G:0

G:0
HIPNOTIS



Berulang kali ponsel Jonathan berdering, namun sang empunya tidak menggubris. Sudah dua jam matanya tak lepas dari layar laptopnya. Ia sedang sibuk mencari tahu tentang seorang pria yang bekerja sebagai mentor di sebuah agensi model bernama Caesar. Semua informasi yang ia dapat tentang pria itu terlihat normal dan tidak ada yang mencurigakan. Hanya saja ia seperti merasa ada yang aneh.


“Kenapa kau tak mengangkat ponselmu?” tanya Grafit yang mengintip dari luar pintu markas karena acara menontonnya sedikit terganggu dengan suara bising itu.


“Dia memang sejak dulu tidak pernah mengangkat panggilan dari nomor yang tak dikenal.” Clara menjawab pertanyaan Grafit dari dapur. “Dulu ia beberapa kali kena voice phising atau penipuan melalui telepon. Katanya ia seperti dihipnotis. Makanya ia sangat berhati-hati dalam menerima panggilan.”


Grafit mengangguk walau tak sepenuhnya mengerti. Ia melihat Jonathan yang wajahnya sudah keriting karena belum berhasil menemukan yang ia cari.


“Apa yang aneh? Apa yang aneh?” teriak Jonathan menambah kebisingan dari dering ponselnya.


“Yang aneh adalah wajah mereka berbeda karena mereka bukanlah orang yang sama,” kata Clara yang baru datang dengan dua gelas susu coklat panas untuk kedua rekannya itu. Jonathan menaikkan alisnya tanda tak mengerti dengan ucapan Clara. “Barusan aku menelepon Dicky untuk bertanya tentang Caesar. Dia bilang sudah lama kenal pria itu dan tidak ada hal yang mencurigakan kecuali di acara fashion week yang lalu. Caesar mengaku hari itu ia tidak mengikuti acara fashion week apapun karena sedang keluar kota untuk menemui pacarnya.”


Jonathan semakin terkejut mendengarnya. Ia mulai menganalisis kemungkinan yang terjadi malam itu hingga mencapai sebuah kesimpulan, “Berarti pria yang kalian temui malam itu bukanlah Caesar. Jika benar dia memiliki kemampuan hipnotis, bisa jadi ia menghipnotis Dicky dan orang-orang yang mengenal Caesar asli agar melihatnya seperti melihat Caesar.”


Clara setuju dengan analisis itu. Mereka berdua pun mulai bergidik membayangkan kemungkinan itu. Siapapun dia, pria itu pasti penghipnotis hebat yang memiliki kemampuan cukup menyeramkan. Sementara itu, Grafit masih belum tahu arti satu kata yang mereka bicarakan.


“Apa itu hipnotis?”


“Hipnotis itu adalah kemampuan untuk memanipulasi pikiran seseorang. Misalnya, aku menghipnotismu dengan mengatakan kalau kau adalah ayam, maka kau akan berpikir kau adalah ayam dan bertingkah seperti ayam,” terang Clara yang membuat Jonathan tersenyum kecut.


“Em, sebenarnya jika dibawa pada bahasa asing, hipnosis atau hypnosis adalah keadaannya, sedangkan hipnotis atau hypnotist adalah orang yang melakukannya. Tapi di sini hipnotis dapat diartikan sebagai tekniknya. Banyak sekali pengertian tentang hipnosis atau hipnotis ini. Kalau menurut kesimpulanku, hipnosis adalah proses atau kondisi di mana kesadaran dan kemampuan kritis seseorang melemah sehingga ia bisa dengan mudah menerima sugesti atau pesan yang dikirimkan seseorang, dalam hal ini penghipnotisnya, ke pikiran bawah sadarnya.”


Jonathan tersenyum bangga karena wawasan luasnya, tapi hal itu seperti sebuah ejekan bagi Clara. Ia sangat kesal ketika seseorang bersikap sok pintar seperti itu di hadapannya. Melihat wajah Clara yang masam, Jonathan pun akhirnya menyadari kesalahannya.


“Aku masih belum mengerti,” kata Grafit.


“Baiklah, akan kutunjukkan padamu.” Ucapan Clara itu membuat kedua temannya terkejut. Kemudian ia menghadap ke arah Jonathan dan menempelkan tinjunya ke pipi Jonathan yang sesekali melepas lalu menempelkannya kembali dengan cepat sehingga seperti sebuah pukulan. “Jonathan, pasti kau sadar kalau kau terlalu sok dan menyebalkan. Untuk itu, sebentar lagi kau akan merasakan kantuk yang luar biasa sehingga kau akan tertidur pulas dan menutup mulutmu yang sombong itu.”


Jonathan melongo ketakutan melihat mata Clara yang melihatnya tajam. Ia dapat merasakan sakitnya kepalan tangan wanita itu meski masih dalam bentuk pukulan-pukulan kecil. Tapi ia bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika pukulan itu menjadi besar.


Kemudian Jonathan menutup matanya dan merebahkan kepalanya ke atas meja seolah-olah kena hipnotis. Melihat temannya itu mengerti dengan maksudnya, Clara berkata pada Grafit, “Kurang lebih seperti itulah hipnotis. Mengerti?”


*          *         *


Seorang pria melihat ke arah jam tangannya lalu kembali melihat ke luar kaca jendela kafe sambil merapikan blazer blacklist berwarna coklat muda yang senada dengan celana chino yang sedang dikenakannya. Sesekali ia menyeruput kopi yang ada hadapannya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu, meski janji pertemuan yang dinantinya adalah sepuluh menit lagi. Ia tahu jika ia yang terlalu cepat, hanya saja ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu.


Untungnya, ia tidak perlu menunggu sampai waktu yang telah disepakati. Wanita yang dinantinya datang sekitar delapan menit sebelumnya. Ia melambaikan tangan dari luar kafe ketika melihat pria di kafe itu sedang tersenyum padanya. 


Wanita cantik itu terlihat sangat modis meski pakaian yang dikenakannya cenderung sederhana. Hanya long dress berwarna hitam yang dibalut oleh long coat monokrom dan dipadankan dengan handbag berwarna serupa. Tak lupa sneakers putih memberikan kesan kasual.


“Sudah lama menunggu?” tanya wanita itu yang dijawab dengan senyum dan gelengan pelan. 


Wanita itu tersenyum kemudian memalingkan wajahnya pada seorang pelayan dan memberi isyarat. “Macchiato latte.” Wajahnya kembali berpaling pada wanita itu. “Jadi, tentang apa hari ini? Tentang tunanganmu?”


“Tidak, hanya hal sepele, tapi sangat pribadi dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun, termasuk pada Andini, tunanganku.” Selanjutnya, wanita itu menceritakan banyak hal pada sang pria.


Saat ini jasa rekan curhat sudah semakin menjamur seiring dengan semakin tingginya tingkat stres dan sikap apatis yang ada di masyarakat. Belum lagi orang-orang yang mengalami fobia sosial dan yang tidak memiliki kemampuan bersikap asertif, mereka sangat membutuhkan seseorang yang mau dibayar untuk mendengar isi hati dan kepala mereka yang selama ini tertahan. 


Sedangkan jasa sewa kekasih sendiri sudah lama populer seiring dengan semakin rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap hubungan romantis, sementara stigma ‘manusia yang hidup sendiri adalah manusia yang menyedihkan’ masih bertahan.


Siren, wanita cantik bertubuh kurus yang baru saja kita bahas, menyediakan gabungan dari kedua jasa tersebut. Setiap pria (kadang wanita) akan menyewanya untuk menjadi teman kencan yang bisa ‘dipamerkan’ di mana saja atau hanya sekadar ingin berkencan. Kliennya juga bebas untuk mencurahkan isi hati dan kepala mereka sesuka mereka. Tapi, Siren memberikan servis ekstra yang tidak dimiliki oleh jasa rekan curhat atau jasa sewa kekasih manapun.


“Sepertinya orang tua Andini membenciku. Memang, sebelum Andini memperkenalkanku pada mereka, ibunya pernah mendatangi ibuku dan meminta beliau membujukku untuk menjauhi putriku Kemarin aku melihat papanya menemui bosku dan menanyakan banyak hal tentangku. Menurut bosku, daripada mencari informasi, ia lebih mirip memberikan informasi buruk tentangku. Mereka juga selalu berbicara ketus padaku jika Andini tidak berada di antara kami. Tapi ketika Andini ada, mereka akan bersikap sangat ramah.”


Siren mengangguk lalu bertanya, “Kau ingin memperpanjang masalah ini atau menghilangkan prasangkamu?”


Pria itu menunjukkan keraguannya saat menanggapi pertanyaan tersebut. Kemudian ia menggeleng kencang seakan ingin menyingkirkan apa yang ada di pikirannya. “Aku tidak ingin memperpanjangnya. Sebentar lagi kami akan menikah dan aku tidak ingin hal ini menjadi penghambat. Toh mereka takkan bisa menentang keinginan Andini untuk menikah dengan pria biasa sepertiku..”


“Baiklah, jika itu maumu.”


Siren tersenyum lalu memegang tangan kliennya dengan lembut. Ia menatap mata wanita itu dengan tajam seakan hendak menembus relung hatinya melalui mata itu. Mulutnya menyebutkan beberapa kata dengan suara pelan seakan sedang merapalkan sebuah mantra. Tak lama kemudian, giliran pria itu yang tersenyum.


Ya, Siren juga memberikan servis berupa hipnotis. Ia memiliki hak dan kewajiban untuk mengatur apa yang dipikirkan kliennya sesuai dengan permintaan, meski tidak ada kliennya yang sadar jika Siren melakukannya dengan menggunakan hipnotis. Mereka hanya berpikir Siren memiliki kemampuan psikologis yang membuat pikiran mereka tenang sehingga mereka mampu mengendalikannya.


Tak terasa pertemuan itu berlangsung cukup lama hingga malam menyelimuti langit. Ternyata masalah yang ingin diceritakan pria itu sangat banyak. Bagi Siren , semakin lama ia melayani klien, maka semakin baik mengingat dia mendapatkan bayaran per jam.


Tiba-tiba firasat Siren tidak enak. Ia berdiri dan melihat ke sekeliling, membuat kliennya bingung. Tanpa diduga, sebuah benda jatuh dari langit menimpa atap kafe lalu menuju meja yang digunakan Siren dengan kliennya. Semua tamu kafe terkejut dan beberapa menjerit, terutama ketika mengetahui yang jatuh adalah manusia dengan kostum besi yang menyeramkan. Tak lama kemudian, ada lagi manusia yang jatuh di tempat yang sama dan kali ini sepertinya terkendali.


Siren melihat sosok kedua dengan lekat. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng yang menurut Siren sangat membosankan. Setelah berhasil mengendalikan manusia berkostum besi itu, sang sosok serba hitam membalas tatapan Siren . Mereka saling menatap untuk beberapa detik lamanya.


“Maaf jika menyebabkan kekacauan dan membuat kalian terkejut. Pria ini adalah penjahat yang nyaris menghancurkan kota. Aku tak menyangka ia seliar ini sehingga aku harus menjatuhkannya dari langit dan tanpa sengaja mendarat di tempat ini. Aku akan pastikan pemerintah kota akan mengganti seluruh kerusakannya.”


Setelah berbicara dengan para pengunjung kafe, sosok serba hitam itu terbang membawa si manusia kostum besi dan kondisi mulai kembali normal. Beberapa petugas kafe membersihkan kekacauan yang tertinggal.


“Kau tidak apa-apa, Siren? Apakah kau terluka?” tanya pria itu ketika melihat Siren masih mematung tepat di depan tempat dua orang itu mendarat.


“Tidak, hanya saja -” Siren tidak meneruskan ucapannya sehingga menimbulkan pertanyaan pada wanita itu.


Hanya saja, sosok hitam itu tidak merespons hipnotisku, batin Siren.