
“Miss Clara, pak Dodo menyuruhmu ke kantor.”
Clara membalikkan badannya dengan malas untuk menjawab ucapan pria itu, Edi si penjilat.
“Katakan pada suamimu kalau aku sedang sibuk menyelesaikan administrasi yang luar bisa banyak darinya. Bukankah ia hanya memberikan deadline sampai hari Jumat tiap minggunya?”
Guru-guru yang lain tersenyum mendengar jawaban Clara yang cukup pedas. Edi yang malu karena Clara mengatakan pak Dodo sebagai suaminya mulai memberikan ancaman.
“Lihat saja, suatu saat kau pasti akan mendapat masalah besar. Pak Dodo sangat marah karena kemarin kau bolos di rapatnya, padahal rapat itu dibuat karena kau. Karena banyak orang tua murid yang mengeluh dengan ketidakramahanmu.”
“Kau yakin dia marah karena itu? Bukan karena sesuatu yang terjadi pada kalian tadi malam?”
Kali ini para guru tak bisa menahan tawa mereka. Edi si penjilat itu menyerah dan pergi dengan wajah kesal. Kali ini giliran Clara yang kesal karena harus bertemu dengan pria paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Sebelas dua belas dengan Madam Trisna, mantan bosnya yang pernah memfitnahnya.
Beberapa saat kemudian, Clara sudah sampai di ruangan pria berkumis tebal yang suka menggunakan suspender berwarna norak itu. Saat membuka pintu ruangannya, ia melihat sang kepala sekolah sudah menunggu di balik meja kebesarannya. Ia menatap Clara dengan wajah serius tapi terlihat sedang berusaha untuk menutupi seluruh aura kebenciannya.
“Miss Clara, Miss Clara, ini sudah yang ketiga kalinya Miss absen di pertemuan rapat guru. Apakah Miss tidak tahu kalau itu adalah salah satu kewajiban dari guru di sini?” tanya pria itu dengan nada mendayu seakan ingin mengintimidasi.
“Maaf, tapi saya tidak mengikutinya karena saya pikir tidak membutuhkannya.”
“Tidak membutuhkan bagaimana? Selama ini saya mendapat banyak keluhan tentang ketidakramahan Miss pada orang tua murid!” bentak pak Dodo. Sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
“Justru karena itu, saya memang berpikir tidak perlu ramah pada mereka karena tugas saya hanyalah mengajar anak mereka. Jika kita terlalu ramah pada orang tua murid, kita hanya akan menurunkan derajat di depan mereka. Mereka akan berpikir kita adalah pelayan mereka dan punya hak untuk mengatur cara kerja kita. Coba saja lihat Miss Titin, guru paling ramah di sekolah ini. Dia yang paling banyak mendapat komplain dari orang tua dan sebagian besar hanya masalah sepele.”
Pak Dodo mulai mengatur napasnya. Ia benar-benar tak tahu lagi cara untuk menaklukkan anak buahnya itu. “Seandainya Miss tidak masuk karena rekomendasi Ibu DirPel, mungkin saya akan memecat Miss sejak dulu.”
“Lho, berarti selama ini Bapak sungkan pada saya karena beliau? Tenang saja, saya masuk karena kami terlanjur membuat kesepakatan. Saya juga sudah lama ingin mengundurkan diri, tapi tidak jadi karena menghargai beliau. Sekarang hubungan kami sedang tidak bagus. Bapak bisa menjelek-jelekkan saya di depannya. Kalau perlu, Bapak boleh mengatai orang tua saya. Saya berjanji takkan marah kepada Bapak.”
“Baik, jika itu mau Miss. Jangan pikir saya takkan melakukannya. Saya harap Miss tidak akan menyesal.”
“Silakan saja, Pak. Kalau perlu, saya akan merekam ucapan saya tadi dan mengirimkannya pada Bapak hari ini juga.”
Clara balik badan dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Ia tahu apa yang diancamkan bosnya itu sama saja dengan memprovokasi ibunya untuk membongkar penyamarannya. Ia memang mengharapkan itu terjadi.
* * *
Pintu markas dibanding dengan keras. Jonathan melihat Clara yang wajahnya sudah keriting. Untung saja ia mengisi kembali sebagian cemilan yang telah dihabiskannya kemarin sehingga sekarang takkan ada lagi alasan untuk Clara melampiaskan kekesalan padanya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Jonathan.
“Jika saat ini ada yang meneleponku dan mengatakan besok libur karena kepala sekolah kami hilang diculik alien yang ingin membedah makhluk bumi demi ilmu pengetahuan mereka, mungkin aku akan baik-baik saja.”
Jonathan hanya tersenyum. Baginya, Clara terlihat semakin imut jika sedang marah. Asalkan tidak marah kepadanya. Ah, ia berharap Clara tahu seberapa besar kekagumannya pada wanita itu.
“Semoga kabar dariku ini bisa menggantikan kabar yang kau harapkan itu.” Jonathan memutar monitor ke arah Clara. “Aku berhasil melacak keberadaan Dancing Shadow.”
Mengingat pelacak mereka yang lalu dapat diketahui dengan mudah oleh orang Kraken, skuad G:0 berhati-hati dalam menggunakan benda sejenis. Mereka tidak lagi sembarangan menempelkannya ke tubuh penjahat demi terhindar dari resiko yang berbahaya, seperti manipulasi informasi yang sengaja dilakukan para penjahat atau lebih parah lagi, yaitu mereka melacak kembali keberadaan markas melalui sinyal yang ada di pelacak tersebut.
Untuk itu, mereka mengolesi jaring yang dipakai G:0 kemarin dengan cairan yang mengeluarkan aroma khas dan hanya Cameron Hime yang bisa mendeteksinya. Jadi sosok itu dibiarkan pergi, lalu Cameron Hime akan mengikuti aroma yang terjejak.
Sebuah restoran Jepang terpampang di monitor yang Jonathan tunjukkan. Tidak salah lagi, aroma yang tertinggal di pakaian Dancing Shadow berasal dari tempat itu. Sekarang mereka hanya perlu mengidentifikasi orang-orang yang ada di dalam restoran tersebut. Berhubung Cameron Hime hanya bisa memantau dari luar restoran, yang bisa mereka lakukan hanya menunggu dan berharap semua orang yang sekarang ada di dalam bisa keluar semua.
“Jonathan,” panggil Clara. Yang empunya nama menoleh. “Pernah terpikir untuk melakukan tugas lapangan?”
Sementara Clara sudah tersenyum ceria, Jonathan masih belum mengerti.
* * *
“Apakah ini tidak terlalu beresiko?” tanya Jonathan ketika mereka sudah berdiri di depan dojo.
“Resiko adalah nama tengahku.”
Clara langsung menarik tangan Jonathan masuk ke restoran. Mereka menyibakkan tirai dari bambu dan di dalam restoran mata mereka disajikan pemandangan restoran ala Jepang. Seorang pelayan menyambut dan mempersilakan mereka untuk duduk di salah satu meja lesehan yang berada di atas dipan dari bambu.
Mereka memesan beberapa jenis makanan Jepang. Sambil menunggu pesanan, mata mereka liar melihat ke sekeliling. Fokus mereka adalah para pelayan restoran. Ada tiga orang yang memiliki postur mirip dengan Dancing Shadow. Dengan kacamata kameranya, Jonathan mengambil foto ketiganya.
“Alan, Handoko dan si tampan Rocky,” kata Clara yang membaca name tag mereka sambil tersenyum, memicu api cemburu di hati Jonathan.
“Tampan apaan? Masih lebih tampan aku.”
“Kata siapa? Nenekmu? Ketika pakai kacamata atau tidak?”
Mereka keluar dari restoran saat langit sudah menjingga. Sebentar lagi akan malam dan waktunya G:0 bertugas. Jonathan ingat kalau ia belum pulang ke rumah sejak tiga hari yang lalu.
“Aku harus pulang dan mandi. Badanku sudah mulai bau,” kata Jonathan yang sedang mengendus bajunya.
“Mandi di apartemen saja. Ada beberapa pakaian Grafit yang kekecilan untuknya karena aku salah beli. Kau bisa memakainya.”
Tawaran Clara itu disambut dengan sukacita oleh Jonathan. Meski hanya sederhana, itu menunjukkan sebuah perhatian yang besar dan sangat berarti bagi Jonathan. Bahkan hanya larangan untuk pulang dan mengajak ke apartemen saja sudah membuat fantasinya liar, meski beda konteks dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi belum jauh mereka melangkah, seorang pelayan yang mereka tahu bernama Alan keluar dari pintu belakang restoran dan masuk ke sebuah rumah yang ada di belakang restoran. Mereka bersembunyi agar tidak terlihat oleh pelayan itu. Beberapa saat kemudian, mereka melihat pemandangan yang mereka harapkan, meski masih sedikit mengejutkan. Seseorang dengan pakaian serba hitam ala ninja keluar dari restoran itu dan dalam sekejap menghilang.
“Alan, oh, Alan. Akhirnya kami menemukanmu.”
* * *
Beberapa jam kemudian, skuad G:0 sudah berada di posisi masing-masing. Masih di atap gedung yang sama, G:0 menunggu sosok yang mengaku bernama Dancing Shadow itu. Ia bertekad untuk tidak babak belur lagi malam ini.
“Sepertinya tiga hari ini pekerjaan kita hanya mengurus Dancing Shadow padahal ia tidak melakukan kejahatan apa-apa kecuali membuat Grafit babak belur. Apakah tidak masalah kita mengabaikan kejahatan yang lain?” tanya Jonathan pada Clara.
“Aku merasa Dancing Shadow bukan hanya berniat menghajar Grafit. Kecurigaanku didasarkan dengan kejadian kemarin. Kenapa ia berani datang di tempat dan waktu yang sama? Lalu, kenapa ia menyelesaikan aksinya ketika G:0 belum benar-benar tumbang, padahal ia bisa melakukan lebih? Jika malam ini ia kembali datang, maka kecurigaanku akan semakin kuat. Sehebat apapun dia, sama saja ingin bunuh diri jika dia datang hanya untuk menghajar G:0 padahal kemarin hampir terperangkap”
Kemudian sensor gerak Jonathan berbunyi. Clara menyampaikannya pada G:0 dan menyuruhnya untuk bersiap-siap. G:0 segera memasang kuda-kuda. Ia merasakan angin kencang sedang mengarahnya. Dengan cekatan ia menghindarinya. Berhasil. Tapi ia tidak menduga serangan kedua datang lebih cepat. Tubuh G:0 sampai mundur. Untungnya ia dengan sigap menghindari serangan ketiga.
Tiba-tiba tempat itu menjadi terang benderang. Ternyata Jonathan memasang lampu yang sangat terang di keempat sisi atap gedung. Kini G:0 berhasil melihat Dancing Shadow yang sedang sibuk menutup matanya karena silau.
“Apa kubilang? Ia terbiasa bertarung di dalam kegelapan dan siapapun orangnya, ia akan membutuhkan waktu untuk matanya bisa beradaptasi dari kondisi gelap ke kondisi terang benderang,” kata Clara membanggakan idenya.
“Dan untung saja aku telah merancang kacamata canggih untuk G:0 yang bisa beradaptasi dengan perubahan cahaya hanya dalam waktu sepersekian detik.” Jonathan juga tak mau ketinggalan untuk menyombongkan diri.
Sementara itu G:0 segera menghajar Dancing Shadow hingga sosok itu terpental. Clara menyadari sesuatu lalu menyuruh G:0 menghancurkan sepatu lawannya. Segera G:0 melakukannya dan benar saja, sosok itu tak lagi menghilang. Ia memang menghindar dengan cepat, tapi G:0 masih bisa melihatnya.
Meski lawannya punya kemampuan bela diri yang luar biasa, G:0 bisa mengatasinya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai G:0 bisa melumpuhkannya. Kini sosok serba hitam itu sudah berada di genggaman tangan G:0.
“Sekarang buka topengnya,” perintah Jonathan. Mereka sudah tidak sabar melihat wajah pelayan bernama Alan di balik topeng itu. Tapi yang mereka lihat berikutnya sangat berbeda dengan yang mereka sangka.
“Rocky!”
Ya, bukan Alan, melainkan si tampan Rocky. Clara dan Jonathan masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ketika G:0 sedang lengah karena menunggu perintah dari kedua rekannya, pria itu melepaskan genggaman G:0 dan melompat dari atap lalu menghilang.
[Hei, bagaimana ini? Dia menghilang? Apakah aku harus mengejarnya?]
Clara dan Jonathan tidak menjawab. Mereka sedang sibuk menganalisis dari apa yang baru saja mereka lihat. Kecurigaan Clara sebelumnya semakin berkembang.
“Benar juga. Alan telah berganti kostum sejak beberapa jam yang lalu. Lalu, ke mana dia pergi saat itu? Lalu, kenapa Dancing Shadow sekarang adalah Rocky? Artinya -”
“Artinya, Dancing Shadow bukan hanya satu orang. Mereka pasti berbagi tugas. Dancing Shadow yang menyerang G:0 hanyalah sebuah pengalihan agar G:0 tidak menyadari kejahatan yang dilakukan oleh Dancing Shadow lainnya.”
“Lalu, kejahatan apa yang dilakukan oleh Dancing Shadow lainnya? Kita tidak pernah mendapatkan berita tentang kejahatan yang mencurigakan selama tiga hari ini.”
Mereka masih terjebak oleh sebuah misteri. Misteri yang menuntun mereka pada sebuah fakta besar dan menarik.