G:0

G:0
PERTARUNGAN NAGA



Grafit dan Patricia masih saling tatap seakan mereka sedang berbicara banyak melalui mata. Dalam ‘perbincangan’ itu terlihat jelas jika Grafit yang memegang kendali. Ia lebih banyak tersenyum seakan ingin menegaskan kalau Patricia harus bersikap baik padanya.


“Akan kukatakan di mana pusaka itu setelah kau membebaskan mereka.” Grafit memulai negosiasi dengan anggota Kraken itu.


“Aku tidak akan tertipu dengan muslihatmu. Bisa saja kau hanya mengarangnya agar aku menuruti semua perkataanmu.”


“Pusaka itu adalah sebuah kertas. Sepertinya kertas tua. Mendengar dari ceritamu, aku rasa itu adalah desain benda penting yang dibuat oleh kakekmu.”


Patricia membelalakkan matanya. Semua yang dikatakan Grafit itu benar. Sangat mustahil Grafit mengarangnya, apalagi sebagian besar orang tidak pernah langsung terpikir sebuah kertas ketika mendengar kata pusaka.


“Baiklah, di mana kau menyimpannya?” tanya Patricia.


“Bukan aku yang menyimpannya, tetapi dirimu sendiri.”


Patricia tidak memercayainya. Ia sudah memeriksa semua tempat yang mungkin terpikir olehnya, tapi hasilnya nihil. “Apakah kau berkata benar? Ingat, jika kau membohongiku, aku akan memerintahkan Padoha untuk melukai teman-temanmu.”


“Apa yang kukatakan itu benar. Saat itu aku mengatakan suatu tempat lalu kau terpikir untuk menyimpan pusaka itu di tempat tersebut. Kau sendiri yang bilang padaku kalau tempat itu sangat bagus untuk tempat penyimpanan rahasia karena dalam waktu lama, kemungkinan takkan ada yang ke sana.”


Patricia merapatkan alisnya, menunjukkan jika rasa curiga dan percaya datang bersamaan di hatinya. Ia meneliti ekspresi wajah Grafit setelah mengatakan itu. Sepertinya sangat bisa dipercaya.


“Aku akan percaya jika kau mengatakan di mana tempatnya lalu aku pergi ke sana dan menemukan pusaka itu. Tapi jika tidak, kau hanya -”


“Bank Richmore, tempat aku pertama kali melihatmu. Saat menyebut nama itu, ”


Patricia terkejut mendengar jawaban yang secepat kilat dan tanpa ragu diberikan oleh Grafit, sama terkejutnya dengan Clara, Jonathan dan Rosalia. Mungkin mereka berharap ada sedikit drama. Ternyata Grafit memang sudah berniat untuk menyebut nama tempat itu.


“Baiklah, kita buktikan ucapanmu. Padoha akan ke sana untuk mengambilnya.”


“Tidak perlu,” kata Grafit menahan gerakan Patricia yang bersiap berputar ke arah Padoha. “Gedung itu telah hancur karena diledakkan oleh Puzzle beberapa bulan yang lalu.”


Patricia tersentak mendengarnya. Ia menatap Grafit tajam seakan ingin marah. Tapi ia tahu kalau Grafit tidak bersalah sehingga layak untuk menerima amarahnya. Jika benar yang dikatakan Grafit, maka yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri.


“Aku sudah mengatakannya, sekarang lepaskan teman-temanku,” tagih Grafit.


Ya, Grafit memang tidak layak menerima amarahnya, tapi ia butuh seseorang untuk melampiaskan amarahnya.


“Padoha, bunuh ketiga orang ini.”


Grafit dan ketiga rekannya terkejut. Mereka tak menduga Patricia akan bersikap sekejam itu. Dan sesuai dengan perintah majikannya, Padoha segera meluncur ke arah sel Clara, Jonathan dan Rosalia dengan mulut terbuka. Grafit tahu kalau itu adalah gerakan Padoha sebelum menyemburkan aliran listrik dari mulutnya.


Grafis segera mengeluarkan kedua tangannya yang terkepal secara bertindihan melalui celah jeruji lalu membentangkannya dengan cepat sambil berteriak kencang. Tubuhnya langsung tersengat aliran listrik, tapi ia berhasil membengkokkan jeruji itu. Perhatian Padoha teralihkan padanya. Ia berencana menyemburkan listrik dari mulutnya sebelum Grafit keluar dari selnya, tapi terlambat. Grafit sudah melompat keluar.


Patricia, bahkan Clara, Jonathan dan Rosalia merasa ngeri melihat kemarahan yang ditunjukkan Grafit itu. Mereka tak pernah melihat ia bersikap seperti itu.


“Wah, sepertinya aku akan menikmati pertarungan ini. Bos, biarkan aku membunuhnya.”


Meski ia meminta izin pada bosnya, robot naga itu tidak menunggu jawaban dari Patricia dan langsung menyerang Grafit. Untungnya, Grafit mampu menghindar dari serangan itu dengan cepat. Ia bahkan sempat memberikan pukulan dari atas kepala naga itu.


Seperti pada pertempuran pertama mereka, Grafit berhasil memukul Padoha meski sekujur tubuhnya terbuat dari Ungravity.


Namun pukulan itu hanya membuat kepala Padoha tertunduk sebentar saja. Ia langsung menegakkan kepalanya untuk menghadapi Grafit. Kemudian ia mengibaskan ekornya ke arah lawannya. Grafit berhasil menghindar sehingga sebongkah batu besar yang ada di sampingnya harus hancur berkeping-keping karena kibasan ekor itu. 


Baru saja Grafit mendarat, Kuku-kuku Padoha sudah terbang menyerangnya. Ia kembali berusaha menghindar, namun untuk kali ini tidak berjalan mulus. Salah satu kuku menancap di lengan kanannya ketika akan menangkisnya. 


Kuku-kuku itu bergerak dan terbang dengan cepat, kembali ke jari-jari Padoha. Namun kuku yang menancap di lengan kiri Grafit tidak kembali, melainkan hanya bergerak-gerak dan semakin menancap ke dalam. Cukup menyakitkan sehingga membuat Grafit meringis kesakitan. Benda itu juga yang membuatnya tak bisa terbang dan mengendalikan gravitasi dengan lengan kirinya. 


“Ternyata kemampuan G:0 hanya menghindar,” ejek Padoha pada Grafit yang masih memegang lengannya. Sementara itu, teman-temannya hanya bisa melihat dengan khawatir. 


Padoha terbang ke arah Grafit dengan menunjukkan taring dan kuku-kukunya. Grafit yang pergerakannya sudah terbatas dengan terpaksa harus membalas. Ia mengepalkan tangan kanannya dan bersiap memukul. 


Grafit melihat celah. Dengan cepat ia mencabut kuku itu lalu terbang ke arah dada Padoha, di antara kedua cakarnya, dan melepaskan sebuah tinju yang sangat kuat sehingga membuat Padoha terpental sampai jeruji sel Clara dan yang lainnya. Bahkan Padoha harus menggeliat karena arus listrik dari jeruji itu, meski tidak butuh waktu lama baginya untuk menetralisir arus itu.


“Sepertinya sudah cukup bagiku untuk bermain-main denganmu. Aku akan mulai serius.”


Tiba-tiba sisik di tubuh Padoha menegak layaknya duri-duri tajam. Keempat kakinya juga memanjang sehingga nyaris seperti sebuah tangan manusia. Grafit mundur sedikit untuk mengambil kuda-kuda. Ia masih siap untuk menghadapi monster robot itu.


Di tengah pertarungan itu, diam-diam Jonathan melepas dua Cameron untuk mendekati Padoha. 


“Apa rencanamu dengan kedua Cameron itu?” tanya Clara. Jonathan mengeluarkan sebuah flash drive dari sakunya sambil tersenyum. 


“Sepintar apapun dia, Padoha tetaplah robot yang digerakkan oleh program. Jadi, ketika mengetahui G:0 diculik olehnya, aku mempersiapkan virus ciptaanku, yang pernah kupakai saat menyabotase lawanku di pertandingan robot dua tahun  lalu. Hanya saja, aku perlu tahu di mana letak port-nya. Cameron gagal melacaknya ketika Padoha dalam keadaan tidur. Namun, ketika robot itu menabrak jeruji kita, aku sempat melihat sebuah port di antara sisiknya. Sekarang adalah kondisi paling sempurna untuk mencarinya, ketika ia menaikkan sisiknya.”


Clara dan Rosalia mengangguk kagum dengan rencana Jonathan yang terdengar sangat bagus. 


“Kudengar kau menamakan semua Cameron yang kau buat. Apa nama keduanya itu?” tanya Rosalia. 


Jonathan hendak menjawab, tapi sebelumnya menatap Clara seperti hendak meminta izin. “Cameron Leslar.”


Dan sesuai dengan perkiraan Jonathan, Clara membentaknya, “Apa yang ada di pikiranmu ketika menamakannya seperti itu?”