G:0

G:0
ARMOUR FOR AMOR



BRAKKK!!!


Jonathan membanting seonggok kertas ke atas meja yang ada di hadapan Clara. Wajahnya terlihat sangat marah.


“Apa ini?” tanya Clara sembari membacanya.


“Proposal untk membuat armour.”


“Armour? Tunggu, kau mau buat armour sekelas Iron Man?” Clara menyendengkan telinganya seakan ingin memastikan jika ia tidak salah dengar. Ketika Jonathan mengangguk, ia langsung menyambung pertanyaannya. “Memangnya kau yakin sejenius Tony Stark? Lagipula harga penelitianmu ini mencapai milyaran rupiah dan itu masih penelitian, belum pasti berhasil. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Aku tidak sekaya Tony Stark.”


“Orang tuamu kan kaya.” Jonathan menjawabnya dengan santai, membuat Clara mulai kesal.


“Baiklah, seandainya aku membiayai penelitianmu ini dan armour itu berhasil dibuat, kegunaannya untuk apa? Aku rasa Grafit tidak membutuhkannya. Tubuhnya sudah kebal dengan serangan apa pun. Jika pun ingin lebih, kita hanya perlu mengembangkan kostumnya agar bisa lebih kebal terhadap Ungravity.”


“Aku membuatnya bukan untuk Grafit, tapi untukku sendiri. Sebenarnya selama ini aku lelah menjadi Alfred. Aku ingin menjadi sidekick G:0 seperti Robin. Untung-untung aku setara dengannya seperti Superman.”


Mendengar ocehan itu, Clara semakin kesal. Ia berdiri dan gilirannya membanting proposal itu. “Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Kau mau menjadi pahlawan super juga? Kau tidak melihat apa yang menimpa G:0 beberapa waktu yang lalu? Ia hampir saja kehilangan nyawanya. Dan kau, yang sepanjang hidupnya menjadi korban perundungan dan selalu menghindari perkelahian, mencoba menjadi pahlawan super? Kau pikir kau bisa mengalahkan musuh hanya dengan mengandalkan armour?”


Tiba-tiba Grafit datang dengan wajah girang tanpa mengetahui ada konflik yang terjadi di sana. “Jonathan, acaranya sudah mulai. Itu lho, acara lomba memasak yang salah satu jurinya adalah pria botak yang kau katakan punya tatapan mesum dan gaya bicaranya yang aneh.”


Air muka Jonathan yang tadi ketakutan karena bentakan Clara, kini semakin ketakutan seiring dengan air muka Clara yang menunjukkan peningkatan amarah. Ia tahu acara yang dimaksud Grafit. Meski lomba memasak, mereka berdua menonton hanya untuk menertawakan sang juri yang sebenarnya tidak melawak sama sekali. Dan ia juga tahu siapa yang mereka tertawakan itu.


“Pria botak yang punya tatapan mesum dan gaya bicaranya yang aneh? Baru saja kau mengharapkannya untuk membiayai proposal bodoh ini. Pokoknya aku takkan pernah membiayainya. Jika kau ingin membuatnya, silakan. Tapi cari sendiri sumber dananya dan aku tidak akan mengizinkan siapa pun di skuad ini selain Grafit yang bertugas lapangan.”


Clara pergi menuju kamar dan membanting pintunya. Grafit bingung dan memberikan tatapan pada Jonathan seakan bertanya apa yang sedang terjadi.


“Entahlah, mungkin dia sedang datang bulan.”


Grafit mengangguk. Kemudian ia melihat sambil berbicara menirukan juri memasak itu. Jonathan ikut tertawa dan mereka sama-sama menuju televisi tanpa memedulikan perasaan Clara lagi.


*          *         *


Patroli sepanjang malam itu berjalan dengan canggung di markas. Jonathan sadar Clara masih marah padanya. Wanita itu hanya mengatakan hal yang benar-benar perlu dikatakannya. Tidak ada candaan, tidak ada perbincangan ringan, tidak ajang curhat-curhatan. Ia merasa menyesal karena melakukan tindakan bodoh seperti tadi siang.


Tapi Jonathan belum selesai dengan rasa cemburunya terhadap Grafit yang menurutnya telah mendapatkan cinta dari Clara, wanita impiannya. Ingin rasanya ia menyuruh G:0 melompat dari gedung tanpa mengendalikan gravitasi tubuhnya.


“G:0, apakah kau tadi jadi makan malam? Sudah beberapa hari ini kau tidak pernah makan malam. Itu tidak baik bagi perutmu. Aku tahu kaum Miel yang kebal terhadap segala macam senjata tidak kebal terhadap sakit perut. Masih menempel di kepalaku saat gurumu menderita karena sakit pada pencernaannya,” kata Clara yang ditanggapi dengan ekspresi sinis dari Jonathan.


[Ya, tadi aku makan malam. Sebelumnya aku tidak makan malam karena makan siangku terlambat dan cukup banyak.]


Tapi ia juga sadar, ide membuat armour itu hanyalah spontanitasnya untuk menyaingi Grafit di depan Clara. Ia juga harus membuat Clara tidak terlalu menyalahkannya.


“Aku minta maaf karena mengejek papamu. Tapi aku tetap akan berusaha membuat armour itu. Justru karena selama ini selalu dirundung dan selalu kalah dalam perkelahian, aku ingin menciptakannya. Aku juga melakukannya karena kejadian kemarin. Duduk di markas dan hanya melihat G:0 hampir mati sangat menyiksaku. Seandainya aku punya armour itu, mungkin aku bisa membantu G:0.”


Clara sama sekali tidak menggubris. Ia tetap serius dengan monitor yang ada di depannya. Jonathan tahu kalau idenya itu sangat membuat Clara kesal. Tapi ia punya alasan yang kuat untuk itu, baik alasan yang sesungguhnya atau alasan yang ia buat-buat.


“Entahlah, aku hanya kesal karena kau berpikir pekerjaan kita selama ini tidak cukup bagimu. Di skuad ini, aku tidak pernah berpikir Grafit lebih hebat daripadamu hanya karena ia bertugas di lapangan. Aku juga tidak pernah bisa membayangkan skuad ini tanpamu. Dan seperti yang selalu kau katakan, G:0 ada karenamu. Armour bodoh itu takkan menambah respekku padamu. Justru kau seperti menghina nama yang kita banggakan selama ini, yaitu G:0.”


Jonathan tertunduk malu. Benar yang dikatakan Clara. Hanya karena cemburu dengan Grafit, ia seperti ingin bersaing dengan G:0, nama yang telah mengangkat harga dirinya yang selama bertahun-tahun rusak. Ia menyadari betapa bodoh idenya membuat armour ala Iron Man itu. 


“Kau bukan seperti Alfred bagi Batman, bukan seperti Gordon bagi Power Rangers. Tapi kau seperti Kurama bagi Naruto. Kau ikut bertarung dengan G:0, bukan bersembunyi di markas dan sok mengatur dari jarak jauh. Meski G:0 bisa bertarung sendiri, ia akan jauh lebih hebat jika bersamamu.”


Kata-kata yang diucapkan Clara itu terdengar merdu di telinga Jonathan. Ia sangat tersentuh karena deskripsi yang diberikan Clara tentangnya di skuad ini. Mungkin ia tidak mendapatkan cinta wanita itu seperti yang diinginkannya, tapi wanita itu tetap menghargainya sangat tinggi. Ia pun memaki kebodohannya dalam hati.


“G:0, segera menuju kawasan klub malam di daerah Taman Cassanova. Sepertinya terjadi keributan di sana,” kata Clara ketika melihat sesuatu yang aneh di monitor. G:0 segera bergerak ke tempat yang dimaksud setelah mendengar perintah itu.


“Keributan di klub malam? Bukankah itu biasa dan kita tidak pernah mengurusnya?”


“Bukan, ini bukan keributan biasa. Lihat, mereka mengacungkan senjata pada sepasang kekasih itu. Sepertinya mereka sedang berselisih karena memperebutkan wanita itu.”


Jonathan mendekatkan matanya ke monitor yang ditunjuk Clara. Benar katanya, sekelompok geng sedang memojokkan sepasang kekasih dengan menggunakan pisau. Berhubung penjahatnya banyak dan cukup sulit bagi G:0 membawa mereka ke kantor polisi, Jonathan melaporkan kejadian itu pada polisi dengan menggunakan saluran yang tak bisa dilacak.


Tak lama kemudian, G:0 tiba di lokasi. Dengan mudah ia menghajar kelompok geng itu dan mengikat mereka agar tak melarikan diri sampai polisi datang. Biasanya, setelah menolong warga, G:0 akan segera pergi bahkan sebelum orang yang ditolongnya mengucapkan terima kasih. Tapi kali ini G:0 bertahan di tempat. Ia memandangi pasangan itu cukup lama hingga Clara dan Jonathan berulang kali menyuruhnya pergi.


[Teman-teman, kalian pasti tidak menyangka siapa yang kutolong saat ini.]


Clara dan Jonathan saling pandang karena tidak mengerti dengan ucapan G:0. Apakah berkaitan dengan Kraken?


“Memangnya siapa?” tanya Jonathan.


[Si botak yang memiliki tatapan mesum dan gaya bicara aneh, yang menjadi juri di acara lomba memasak kesukaan kita.]


Clara dan Jonathan terkejut. Benar-benar tidak mereka sangka.


Ah, seharusnya tadi aku memberitahu Grafit kalau itu adalah papanya Clara dan berhenti memanggilnya dengan julukan itu, batin Jonathan.