
Rosalia sedang merapikan peralatan bertukangnya ketika Clara, Jonathan dan Grafit mengagumi hasil karyanya. Berkat wanita itu, pintu markas tak lagi berbentuk pintu, melainkan rak buku yang akan terbuka jika menggeser salah satu buku di sana. Seperti pintu rahasia yang ada di film-film. Ide ini muncul sejak chef Barney dengan seenaknya masuk ke apartemen dan nyaris menemukan markas mereka. Mereka tidak tahu ke depannya siapa yang akan masuk ke apartemen tanpa seizin mereka.
Pasca kejadian di sarang Padoha beberapa hari yang lalu, mereka berbicara banyak. Ternyata, selain perihal mesin, Rosalia juga menguasai pertukangan. Ia sendiri yang menawarkan jasanya ketika Clara mengeluhkan tentang pintu rahasia itu. Tentu saja ini menjadi keuntungan karena jika Rosalia yang mengerjakannya, mereka tidak perlu lagi menambah pihak yang mengetahui keberadaan markas itu.
“Hebat! Tidak ada seorang pun yang akan tahu ada ruangan di balik pintu rahasia ini,” puji Grafit.
“Pintu? Pintu apa? Aku tak melihatnya,” canda Rosalia untuk memberi kesan pintu itu benar-benar rahasia dan tak terlihat.
“Hahaha, kau bisa saja.”
Clara dan Grafit menatap Jonathan yang tertawa terpingkal-pingkal. Sejak semakin dekat dengan Rosalia, mereka bertiga sepakat kalau wanita itu sangat payah dalam mengeluarkan lelucon. Mereka juga sepakat untuk tidak menertawakan leluconnya agar ia berhenti melakukan hal itu.
“Baiklah, aku akan pulang. Sebab sangat menyedihkan bagi seorang wanita untuk berada di rumah mantan pacarnya terlalu lama, meski wanita itu membantu memasangkan pintu rahasia di rumah itu. Aku seperti Spiderman versi Andrew Garfield yang tidak mau kembali ke semestanya dan tinggal di semesta Spiderman versi Tom Holland untuk mendekati MJ versi Zendaya hanya karena ia pernah menyelamatkan wanita itu.”
Kali ini tawa Jonathan semakin kencang, sehingga cukup mengganggu bagi Clara. “Hei, bahkan ia tidak sedang melucu. Kenapa kau tertawa seperti itu?”
Ketika Rosalia sudah pergi, Clara dan Grafit mencoba mengintervensi Jonathan yang sejak tadi bertingkah aneh.
“Ada apa?” tanya Jonathan ketika melihat kedua temannya menatapnya.
“Kau menyukai Rosalia, ya?”
“Apa? Ti, tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tentu saja tidak. Benar-benar tidak. Itu sangat-sangat tidak.” Jonathan berjalan ke dapur, terlihat ia menghindari pembahasan itu. Kemudian ia kembali, berjalan menuju Grafit dan memegang pundaknya. “Percayalah, tidak.”
Clara tersenyum melihat kepanikan Jonathan. Ia pun terpikir untuk semakin menggodanya. :”Tapi seharian ini aku melihatku memandangnya terus. Kau yang selalu cepat memberikan respons pada setiap perkataannya. Padahal biasanya sikapmu padanya selalu sinis.”
“Itu karena sekarang aku tahu kalau ia tidak sejahat yang kupikirkan selama ini. Ia juga sangat melek teknologi, tidak seperti kalian berdua. Dan ia juga cerdas dan lucu dan, dan -”
“Dan cantik.”
“Iya, dan cantik. Tunggu.” Jonathan sadar kalau ia sudah masuk ke dalam jebakan Clara ketika melihat wanita itu tertawa terbahak-bahak.
“Ayolah, mengaku saja. Grafit takkan keberatan jika kau menyukai mantan pacarnya.”
“Ya, aku juga sejak awal tidak berencana untuk menjadi pacarnya. Aku juga bersyukur kalau kau bisa memacarinya karena aku merasa tidak enak telah memutuskannya seperti kemarin.”
“Benarkah?” tanya Jonathan dengan wajah berbinar, yang langsung sirna, lagi-lagi karena tawa Clara yang berbau ejekan.
“Sudah, kita berhenti membahasnya. Grafit punya sesuatu yang ingin ia ceritakan pada kita,” kata Clara setelah menyelesaikan tawanya. Jonathan menatap Grafit dengan serius.
“Tentang pusaka yang dicari Patricia.” Grafit menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. “Aku tahu apa isinya.”
“Memangnya apa?”
Clara dan Jonathan tersenyum bangga dan memeluk Grafit karena si polos itu sudah semakin cerdik. Mereka pun langsung memperhatikan kertas itu dengan seksama. Baru beberapa detik, mereka membelalakkan mata karena terkejut.
“Sumber energi abadi!” kata mereka bersamaan.
“Maksudnya?” tanya Grafit ketika merasa mereka memahami apa yang ada di kertas itu.
“Mobil, motor dan berbagai mesin yang ada di sekitar kita ini sebagian besar sumber energinya menggunakan bahan bakar yang akan habis jika digunakan. Bahan bakar itu berasal dari fosil-fosil makhluk yang pernah hidup ratusan juta tahun yang lalu. Bahan bakar itu memiliki banyak kekurangan, misalnya menyebabkan polusi dan persediaannya yang mulai menipis. Belum lagi masalah politik seperti penguasaan ladang-ladang minyak oleh beberapa negara juga menjadi salah satu alasan terjadinya beberapa perang,” terang Clara.
“Nah, yang di dalam kertas ini adalah sebuah desain sumber energi abadi yang berasal dari alam, tidak menyebabkan polusi, tidak akan habis jika dipakai dan harganya jauh lebih murah. Bayangkan jika sumber energi ini berhasil diciptakan, maka akan berpengaruh besar bagi dunia. Dan tak salah lagi, siapa pun yang bisa mewujudkannya, dunia ada di genggaman tangannya,” sambung Jonathan. “Pantas saja Patricia berusaha sekali untuk mendapatkan kertas ini. Ia akan memberikannya pada Kraken dan organisasi itu akan menjadi jauh lebih kuat dibandingkan sekarang.”
“Atau sebaliknya, mungkin Patricia tidak ingin Kraken memilikinya.”
Clara dan Jonathan terkejut dengan spekulasi Grafit itu. Secara tidak langsung, ia masih ingin membela wanita yang hampir membunuh mereka.
“Kau punya argumen untuk itu?”
“Ya, saat akan menyimpannya di gedung bekas bank Richmore, Patricia berkata itu adalah desain yang dibuat kakeknya. Belum sempurna, tapi akan luar biasa jika sudah sempurna. Dan ia berkata kalau hanya dirinyalah yang bisa menyempurnakannya, tapi ia tak akan melakukannya demi kebaikan banyak orang. Saat itu aku bingung karena kupikir itu adalah desain sebuah mainan.”
“Ya, kalau dipikir-pikir, apa alasan Patricia menyimpan desain ini? Jika memang sejak dulu ia adalah pengikut setia Kraken, seharusnya sejak dulu ia berikan desain ini pada organisasi itu. Justru ia menyembunyikannya.”
Clara, Jonathan dan Grafit mulai berpikir untuk mencoba memecahkan suatu misteri yang baru saja mereka dapati. Dan pemikiran mereka sama-sama bermuara pada pernyataan yang dikatakan Grafit tadi, bahwa Patricia tidak ingin Kraken memiliki desain itu.
“Apakah sebelum Grafit menghapus ingatannya, Patricia memang berada di pihak yang berseberangan dengan Kraken?” tanya Jonathan
“Sepertinya itu mungkin karena jika melihat bagaimana Patricia memperjuangkan pabrik mainan itu agar tidak ditutup, sangat tidak menunjukkan dirinya adalah anggota Kraken yang tentu tidak akan menghadapi masalah keuangan,” timpal Clara.
“Pertanyaannya adalah di mana posisi dia sekarang? Apakah dia akhirnya benar-benar memilih untuk setia pada Kraken atau berpura-pura saja?
Di tengah usaha mereka menemukan jawaban dari pertanyaan itu, ponsel Clara berdering. Dari Kapten Rian. Jonathan tak lagi cemburu saat mengetahuinya. Ia mempersilakan Clara untuk menjawab panggilan itu.
“Iya, ada apa?”
[Apakah kau bisa menghubungi G:0? Sudah beberapa hari ini ia tidak terlihat menyelamatkan kota. Apakah ia masih ditangkap oleh robot naga itu?]
“Sepertinya dia sudah selamat dari robot naga itu. Memangnya kenapa?”
[Aku membutuhkannya. Maksudku, kepolisian Dragokarta membutuhkannya.]
“Wah, tumben kepolisian membutuhkannya. Memangnya ada apa? Apakah ada penjahat yang sulit untuk ditangani? Seperti apa orang itu?”
[Emm, sepertinya bukan orang, tapi sejenis makhluk asing. Seperti alien atau hantu.]