G:0

G:0
PEMBUNUHAN BERANTAI



Jonathan membuka pintu apartemen Clara sambil memikirkan adiknya yang sedang menghadapi kemungkinan menjadi korban pembunuhan berantai selanjutnya. Sebenarnya ini sudah waktunya pulang, tapi Clara memintanya bekerja lebih lama lagi untuk membahas tentang kasus itu. Jadi, ia keluar sebentar untuk membeli sarapan lalu kembali. Saat baru masuk ruangan markas mereka, ia melihat Clara yang duduk di hadapan Grafit yang berdiri.


"Sedang apa?" tanyanya. 


"Sedang melatihnya kembali berganti kostum. Ia akan kembali beraktivitas di luar, jadi menurutku ia perlu menggunakan kostum kamuflase," jawab Clara. 


Yang dimaksud kostum kamuflase adalah pakaian yang bisa diubah dengan cepat menjadi kostum G:0. Kostum ini dulu biasa dipakai Grafit saat memiliki kehidupan di luar G:0. Tujuannya adalah jika terjadi kejahatan mendadak, Grafit bisa segera berubah menjadi G:0.


"Baguslah. Aku juga ingin mengecek beberapa peralatanku di kostum itu. Semoga saja masih berfungsi."


Jonathan duduk di sebelah Clara dan kini mereka seperti dewan juri yang sedang mengadakan audisi. 


"Oke, yang pertama, tekan tombol di atas topi. Topi itu akan berubah menjadi hitam. Lalu tarik visornya sampai menutup mulut. Maka jadilah topeng.


"Selanjutnya, kancing jaket dan pasang tudungnya. Keluarkan sarung tangan yang tersembunyi di bagian pergelangan tangan jaket dan kenakan. Kemudian tarik tali yang ada di leher, maka jaket akan mengetat dan berubah warna juga. 


"Berikutnya, tarik sisi kiri celana sehingga lapisan atas bagian depan celana terbuka. Putar lapisan atas itu dan tempel di belakang hingga kembali melekat di sisi kirinya. 


"Yang terakhir, hentakkan sepatunya masing-masing tiga kali hingga solnya mengembang dua kali lipat, talinya masuk ke dalam dan warna serta modelnya berubah."


Grafit melakukan semua instruksi yang diberikan Clara dengan baik. Kemudian wanita itu menyuruh Grafit mengulanginya tanpa bantuan dan dengan tempo yang lebih cepat. 


"Lewat satu menit. Harusnya bisa lebih cepat dari ini," protes Clara. "Latihan lagi!"


"Jangan terlalu menekannya. Jika sudah terbiasa, ia akan bisa lebih cepat." Jonathan melihat ke arah Grafit dan menjelaskan fitur yang pernah ia tambahkan di kostum itu tapi belum pernah Grafit coba. "Jika kau menekan tombol di kanan topengmu, suaramu akan berubah seperti suara Batman. Ini untuk menghindari kau orang mengenali suara Grafit. Jika kau menekan tombol di kirinya, suaramu tidak akan terdengar oleh orang di sekitarmu. Hanya kami yang di markas yang bisa mendengar. Jangan sampai lupa."


"O ya, aku pikir ia perlu memakai kacamata yang bisa melihat di kegelapan," usul Clara. 


"Ide bagus. Aku akan membuatnya."


"Emm, teman-teman," kata Grafit ragu-ragu. Clara dan Jonathan berhenti berdiskusi dan melihat ke arahnya. "Sepertinya Joice sudah menjemputku."


Clara dan Jonathan berbalik dan mendapati Joice sedang berdiri di pintu dengan wajah terkejut. Mulut dan matanya terbuka lebar. 


"Kau pasti tidak mengunci pintunya kembali," gumam Clara pada Jonathan. Kemudian ia memberi kode pada Grafit. 


Grafit pun mengarahkan telapak tangannya pada Joice dan wanita itu pingsan lagi. 


*          *         *


"Apa? Pingsan lagi?"


Demikian kalimat pertama yang diucapkan oleh Joice saat baru tersadar.


"Itu karma bagi orang yang suka masuk rumah orang lain secara diam-diam," jawab Clara. "Bisakah kau menghubungiku terlebih dulu sebelum datang? Aku juga repot mengurus orang yang pingsan di apartemenku."


Berkas itu seakan memadamkan perdebatan mereka dengan cepat. Clara menerimanya dengan wajah menyeringai. Ia sangat senang.


"Kau memang sahabat terbaikku," puji Clara. 


"Aku sudah lama mengetahuinya," kata Joice dengan nada angkuh. Kemudian ia menunjuk ke arah Grafit. "Bersiap-siaplah. Aku menunggumu di bawah."


Joice berjalan keluar apartemen. Seperti yang telah diperintahkannya, Grafit langsung segera bersiap-siap. 


"Ingat, jangan pernah gunakan kekuatanmu, apapun yang terjadi. Aku tidak ingin kau menghilangkan ingatannya lagi," ancam Clara. 


Tapi Jonathan berkata sebaliknya. Ia berbisik pada Grafit, "Sebagai kakak lelakinya dan wakil ketua G:0, aku sangat menyarankanmu untuk menghilangkan ingatannya setiap kali dia merasa curiga padamu."


Beberapa saat kemudian Grafit sudah siap dan segera turun untuk mendatangi Joice. Jonathan langsung bergabung dengan Clara untuk melihat isi berkas itu.


Anggota pertama adalah Anita Tungga Dewi. Seorang janda kaya yang memiliki banyak bisnis, mulai dari bidang kuliner, fashion hingga jasa perjalanan. Dia ditemukan tewas tercekik di kamar mandinya dua bulan yang lalu dan merupakan korban pertama. Menurut catatan Joice, saat kuliah dulu Anita pernah bertengkar hebat dengan Sisca, anggota klub lainnya. Konon Anita memanipulasi hasil sebuah audisi penari latar seorang penyanyi terkenal yang mana seharusnya hasil audisi itu meloloskan Sisca namun Anita mendekati salah satu juri dan merebut kesempatan Sisca.


Ya, anggota kedua adalah Sisca Fitria. Profesi terakhirnya adalah pelayan di sebuah bar. Ia ditemukan tewas tertikam di belakang bar tempatnya bekerja, tiga minggu setelah Anita tewas. 


Ia kurang berhasil di kuliahnya dan harus drop out di semester lima. Menurut isu yang beredar, ada tiga alasan ia berhenti kuliah. Pertama, karena ia merasa salah mengambil jurusan. Ia berpikir kemampuannya bukan untuk statistika. Kedua, karena ia jatuh cinta pada menari dan kehilangan minat untuk hal yang lain. Wajar jika ia sangat marah dengan perbuatan Anita tersebut. Ketiga, karena pengaruh buruk kekasihnya, Rudi. Ada yang bilang, saat berhenti kuliah, Sisca sedang dalam keadaan hamil.


Anggota ketiga adalah Rudi Handika, mahasiswa teknik yang akhirnya sukses sebagai agen asuransi dan trader saham. Ia ditemukan tewas sebulan yang lalu di halaman belakang rumahnya dengan luka akibat benturan benda tumpul di kepalanya. 


Rudi termasuk pemuda nakal. Ia ikut dalam klub modern dance hanya untuk mendapatkan gadis cantik. Memang, klub itu banyak berisi gadis-gadis cantik dan seksi. Sebelum berpacaran dengan Sisca, ia pernah mengejar Gaby, namun ditolak dengan cara yang sangat kasar. Banyak yang bilang saat itu Rudi sangat marah dan berkali-kali berikrar akan membunuh Gaby. 


Anggota berikutnya adalah Gabriella Wijaya atau sering dipanggil Gaby. Dia adalah wanita paling cantik dan paling berprestasi di klub. Pekerjaan terakhirnya adalah dokter spesialis di sebuah rumah sakit ternama. Ia ditemukan tewas tenggelam di sebuah kolam tiga minggu yang lalu.


Kisah yang terkenal berkaitan dengan Gaby adalah ketika Rudi mengungkap identitas ayahnya yang adalah seorang koruptor besar di sebuah instansi pemerintah.


Lalu ada Tania Astuti yang seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Dia tewas setelah jatuh dari atap lantai kantornya sepuluh hari yang lalu. Kemudian ada Kurniawati, resepsionis sebuah hotel yang tewas tergantung di tempat kosnya empat hari yang lalu. Tidak ada cerita yang istimewa dari mereka berdua saat kuliah dulu.


Anggota lain yang masih hidup selain Joice tinggal dua. Pertama, Budi Kencana, seorang satpam mal. Ia memiliki alibi saat pembunuhan Anita, Gaby dan Kurniawati. Yang kedua adalah Sapto Alexander, seorang personal trainer. Ia juga memiliki alibi saat pembunuhan Anita, Sisca, Rudi dan Tania. Keduanya juga tidak memiliki kisah yang penting saat kuliah dulu.


"Apakah pelakunya di antara kedua orang itu?" tanya Jonathan. 


"Entahlah, tapi aku sudah punya dugaan," ujar Clara dengan mata masih menatap kertas-kertas berkas itu. "Kalau dugaanku benar, korban berikutnya adalah Joice."


Akhirnya Jonathan menunjukkan wajah khawatirnya. Meski sering berselisih, ia tetap tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya.


"Jadi kita harus bagaimana?"


"Untuk saat ini, kita berharap pada Grafit untuk bisa melindunginya."