G:0

G:0
THE PUPPET MASTER



G:0 menatap Siren tajam. Tidak seperti biasa, target utamanya kali ini bukanlah untuk melumpuhkannya, tapi secepatnya menangkap ingatan Siren untuk menemukan lokasi Clara dikubur. Tapi ia tahu, target itu juga akan sulit dicapainya. 


Siren menggunakan topeng perak khasnya. G:0 tahu itu bukanlah topeng biasa. Bahannya sangat unik dan sulit ditembus oleh jurus pengendalian pikirannya. Hanya ada satu cara, yaitu memaksanya melepas topeng itu.


“Pria itu pasti bercerita tentang kekasihnya dan ingin kau mencari tahu di mana aku menguburnya, bukan?”


[Clara bukan kekasihnya! Bukan!]


Dari markas, Jonathan berteriak seakan tidak terima dengan ucapan Siren. G:0 harus menahan rasa sakit di gendang telinganya.


“Apakah kau mau mengatakannya dengan sukarela?” tanya G:0.


“Tentu saja tidak. Itu akan merusak pestanya.”


Tanpa diduga, Siren menjatuhkan tubuhnya ke belakang, ke tepian gedung. G:0 hendak menangkapnya dengan pengendalian gravitasi, tapi sepertinya seluruh kostum Siren telah dibaluri Ungravity. G:0 segera berlari ke tepi gedung dan ia melihat Siren yang turun dengan seutas tali melambai ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, G:0 menyusul sang penghipnotis ke bawah.


Namun Siren lebih lincah dari yang ia pikirkan. Wanita itu berhasil menghindar dari tangkapan G:0 di tengah kekacauan. Bukan hanya itu, beberapa orang berdiri di depannya seakan membangun sebuah benteng manusia. Siren sangat tahu jika G:0 tak mungkin melukai orang-orang yang tak bersalah.


“Kau tahu? Daripada Siren si Penghipnotis, orang-orang lebih sering memanggilku The Puppet Master.” Siren membisikkan sesuatu yang membuat benteng manusianya maju dan menyerang G:0.


“Sudah kuduga, kalian para penjahat memang lebih menyukai gelar bahasa Inggris. Sangat tidak cinta hal-hal dalam negeri,” gerutu G:0. 


Pahlawan super itu segera terbang melewati orang-orang itu menuju Siren. Sayangnya, belum sempat ia mencapai si Puppet Master, orang-orang itu bergerak dengan cepat untuk menghalangi dan menyerangnya dengan senjata tajam yang telah dibaluri oleh Ungravity, seperti seluruh pakaian yang mereka kenakan. Tak seperti yang G:0 pikirkan, orang-orang yang berada di bawah hipnotis Siren tidak bergerak layaknya zombie. Mereka memiliki keahlian bela diri yang sangat baik. Padahal melihat dari pakaian yang dikenakan, mereka adalah orang-orang biasa seperti pedagang asongan, petugas kebersihan, sopir taksi dan sebagainya.


“Aku bukan hanya bisa mengendalikan pikiran orang, aku juga bisa memaksimalkan kemampuan mereka. Mereka bisa melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan dalam keadaan sadar, termasuk bertarung ala pasukan khusus.”


[G:0, kita harus cepat. Nyawa Clara sedang terancam sekarang.]


Mendengar peringatan dari Jonathan itu, G:0 semakin panik. Ia kembali ingat kalau waktunya sangat terbatas. Tapi ia tahu, akan memakan waktu yang sangat lama baginya untuk melumpuhkan orang-orang itu, apalagi tanpa melukai mereka.


“Tinggal satu cara yang terpikirkan olehku, tapi aku tak yakin bisa karena belum pernah melakukannya. Berdoalah agar ini berhasil.”


G:0 berlari ke arah kerumunan orang-orang itu. Seperti dugaan Siren, sang pahlawan super tertahan di tengah-tengahnya. Orang-orang itu terlihat menyerang G:0 secara bergantian. Tak ada sedikit pun tanda-tanda perlawanan dari sang pengendali gravitasi.


Siren tertawa bahagia karena keberhasilannya. Ia pun mulai penasaran dengan keadaan G:0 dan berusaha mengintip. Tanpa ia duga, orang-orang yang seharusnya berada dalam pengaruh hipnotisnya memegang lengan dan kakinya. Tiba-tiba sebuah tangan dengan kostum serba hitam terjulur dan merebut topeng dari wajahnya.


Kejutan tidak cukup sampai di sana. Sebuah topeng mendadak sudah ada di hadapannya. Itu adalah topeng milik G:0. Belum sempat bertindak, ia langsung kehilangan kesadaran dan terjatuh. Seiring dengan itu, orang-orang yang sedari tadi berada di bawah kendalinya mulai tersadar dan bingung dengan apa yang sedang terjadi pada mereka. Sebelum mereka benar-benar sadar, G:0 sudah terbang membawa Siren menjauhi tempat itu.


[Luar biasa! Aku tak menyangka kau juga bisa menghipnotis orang.]


“Aku juga tidak tahu. Tapi karena perbincanganku dengan wanita ini, aku baru sadar kalau jurus penghilang ingatan yang diajarkan kaum Miel secara turun temurun termasuk jenis jurus pengendali pikiran. Dari sana aku mulai berpikir kalau aku bisa menghipnotis juga.”


[Jadi, kau sudah tahu di mana Clara dikubur.]


Beberapa saat kemudian, setelah mengantar Siren ke depan kantor polisi dengan catatan kemampuan hipnotisnya yang berbahaya dan menyarankan para polisi untuk tidak melepas penutup matanya, G:0 mendarat di sebuah tempat. 


[Di mana ini? Ini bukan di area pemakaman.]


G:0 tidak menjawab. Ia berjalan menuju sebuah gedung yang mirip gudang. Kemudian ia membuka pintu gedung itu dan didapatinya beberapa kru pemotretannya tadi sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Daripada pingsan, mereka lebih tepat dikatakan tertidur. Salah satu di antara mereka ada Clara. G:0 pun menggendong tubuh Clara dan membawanya terbang menuju markas. 


[Clara! Clara! Apakah kau sudah sadar? Clara! Aku yang pertama kali menghubungi Grafit saat ia terkubur dan hampir mati. Kau harus tahu, walau saat ini Grafit yang menggendongmu, akulah yang menyelamatkanmu. Kau tidak perlu berterima kasih padaku, cukup mengagumiku saja. Clara! Clara! Bangunlah, Clara!]


“Non Clara masih tidur. Sebaiknya kau berbicara padanya di markas saja.”


[Aku tidak mau! Kau tahu apa yang sering terjadi di film-film? Seorang pria menggendong wanita yang sedang tidak sadarkan diri. Ketika wanita itu sadar, ia akan melihat pria yang menggendongnya lalu mencintai pria itu. Aku takkan membiarkan itu terjadi. Dia tidak boleh semakin mencintaimu. Eh, maksudku, dia tidak boleh mencintaimu.]


G:0 tak lagi merespons. Ia membiarkan Jonathan memuntahkan ocehan-ocehan yang sebenarnya sangat menyebalkan untuk didengar. Tapi mau bagaimana lagi, suara itulah yang malam ini telah memberikannya harapan untuk selamat.


*          *         *


Grafit menatap Jonathan yang bertingkah aneh. Pria berkacamata itu sejak tadi terlihat senyum-senyum sambil menatap ponselnya. Menurut pengalamannya, jika Jonathan menunjukkan gelagat yang aneh, sebaiknya ia menjauh. Jika tidak, ia akan terjebak ke dalam percakapan yang aneh juga.


Sayang, Grafit terlambat bertindak.


“Grafit, oh, saudaraku. Kemarilah. Aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu,” kata Jonathan dengan wajah cerianya.


“Tapi aku ada urusan. Aku -”


“Sudah kuputuskan. Aku akan kembali berusaha menghipnotis Clara dengan cinta,” potong Jonathan yang membuat Grafit terkejut. “Dulu dia bilang menyukai pria yang levelnya berada jauh di atasku dan kapten Rian. Awalnya kupikir pria itu adalah kau. Tapi sekarang aku yakin kalau dia berbohong. Dia adalah wanita yang agresif. Kalau dia menyukaimu, kenapa sampai sekarang dia tidak pernah mengajakmu kencan? Atau jika bukan kau, kenapa dia tidak kencan dengan siapa pun belakangan ini? Tidak ada pria yang dikatakannya. Ia hanya memancing kami untuk menaikkan level kami.”


Grafit mengernyitkan dahinya. Inilah yang ia maksud dengan percakapan yang aneh. Jonathan selalu mengatakan sesuatu yang bahkan otak ‘kampung’nya anggap itu kampungan. Pria itu memang jenius, tapi terkadang khayalannya terlalu liar dan sangat memalukan bahkan untuk didengar saja.


“Baiklah, jadi apa yang akan kau lakukan untuk membuat naik level di mata Non Clara?”


“Aku akan memberinya kejutan secara intens. Misalnya, aku tahu sekarang mereka sedang sibuk dalam pembuatan raport sehingga harus lembur. Jadi aku mengirimkan banyak makanan ke sekolahnya melalui aplikasi pemesanan makanan. Teman-temannya pasti akan senang dan ia akan bangga padaku.”


“Ya, ya. aku ikut senang,” kata Grafit yang mengatakannya hanya karena ingin segera keluar dari pusaran kebahagiaan absurd temannya itu. Dan kebahagiaan itu semakin absurd.


“Doakanlah supaya rencanaku ini lancar dan kami bisa meningkatkan hubungan kami ke level yang lebih tinggi. Oh, aku sudah mendengar lonceng pernikahan. Bukan itu saja, ia akan melahirkan anak-anakku. Bayangkan, kau akan segera menjadi paman.”


Sementara itu di sekolahnya, Clara berulang kali melontarkan caci makinya karena tanpa sadar Jonathan memilih sistem pembayaran semua pesanannya untuk Clara secara tunai. Walhasil, Clara harus membayar semua makanan yang datang atas namanya tanpa ia ketahui sebelumnya.


“Jonathan bodoh! Pantas saja kau mudah ditipu, ternyata kemampuan berpikirmu hanya sebatas ini! Lihat saja, aku akan membunuhmu!”