G:0

G:0
TENTARA MASA DEPAN



Langit semakin menghitam. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menerangi jalanan yang semakin sepi. Dua orang wanita keluar dari sebuah kantor. Salah satu di antaranya mengunci pintu lalu mereka saling melambaikan tangan sebelum berpisah.


Wanita yang mengunci pintu tadi menghentikan sebuah taksi lalu masuk dan meninggalkan tempat itu. Ia tidak sadar jika kunci yang digunakannya tadi tertinggal di depan pintu kantor dalam kondisi melayang di udara. Ketika taksinya tak lagi terlihat dari sudut itu, Grafit berjalan dan meraih kunci tadi. Ia langsung menyerahkannya pada Clara yang baru datang. Lalu mereka membuka pintu kantor itu dan masuk.


Grafit memegang alat pengacau sinyal ciptaan Jonathan yang dapat membuat kamera pengawas dalam radius lima puluh meter tidak aktif. Mereka memasuki ruangan yang terdapat lemari dokumen atau komputer dan mencari dokumen yang mereka butuhkan. Ya, hasil tes IQ yang pernah dilakukan oleh klinik tersebut.


“Aku menemukannya,” kata Clara yang sudah duduk di depan komputer. Di hadapannya sudah terpampang hasil tes yang mereka cari.


Tanpa sengaja Clara membuka sebuah video yang ada di sebelah file yang ia cari. Video itu menampilkan tempat seperti laboratorium. Ada beberapa orang mengenakan jas dokter lalu lalang di tempat itu. Mereka hampir berteriak karena terkejut ketika melihat beberapa anak kecil sedang mengenakan benda yang tersambung beberapa kabel di kepala dan tangannya. Anak-anak itu diberikan berbagai pertanyaan dan seorang dokter mengamati monitor yang terhubung dengan kabel-kabel tadi.


“Aku mengerti,” ujar Jonathan ketika melihat video itu. “Mereka sedang melakukan uji coba pada anak-anak itu.”


“Untuk apa?”


“Mungkin seperti di film-film, mereka ingin menjadikan anak-anak itu senjata masa depan mereka. Mungkin dengan menyuntikkan serum super, memberikan pelatihan bela diri dan cara bertahan hidup, atau sebagainya.”


“Aku ingin memaki imajinasi dan referensi film bodohmu, tapi entah kenapa aku merasa itu terdengar masuk akal. Tapi siapa mereka?”


“Yah, dari banyak pilihan yang bisa kuberi padamu, satu-satunya organisasi yang sangat mungkin melakukannya saat ini, di Dragokarta, adalah -”


“Kraken.”


Clara dan Jonathan juga memikirkan nama yang disebut oleh Grafit itu. Lagi-lagi mereka harus berhadapan dengan organisasi itu.


*          *         *


“Hasil tes IQ semua korban berada di atas seratus tiga puluh dan hanya Jocelyn yang mencapai angka seratus empat puluh. Ya, tingkatan jenius memang di atas seratus empat puluh, tapi nilai seratus tiga puluh sudah sangat tinggi dan termasuk very superior. Apalagi banyak orang percaya kalau IQ seseorang dapat ditingkatkan, khususnya untuk anak seumuran mereka,” kata Jonathan. 


“Intinya, mereka memang menargetkan anak-anak dengan IQ tinggi untuk mereka sendiri, bukan untuk tebusan atau untuk diperdagangkan. Bisa jadi mereka memilih anak-anak karena lebih mudah dilatih dan memori mereka pada kehidupan asli mereka masih sedikit dan sangat mudah dihapus.” Clara masih menatap nama-nama di file hasil tes Genio Clinic. “Kemungkinan kasus ini juga terjadi di kota lain. Jika firasatku benar, mereka sedang membangun tentara masa depan yang sangat besar. Kita harus menanyakannya pada Dozo.”


Grafit yang tidak mengerti arah diskusi mereka hanya bisa diam sambil melihat. Kemudian ia bertanya, “Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Bagaimana kita bisa menemukan markas mereka?”


Clara dan Jonathan saling menatap, menunjukkan mereka belum memikirkannya. Lalu Clara melihat daftar hasil tes IQ itu lagi dan mendapatkan ide.


“Tentu mereka tidak akan berhenti menculik. Kita hanya perlu menunggu mereka melakukannya.” Clara menunjuk nama beberapa anak yang hasil tesnya juga tinggi.


Jonathan dan Grafit mengangguk tanda mengerti maksud Clara.


*          *         *


Total ada tiga anak lagi di luar korban penculikan yang hasil tesnya melewati angka seratus tiga puluh. Jonathan mengawasi tangkapan kamera yang berada di sekitar mereka. Tidak hanya itu, ia juga mengirim masing-masing satu Cameron untuk setiap anak.


“Bukankah informasi tentang Genio Clinic dan percobaan Kraken adalah hal besar? Kenapa kita tidak melaporkannya pada polisi?” tanya Jonathan sambil mengawasi setiap monitor pengawas.


[Bagaimana dengan Kapten Rian? Sepertinya dia polisi yang baik.] kata G:0 dari tempat patrolinya.


“Dia adalah polisi brengsek,” kata Clara dan Jonathan bersamaan.


Beberapa saat kemudian, perhatian mereka teralihkan oleh sebuah van hitam yang berada di sekitar sekolah salah satu anak. Clara menyuruh G:0 untuk bersiap. Dugaan mereka benar, beberapa orang keluar dari van itu lalu menghampiri salah satu anak. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka menggunakan senjata untuk menakut-nakuti orang di sekitar.


Tak butuh waktu yang lama, mereka berhasil merebut anak yang berada dalam daftar tes IQ Genio Clinic dengan mudah dari tangan pengasuhnya. 


“Baiklah, anak-anakku, saatnya beraksi.” Tanpa disadari para penculik itu, Jonathan menerbangkan Cameron masuk ke tas anak itu. Clara menatap aneh Jonathan yang baru mengatakan hal yang aneh. “Kenapa? Aku tidak boleh memberikan mereka nama, sekarang aku juga tidak boleh menganggap mereka anak-anakku?”


“Aku tahu ada orang yang karena kelewat jeniusnya sampai terlihat seperti orang gila. Tapi percayalah, kau tidak cukup jenius sehingga orang akan maklum jika kau terlihat seperti orang gila.”


Jonathan mencoba mengacuhkan hinaan yang ditujukan padanya dan memberikan perhatian pada Cameron yang masih terkurung di dalam tas. G:0 tidak langsung bergerak. Ia hanya menunggu hingga van itu sampai ke tujuan. Menurut pelacak yang terdapat pada Cameron, van itu berhenti beberapa kali. Sepertinya untuk mengganti plat kendaraan.


“Oke, G:0. Kupikir teman-teman kita sudah sampai rumah. Kompleks pergudangan Golden Nest, blok AA nomor empat.”


Setelah mendapatkan alamat itu, G:0 segera meluncur ke lokasi yang dimaksud. Tak butuh waktu lama, ia sudah berada di sekitar lokasi. Dan memang benar, di depan salah satu gudang ada van hitam yang terparkir di sana.


“Jangan masuk dulu, G:0. Biarkan Cameron memeriksa keadaan,” perintah Clara.


Jonathan segera bermain dengan alat kendali jarak jauhnya. Kaki-kaki seperti laba-laba keluar dari tubuh Cameron, kemudian benda itu merangkak keluar. Kini Clara dan Jonathan bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam gedung. Anak yang baru diculik itu menangis ketakutan. Ia diseret ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa anak yang terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat.


“Jocelyn,” teriak Clara ketika melihat salah satu anak yang dikenalnya dengan baik. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke mikrofon untuk berbicara dengan G:0. “Sekarang, serang mereka.”


Mendengar perintah itu, G:0 segera terbang tinggi ke langit. Sangat jarang ia melompat setinggi itu. Ketika merasa sudah cukup, ia menaikkan gravitasi tubuhnya secara drastis sehingga ia meluncur ke arah gudang tempat para penculik itu menyekap korban-korban mereka.


Lalu terjadilah sebuah ledakan hebat yang merusak sebagian atap. Para penculik itu terkejut. Mereka berpikir sebuah komet telah terdampar di tempat mereka sehingga membuat sebuah lubang besar di tanah. Tapi yang membuat mereka lebih terkejut adalah mereka tidak mendapati benda seperti batu, melainkan sosok yang mereka kenal sebagai pahlawan super yang selalu merepotkan organisasi mereka.


“Sudah menunggu lama?”


Sebelum mereka sadar akan apa yang sedang terjadi, G:0 sudah bergerak melumpuhkan mereka satu per satu. Tidak sulit, G:0 hanya menghabiskan waktu sekitar tiga puluh detik untuk membuat orang-orang itu rebah di tanah.


Tiba-tiba pintu ruangan tempat anak-anak itu terkunci dan dinding-dinding yang melingkupinya berubah menjadi logam. Bukan sekadar logam, ada kandungan Ungravity di dalamnya.


Tanpa diduga, tanah di sekitar mereka bergetar. G:0 merasa langit semakin gelap. Akhirnya ia sadar kalau kegelapan tersebut bukan berasal dari langit, melainkan bayangan sebuah benda yang besar. Sangat besar. Benda itu adalah robot raksasa dan ia sudah berdiri di belakang G:0.


“Hai, salam kenal.”


Salam dari G:0 tidak disambut baik oleh robot itu. Ia melayangkan pukulan yang membuat G:0 terlempar cukup jauh. Kemudian robot itu mengangkat ruangan besi tempat para korban penculikan serta beberapa orang berpakaian dokter berada dan membawanya pergi. Clara dan Jonathan tidak menyangka kalau ruangan itu portabel.


“Mana monster itu? Mana monster itu?” G:0 berteriak saat keluar dari reruntuhan yang menimpanya dengan sempoyongan. Ia berhenti berteriak ketika melihat robot raksasa itu terbang. Ya, terbang seperti robot di film Power Rangers.