
Beberapa jam sebelumnya
“Tidak boleh. Membawa kostum G:0 berarti membuka kemungkinan kita akan beraksi di sana. G:0 milik Dragokarta. Jangan sampai orang lain berpikir G:0 buka cabang di kota lain lalu kota lain menuntut dan itu akan menimbulkan kekecewaan nasional,” protes Jonathan saat Clara menyuruh Grafit untuk membawa kostum G:0.
“Bilang saja kau tidak mau liburanmu diganggu.” Clara tidak perlu mendengar Jonathan mengatakannya karena, meskipun ia mengatakan alasan yang sangat bagus dan cukup mulia, Clara tahu pria itu takkan pernah berpikiran setulus itu.
Dan sebenarnya Jonathan juga tidak perlu mendebat keputusan Clara karena apapun yang terjadi, perintah Clara harus yang terjadi. Grafit membawa koper besi dengan desain yang keren. Konon Clara sendiri yang mendesainnya dengan bantuan salah satu teman sekampusnya dulu.
“Bagiku, kostum G:0 adalah mahakarya terbaikku. Aku tak pernah mendesain pakaian sekeras yang kulakukan untuk kostum ini. Jadi, aku ingin memastikan kostum ini aman di dekatku. Bahkan aku sudah menyiapkan koper yang kudesain khusus untuk kostum ini.”
Akhirnya Jonathan menyerah. Melihat tekad Clara yang luar biasa hanya dari beberapa baris kalimat barusan, ia tahu pendirian wanita itu takkan goyah sedikit pun.
“Baiklah, Grafit yang membawanya,” kata Jonathan dengan nada menggerutu.
“Tunggu, aku harus memastikannya. Aku tidak ingin kejadian ketika kita menyelidiki markas Black Samurai dulu terulang lagi.”
Saat itu Clara menyuruh mereka membawa tas yang ia taruh di meja karena di dalamnya ada peta markas Black Samurai yang berhasil ia dapatkan dari salah satu anak buah Kichigai. Jonathan berpikir Grafit yang membawa tas sandang telah melakukannya, demikian juga dengan Grafit yang melihat Jonathan mengambil sesuatu dari atas meja yang ternyata kantong plastik berisi snack mereka di perjalanan. Alhasil, mereka pergi tanpa peta di tangan dan sadar setelah hampir mencapai batas kota.
“Pokoknya Grafit yang membawa koper itu. Aku ingin kau tahu kalau yang ada di dalam koper itu adalah satu-satunya barang berharga yang akan kita bawa,” kata Clara. Ia pergi ke parkiran ketika melihat Grafit memegang koper itu.
Yang tak ia ketahui adalah Grafit benar-benar membuat siapapun, bukan hanya dia, bisa tahu kalau itu adalah barang yang sangat berharga dengan menuliskan kata ‘Satu-satunya barang yang sangat berharga’ di secarik kertas dan menempelkannya di atas koper itu.
Dan tulisan itulah yang menuntun pencurinya hanya mengambil koper itu ketika mereka sedang berada di pantai.
* * *
“Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membawanya?” gerutu Jonathan yang semakin membuat Clara kesal.
“Jangan menangis. Aku merancang tas itu agar tidak ada yang bisa membukanya kecuali kita bertiga. Jadi, kostum G:0 akan aman sampai kita menemukan tas itu.”
“Untung saja aku aku sudah mengunduh aplikasi pelacak di ponselku sehingga bisa terhubung dengan alat pelacak yang ada di kostum.”
Tak lama kemudian, mobil mereka sudah sampai di sebuah pemukiman yang kumuh. Jauh lebih kumuh dibandingkan dengan hotel mereka tadi. Clara dan Jonathan sempat terkejut karena mereka tak menyangka kota Feliopolis yang terkenal sebagai kota yang memiliki pemasukan daerah cukup tinggi dari pariwisata dan tambang timah lepas pantainya memiliki sisi seburuk ini.
“Setahuku pendapatan per kapita kota ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan kota lain di negara ini. Kota yang selalu menjanjikan keindahan dan kemakmuran ini, ternyata daerah kumuh juga,” gumam Jonathan.
“Tentu saja, mereka hanya menunjukkan wajah bahagia di depan dunia, sementara borok hasil kesenjangan sosial dan kebijakan pemerintah yang menyenangkan para kaum kapitalis disembunyikan di sudut kota terpencil seperti yang ada di sini,” timpal Clara.
Mereka pun masuk ke daerah kumuh itu dengan tetap meningkatkan kewaspadaan. Bahkan di Dragokarta mereka tidak menemukan daerah seberantakan tempat tersebut. Tata letak rumah yang semrawutan dan dibangung dengan bahan seadanya. Hanya beberapa menit berada di sana, mereka sudah tahu kalau sanitasi di tempat itu sangat buruk. Aroma parit yang merupakan perpaduan berbagai hal busuk menyatu dan mengobrak-abrik sensor di hidung mereka. Belum lagi tatapan mengerikan para penduduknya yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
“Alat pelacaknya menunjuk ke tempat seperti gudang itu,” kata Jonathan. Clara berbisik untuk menjaga kewaspadaan karena ada beberapa orang yang sedang mengintai ponselnya sejak tadi.
Mereka mendekati tempat itu dan mencari pintu masuknya dengan mengelilingi tiap sisi gedung. Hanya sebuah papan terbalut seng yang lebih berpotensi sebagai sebuah pintu. Grafit menggesernya dan mengintip bagian dalam gedung. Kosong.
Karena Jonathan merasa yakin sinyal dari kostum berasal dari dalam gedung itu, mereka masuk walau tempat tersebut cukup mencurigakan. Clara menggunakan senter dari ponselnya sebagai alat penerangan mereka di dalam.
Tiba-tiba cahaya lampu di sana menyala dan sangat benderang hingga membuat mata mereka silau. Beberapa orang dengan wajah bengis menatap mereka seakan telah lama menunggu. Salah satu di antara mereka, yang posisinya seakan berada di tengah para gerombolan itu sehingga menunjukkan jika ia adalah pemimpinnya, menunjuk ke arah mereka bertiga dan memberi isyarat untuk mendekat.
“Kalian mencari tas ini, bukan?” tanyanya.
Jonathan, yang satu-satunya menunjukkan sikap takut di antara mereka, mengangguk dan segera mendekat. Sementara Clara dan Grafit tetap waspada. Untuk kesekian kalinya, Clara menyuruh Grafit tidak menunjukkan kekuatan supernya tanpa menggunakan kostum G:0.
Secara mengejutkan, pria itu menyerahkan benda yang mereka cari pada Jonathan. Clara bingung dengan tujuan mereka mencuri dan mengembalikan koper tersebut. Dan ia lebih terkejut dengan perkataan pria itu selanjutnya.
Clara, Jonathan dan Grafit terkejut dengan pengakuan itu. Mereka menemukan tujuan mereka ke kota ini dengan mudah, bahkan jauh lebih mudah daripada yang mereka duga.
* * *
Sekarang mereka bertiga sudah bisa tenang. Gerombolan itu bukanlah musuh, melainkan sekutu yang tak mereka harapkan tapi mereka butuhkan. Mereka menamakan diri sebagai Feliofighters. Melalui gerombolan itu, mereka bisa tahu banyak tentang Kraken, organisasi yang hendak mereka hancurkan. Dozo, pemimpin dari Feliofighters, menjamu mereka di lantai dua gedung itu. Ia sangat percaya kepada mereka bertiga. Bahkan ia menyuruh semua anak buahnya untuk meninggalkan mereka.
“Bukan hanya kalian, banyak orang dari berbagai daerah yang datang ke tempat ini untuk mencari tahu tentang Kraken. Wajar saja karena tempat ini merupakan tempat organisasi itu lahir.”
Baru saja mereka disuguhkan informasi pembuka, skuad G:0 sudah tercengang. Mereka tak menyangka Kraken berasal dari kota seindah Feliopolis.
“Pendiri dan pimpinan Kraken adalah keturunan Feliopolis. Aku mengenalnya saat masih kecil. Dia adalah orang yang paling berkarisma yang pernah kukenal. Sayangnya, ia sangat ambisius dan berada di jalan yang salah. Apalagi Feliopolis memberikan semua hal yang ia butuhkan untuk memulai sebuah organisasi kejahatan.”
Skuad G:0 menyimak dengan serius seakan wajah mereka bertanya tentang apa yang dimaksud dengan ‘semua hal’ itu.
“Sumber pemasukan terbaik adalah alam dan turis. Kraken mendapatkan keduanya dari kota ini. Alam takkan memberontak dan takkan meminta pamrih ketika dikeruk. Bukan hanya tambang timah, di Feliopolis juga ada tambang minyak lepas pantai yang dimiliki secara pribadi oleh pemimpin Kraken. Mereka juga mengeruk hasil laut dengan semena-mena. Sementara turis adalah orang-orang yang rela menyerahkan harta benda mereka demi kesenangan. Kraken hanya perlu menyediakan kesenangan bagi mereka. Narkoba, prostitusi, judi, semua dilegalkan di tempat ini. Jika perlu, mereka pun membuang warga asli kota ke tempat kumuh ini agar para turis bisa menikmati kesenangan tanpa gangguan,” lanjut Dozo.
“Apakah yang mereka lakukan di kota ini juga mereka lakukan di kota lain?” tanya Clara.
“Mereka hanya menguasai daerah-daerah potensial. Tapi yang kudengar, mereka telah menguasai ibukota yang mana sama juga artinya dengan menguasai negeri ini.”
“Mereka telah menjadi kekuatan yang sangat besar.”
Dozo mengangguk tanda menyetujui ucapan Clara tersebut. “Dan kudengar, mereka sedang melakukan proyek besar untuk Dragokarta. Kota itu memiliki potensi yang sangat besar untuk bisnis mereka. Apalagi sejak kehancuran Black Samurai, ekonomi di tempat itu berkembang sangat pesat.
Skuad G:0 paham dengan maksud Dozo. Mereka juga merasakan bagaimana Kraken tiba-tiba hendak menguasai Dragokarta.
“Kalian harus berhati-hati dan menjaga kota kalian dengan benar. Kami sangat senang jika bisa membantu kalian melawan Kraken di Dragokarta. Sayangnya, pergerakan kami di sini juga semakin sempit.”
“Tunggu, kami tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Kami hanya warga biasa dan tak berniat melawan Kraken. Kami hanya ingin tahu tentang Kraken karena mereka sedang populer di sana sejak penyerangan yang mereka lakukan pada anggota dewan bernama Prabu Arjuna.”
Dozo tersenyum. Mereka tahu ada arti di balik senyum itu. “Salah satu dari kalian pasti G:0. Aku bisa merasakan aura sesama pejuang.”
Clara, Jonathan dan Grafit terkejut dengan ucapan Dozo. Pria itu memang penuh dengan kejutan. Tidak mungkin ia sudah melihat isi koper itu. Pasti seperti katanya, itu karena ia merasakan aura sesama pejuang dan musuh mereka sama. Hanya saja, mereka harus mencoba untuk menyangkalnya.
Namun, sebelum berhasil menyangkalnya, sebuah ledakan terjadi. Dozo dan skuad G:0 terkejut. Mereka segera ke bawah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Ledakan itu menghancurkan salah satu sisi gedung. Kemudian beberapa orang masuk. Yang mengejutkan skuad G:0 adalah mereka menggunakan kostum yang mirip dengan Dancing Shadow kenakan dulu.
“Wah, wah, kudengar tikus-tikus pemberontak berkumpul di sini,” kata salah satu di antara mereka yang membawa sebuah pedang yang terlihat sangat tajam. Mereka membayangkan betapa mengerikannya Dancing Shadow yang sangat cepat itu jika menggunakan senjata.
“Apa yang kalian mau? Kami sudah lama tidak melakukan perlawanan pada Kraken,” ujar Dozo. Para Feliofighters sudah berdiri di belakangnya dan bersiap untuk menangkal serangan.
“Tapi sangat menyebalkan jika melihat kalian berkumpul seperti sekarang ini.”
Clara berbisik pada Jonathan dan Grafit untuk segera kabur ketika melihat kesempatan.
“Kita akan terlihat pengecut jika melarikan diri sekarang. Para Feliofighters sudah baik pada kita,” tentang Jonathan.
“Bodoh, lebih berbahaya jika mereka menemukan kostum G:0 di koper ini atau mereka sadar Grafit adalah G:0 karena menggunakan kekuatannya tanpa kostum.”
Akhirnya Jonathan setuju. Mereka sepakat untuk lari saat serangan pertama dilakukan oleh para Dancing Shadow.
Sayangnya, yang pertama mereka serang adalah Jonathan.