G:0

G:0
OPERASI PENEROBOSAN PENJARA



G:0 mendengar setiap instruksi yang diberikan oleh Clara dan Jonathan melalui alat komunikasi sambil merapikan topengnya yang sedikit miring. Sebagai orang yang biasa terbang dengan kekuatannya sendiri, ia merasa sedikit aneh selama menaiki pesawat jenis Cessna 182 yang merupakan properti salah satu perusahaan milik mama Clara.


Ia melihat ke arah Bad Girl yang terlihat gugup. Meski kostumnya dilengkapi oleh parasut yang mirip tupai terbang dan sudah beberapa kali diuji bersama Jonathan, ia masih belum percaya diri. Kemudian G:0 memegang tangannya seakan ingin mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.


Mereka akan menerobos penjara Heriotza dan menyelamatkan Kapten Rian. Sesuai kesepakatan, hari penyelamatan itu bertepatan dengan hari diadakannya Kongres Kraken. Menurut mereka, selain karena pengamanan penjara akan longgar akibat fokus Kraken akan tertuju pada kongres, kehadiran anak Hafgufa yang mereka pikir sedang mereka tahan di tengah misi akan memberi efek kejut bagi Kraken.


Bukan hanya Jonathan, sebenarnya Clara juga kecewa dengan pemilihan waktu tersebut. Bukan karena mereka tidak dilibatkan ke dalam Misi Perseus. Tapi ia sudah mendengar tentang Kongres Kraken sejak lama dan merasa itu adalah momen penting yang harus mereka datangi. Sebagai musuh Kraken, mereka telah jauh hari memikirkan cara untuk ‘menggoncang’ Kraken di momen penting itu. Namun ia tetap menghargai Persekutuan Sembrani. Misi Perseus telah dirancang sejak jauh hari dan skuad G:0 tidak ingin dicap sebagai pengacau rencana mereka lagi.


“Kita sudah hampir mencapai titik koordinat tujuan. Silakan bersiap-siap,” kata sang pilot.


“Grafit, apakah kita akan berhasil mendarat? Ini sangat tinggi dan aku belum punya pengalaman di ketinggian seperti ini,” kata Bad Girl semakin mempererat genggaman tangan mereka.


“Tenang saja, ada aku yang sudah sangat berpengalaman di langit.”


“Tapi aku punya firasat buruk. Aku -”


“Sekitar seribu meter lagi,” potong sang pilot membuat Bad Girl semakin cemas.


“Aku tidak bisa melakukan ini, Grafit. Aku ingin pulang saja.”


“Baiklah, aku akan memberikanmu tips agar kau lebih berani. Sekarang, pejamkan matamu.” Bad Girl menurut. Ia memejamkan matanya. Tanpa ia sangka, G:0 mendorongnya keluar lalu menyusul. “Ingat peraturan kita, kalau kita sudah menggunakan kostum, kita tidak boleh memanggil nama asli.”


“AKU TAK PEDULI! SEKARANG TURUNKAN AKU!”


G:0 tersenyum. Ia segera mengatur gravitasi mereka agar tidak melesat terlalu kencang. Kemudian mereka berhasil menembus awan dan pulau itu terlihat. Sebuah pulau yang besarnya hanya sekitar empat kali besar lapangan sepakbola. Pulau itu dikelilingi oleh tembok tinggi bak sebuah benteng. Di dalamnya ada beberapa penjaga bersenjata yang berkeliling mengawasi lokasi.


“Kami akan segera mendarat,” kata G:0. “Apakah posisinya sudah tepat?”


Jonathan memeriksa sinyal keberadaan G:0 dan Bad Girl lalu mencocokkannya dengan blue print penjara yang sudah dibuatnya dalam bentuk digital.


[Oke, sudah tepat. Sekarang waktunya masuk sarang.]


“Bad Girl, apakah kau siap?” tanya G:0 yang harus berbicara melalui alat komunikasi.


“Baik, baik, aku sudah siap,” jawab Bad Girl yang memang sudah terlihat lebih tenang. “Sekarang lepaskan aku.”


G:0 melepaskan pelukannya dan mengembalikan gravitasi Bad Girl ke normal. Wanita itupun melesat ke bawah dengan cepat sambil mengaktifkan mode jumper di sepatunya. Beberapa penjaga mulai sadar ada benda mencurigakan yang jatuh dari langit. Merekapun bersiap menyambut dengan mengarahkan senjata mereka.


Bad Girl mendarat sebentar lalu kembali terbang. Ia berhasil menghindar dari berondongan tembakan para penjaga. Bahkan sebelum terbang terlalu tinggi, ia sempat melumpuhkan beberapa di antara mereka dengan pistol pelumpuh miliknya.


Sementara itu G:0 terbang sedikit lebih tinggi. Lalu ia menaikkan gravitasinya secara drastis sambil memutar tubuhnya hingga menjadi seperti sebuah rudal yang menghantam tanah hingga tembus ke bawah, beberapa saat setelah Bad Girl kembali terbang. Seperti yang digambarkan pada desain penjara pemberian Kapten Rian, penjara itu berada di bawah tanah.


Para penjaga yang terpelanting karena pendaratan G:0 itu tak sempat menyerang Bad Girl yang sudah turun dan masuk menyusul rekannya. G:0 mengendalikan gravitasi tubuhnya sesaat sebelum mendarat sehingga ia tidak mengalami luka sedikit pun.


Jonathan meneriakkan istilah yang dipopulerkan oleh tokoh Deadpool dengan nada swag setelah mengetahui sahabat-sahabatnya berhasil menjalankan rencana mereka.


“Oke, sekarang tuntun kami,” ujar Bad Girl yang kepercayaan dirinya sudah kembali.


[Sekarang kalian menuju ke utara.]


Bad Girl melihat kompas kecil di dekat jam tangannya lalu menunjukkan arah utara pada G:0. Mereka berlari ke arah tersebut. Beberapa penjaga menghadang mereka dengan senjata mereka. Untungnya, mereka bukan ancaman yang berarti bagi G:0 dan Bad Girl. Tanpa perlu waktu lama bagi mereka untuk melumpuhkan para penjaga itu.


“Ada tiga pintu. Yang mana pintu yang benar?”


[Pintu di sebelah kiri kalian. Nanti kalian akan menemukan sebuah tangga, kalian turuni saja tangga itu sampai melewati dua lantai.]


“Wah, mereka benar-benar serius menggunakan istilah penjara bawah tanah,” celetuk Bad Girl.


Mereka pun segera menuruti instruksi dari Jonathan. Gedung itu telah dipenuhi oleh suara alarm yang cukup mengganggu. Tapi G:0 dan Bad Girl tidak menghiraukannya. Waktu mereka hanya sepuluh menit sebelum pesawat yang tadi mereka tumpangi benar-benar kembali ke kota.


Ketika sudah sampai di lantai tempat penjara itu berada, langkah mereka terhenti. G:0 dan Bad Girl hanya bisa mematung. Di pikiran mereka tersusun skenario-skenario buruk.


[Ada apa? Kenapa kalian diam?]


Clara memanggil mereka karena ingin tahu apa yang terjadi. Kamera di kacamata G:0 tak bisa menangkap penampakan yang ada di hadapannya. Clara dan Jonathan ikut mematung ketika Bad Girl menyebutkan sebuah nama.


“Padoha.”


Ya, monster robot berbentuk naga yang pernah menculik dan nyaris membunuh mereka. Namun robot itu telah berhasil dikalahkan oleh G:0.


“Ini berbeda dengan yang dulu. Sepertinya Patricia membuat beberapa Padoha,” kata G:0 dengan nada berat, seakan mengandung kemarahan karena harus menghadapi lawan yang merepotkan itu lagi.


“Halo, G:0. Kudengar kau telah mengalahkan kembaranku. Aku salut. Tapi sebaiknya jangan merasa sudah cukup hebat. Di antara kami, dia memang yang paling lemah. Dan perlu kalian ingat, tubuhku tidak memiliki port sehingga kalian takkan bisa memasukkan virus apa pun untuk mengalahkanku..”


Tiba-tiba Padoha itu membuka mulutnya dan menembakkan semacam rudal. Untung saja G:0 dan Bad Girl berhasil menghindar. Namun rudal itu menghantam dinding di belakang lalu meledak sehingga hampir membuat mereka terpental.


Belum lagi mereka mengatur keseimbangan mereka kembali, Padoha segera melesat menyerang. Bad Girl mengambil dua tongkat kecil dari sabuknya. Satu tongkat bertransformasi menjadi senjata pengait, seperti yang pernah dilihat oleh G:0, sedangkan yang satunya berubah menjadi semacam perisai.


Melihat Bad Girl telah sangat siap melawan, G:0 merasa sedikit tenang. Ia pun segera menyambut Padoha dengan mengincar kepalanya. Namun Padoha langsung menjauhkan kepalanya dari serangan G:0 dan mengacungkan cakar sebagai gantinya. 


Bad Girl menyabet lengan cakar itu sebelum berhasil melukai G:0. Berkat bantuan itu, akhirnya G:0 berhasil menyerang kepala Padoha. Robot naga itupun terpelanting ke belakang. 


G:0 dan Bad Girl tidak mau merayakannya terlalu dini. Mereka tahu kalau perbuatan mereka itu hanya akan mengeluarkan kekuatan Padoha yang lebih besar lagi. Tebakan mereka benar. Tiba-tiba tubuh Padoha bergetar. Sisik-sisik di tubuhnya mulai berterbangan tanpa arah. G:0 dan Bad Girl terlalu sibuk menghindar dari benda-benda itu, namun mereka sempat melihat bagaimana bagian-bagian tubuh Padoha terlepas dan kembali terpasang dengan posisi yang berbeda, menciptakan bentuk yang lebih mengerikan. Padoha tidak lagi berbentuk naga. Tubuhnya menjadi seperti manusia. Sisik-sisiknya itu kembali bersatu dan membentuk semacam pedang. Ia terlihat jauh lebih gagah.


“Non, tolong sampaikan pada pak pilot, sepertinya kami tak bisa kembali tepat waktu.”