terpesona dengan penampilannya yang terlihat sangat keren. Untuk pertama kalinya Jonathan mengakui Grafit lebih tampan dan lebih cocok menjadi model dibandingkan dengan dirinya.
“Baiklah, sekarang kita berangkat,” kata Clara sambil menjulurkan tangannya sebagai isyarat meminta Grafit untuk menggandengnya. “Tapi sepertinya kau harus melepas kacamata itu. Kau terlihat bodoh karenanya.”
Grafit terkejut dengan permintaan itu. Ia melihat ke arah Jonathan yang terlihat gelisah. Clara mulai curiga dan akhirnya ia bisa menebak apa yang sedang terjadi.
“Pasti ini kacamata kamera. Kau mau mengintip para model itu melalui kacamata ini, kan? Dasar mesum. Kau tidak sadar kalau itu akan membuat Grafit bertingkah aneh seperti orang mesum, padahal hanya kau yang mesum.”
Clara mengambil kacamata itu dan melemparkannya ke sofa lalu mengajak Grafit pergi. Sementara itu Jonathan masih berdiri dengan wajah kecewa.
“Aku yang membutuhkan pemandangan itu, bukan Grafit. Lalu, kenapa bukan aku yang kau ajak? Aku juga punya bakat untuk menjadi model. Apakah aku harus menonton video sendirian lagi di sini?”
* * *
Fashion Week adalah salah satu event terbaik bagi para desainer dan dunia mode. Mereka berlomba-lomba menampilkan hasil karya mereka untuk dikenal oleh publik. Hampir semua desainer melihatnya sebagai kesempatan untuk bertemu dengan peminat dan pembeli hasil karyanya. Tapi ada juga desainer yang melihatnya hanya sebagai sebuah ajang untuk menegaskan bahwa mereka adalah desainer, meski pada dasarnya mereka kurang produktif dalam berkarya dan hanya bersemangat untuk ajang-ajang seperti ini. Salah satu desainer model seperti ini adalah Madam Axxa Tabitha, mantan bos Clara.
Wanita angkuh itu tidak perlu menghasilkan uang dari hasil karyanya. Suaminya adalah seorang konglomerat yang selalu siap memberikannya suntikan dana. Baginya, desainer hanyalah gelar yang ia gunakan untuk mengatrol status sosialnya. Ia memang memiliki bakat dalam fashion, tapi ia tidak memiliki hati untuknya. Pantas saja hasil karyanya terlihat megah tapi kosong. Sifatnya itulah yang selalu menjadi dasar perselisihannya dengan Clara hingga puncaknya adalah ketika ia memfitnah Clara dan memecatnya.
“Non tidak pernah rindu untuk kembali menjadi desainer?” tanya Grafit di tengah peragaan busana dari salah satu desainer terkenal.
“Tentu saja rindu. Tapi aku sudah terlanjur kecewa. Aku adalah tipe orang yang tak bisa kembali lagi jika sudah kecewa. Makanya, meski mantanku sudah puluhan, aku tak pernah memacari mereka dua kali. Bagiku, yang pernah mengecewakanku akan selalu punya potensi untuk mengecewakanku kembali.”
“Tapi Non mau kembali menjadi guru TK setelah dipecat.”
“Aku kembali karena murid-muridku dan mereka tidak pernah mengecewakanku,” terang Clara yang membuat Grafit mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, Dicky datang dan memperkenalkan seorang pria yang lembut sepertinya pada Clara dan Grafit. Pria itu bernama Caesar. Dicky menceritakan banyak hal tentang kemampuan modeling Grafit pada Caesar. Ia bahkan menjelaskan secara detail bentuk tubuh Grafit yang menurutnya sempurna sebagai seorang model, meski pria itu bisa melihatnya secara langsung. Dan sepertinya Caesar bukan hanya tertarik dengan bakat Grafit. Ia memberikan sentuhan-sentuhan yang cukup intens pada Grafit.
Clara tidak peduli meski modelnya terancam dilecehkan. Ia sedang sibuk mencari sosok wanita yang sedang menjadi teman kencan papanya di antara para tamu.
“Non, lihat itu,” bisik Grafit.
Clara memalingkan wajahnya ke arah Grafit menunjuk. Seorang wanita dengan gaun yang indah berjalan di atas catwalk dengan anggunnya. Hampir semua orang yang menyaksikan peragaan busana itu terpana dengan sang model, entah karena pakaiannya atau wajahnya yang terlihat cantik meski make up yang digunakannya tak semewah pakaiannya. Ia adalah Celina, kekasih papanya.
Beberapa orang di samping Clara sedang membicarakan wanita itu. Dari percakapan mereka Clara tahu kalau wanita itu adalah pendatang baru di dunia modeling dan kariernya melesat tajam setelah diperkenalkan sebagai new face oleh salah satu merk terkenal. Wajar saja, mengingat ia punya bakat dan tubuh yang sangat mendukung.
Kemudian mata Clara menjelajah ke seluruh penonton dan akhirnya berhenti pada satu sosok pria, yaitu papanya. Ia pikir, jika mereka benar-benar berkencan, chef Barney pasti akan datang. Alasannya ada dua, mendukung kekasihnya dan mencari sorotan.
Clara melanjutkan kegiatan mengupingnya. Topik kali ini lebih menarik karena menyeret nama papanya. Menurut mereka, banyak yang heran model secantik Celina yang memiliki karier gemilang di depannya mau memacari selebritis yang sudah turun pamor dan seusia ayahnya. Dalam hati, Clara menambahkan kata ‘masih memiliki istri dan putri yang lebih tua dari Celina’.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Non?” bisik Grafit lagi.
Clara mulai berpikir. Tujuan utama mereka adalah mengetahui maksud ayahnya, yaitu narkoba dan jebakan. Mereka harus mencari tahu terlebih dahulu dari mana heroin itu berasal. Setelah itu, mereka harus pastikan alasan benda itu ada pada papanya. Meski ia mengenal pria itu sebagai orang paling brengsek dengan seluru kelakuan brengseknya, Clara tahu kalau papanya tidak pernah menyentuh barang seperti itu.
“Sedang apa kau di sini? Mama menyuruhmu memata-matai papa, ya?”
Clara terkejut ketika suara itu menyapanya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati seorang pria dengan jas merah muda yang senada dengan warna celananya sedang tersenyum. Tentu saja, pria itu adalah chef Barney, papa Clara. Ia sama sekali belum mempersiapkan diri untuk menghadapi papanya di tempat ini.
“Emm, tidak. Aku bersama temanku. Ia adalah model baru yang sedang kutangani,” kata Clara sambil memperkenalkan Grafit pada papanya. "Seandainya pun iya, itu hal yang wajar. Mama hanya ingin mengetahui apa yang 'peliharaan'nya lakukan."
Terdengar kasar, tapi di masa lalu ia sering mengatakan yang lebih kasar dari itu dan papanya seperti sudah memakluminya. Ia hanya merespons kata-kata kasar putrinya dengan tawaan.
"Sudah berapa kali papa katakan padamu, bukan papa yang terkenal karena mama kaya, tapi mama kaya karena papa terkenal. Segala usahanya berhasil karena orang-orang menyukai suaminya," kata chef Barney di tengah tawanya. “Kau sudah memutuskan untuk kembali ke dunia fashion lagi?”
Clara memang tahu kalau dulu papanya sangat mendukung kariernya sebagai seorang desainer, tidak seperti mamanya.
“Tidak, tidak. Aku hanya seorang booker. Aku tidak berniat menjadi desainer lagi.” Clara melihat kekecewaan di raut wajah papanya saat ia mengatakan hal itu. “Jadi bagaimana? Dirampok saat berkencan dengan gadis muda.”
Chef Barney kembali tertawa karena sindiran putrinya.
“O ya, sampaikan salam dan ucapan terima kasih papa pada pacarmu. Dia mengurus papa dengan baik selama di kantor polisi. Papa bersyukur kau tidak jadi bertunangan dengan Bojan, sebab sekarang kau mendapatkan calon suami seorang polisi.”
Clara tahu maksud papanya. Ia ingin mengklarifikasi kalau polisi selebritis itu bukanlah kekasihnya, namun sang ayah sudah menghilang.
* * *
Malam sudah semakin larut. Peragaan busana untuk hari ini telah usai. Acara berlanjut dengan sebuah pesta yang sangat meriah. Para model yang telah seharian beraksi memiliki kesempatan untuk memanjakan diri mereka.
Berkali-kali Jonathan menghubungi Clara untuk menanyakan kabar dan kapan pulang. Clara memutuskan untuk meliburkan patroli karena ia hanya punya kesempatan di pesta ini untuk mendekati Celina dan para model lain yang kemungkinan tahu sumber heroin yang dititipkan papanya pada G:0.
Ia melihat Grafit sudah membaur dengan orang-orang dari berbagai agensi. Sepertinya Grafit berhasil menjadi magnet bagi para pencari bakat di bidang modeling. Meski wajah polosnya terlihat berjuang untuk memahami isi pembicaraan para lawan bicaranya, Clara tidak ada niat sama sekali untuk mengeluarkannya dari percakapan itu. Ia sibuk berjuang untuk bersosialisasi dengan para model. Tapi sepertinya sulit karena mereka hanya peduli pada sesama mereka dan orang-orang yang memiliki pengaruh pada karier mereka.
“Aku tahu dari siapa mereka mendapatkan narkoba,” kata Grafit mengejutkan Clara. Bagaimana ia bisa tahu? Sejak tadi ia hanya berbincang-bincang pada orang-orang agensi. “Ta, tadi aku mendengar percakapan mereka."
Clara menatap Grafit tajam, lalu ia menunduk dan berbicara pada salah kancing baju Grafit. "Brengsek, aku tahu kau memasang kamera di sini dan aku tahu kau bisa mendengarku. Kau membuat Grafit bertingkah aneh karena dari tadi ia berulangkali mendekatkan dadanya ke dada para wanita. Jika malam ini kau dengan alat-alat bodohmu ini tidak memberikan apa yang kubutuhkan, aku akan mematahkan lehermu. Kau juga, Grafit. Kau akan kuhukum karena membohongiku demi si cabul ini."
Grafit dan Jonathan yang ada di markas sana ketakutan.
“Seorang bandar bernama Il Capitano yang memasoknya. Ia tidak menjualnya pada para model, tetapi melalui agensi mereka,” kata Grafit meneruskan ucapan Jonathan.
”Aku juga pernah mendengar kalau benda itu bisa meningkatkan performa dan sangat membantu untuk menguruskan badan. Tapi tak kusangka agensi yang sengaja menyediakannya untuk para model.”
“Sepertinya bukan itu tujuannya. Mereka hanya ingin para modelnya kecanduan dan memiliki ketergantungan pada mereka,” kata Grafit yang merupakan tiruan dari apa yang diucapkan Jonathan melalui alat komunikasi mereka.
Sebuah fakta yang mengejutkan Clara. Ia baru mendengar hal seperti itu dan tak menyangka beberapa agensi melakukan tindakan sejauh itu untuk mengikat dan mengendalikan para modelnya.
Tiba-tiba sebuah jeritan terdengar dari arah taman yang tak jauh dari sana. Beberapa orang berlari ke arah jeritan itu, termasuk Clara dan Grafit. Mereka melihat seorang wanita berteriak histeris sambil menunjuk ke arah tugu yang ada di tengah taman.
Seorang wanita yang terlihat tak bernyawa lagi tergantung di tugu itu dengan tubuh penuh darah. Tak salah lagi, wanita itu adalah Celina Ruthaway, model di acara itu dan kekasih dari chef Barney. Di lantai dekat tubuhnya tergeletak sebuah benda yang tak asing bagi sebagian orang di sana. Sebuah jas berwarna merah muda. Mereka tahu siapa yang mengenakannya sepanjang acara hari ini.
“Itu adalah milik papaku,” bisik Clara yang terlihat sangat syok pada Grafit.