
Robot itu berdiri di hadapan G:0. Panjangnya sekitar sepuluh meter dan ia berdiri sampai sekitar tiga perempatnya. Seperti naga kebanyakan, warnanya hijau dan bersisik. Hanya saja, semua tubuhnya terbuat dari Ungravity. Wajahnya sangat menyeramkan, namun terlihat kharismatik, dengan taring panjang dan mata yang seakan mampu menembus jiwa. Ia memiliki empat kaki dengan kuku-kuku tajam. Dalam beberapa kesempatan, kuku-kuku itu menjadi semacam peluru yang bisa ditembakkan dan bisa kembali ke tempat asalnya.
Dan yang paling aneh, tentu saja kemampuan berbicaranya.
“Apakah kau sejak lahir bisa berbicara atau ada yang mengajarkannya?” tanya G:0 yang membuat Clara geleng kepala.
[Ada orang yang mengendalikannya dari jarak jauh, dialah yang berbicara.]
“Oh, begitu,” kata G:0 pada Clara. Kemudian ia menekan tombol di kanan topengnya untuk berbicara dengan robot itu. “Siapa kau dan apa tujuanmu membuat keributan di sini? Apakah kau suruhan Kraken?”
“Kau bisa memanggilku Padoha, sang naga penguasa bawah bumi. Ya, aku adalah suruhan Kraken untuk menghancurkanmu.”
“Padoha? Dari bahasa asing?”
“Bukan, tapi dari legenda lokal.”
“Bagus, aku suka jika penamaannya diangkat dari budaya dalam negeri sendiri. Selain tidak sulit dimengerti, itu menunjukkan kita bangga dengan negeri ini.”
[G:0, fokus!]
“Baiklah, sekarang waktunya berkelahi,” kata G:0.
Lalu G:0 segera berlari ke arah Padoha dan melompat untuk menendang wajahnya. Ular itu terpelanting cukup jauh karena tendangan itu.
[Bagaimana kau bisa melakukannya? Bukankah katamu makhluk itu dari Ungravity?]
“Memang, guruku bilang kami tak bisa mengendalikan gravitasi materi itu. Tapi beliau mengajarkanku jurus kaum Miel lain yang tidak menggunakan pengendalian gravitasi sehingga efek pukulannya akan tetap besar meski terhadap Ungravity.”
Clara bertepuk tangan tanda kagum. Namun tepuk tangan itu hanya singkat karena ia melihat lawannya segera bangkit dan kembali ke posisi semula. Tak ada pengaruh yang terlihat dari tendangan G:0 tadi. Dan tentu saja ia tidak merasakan sakit.
“Hanya itu yang bisa kau lakukan? Kalau begitu, sekarang giliranku.”
Kemudian Padoha menyerang dan G:0 berhasil menghindar. Ternyata tujuan utama robot itu bukan menyerang secara langsung. Ia memutar tubuhnya sehingga membentuk spiral yang menjulang ke atas dan G:0 terjebak di tengahnya. Dan seperti awal kemunculannya, ia berputar sehingga mirip kepala bor.
G:0 kebingungan karena tidak bisa keluar dari putaran yang kencang itu. Bahkan ketika ia mencobanya, tubuhnya terpelanting berkali-kali karena terus mengenai putaran yang semakin mirip angin ****** beliung itu. Ia juga mencoba untuk melompat keluar pusaran melalui bagian atas, tapi kepala Padoha menghalanginya. Perlahan-lahan, pusaran tubuh naga itu semakin menyempit hingga benar-benar mengikat G:0. Tak ada lagi jalan keluar. Ia terjepit di dalam lilitan robot bernama Padoha itu.
“Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan?” tanya G:0 pada Clara.
[Tunggu sebentar, aku sedang memikirkannya. Untuk saat ini, berusaha saja agar tidak terkena lingkaran itu.]
G:0 menuruti kata Clara dan menunggu. Tapi keadaan malah makin parah. Padoha kembali berputar dan menembus masuk ke dalam tanah. bersama G:0. Bukan hanya itu, komunikasinya dengan Clara pun terputus.
[Halo! G:0, jawab! Halo!]
“Oke, sekarang ceritakan padaku apa saja yang baru saja kulewatkan.”
* * *
G:0 masih terjebak di dalam lilitan tubuh Padoha yang sedang menembus bumi. Tak lama kemudian, mereka keluar dari atas sebuah ruangan. Padoha berhenti bergerak dan melepaskan tubuh G:0 yang sudah lemas. Kemudian robot naga itu bergerak keluar dan sebuah pintu berjeruji segera menutup. Setelah berhasil mengumpulkan kekuatan, G:0 mencoba membuka pintu itu, tapi tak berhasil karena terbuat dari Ungravity dan dialiri oleh listrik.
Robot naga itupun berhenti bergerak dan menutup matanya. G:0 memanggilnya tapi tak digubris, seperti ia sedang tertidur.
Tiba-tiba terdengar seseorang datang. Ia adalah seorang wanita dengan pakaian serba putih. Di tangannya ada sebuah benda seperti tablet di mana tangannya sesekali sibuk di atas benda itu. G:0 terkejut saat melihatnya. Ia sangat mengenal wanita itu.
“Patricia!”
Ia seperti tidak ingin percaya, tapi melihat kondisi saat ini, bisa dipastikan jika wanita yang dicintainya itu adalah Geppetto, salah satu orang penting di Kraken yang notabene adalah musuh besarnya. Penyangkalan yang ia lakukan di depan Clara dan Jonathan harus berakhir sekarang.
Wanita itu tersenyum lalu ia semakin mendekati jeruji yang menghalangi di antara mereka. “Sudah kuduga, kau pasti mengenalku. Aku sangat yakin tahun lalu kau menyelamatkanku dari Black Samurai.”
G:0 bingung dengan apa yang dikatakan wanita itu. Kemudian ia ingat, tahun lalu ia memang hanya menghapus ingatannya tentang Grafit, bukan G:0. Maka wajar jika ia mengingat kejadian di mana G:0 menyelamatkannya.
“Lalu, ini caramu membalasnya?”
“Tidak, aku tidak terbiasa membalas kebaikan. Aku hanya terbiasa membalas dendam. Apalagi aku tak pernah memintamu untuk menolongku,” jawab Patricia sambil tertawa mengejek. “Yang ingin kutahu adalah bagian dari ingatanku yang kau hapus.”
G:0 terkejut ketika Patricia membahas tentang penghapusan ingatan. Selain Clara, Jonathan dan Tarjo, seharusnya tak ada satu orang pun di luar kaum Miel yang mengetahui tentang kemampuannya itu. Apakah Tarjo telah membocorkannya. Jika ya, kenapa tidak sekalian saja ia mengungkap identitas aslinya?
“Aku tak pernah menghapus ingatanmu,” sangkal G:0.
“Tidak mungkin. Setelah kejadian itu, aku seperti kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki. Setiap hari aku merasa hampa layaknya tubuh yang kehilangan jiwa. Setiap kali melihat pabrik mainanku, aku menangis. Bukan karena kondisinya yang telah berantakan, tapi karena banyak sekali kejadian di sana yang tidak kuingat, seperti halnya para karyawan pabrik tersebut. Kami merasa sangat sedih, melebihi perasaan sedih karena kehilangan pekerjaan kami di pabrik itu.”
G:0, atau lebih tepatnya Grafit, mulai merasakan nelangsa di hatinya. Ia tahu, meski telah dihapus dengan jurusnya, ingatan yang paling berharga pasti akan menyisakan sebuah ruang kosong di hati pemiliknya. Meski tidak mengingatnya, ada semacam insting yang membuatnya menyadari ruang kosong itu dan mencari apa yang seharusnya ada di sana. Seperti yang terjadi pada Patricia.
“Aku tidak mengerti dengan perkataanmu.”
“Apakah ada hubungannya dengan pria ini?”
G:0 terkejut ketika Patricia menunjukkan foto Grafit yang sedang berbicara dengan kasir restoran saat mereka makan di sana kemarin.
“Siapa dia? Aku tak mengenalnya.”
“Sama, aku juga tidak mengenalnya. Tapi aku merasa ia sangat penting bagiku. Bahkan aku ingin menangis ketika melihatnya, seakan ia adalah orang terpenting dalam hidupku. Apakah kau juga pernah menghapus ingatannya?”
G:0 ingin sekali mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi, ia tak mungkin melakukannya. Apalagi kini ia tahu kalau mereka berada di pihak yang berseberangan. Saat ini mereka adalah musuh untuk satu sama lain.