G:0

G:0
MUSUH DALAM SELIMUT



“Apakah masih jauh?” tanya G:0 pada Tarjo yang berada di gendongannya. 


“Sekitar tiga blok lagi,” jawab Tarjo. Ia melihat belakang kepala Grafit sambil tersenyum. Tak disangka, anak kecil yang serba ingin tahu itu kini sudah tumbuh besar dan menjadi penyelamat warga kota. Ia jadi rindu dengan masa-masa di hutan rahasia. “Bagaimana kabar guru? Apakah ia sehat? Ia masih sering sembelit?”


G:0 terkejut dengan pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak menduga penipu itu masih memberikan perhatiannya pada sang guru dengan pertanyaan itu. “Tidak banyak berubah.”


“Aku benar-benar meminta maaf karena telah menipu kalian dan mencuri Batu Raya. Tidak seharusnya aku melakukan hal demikian pada orang-orang yang menganggapku keluarga. Seumur hidupku, hanya kalian bersikap seperti itu padaku.”


G:0 tidak menjawab. Ia ingin marah dan memaki pria itu. Tapi tak bisa disangkal, kehadirannya di hutan rahasia belasan tahun yang lalu memberikan banyak perubahan bagi mereka, terutama baginya. Karena Tarjo, ia memiliki pengetahuan, cinta pertama dan mimpi.


“Di sana, di rumah beratap biru itu.”


G:0 mendarat tepat di depan teras rumah yang dimaksud Tarjo. Mereka pun masuk setelah Tarjo membuka kunci pintu itu. Ternyata bukan mereka yang pertama tiba. Di dalam sudah menunggu beberapa orang berwajah bengis dengan senjata di masing-masing tangan mereka.


“Halo, Tarjo.” Seorang pria berbadan besar yang terlihat sebagai pemimpin kelompok itu menyapa Tarjo dengan ramah, tapi bukan berarti ia adalah orang baik. “Sepertinya kau membawa teman.”


“Siapa mereka?” bisik G:0.


“Mereka adalah geng Parasit Laut  yang sejak kemarin mengejarku.”


“Kau bilang kau tidak tahu siapa yang mengejarmu. Apakah kau sedang menipu kami?”


“Parasit Laut hanya geng preman kecil. Level mereka terlalu rendah untuk berurusan dengan kertas berharga. Pasti mereka hanya suruhan.”


“Hei, kau sedang berbisik atau mengejek kami? Kami bisa mendengarnya!” bentak pimpinan geng itu dengan wajah kesal. Ia sampai mengacungkan senjata yang diikuti oleh anak buahnya.


“Pahlawan super, lakukan sesuatu atau aku akan mati.”


“Baiklah, kau ambil amplop itu dan aku akan mengurus mereka.”


Tarjo langsung berlari ke tangga menuju kamarnya di lantai dua. Para preman itu melepas tembakan, namun Grafit langsung menangkisnya. Tanpa menunggu lama, ia segera menghajar mereka. Beberapa di antaranya cukup sulit ditangani hingga akhirnya semua anggota geng itu dapat dilumpuhkannya.


“Hei, mereka sudah kulumpuhkan. Hei! Pak Presiden!”


Para preman itu tertawa mendengar panggilan yang keluar dari mulut G:0. Meski telah kehilangan respek, bahkan cenderung membenci Tarjo, ia tak bisa menyebut nama pria itu. ]


[G:0, sepertinya ada yang aneh. Segera hampiri penipu itu!]


G:0 segera menuruti perintah yang diberikan Clara. Ia naik ke lantai dua dan mencari Tarjo. Mereka berharap pria itu tidak pergi sebelum ingatannya dihilangkan. Tentu saja, karena ia mengenal G:0. Bukan hanya Grafit, tapi juga Clara dan Jonathan. Ia bahkan tahu di mana markas mereka. 


“Pahlawan super, tolong aku!”


Terlihat Tarjo sedang menangis ketakutan di hadapan sepucuk pistol. Siapa pemiliknya? Skuad G:0 terkejut tetapi tidak terlalu terkejut ketika melihat wajah pemiliknya. Dia adalah Kapten Rian.


“Serahkan pria itu. Dia di bawah  pengawasanku,” kata G:0 pada Kapten Rian.


G:0 tetap waspada dan tidak mau bersikap gegabah. Ia memperhatikan gerak-gerik Kapten Rian sambil menemukan celah untuk menyerang. Kemudian Jonathan terpikir sesuatu. Ia menyuruh G:0 mengulangi apa yang ia katakan.


“Kau juga bukan. Jika memang kau sedang dalam tugas, pasti kau tidak datang sendiri. Ya, ini adalah urusan pribadi, bukan?”


Kapten Rian bingung menjawab. Memang benar, ia bertindak tanpa sepengetahuan markas. Tapi ia tak mungkin mengakuinya di depan rivalnya.


“Ya, ini adalah urusan pribadi antara aku dengan pria ini. Bersikaplah bijak dan tinggalkan kami. Aku selalu menyediakan satu pistol berisi peluru yang terbuat dari Ungravity sebagai persiapan jika suatu saat aku punya kesempatan untuk menembakmu. Sebaiknya kesempatan itu bukan malam ini.”


Tanpa sepengetahuan Kapten Rian, Tarjo memberi kode pada G:0. Tanpa memastikan terlebih dulu kalau G:0 mengerti kode yang ia berikan, penipu itu segera berlari ke arah salah satu kamar. Kapten Rian refleks melepaskan tembakan yang mengenai lengan bagian atasnya. Dengan cepat G:0 berlari ke arah Kapten Rian dan mulai menyerang.


“Argh, aku sudah memberi kode. Kenapa kau lambat sekali,” rintih Tarjo.


“Kau melakukan kesalahan, Kawan. Kau akan menyesalinya,” kata Kapten Rian setelah menghindari serangan seakan hendak mengintimidasi G:0.


“Kita lihat saja siapa yang akan menyesal.”


Yang baru diketahui oleh skuad G:0 adalah Kapten Rian bukanlah polisi gila perhatian yang hanya mengandalkan senjata dan lencananya untuk melumpuhkan penjahat. Ia juga sangat ahli dalam bela diri. Bahkan G:0 harus kewalahan menghadapinya.


“Kemampuanmu lumayan juga. Tak salah jika selama ini aku menunggu kesempatan untuk bertarung denganmu. Mengalahkanmu akan menjadi salah satu catatan yang bisa kubanggakan di masa yang akan datang.”


Sementara itu, di markas Clara mendapatkan panggilan telepon dari Dozo. Ia meminta Jonathan untuk mengambil alih sepenuhnya lalu pergi ke ruangan lain untuk berbicara dengan pimpinan Feliofighter tersebut.


“Ada apa, Dozo?”


[Tentang Kapten Rian, aku sudah menghubungi para pejuang dari kota lain.]


“Ya, bagaimana?”


Clara sangat berharap informasi tentang keanggotaan Kapten Rian dalam organisasi Kraken serta undangan ke kongres Kraken akan berguna bagi para pejuang untuk menghancurkan Kraken. Sayangnya, ia mendapatkan jawaban yang tidak sesuai harapannya.


[Kapten Rian adalah salah satu dari kita. Bahkan ia telah menggerakkan perjuangan melawan Kraken di setiap kota tempatnya ditugaskan. Menurut berita yang kudapatkan, ia juga akan melakukannya di Dragokarta. Namun, pada pertemuan terakhir para pejuang, ia mengatakan justru G:0 yang sering menghalangi rencananya. Kalian dianggap kerap menghancurkan rencananya untuk mengungkap keberadaan Kraken di Dragokarta karena kalian sering bertindak semaunya.]


Ia mencontohkan kejadian penyerangan anggota dewan Prabu Arjuna. Kapten Rian hampir saja melacak orang-orang yang terlibat atau di bawah tekanan Kraken lainnya. Sayangnya, G:0 melenyapkan Vanishers yang memiliki nama orang-orang itu. Ia juga memprovokasi Prabu Arjuna untuk mengungkap keberadaan Kraken sehingga para penjahat itu bertindak lebih hati-hati di Dragokarta. juga saat G:0 membebaskan Candy Boy, ada tahanan yang ikut kabur dan dia adalah salah satu petinggi Kraken,


Clara masih terbengong-bengong karena informasi baru yang disampaikan oleh Dozo. Kepalanya mendadak pusing. Orang yang selama ini dianggapnya musuh ternyata telah memiliki jasa yang lebih besar dalam perjuangan melawan Kraken dibandingkan dengan dirinya dan skuadnya. Bahkan mereka dituding sebagai penghalang oleh Kapten Rian.


Sesaat setelah mengakhiri percakapannya dengan Dozo, Clara kembali masuk ke markas. Ia melihat G:0 dan Kapten Rian sudah bertarung hingga terjatuh ke lantai satu. Sekarang ia melihatnya seperti pertempuran yang sia-sia. G:0 sedang bertukar hajaran dengan orang yang sepihak dengannya.


Kemudian ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang sangat penting dan berbahaya jika sampai terjadi. Ia segera mendekatkan mulutnya ke mikrofon dan berkata, “G:0, kejar Tarjo. Dia adalah prioritas sekarang! Dia memang mengincar undangan itu. Dia akan kabur dengan undangan itu!”


Jonathan dan G:0 terkejut mendengar ucapan Clara. Baru beberapa menit yang lalu ia masih sangat bersemangat menuding Kapten Rian sebagai pengkhianat, sekarang ia justru menyebut Tarjo sebagai prioritas. Meski tidak mengerti, G:0 terbang ke lantai dua meninggalkan Kapten Rian.


Dan seperti dugaan Clara, Tarjo sudah menghilang.