
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Jonathan membereskan seluruh peralatan, sementara Clara membuka jendela apartemennya. Tak lama kemudian, G:0 alias Grafit masuk melalui jendela.
"Aku pulang dulu," kata Jonathan setelah memakai jaket dan menggendong tasnya. Clara mengangguk dan Grafit mengangkat jempol.
Jonathan keluar apartemen secara diam-diam. Meski sebagian besar penghuni apartemen ini cuek satu sama lain, ia tetap tidak ingin ada yang melihatnya keluar dari apartemen seorang perempuan sepagi ini.
Akhirnya ia mencapai tempat parkir. Ia langsung menaiki kendaraan favoritnya, sebuah motor trail hijau dari merk terkenal. Clara memberikan si kuda besi itu padanya beberapa bulan yang lalu, sebagai bentuk terima kasih atas semua bantuannya pada G:0. Meski tak mengharapkan upah apa pun, ia tidak mungkin menolak motor impiannya.
Kemudian Jonathan mengemudikan motornya menuju rumah. Matanya mulai mengantuk, tapi ia masih sanggup untuk meneruskan perjalanan. Langit yang masih gelap dan udara dingin ditembusnya.
Beberapa motor dengan bunyi knalpot yang menyakitkan telinga muncul dari belakang. Firasat Jonathan mulai tidak enak. Ia semakin melajukan motornya. Tapi gerombolan motor itu juga melakukannya.
Hingga mereka sampai di tempat yang sepi. Dua motor mendahului motor Jonathan dan memepetnya. Jonathan masih ngotot bertahan dan tidak mau berhenti. Pada akhirnya ia menyerah saat salah satu di antara mereka mengacungkan sebilah samurai.
"Turun!"
Dua orang menarik tubuhnya. Jonathan berusaha berpegang pada motornya. Namun seorang di antara mereka memukulnya hingga ia terjatuh lalu menaiki motor trail itu. Jonathan hanya bisa melihat orang-orang itu membawa motor kesayangannya. Tanpa bisa ditahan lagi, di tengah kegelapan, kedinginan, kesakitan dan kesedihan yang amat dalam, Jonathan menangis.
"Awas kalian, akan kuadukan kalian pada G:0. Aku akan menyuruhnya menangkap kalian. Aku kenal dia. Dia itu temanku."
* * *
Jonathan merintih kesakitan saat Grafit mengobati bibirnya yang terluka. Sementara Clara serius membaca artikel di laptopnya.
"Tidak bisakah Clara yang mengobatiku?" tanya Jonathan dengan wajah memelas.
"Dia tidak mau melihat wajah mesummu terlalu dekat. Jijik, katanya," jawab Grafit tanpa memikirkan perasaan Jonathan.
"Kau sudah lapor polisi?" tanya Clara tanpa melepaa pandangannya dari layar laptop.
"Hhah, untuk apa? Setelah kejadian dulu, saat ponselku dijambret. Padahal kejadiannya dekat dengan polsek. Aku memintanya untuk melacak ponselku melalui alamat email. Tapi dia bilang hanya Mabes yang bisa melacak ponsel seseorang. Aku juga menyebutkan nomor polisi motor penjambretnya, tapi dia bilang tidak bisa memprosesnya sebelum aku membuat laporan dan menyuruhku menjemput kotak ponselnya dari rumah. Sebelum aku pergi, ia juga berpesan untuk tidak banyak berharap ponselku bisa kembali. Coba pikir, bagaimana aku bisa percaya dengan polisi?"
Grafit menatapnya dengan penuh belas kasihan. "Sepertinya kau memang sasaran empuk untuk para penjahat."
Jonatan membuang muka dari Grafit karena kesal. Kata-kata prihatin itu terdengar seperti hinaan.
"Sepertinya para begal itu sudah mengenal G:0. Belakangan ini mereka beraksi di atas jam lima pagi, atau ketika jam kerja G:0 berakhir. Lihat, bahkan polisi kewalahan menangani mereka. Sudah banyak yang ditangkap, tapi pembegalan malah makin merajalela," info Clara sambil menyodorkan laptopnya.
"Aku tak mau tahu. Pokoknya kita harus menangkap orang-orang yang telah membegalku tadi. Aku ingin motorku kembali."
"Tidak semudah itu. Mereka melakukan aksinya dengan sangat rapi. Jika besok kita menangkap gerombolan begal di tempat tadi, belum tentu mereka adalah gerombolan yang sama. Mereka akan mengaku itu adalah aksi pertama mereka. Demikianlah yang mereka lakukan selama ini sehingga membuat polisi kewalahan. Mungkin orangnya tertangkap, tapi barang rampokan mereka akan aman."
"Jadi harus bagaimana?"
Clara mengelus dagunya meski tak ada tumbuh janggut di sana. Kemudian ia mendapat sebuah ide. "Kita ikuti saja mereka sampai ke markas. Melihat bagaimana teraturnya kelompok itu, tidak mungkin mereka tidak memiliki pemimpin. Kita hanya perlu menemukannya."
"Ya, kita harus menangkap pemimpinnya. Mulai besok, kita akan perpanjang jam kerja G:0!" kata Jonathan yang dilanjutkan dengan pukulan dari Clara ke kepalanya.
"Bodoh! Aku punya pekerjaan. Kau pikir aku pengangguran juga sepertimu?"
Jonathan menunduk ketakutan. Sementara Grafit hanya mendengar tanpa berusaha memahami pembicaraan mereka. Ia hanya menunggu tugas seperti apa yang harus ia lakukan.
* * *
Salah satu pembegal Jonathan membawa motor trail korban barunya ke sebuah bengkel. Ia menghampiri seseorang berjaket kulit yang sedang memperbaiki mobil. Hari masih pagi tapi wajahnya sudah penuh dengan oli.
"Ini, Bos. Hasil tangkapan pagi ini," kata si pembegal.
Si jaket kulit tersenyum melihat bawaan anak buahnya itu. Ia segera memeriksa motor trail berwarna hijau itu dan mengangguk-angguk tanda kagum.
"Bagus, tangkapan yang bagus. Sejak dulu aku menyukai motor ini," katanya sambil menepuk pundak anak buahnya. "Sekarang letak di tempat biasa. Biarkan polisi mengambilnya."
Maksudnya tentu saja bukan menyerahkan begitu saja pada polisi. Justru ia ingin memiliki motor itu seutuhnya.
Setiap ada laporan kehilangan kendaraan bermotor, data nomor mesin dan platnya akan masuk ke database seluruh kantor polisi. Jadi, kemanapun motor hasil curian dibawa, polisi akan tahu kalau itu adalah motor curian.
Kemudian oknum polisi tersebut akan membuat plat dan STNK yang baru untuk kendaraan itu. Maka motor akan punya pemilik yang baru.
"Ingat, jangan di wilayah polsek pimpinan kapten selebritis itu. Sejak dia datang, kita kesulitan 'bermain' dengan polisi di sana," tambah si bos begal.
Anak buahnya itu mengangguk dan pergi dengan motor itu. Sementara itu, si bos begal melihat jam lalu menutup kap mobil yang sedari tadi ia utak-atik itu. Ia juga merapikan alat-alat montirnya.
"Selamat pagi, Rosal…" Seorang wanita hendak menyapanya, namun berhenti di tengah jalan karena melihat wajah kesal bos begal itu.
"Russell. Panggilanku adalah Russell. Harus berapa kali kukatakan padamu?" katanya kesal, membuat wanita itu hanya tertunduk karena merasa bersalah.
Kemudian si bos begal mencuci tangan dan wajahnya serta mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian lain, yang tak jauh beda lusuhnya.
"Mau ke mana?" tanya wanita itu.
"Beli roti. Ada yang mau dititip?"
"Kenapa tidak mandi? Badanmu bau oli. Kau akan membuat orang di sekitarmu tak nyaman."
"Aku tak peduli. Itu masalah mereka."
Si bos begal pergi dengan berjalan kaki. Toko roti tujuannya tidak jauh dari bengkel itu. Ia memang wajib sarapan roti itu tiga kali sehari, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat.
Langkahnya berhenti sejenak saat melihat antrian panjang di depan toko. Ia berpikir akan kehabisan roti kesukaannya. Cukup membuatnya kesal, tapi ia berpikir itu sepadan karena penyebab keterlambatannya adalah motor trail impiannya.
Ia berdiri di belakang antrian dengan tangan diselipkan di sakunya. Matanya melihat ke arah rak tempat roti kesukaannya biasa dipajang. Ia sadar beberapa orang di sekelilingnya sedang memandangnya dengan jijik dan ada juga yang saling berbisik untuk membicarakan tubuhnya yang beraroma oli. Tapi ia cuek saja.
Namun ia gagal cuek ketika menyadari ada yang mengendusnya di belakang. Saat berpaling, ia terkejut karena melihat wajah seorang pria sangat dekat. Saking dekatnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Hal itu membuat si bos begal berteriak.
"Maaf, aku hanya menyukai aroma tubuhmu," kata pria itu sambil tersenyum. Bos begal merasa risih karena kata-kata itu terdengar mesum.
"Ini bau oli. Apakah kau tidak tahu?"
"Tidak. Bahkan aku tidak tahu apa itu oli." Pria itu tertawa cengegesan sambil menggaruk kepala. "Tapi aku lebih menyukai aroma roti di toko ini. Bukan hanya aromanya, tetapi rotinya juga lembut. Rasanya manis seakan ikut menggigit lidah."
"Apakah maksudmu roti manis pandan soft roll?" tanya bos begal karena pria itu sangat menggambarkan perasaannya pada jenis roti kesukaannya itu. Namun pria tersebut menggeleng kepala. Ia menyebutkan jenis roti yang lain, tapi tetap saja ia menerima jawaban berupa gelengan kepala. Dan akhirnya ia menyerah. "Jadi apa?"
"Orang-orang menyebutnya roti tawar."
Si bos begal memelototkan matanya. Benar-benar jawaban yang tidak ia duga. Kemudian ia mulai tertawa karena menganggapnya lucu. Pria itu juga tertawa meski terlihat bingung karena tidak tahu apa alasannya tertawa.
Saat itu si bos begal baru sadar jika pria di hadapannya itu cukup tampan. Apalagi ketika ia menunjukkan kepolosannya.
"Sepertinya kau mengincar roti itu. Dari tadi kau melihat ke arah sana terus," ujar pria itu sambil menunjuk ke arah roti kesukaan si bos begal.
"Ya, benar. Semoga saja tidak kehabisan."
"Kenapa? Bukankah roti itu ada setiap hari? Kau bisa membelinya besok. Untuk hari ini, kau bisa membeli yang lain."
"Tidak bisa," gumam si bos begal. "Aku membelinya bukan hanya sebagai makanan, tapi sebagai peringatan. Dulu mendiang ibuku selalu membeli roti itu saat aku masih TK, setiap jadwalku sekolah pagi, yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat. Aku -"
Ucapannya terhenti ketika ia sadar pria itu tidak sedang mendengarnya, tapi malah berbicara menggunakan bahasa isyarat dengan salah satu pegawai toko. Ia menyesal karena menceritakan sesuatu yang sentimentil pada orang yang tak dikenalnya.
"Kenapa berhenti bercerita?" tanya pria itu, membuat si bos begal terkejut. "Aku sedang kasih kode pada Parto, yang rambut panjang itu, untuk memisahkan sepotong roti kesukaanmu. Jadi kau tak perlu takut kehabisan."
Si bos begal terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka. Saat ini ia melihat ketampanan pria itu bertambah puluhan kali lipat. Ia ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Jika memungkinkan, ia ingin menjalin hubungan dengannya.
"O ya, siapa namamu?"
"Namaku Grafit," kata pria itu sambil menyodorkan tangannya. Si bos begal menyambut tangan pria itu sambil tangannya yang lain menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.
"Namaku Rosalia. Kau bisa memanggilku Rosa."