
Jonathan mengajak Grafit ke tempat gym. Ia seperti punya hutang pada Grafit untuk memberikan 'kehidupan yang lain'. Rencananya yang melibatkan Joice tidak berjalan dengan baik. Grafit terlalu sering menghilangkan ingatannya setiap kali mereka bersama.
"Ingat, mens sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Jadi, kita butuh olahraga. Kita harus menjadi pria yang kuat," kata Jonathan dengan nada berapi-api. Grafit menduga Jonathan sangat bersemangat untuk olahraga karena merasa lemah setelah kejadian pembegalan yang lalu.
"Tapi, bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk ke tempat ini? Lihat saja, masih belum ada orang."
Pada akhirnya Grafit menemukan jawaban dari pertanyaannya itu. Jonathan sangat buruk dalam menggunakan alat-alat itu. Beberapa kali ia mempermalukan diri ketika salah menggunakan alat di depan banyak orang. Untuk itu, ia memilih waktu yang sepi.
Sayangnya, baru lima menit mereka berolahraga, datang beberapa orang untuk berolahraga juga dan sebagian ada wanita-wanita cantik.
"Grafit, bantu aku!" bisik Jonathan.
Ternyata ia menyuruh Grafit mengurangi gravitasi beban yang akan ia angkat. Awalnya dumbell, barbell dari sekilo sampai puluhan kilo, lat pulldown machine, peck deck fly, cable crossover machine, dan jenis alat angkat beban lainnya. Aksinya itu berhasil menarik perhatian para wanita tadi.
Grafit melihat ke arah jam. Ia teringat janjinya dengan Rosalia. Tanpa ingat dengan tugas yang sedang dijalaninya, Grafit pergi begitu saja meninggalkan Jonathan.
Sementara itu, Jonathan sedang berjuang melepaskan dirinya dari alat bernama leg press machine yang benar-benar menekan kakinya dengan beban yang sudah hampir lima puluh kilogram beratnya.
* * *
Grafit memutar lehernya dan melepaskan pandangan ke seluruh arah mata angin. Ia belum menemukan yang ia cari. Tiba-tiba seorang wanita bergaun kuning melambaikan tangan di antrian paling belakang toko roti. Grafit tersenyum setelah menyadari keberadaan wanita itu.
Dia adalah Rosalia, gadis pimpinan begal yang bertemu dengan Grafit dua hari yang lalu. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu hari ini.
"Sini, sini," kata Rosa memberikan kode agar Grafit ke belakangnya.
Seorang wanita tua baru tiba dan langsung berdiri di belakang Rosa sebelum Grafit datang. Rosa memberikan tatapan tajam, membuat wanita tua itu ketakutan dan pergi.
"Maaf karena terlambat. Entah kenapa temanku mengajak berolahraga pagi-pagi sekali," ujar Grafit saat baru sampai. Rosa menyipitkan matanya dan menatap penuh curiga.
"Siapa? Wanita?"
"Tidak, pria. Namanya Jonathan." Jawaban Grafit itu mengembalikan senyum di wajah Rosa. "Hampir saja aku tidak mengenalmu. Kau sangat -"
"Wanita? Tentu saja. Namaku saja Rosalia. Orang-orang sering menyangka aku pria karena pakaianku. Tapi aku benar-benar wanita tulen, kok." Rosa seakan hendak meyakinkan Grafit. Tapi ekspresi Grafit tidak berubah.
"Ya, itu. Dan sangat cantik."
Mendadak wajah Rosa terasa panas karena malu. Ia menunduk tersipu dan menyibakkan rambut di telinganya sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Mereka berbincang banyak sambil menunggu giliran antrian mereka. Tidak seperti kesehariannya, Rosa bersikap sangat anggun. Semakin banyak ia melihat kepolosan Grafit, semakin ia menyukainya dan secara otomatis semakin memperbesar sisi feminin di dalam dirinya.
Ketika giliran mereka sudah tiba, Rosa memesan roti kesukaannya dan roti jenis lain untuk dimakannya bersama dengan Grafit.
"Hari ini aku akan mentraktirmu roti," kata Rosa. Ia menarik tangan Grafit dan membawanya menuju taman kota. "Kau harus meningkatkan levelmu dari roti tawar."
"Tapi aku menyukai roti tawar. Apalagi jika ditambah selai atau meses."
"Itulah kesalahan terbesarnya. Memberikan tambahan topping pada roti sama saja dengan merusak kemurnian roti. Sepotong roti akan memberikan kenikmatan sejati jika dimakan begitu saja."
Grafit tercengang mendengar penjelasan yang cukup dalam baginya itu. Kemudian Rosa memberikan sebuah roti bulat berwarna kecoklatan dan harum. Grafit tersenyum bahagia saat roti itu berpindah ke genggaman tangannya dan aromanya menyentuh reseptor di rongga hidungnya.
Grafit menggigitnya perlahan, kemudian wajahnya langsung berbinar, menunjukkan kalau ia sangat menikmatinya. Rosa sangat bangga pada dirinya sendiri.
"Sangat manis dan renyah di luar, tapi lembut di dalam. Jauh lebih enak dibandingkan roti tawar. Sungguh roti yang luar biasa. Memang benar-benar kenikmatan yang murni. Apa namanya?"
Rosa tertawa melihat Grafit menyantap semua rotinya dengan lahap.
"Tulisannya bagel, tapi disebutnya beigel," jawab Rosa.
“Wanita?”
“Si Jonathan itu. Beberapa hari yang lalu ada orang yang merampok motornya dan menghajarnya. Ia bilang nama pelakunya adalah begal. Mirip dengan nama roti ini,” kata Grafit. Tanpa disadarinya, nama itu sangat bermakna bagi Rosa. “Namanya memang mirip, tapi berbanding terbalik. Kalau bagel lembut dan murni, sedangkan begal kasar dan jahat.”
Rosa merasa tersinggung dengan ucapan Grafit. Tapi ia memakluminya. Grafit tidak salah karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Justru ia menyalahkan dirinya sendiri karena sempat melupakan statusnya sebagai pimpinan komplotan begal dan mencoba untuk memiliki hubungan romantis dengan pria baik-baik.
“Ada apa?” tanya Grafit ketika melihat raut wajah Rosa yang berubah menjadi suram. Ia merasa telah mengatakan sesuatu yang salah, tapi tidak tahu yang mana.
“Tidak ada,” jawab Rosa mencoba mengelak. “Aku baru ingat, aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.”
Rosa pergi meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Grafit hanya diam dan masih bingung dengan sikap wanita yang baru dikenalnya itu. Padahal ia masih ingin meminta roti bagel milik Rosa.
* * *
“Bagaimana? Kau masih sanggup bertugas?” tanya Clara pada G:0.
[Masih. Jangan khawatirkan aku. Kemarin aku tidur sepanjang hari.]
Jonathan menekan tombol senyap untuk memutuskan sementara komunikasi mereka dengan G:0. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Clara.
“Kau tahu apa yang terjadi pada Grafit kemarin?” bisik Jonathan. Clara justru menepuk jidatnya karena kesal.
“Kalau ingin berbisik, kenapa tekan tombol senyap? Memangnya ada lagi yang mendengarmu sekarang selain aku?” Clara tidak memedulikan Jonathan yang sedang mengelus jidatnya. “Memangnya kenapa dengan dia?”
“Entah. Paginya ia meninggalkanku begitu saja di tempat gym. Lalu saat pulang, aku melihatnya sedang bersedih di taman kota. Dia duduk sendirian. Lalu ketika akan berpatroli, aku menceritakan sebuah lelucon padanya. Kau tahu? Dia tidak tertawa dan ekspresi wajahnya datar.”
“Leluconmu memang tidak pernah lucu, tapi biasanya dia tertawa karena kasihan padamu,” gumam Clara yang langsung menyinggung perasaan Jonathan. “Kira-kira kenapa dengan dia?”
“Menurut pengalamanku sebagai pria, itu adalah gejala patah hati. Kau ingat beberapa bulan yang lalu, saat Sonia tiba-tiba memutuskanku tanpa sebab? Aku terlihat selinglung Grafit sekarang,” analisis Jonathan. Clara merasa tidak nyaman karena Jonathan membahas kisah pribadinya itu.
“Aku khawatir dia akan mengalami kejadian buruk seperti dulu lagi karena berhubungan dengan seorang wanita,” ujar Clara. “Tentu kecuali aku.”
Tiba-tiba fokus mereka teralihkan dengan tangkapan salah satu kamera. Beberapa pengendara motor sedang mengepung dua orang yang sedang berboncengan di atas motor matic. Seperti dugaan mereka, kelompok begal itu beraksi di atas jam lima subuh. Jonathan langsung memberi perintah pada G:0 dan menunjukkan lokasi kejadian.
Tak lama, G:0 sudah sampai di lokasi. Ia mengangkat motor-motor pembegal itu sekitar dua jengkal di atas aspal sehingga mereka tidak bergerak dan motor calon korbannya meninggalkan mereka. Kemudian G:0 menormalkan kembali gravitasi motor-motor itu secara tiba-tiba sehingga lajunya tak terkendalikan dan mereka saling menabrak lalu jatuh. Setelah itu, ia membiarkan mereka melarikan diri. Dari tujuh motor, hanya tiga di antaranya yang mesinnya masih bisa menyala. Salah satunya bahkan harus mengangkut tiga orang.
[Oke, tugas selesai.]
G:0 kembali ke markas, sementara Clara dan Jonathan memperhatikan monitor pengawas. Untung saja tadi G:0 sempat menempelkan kamera pengawas canggih buatan Jonathan ke setiap motor yang melarikan diri.
“Terima kasih karena memberikan modal yang cukup besar sehingga aku bisa membuat banyak Cameron,” kata Jonathan pada Clara.
“Tidak masalah, asal kau berhenti menamainya.”
Salah satu motor berhenti di sebuah rumah. Dua orang yang mengendarainya duduk di dipan rumah itu sambil menceritakan ketakutan mereka atas kejadian barusan. Satu motor yang lain berhenti di sebuah rumah sakit. Motor itu yang menunggangkan tiga orang. Dua di antaranya berjalan tertatih-tatih dengan kaki berdarah.
Satu motor tersisa berhenti di sebuah simpang. Itu bukan perhentian sebenarnya. Si pengendara menurunkan penumpangnya di sana lalu pergi. Jonathan mengalami dilema. Ia bingun harus mengikuti yang mana.
“Ikuti yang berjalan kaki,” perintah Clara. “Ketika G:0 menjatuhkan motor mereka, dia yang memberi perintah untuk lari. Dia juga yang barusan menyuruh pengendara motor itu berhenti.”
Kembali Jonathan dan Grafit mengagumi kecerdasan Clara. Jonathan pun mengikuti pria yang berjalan kaki itu. Mereka melewati beberapa gang kecil, dua jembatan kecil dan tiga jalan raya lainnya. Cameron juga harus berjuang untuk menghindari berbagai ancaman di jalan, seperti binatang yang terbang, tiang dan anak-anak kampung yang melihatnya.
Hingga akhirnya pria itu berhenti di sebuah bengkel. Ia berbicara dengan seseorang yang sedang sibuk mengutak-atik mesin mobil sport berwarna merah. Tak salah lagi, orang itu adalah pemimpin mereka. Saat pria tadi membicarakan tentang kejadian pembegalan gagalnya, orang yang berada di balik kap mobil itu menghentikan pekerjaannya dan berdiri menghadap pria tadi dengan wajah marah.
“Rosa!”
Clara dan Jonathan terkejut ketika Grafit tiba-tiba berteriak. Mereka semakin bingung ketika melihat wajah pahlawan super mereka berubah pucat. Sepertinya Grafit mengenal si bos begal itu.