G:0

G:0
PENDEKATAN YANG BERBEDA



“Sepertinya kita harus mengubah pendekatan kita,” kata Jonathan ketika ia baru sampai di markas, yang membuat Clara dan Grafit bingung. “Kita harus berhenti menganggap pelakunya adalah alien atau hantu. Kita lupa kalau manusia biasa sangat mungkin melakukan penculikan itu.”


Clara memikirkan ucapan Jonathan itu sambil mengangguk kecil seakan setuju. Memang, itu terdengar masuk akal. Ia yakin selama ini mereka melewatkan beberapa petunjuk karena melupakan faktor 'manusia'. Maka dari itu, Clara memutuskan sebuah rencana. 


“Kita akan investigasi ulang.”


Jonathan mengacungkan jempol tanda dukungannya atas rencana itu. 


“Aku akan menyelidiki kembali lokasi kejadian dan kesaksian para korban.”


“Ya, kita harus menyingkirkan kemungkinan mereka diculik oleh UFO dan memikirkan benda apa yang bercahaya terang dan bisa dipancarkan dari atas serta bisa membuat orang tak sadarkan diri.”


“Baik. Aku sudah punya beberapa probabilitas, hanya perlu sedikit informasi untuk bisa memvalidkannya.”


Jonathan segera membuka laptopnya. Kemudian ia melihat ke sekeliling dan menyadari ada yang hilang. 


“Di mana Grafit?”


“Di atap. Katanya ingin dengar lagu baru seseorang yang bernama Yuju. Kau kenal siapa dia?”


“Wah, kau serumah dengannya tapi tidak tahu siapa Yuju? Dia adalah salah satu mantan anggota GFriend, grup idol favorit Grafit, yang sedang meniti karier sebagai solois. Baru-baru ini dia merilis mini album pertamanya dengan lagu andalan berjudul Play. Lagu yang sangat keren.”


“Bukankah favoritnya adalah wanita imut bernama Eunha itu?”


Tiba-tiba Jonathan memegang bahu Clara dan menatapnya tajam. “Sekali Yeoja Chingu, selamanya Yeoja Chingu! Kita bisa memiliki bias, tapi kita juga mencintai semua anggotanya. Seperti aku, aku mengikuti banyak akun fans Yerin, tapi aku juga akan menyukai foto-foto Yuju, Sin B, Sowon, Eunha dan Umji yang masuk di timeline-ku.”


Clara menatap Jonathan sambil menggelengkan kepalanya. "Di mana Jonathan wibu? Aku hanya melihat Jonathan Kpopers. Jangan-jangan kau alien yang menyamar menjadi Jonathan,"


"Wibu masih ada di dalam darah dan dagingku. Aku hanya memutuskan untuk menyukai GFriend saja, seperti Grafit." Jonathan berpikir sejenak seakan menyesali pernyataannya. "Sepertinya aku juga suka Blackpink, Twice, Itzy dan Red Velvet. Bahkan aku sempat berpikir untuk membuat gerakan khas G:0 sebelum bertarung dengan penjahat. Seperti koreografi grup Aespa di lagu Next Level."


Kemudian Jonathan mempraktikkan gerakan yang ia maksud, membuat Clara memandangnya jijik. 


“Kau menambah satu lagi alasan kenapa aku tidak bisa tertarik padamu.”


*          *         *


Seharusnya kasus ini tidak sulit seandainya kamera pengawas, baik milik pemerintah kota Dragokarta maupun milik skuad G:0 berfungsi dengan baik. Namun, perkelahian antara G:0 dan Padoha di ruang bawah tanah beberapa hari yang lalu ternyata sempat mengakibatkan gangguan sistem transmisi listrik sehingga merusak beberapa fasilitas elektronik yang ada di kota, termasuk untuk jenis CCTV.


Pemerintah kota sudah berencana untuk mengganti seluruh CCTV yang rusak, sementara skuad G:0 harus menunda penggantian properti mereka mengingat biaya yang dibutuhkan untuk benda-benda itu cukup mahal dan Clara menantang Jonathan untuk membuat kamera yang lebih canggih dan lebih murah.


“Untungnya, ada beberapa kamera kita yang masih bisa terselamatkan. Dan yang paling dekat dari lokasi kejadian adalah kamera yang ada di jalan Aster, tiga blok dari kasus kelima. Korbannya adalah seorang dokter bernama Panji Gumilang,” lapor Jonathan. Ia menunjukkan rekaman beberapa saat setelah kejadian pada Clara dan Grafit.


“Ada yang mencurigakan?” tanya Clara. Jonathan tidak memiliki jawaban untuk itu.


“Hei, lihat! Ada beberapa orang yang datang dari lokasi kejadian.”


Clara dan Jonathan langsung melihat ke arah Grafit menunjuk. Benar, ada beberapa orang berpakaian hitam datang dari arah rumah dokter Panji Gumilang. Sebagian dari mereka membawa tas dan empat orang di antaranya berjalan dengan cara yang mencurigakan. Seperti saling merapatkan tubuh mereka. Kemudian Clara menyadari sesuatu yang  penting.


“Sepertinya mereka sedang membawa peralatan ‘alien’ mereka. Tapi di mana dokter Panji?”


“Itu adalah dokter Panji. Lihat, di antara orang-orang yang berjalan aneh itu.”


Meski kurang jelas, mereka yakin kalau orang yang ditunjuk oleh Clara adalah dokter Panji. Orang-orang itu berjalan melewati area tangkapan kamera pengawas. Jonathan segera mencari kembali kamera aktif yang ada di dekat lokasi itu.


“Tidak ada. Yang terdekat berada sekitar lima blok dari tempat itu.”


Wajah mereka berubah lesu setelah tahu jalan mereka buntu lagi. Saat sedang memikirkan kembali cara menemukan para penjahat itu, mata Clara terpaku pada gambar di kaos Grafit, seperti sebuah logo.


“Logo apa itu?”


Tiba-tiba Clara berdiri dari kursinya dengan mata terbelalak. Kemudian ia menggeser kursi Jonathan dan mengambil alih komputer. Ia memutar kembali rekaman yang menunjukkan para tersangka penculikan itu. Setelah melihat sejenak, ia bersorak senang.


“Aha! Aku dapat petunjuknya. Lihat gambar di tas yang mereka bawa.”


Jonathan dan Grafit menuruti perintah Clara. Mereka melihat tas itu dengan seksama. Beberapa detik kemudian, Jonathan ikut bersorak dengan wajah gembira.


“Ya, itu adalah logo sebuah perusahaan. Sepertinya sangat familiar. Logo apa, ya?”


“Highlight Event Organizer. EO itu pernah dipakai di acara fashion week yang pernah kami datangi dulu. Wajar jika terlihat familiar karena kita melihat logo itu di pakaian dan tas anggotanya yang mondar-mandir di sana,” terang Clara.


“Ini menjelaskan kenapa ingatan terakhir korban adalah cahaya yang sangat terang dari langit. Mereka punya berbagai jenis lampu panggung, misalnya jenis spotlight yang jika ditembakkan dari atas akan mirip seperti cahaya dari UFO.”


“Kita harus lapor ini pada Kapten Rian agar polisi menyelidiki mereka.”


Tanpa diduga, Clara malah menolak ide Grafit untuk menghubungi polisi itu. Padahal sebelumnya ia selalu meyakinkan skuad untuk membiarkan Kapten Rian mendapatkan semua informasi yang mereka dapatkan.


“Ini masih spekulasi. Lagipula kita tidak bisa menyerahkan rekaman ini padanya. Ia akan tahu kalau selama ini kita menyebarkan kamera pengawas ke seluruh Dragokarta secara ilegal.”


Jonathan dan Grafit mengangguk-angguk tanda setuju.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Grafit.


“Seperti biasa, kita akan menyelidikinya sendiri.”


*          *         *


Suasana lapangan kota cukup ramai. Saat itu sedang ada acara launching produk terbaru dari salah satu perusahaan minuman ringan. Clara dan Grafit memantau keadaan di sekeliling mereka. Beberapa orang yang mengenakan pakaian dengan logo Highlight Event Organizer mondar-mandir di lokasi acara. 


Mereka tidak tahu pasti apa yang sedang mereka cari. Mereka hanya menunggu terjadinya sesuatu yang mencurigakan dari salah satu pegawai EO itu. Tapi, sampai acara sudah hampir di penghujung, mereka tidak menemukan kecurigaan apa pun. Bahkan Clara tidak sadar jika sejak tadi sudah terpisah dari Grafit.


“Non, ke sini.”


Clara terkejut dengan colekan Grafit. Pria itu mengajaknya pergi melalui samping kiri panggung menuju sebuah tenda yang ada di belakang panggung. Dari luar, mereka mendengar perbincangan dua orang. Mereka seperti sedang mendebatkan sesuatu.


“Baik, kita dengar dari sini saja. Suara mereka terdengar jelas dari sini,” bisik Clara sambil memberi kode pada Grafit untuk berhenti. Tapi Grafit terus berjalan menuju pintu tenda dan masuk. Melihat hal itu, Clara ikut masuk juga.


“Perkenalkan, ini adalah Dito dan ini adalah Ben. Mereka adalah orang yang direkomendasikan oleh dokter Edward beberapa hari yang lalu,” kata Grafit, yang akhirnya Clara sadari mengikuti instruksi dari Jonathan melalui alat komunikasi mereka.


Kedua orang itu mengulurkan tangan mereka dan Clara menyalami satu per satu. Mereka tersenyum ramah.


“Kami akan membantu mengadakan acara itu. Katakan saja, siapa aktornya?”


Clara bingung dengan pertanyaan itu. Ia tidak mengerti yang mereka maksud dengan aktor. Ia menatap Grafit seakan memohon bantuan.


“Non jangan ragu. Katakan saja namanya.”


Tiba-tiba sebuah suara muncul di telinganya, seakan masuk dan langsung menggetarkan otaknya. Ia baru ingat kalau di antingnya juga ada alat komunikasi yang terhubung dengan Jonathan.


[Sebut saja nama orang yang sangat kau benci. Yang ingin kau culik dan siksa.]


Bantuan dari Jonathan sama sekali tidak membantunya. Pikirannya kini malah semakin bingung. Kenapa tiba-tiba membahas tentang orang yang sangat dibenci?


[Cepat, katakan! Atau mereka akan mencurigai kalian!]


“Dodo. Namanya Dodo Prayogi. Kepala sekolah dari TK Socrates.”


Kedua orang itu terdiam lalu memberikan senyumnya pada Clara sambil mengacungkan jempol. Sementara itu, Clara masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.