
Hari ini Clara mengajak Grafit berbelanja pakaian di pusat kota. Bukan karena Grafit kekurangan pakaian, tapi karena ia sangat pemilih dalam hal yang menempel di tubuhnya. Di awal kehadirannya di kota ini, Clara membelikannya banyak pakaian, tapi ia hanya menyukai tiga kaos, dua celana jeans, dua celana olahraga, satu jaket dan tiga pakaian d*l*m. Ia tidak ingin memakai selain itu. Maka tak heran ia sangat frustrasi ketika membuat kostum G:0. Harus benar-benar sesuai dengan seleranya.
Setahun telah berlalu dan beberapa di antara pilihan pakaian itu sudah tak layak pakai lagi. Clara juga mulai tak betah melihat Grafit memakai pakaian yang itu-itu saja. Karenanya, ia membawa Grafit ke toko pakaian pria milik salah satu teman kuliahnya agar Grafit sendiri yang memilih sesuai dengan seleranya. Lagipula, mengingat usahanya sebagai G:0 setahun belakangan, ia layak mendapat hadiah.
“Oke, ini tempatnya. Aku bisa menjamin kalau seluruh pakaian terbaik yang ada di Dragokarta pasti ada di sini. Tapi belum tentu ada yang sesuai dengan seleramu. Jadi, turunkan standar dan ingat kalau di hutan rahasia dulu kau hanya menggunakan kulit binatang dan serat tanaman untuk pakaianmu,” pidato Clara sebelum mereka masuk ke toko.
Grafit mengangguk dan mereka pun melangkah melewati pintu toko. Di dalam, seorang pria menyambut Clara dengan ramah. Mereka terlihat akrab. Clara memperkenalkan Grafit dan menyampaikan tujuan mereka datang ke toko itu. Pria yang bernama Dicky itu memanggil salah satu karyawannya untuk membantu Grafit memilih pakaian, sementara ia dan Clara meneruskan percakapan mereka.
Mereka bercerita tentang banyak hal, secara khusus keadaan Clara pasca difitnah oleh bos lamanya, Madam Axxa. Dicky berkata jika sudah banyak orang yang tahu bagaimana sifat desainer angkuh itu sehingga sekarang orang mulai banyak yang sadar kalau omongannya tentang Clara tidak benar.
“Kembalilah ke dunia Fashion. Aku bisa mengenalkanmu kepada desainer-desainer terkenal yang tidak seperti Madam Axxa. Atau aku akan mensponsorimu untuk membuka usaha sendiri. Aku tahu betapa besar bakatmu.”
Clara menggeleng. Alasannya meninggalkan dunia yang pernah sangat dicintainya itu tidak sesimpel yang Dicky dan banyak orang pikirkan. Jika ingin, ia bisa menggunakan pengaruh dan dana orang tuanya yang kaya raya untuk membangun butik megah. Tapi ia sudah dikhianati oleh dunia itu dan, seperti yang ia lakukan pada mantan-mantannya yang telah mengkhianatinya, ia tak akan memberikan kesempatan kedua untuk para pengkhianat.
“Non, bagaimana dengan ini?”
Clara berpaling setelah mendengar Grafit memanggilnya. Meski outfit yang digunakannya terkesan umum, yaitu hanya celana hitam dan jaket hijau army dengan lengan tergulung yang keduanya terbuat dari bahan jeans dan dilengkapi dengan kaos putih, Grafit terlihat mempesona. Clara dan Dicky sampai tercengang melihatnya.
“Coba pakaian lain,” titah Dicky pada karyawan yang mendampingi Grafit.
Beberapa saat kemudian, Grafit keluar dan kembali membuat mereka tercengang. Dengan celana jeans navy dipadukan dengan kemeja garis vertikal yang dimasukkan ke dalam celana dengan tiga kancing atasnya terbuka sehingga menampilkan sebagian dadanya.
“Tunggu sebentar,” kata Dicky. Ia mengambil kacamata hitam dan kalung besi lalu memasangkannya pada Grafit. “Sempurna.”
Clara setuju, penampilan Grafit benar-benar sempurna. Bahkan setelah itu Dicky menyuruh Grafit untuk mencoba beberapa paduan pakaiannya dan hasilnya selalu mengagumkan. Bukan hanya mencoba pakaian, Dicky juga menyuruhnya untuk melakukan beberapa pose. Clara bisa melihat betapa senangnya wajah teman lamanya itu.
“Dia harus bekerja untukku,” kata Dicky dengan nada berapi-api. “Dia punya talenta dan aura. Dia harus bekerja untukku sebelum toko lain atau bahkan salah satu agensi merekrutnya.”
“Bekerja sebagai apa? Pencoba jualanmu?” tanya Clara sarkas. Dicky menghela napas sambil menggeleng kepala. Ia kesal orang yang sangat paham dengan fashion tidak menyadari ada talenta besar di sekitarnya.
* * *
“Apa? Model? Grafit?” tanya Jonathan seakan tak percaya.
“Iya. Kata Dicky, dia punya tubuh yang sempurna serta aura yang luar biasa. Ekspresi wajahnya sangat natural dan polos serta ia sangat luwes dalam melakukan berbagai pose.”
Jonathan masih belum percaya meski Clara telah menjelaskannya. Sebenarnya lebih ke perasaan iri. Memang kekuatan Grafit tidak bisa disangkal, tapi selama ini ia merasa lebih tampan daripada pria dari hutan di antah berantah itu.
“Memang, siapapun bisa menjadi model. Asal kau tahu saja, sejak dulu aku juga sering ditawarkan beberapa agensi untuk menjadi model. Tapi itu akan menyia-nyiakan kejeniusanku,” kata Jonathan sambil berpura-pura melakukan beberapa pose ala model di depan Clara.
“Apakah menjadi freelance di perusahaan game yang lebih banyak menganggurnya daripada bekerjanya tidak menyia-nyiakan kejeniusanmu?” sindir Clara yang berpura-pura tidak melihat pose Jonathan. Selain merasa jijik, ia tidak tega mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar untuk posenya itu.
“Ayolah, Grafit akan mengabaikan pekerjaannya sebagai G:0 kalau ia menerima tawaran itu.”
“Dia hanya bekerja di pagi dan siang hari. Aku akan menjadi manajernya dan bisa kupastikan jadwalnya tidak akan mengganggu tugasnya sebagai G:0. Lagipula dulu kau yang mengatakan kalau sudah waktunya bagi Grafit untuk memiliki kehidupan selain sebagai G:0.”
Benar, Jonathan pernah berkata seperti itu. Ia pun merenung sejenak dan ingat bagaimana ekspresi Grafit ketika mengatakan ingin memiliki kehidupan seperti itu. Dan akhirnya ia mendukung.
* * *
Dragokarta adalah kota metropolitan mini. Meski tak sebesar ibukota dan kota-kota utama lainnya di negeri ini, Dragokarta menyajikan banyak hal yang diinginkan manusia pada umumnya. Di langit kota ini tergantung berbagai mimpi dan kesempatan. Tidak sedikit orang dari berbagai penjuru negeri yang mencoba mengadu nasib mereka di kota ini. Bukan hanya pendatang resmi, tapi juga pendatang ilegal. Dan beberapa orang justru menganggap kedatangan para pendatang ilegal itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan mimpi mereka, yaitu mendapatkan banyak uang, dengan cara menjadi calo kartu identitas.
Sebagai manusia yang memiliki jiwa keadilan tinggi, tentu saja Clara tidak memilih cara itu sebagai pilihan pertama. Tapi birokrasi di kantor pemerintahan kota ini terkenal dengan kerumitannya. Sangat besar kemungkinan menemukan ketidakadilan juga di sana. Bahkan terkadang mereka lebih rakus daripada calo preman tak berpendidikan di pinggir jalan. Itulah yang membuatnya berakhir di kantor calo kartu identitas milik sepupu temannya.
“Oke, formulir sudah diisi, sekarang waktunya berfoto,” kata calo berambut gondrong bernama Insyaf. Nama yang lucu untuk orang yang memiliki pekerjaan sepertinya.
Grafit mengikuti Insyaf ke sebuah ruangan. Sementara itu Clara melihat ke sekeliling ruangan dan Jonathan merapatkan tubuhnya pada Clara karena merasa sedikit takut dengan suasana ruangan yang sedikit seram. Seperti sarang mafia atau kantor lintah darat.
“Jadi, sudah berapa lama kalian menjalankan usaha ini?” tanya Clara pada seorang wanita berpakaian ala gothic yang menjadi sekretaris kantor itu.
“Sebelum aku lahir. Aku meneruskan pekerjaan mendiang ibuku yang sudah bekerja di sini sebelum ia menikah,” jawabnya.
“Berapa banyak kantor calo kartu identitas seperti ini di Dragokarta?”
“Cukup banyak, tetapi kantor kamilah yang paling lama, paling banyak pelanggannya dan paling dipercaya karena proses kerja kami cepat, profesional dan sangat mengutamakan kerahasiaan pelanggan.”
Clara mengernyitkan dahinya mendengar iklan wanita itu. Wajar saja, bagaimana ia bisa mengatakan kalau mereka mengutamakan kerahasiaan pelanggan, sementara mereka memajang beberapa kartu identitas beberapa pelanggan mereka di mading layaknya sebuah testimoni?
“Apakah orang ini membuat kartu identitasnya di sini?”
Clara menunjukkan sebuah foto dari ponselnya kepada wanita itu. Foto tersebut adalah tangkapan layar dari rekaman wajah Rocky saat hampir tertangkap oleh G:0. Sang sekretaris memperhatikan dengan seksama sambil mencoba mengingat.
“Ya, kira-kira tiga atau empat bulan yang lalu. Ada juga beberapa orang yang membuat kartu bersamanya.”
Clara dan Jonathan saling berpandangan sambil tersenyum. Jonathan benar-benar tidak menyangka kalau rekannya itu datang ke tempat ini dengan maksud terselubung terkait urusan G:0.
“Pertanyaan terakhir dan benar-benar terakhir, apakah belakangan ini ada sekelompok orang yang membuat kartu identitas di sini?”
“Ya, baru kemarin. Yang membawa mereka sama dengan yang membawa pria yang di ponsel Mbak tadi.” Wanita yang terlihat tidak terlalu pintar itu mulai mencurigai sesuatu. “Apakah Mbak polisi? Kenapa Mbak banyak sekali bertanya?”
“Bukan, aku hanya ingin tahu saja. Pria di ponselku tadi yang merekomendasikan tempat ini,” jawab Clara yang sepertinya dipercayai wanita itu.
“Baiklah, kita tahu kalau Dancing Shadow menggunakan identitas palsu. Besar kemungkinan mereka tidak berasal dari kota ini. Dan sepertinya ada anggota Kraken yang baru datang di kota ini,” bisik Jonathan.
“Ya, kita harus bersiap-siap. Tapi sebelumnya aku ingin mengambil dokumen orang-orang yang membuat kartu identitas kemarin. Aku butuh Grafit untuk mengalihkan perhatian wanita ini.”
“Kenapa harus Grafit?” tanya Jonathan dengan nada kesal. “Aku juga bisa menarik perhatiannya.”
Clara sedikit terkejut lalu tersenyum mengejek. “Kau? Dengan wajah seperti itu? Sadar dirilah.”
Kata-kata itu sangat melukai perasaan Jonathan. Air matanya hampir saja mengalir karena sakit hati yang ia rasakan.