
Clara, Jonathan, Grafit dan Rosalia hanya berdiri mematung di depan sebuah bus tua. Mereka sudah berulang kali mengecek peta yang diberikan oleh Dozo dan benar ini adalah lokasi yang dimaksud. Clara hampir saja mengajak mereka untuk kembali ke Dragokarta karena sejak tadi Dozo tidak bisa dihubungi, jika pintu bus tidak terbuka.
“Skuad pengendali gravitasi! Selamat datang.”
Clara, Jonathan dan Grafit ingat suara berat nan ramah itu. Ia merentangkan tangannya seakan memberi isyarat agar ketiga orang itu memeluk tubuh besarnya. Dan ia mendapatkan pelukan itu. Wajahnya mendadak berubah ketika menyadari kehadiran seseorang yang belum pernah ia lihat.
“Tenang saja. Dia adalah teman kami yang bisa dipercaya. Namanya Rosalia. Dia juga membantu G:0 sebagai pahlawan. Meski tidak memiliki kekuatan super, dia ahli dalam beladiri dan dalam menggunakan berbagai senjata,” kata Clara.
“Ahli senjata? Kalau begitu, coba buktikan.” Dozo melemparkan segumpal benda yang dengan sigap ditangkap oleh Rosalia.
Rosalia membuka gumpalan itu dan mengetahui ternyata selembar tisu. Ia pun tersenyum lalu mengambil beberapa benda seperti paku-paku kecil dari sabuknya lalu meletakkannya ke atas tisu itu dan meremasnya sehingga kembali menjadi gumpalan. Kemudian ia mengeluarkan pemantik dari sakunya dan menyalakannya lalu diikatkan ke gumpalan tisu itu dan melemparkannya ke sebuah tiang kayu tak jauh dari tempat mereka berada.
Gumpalan tisu itu meledak setelah menabrak tiang. Bukan hanya itu, kini tiang tersebut dipenuhi oleh paku-paku kecil. Clara, Jonathan dan Grafit tercengang melihatnya, sementara itu Dozo hanya tersenyum lebar.
“Menarik, tapi akan lebih hebat jika kau hanya menggunakan tisu itu sebagai senjata tanpa tambahan alat lain, termasuk serbuk aneh yang diam-diam kau oleskan ke atas tisu itu. Setidaknya kau cukup hebat karena bisa melemparkan pemantik yang menyala tanpa memadamkan apinya.”
Dozo mempersilakan mereka untuk masuk bus. Di dalam bus itu mereka jumpai pintu lainnya yang terdapat di lantai bus. Pintu itu adalah akses untuk bisa masuk ke ruang rahasia yang biasa digunakan untuk pertemuan rahasia para anggota Persekutuan Sembrani.
Skuad G:0 terkejut ketika melihat beberapa orang dengan aura yang kuat sudah menunggu mereka sambil duduk mengelilingi sebuah meja besar. Tubuh mereka gemetar karena takut, kecuali Grafit yang masih bisa santai duduk di antara mereka.
“Jadi kalian bocah-bocah dari Dragokarta, yang sering dibicarakan oleh Kapten Rian,” kata seorang pria lusuh dengan alat bantu dengar di kedua telinganya. Namanya adalah Explo, ahli bom dari kota Zhadakar.
“Ya, bocah-bocah pengganggu, demikian Kapten Rian menyebut mereka,” sambung seorang wanita yang berpenampilan seperti penyihir. Dia adalah Mago, pemimpin para pahlawan super yang mengandalkan kekuatan sihir dari kota Endor.
“Mago? Bukankah itu judul lagu GFriend?” bisik Grafit ketika pertama kali mendengar namanya.
“Kami bukan bocah-bocah pengganggu. Umur kami terlalu tua untuk dikatakan bocah dan kami tidak pernah mengganggu siapa pun. Yang kami lakukan selama ini adalah untuk kebaikan warga Dragokarta. Seandainya setiap tindakan kami sering mengganggu rencana persekutuan ini, kami tetap tidak salah. Harusnya kalian terlebih dahulu memberitahukan kami setiap rencana kalian agar kami tidak mengganggunya,.” kata Clara berusaha membela diri. Tapi para anggota persekutuan itu tidak terima.
“Aku tidak berpikir kalian layak untuk menjadi pahlawan kota, apalagi untuk melawan Kraken. Untuk itu, jika kondisi sudah normal, sebaiknya kalian berhenti menjadi pahlawan dan jalani hidup kalian yang membosankan itu. Yang kami lakukan adalah perang dan kalian tak layak untuk melakukannya.” Ahool, perwakilan dari kota Bastapolis, memberikan pendapatnya dengan menggunakan kata-kata yang cukup tajam.
“Kenapa tidak layak? Kami telah menumpas kejahatan lebih banyak daripada yang telah dilakukan polisi di sana, terutama yang dilakukan oleh Kapten Rian. Bahkan sebelum Kapten Rian menginjakkan kakinya di Dragokarta, kami telah mengalahkan organisasi kejahatan terbesar di kota itu tanpa bantuan polisi. Bahkan lebih parah, yaitu dengan kepolisian berada di pihak lawan kami.”
Para anggota Persekutuan Sembrani terkejut melihat seorang anak muda yang baru mereka kenal dengan berani membentak mereka. Kejadian beberapa tahun yang lalu kembali melintas di benak mereka, ketika seorang muda yang baru saja lulus dari akademi kepolisian dengan berani mengumpulkan mereka dan mendirikan persekutuan yang ternyata selama ini sangat membantu mereka dalam membangun kekuatan untuk mengalahkan Kraken.
“Apakah kalian tahu kalau pahlawan yang memiliki kekuatan super di negeri ini banyak?” tanya Malie, pahlawan dari kota Kahe-Wai, sambil menunjukkan lehernya yang terbuka dan tertutup seperti insang ikan.
“Te, tentu saja,” jawab Jonathan gugup.
Kemudian seorang wanita dengan jubah seperti joker di kartu remi mendekati mereka. Kacamatanya yang berbentuk spiral hitam-putih seakan menghipnotis orang-orang yang melihatnya. Jonathan saja sampai pusing ketika wanita itu mendekatkan wajahnya.
“Kalau kalian hebat, kenapa bisa Kapten Rian diculik di depan kalian?”
Skuad G:0 sempat mematung sesaat, sebelum Rosalia angkat bicara. “Biasanya pemimpin menggambarkan bagaimana anggotanya. Kenapa Kapten Rian diculik? Itu karena kebodohannya sendiri. Ia mengungkapkan identitasnya sendiri sebagai pemimpin Persekutuan Sembrani di depan Siren, anggota Kraken. Ia juga terlalu lemah sehingga dengan mudah dihipnotis oleh Siren. Lagipula kami tidak tahu apa-apa tentang Persekutuan Sembrani dan kami tidak terlibat di dalamnya. Jadi, untuk apa kami harus menyelamatkannya, apalagi setelah ia bersikap menyebalkan?”
“Kami berjanji akan menyelamatkan Kapten Rian dari Kraken dan membawanya kembali pada Persekutuan Sembrono ini,” janji Grafit, yang membuat forum kembali heboh. Setelah Jonathan membisikkan sesuatu, Grafit meralat sedikit perkataannya. “Maksudku, Persekutuan Sembrani.”
“Kalian tahu apa yang kalian katakan? Tidak pernah ada yang selamat jika sudah ditangkap oleh Kraken, apalagi jika ia sudah dijebloskan ke dalam penjara Heriotza. Mustahil kalian bisa menyelamatkannya,” kata Cavaleiro, pemimpin Ksatria Cavalo dari kota Oktopolitan.
Skuad G:0 saling pandang. Mereka tidak menyangka janji yang mereka ucapkan itu tidak mudah untuk dipenuhi. Namun Grafit sangat percaya diri. Ia kembali menatap ke para pejuang sambil berkata, “Karena terlihat mustahil, makanya kami menawarkan diri untuk melakukannya.”
Para pejuang itu kembali berdiskusi di antara mereka. Ada sedikit perdebatan. Sebagian besar meragukan kemampuan skuad G:0, tapi ada beberapa yang mengatakan tidak ada salahnya mencoba. Mereka takkan rugi jika seandainya rencana itu gagal.
“Baiklah, kami menerima tawaran kalian.”
“Tapi ada syaratnya,” kata Clara. “Kami harus tahu lebih banyak tentang Kapten Rian. Melihat sampai sejauh ini kalian belum memberikan perlawanan yang cukup berarti bagi Kraken secara keseluruhan, pasti ada yang membuat Kraken setertarik itu pada Kapten Rian lebih dari sekadar statusnya sebagai pemimpin Persekutuan Sembrani.”
Kali ini Dozo yang berdiri dan bersiap untuk berbicara pada skuad G:0.
“Benar katamu, dia lebih berharga dari yang kita kira. Dia adalah anak dari Hafgufa, mantan pemimpin Kraken yang dikenal kejam dan berbahaya. Di tangannya, Kraken menjelma menjadi organisasi kejahatan terbesar di seluruh penjuru negeri seperti sekarang ini.”
Skuad G:0 terkejut mengetahui fakta Kapten Rian memiliki ikatan yang cukup erat dengan Kraken.
“Jika demikian, kenapa kalian menjadikannya sebagai pemimpin kalian? Bukankah ia berpotensi besar untuk mengkhianati kalian dan memihak Kraken?”
“Justru di antara kita, dialah yang memiliki motif paling besar untuk menghancurkan Kraken. Hafgufa tewas setelah dikhianati oleh para bawahannya dan organisasi itu. Salah satunya adalah Draugr, pimpinan Kraken sekarang,” kata Cavaleiro
“Lagipula, meski ia terlemah di antara kami, ia yang paling mengenal Kraken. Andilnya sangat besar untuk proyek Perseus.”
“Misi Perseus?” Skuad G:0 tertarik dengan terminologi baru yang diucapkan oleh Malie, manusia air dari Kahe-Wai. Ketika kata-kata itu diucapkan, ekspresi para pejuang tersenyum, seakan itu adalah mantra kebahagiaan mereka.
“Kalian tahu salah satu kisah mitologi Yunani tentang Perseus? Dia adalah seorang pahlawan yang memenggal kepala Medusa, monster berambut ular yang bisa mengubah siapa saja yang melihatnya,” terang Ahool.
“Kami tahu kemampuan kami tidak cukup untuk melawan Kraken, tapi Kapten Rian berkata kalau kita hanya perlu memotong ‘kepala’nya. Dengan kata lain, ini adalah misi untuk membunuh Draugr,” tambah Fantome.
“Jika kepala hancur, maka tubuh akan tercerai-berai. Dalam situasi itu, kita akan mengalahkan mereka semua,” timpal Agrio.
“Sepertinya ada sedikit cacat di rencana kalian. Bagaimana jika seandainya kalian telah membunuh Draugr, mereka langsung memilih penggantinya?” tanya Clara.
“Tidak, itu tidak akan terjadi. Seandainya kita membunuh Draugr ketika semua anggota Kraken berkumpul di satu tempat,” jawab Dozo.
“Tunggu, maksud kalian, Kongres Kraken?” tebak Jonathan yang dijawab dengan anggukan. “Sepertinya seru. Tolong ajak kami untuk terlibat di Misi Perseus.”
“Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Selain karena kalian bukan anggota Persaudaraan Sembrani, kalian punya utang yang harus kalian bayar.”
Skuad G:0 saling pandang karena tidak mengerti utang apa yang dimaksud oleh Borealis, jenderal Tentara Langit dari Aurora.