G:0

G:0
MENGALIHKAN PERHATIAN



"Maaf, toiletnya di mana, ya, Mbak?" tanya Grafit pada sekretaris berpenampilan gothic itu. Sang sekretaris yang masih sibuk dengan pembukuannya hanya menunjuk tanpa melihat dan bersuara. "Di dekat pintu keluar?"


"Bukan, tapi -"


Sang sekretaris tiba-tiba mematung ketika melihat Grafit yang sudah membuka tiga kancing paling atas kemejanya sehingga terlihat dadanya yang bidang. 


"Eh, bisa tolong antar saya? Saya agak susah mengingat arah."


Wanita itu segera mengangguk dan keluar dari kursinya untuk mengantar Grafit.  Tanpa menunggu lama, Clara langsung mengambil buku yang sedari tadi berada di bawah kekuasaan wanita itu dan mengambil foto untuk beberapa halaman. 


Jonathan yang hanya melihat apa yang sedang terjadi seakan tak percaya. Ia kemudian melepas tiga kancing kemejanya juga. Saat wanita itu kembali, Clara sudah duduk, tapi giliran Jonathan yang mendatangi mejanya. 


"Jadi, toiletnya ada di mana, ya?"


Sang sekretaris mengangkat kepalanya untuk melihat Jonathan, menunjukkan ekspresi jijik, kembali menunduk dan menunjuk ke arah pintu keluar. 


"Toiletnya sedang penuh. Kau bisa pakai toilet yang ada di toserba seberang."


Melihat kejadian itu, Clara berusaha menahan tawanya. Semakin sulit menahannya ketika Jonathan berbalik dan menunjukkan wajah menyedihkannya. 


*          *         *


“Oke, yang pertama adalah Hartono Pujianto, pedagang. Yang kedua adalah Dahlan Rusli, sopir taksi. Yang ketiga adalah Ferry Jamil, petugas kebersihan. Berikutnya ada Cahyo Purnomo, tukang kebun. Dan yang terakhir adalah Toni Hardianto, satpam. Pertanyaannya, kenapa mereka memilih pekerjaan yang berbeda-beda? Mengingat semua anggota Dancing Shadow justru kompak membuka restoran Jepang dan bekerja di sana.”


Clara dan Jonathan mengeluarkan semua analisis mereka. Mulai dari kemungkinan mereka bukan anggota Kraken, mereka tidak seperti Dancing Shadow yang merupakan sebuah tim dan memiliki tugas yang mirip atau mereka sedang menjalankan misi yang memang membutuhkan deskripsi semua pekerjaan tersebut.


“Baiklah, kita sudahi dulu untuk hari ini. Kami mau istirahat karena hari ini adalah jadwal pemotretan perdana Grafit. Kau bisa pulang sekarang,” kata Clara mengusir Jonathan secara halus.


“Ayolah, berikan aku juga pekerjaan itu. Aku punya bakat menjadi foto model juga,” mohon Jonathan.


“Andai kau mengerti kalau aku sedang menyelamatkanmu dari hal yang memalukan. Aku tidak ingin menyakitimu, tapi jangan suruh aku menjelaskan secara detail kenapa kau tidak boleh berpikir untuk mendapatkan pekerjaan itu.”


Meski tidak menjelaskan secara detail, kata-kata Clara sudah melukai perasaan Jonathan. Pria itu pun pergi dari apartemen Clara dengan wajah murung.


*          *         *


Clara dan Grafit berjalan menyusuri jalanan kota. Clara gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya sebagai manajer seorang model. Sementara Grafit terlihat santai karena sebenarnya ia tidak tahu seperti apa pekerjaannya. Ia hanya disuruh mengenakan beberapa pakaian dengan sedikit pose. Baginya itu bukanlah pekerjaan karena ia sering melakukannya di depan cermin setiap kali selesai mandi.


“Bagaimana dengan identitas orang-orang itu? Kalian menemukan sesuatu?” tanya Grafit. Clara senang mendapatkan pertanyaan tersebut, setidaknya ia bisa mengalihkan kegugupan dengan menjawabnya..


“Belum. Nama dan pekerjaan mereka umum, jadi sangat sulit untuk diidentifikasi keberadaannya. Pedagang, sopir taksi, petugas kebersihan, tukang taman dan mahasiswa. Kita bisa menemukan mereka di mana-mana di kota sebesar ini.”


“Benar, bahkan kita bisa menemukannya sekaligus di sana.” Grafit menunjuk ke arah taman kota. Pikiran Clara seperti terpicu sesuatu dan menanggapi ucapan asal itu dengan serius. “Kecuali satpam.”


Clara langsung menelepon Jonathan dan menyuruhnya menelusuri anggota dewan yang mendadak hilang selama beberapa minggu belakangan. Ia tidak mengatakan secara detail dan langsung menutup telepon.


“Kau ingat menteri itu pernah memerintahkan Dancing Shadow untuk membunuh seseorang yang menyulitkannya? Ada kemungkinan yang dimaksudnya adalah menyulitkan dalam hal peraturan atau undang-undang. Kemungkinan besar orang itu memiliki otoritas untuk membuat atau menentang sebuah rancangan undang-undang. Orang itu pasti anggota dewan.”


Clara mengakhiri hipotesisnya dengan senyum bangga. Sementara itu Grafit masih bingung dengan penjelasan itu. “Ada pekerjaan seperti itu?”


Benar, ini pasti pertama kalinya Grafit mendengar kata dewan. Clara pun berhenti menjelaskan dan menyuruh Grafit untuk mempersiapkan dirinya saja karena mereka sudah berada di dekat studio foto yang dikatakan Dicky.


Setelah bertemu dengan Dicky dan menitip Grafit, Clara pamit sebentar tanpa memberitahukan alasan yang jelas. Tujuannya adalah taman kota. Ia berpura-pura menyusuri tempat itu seperti beberapa masyarakat kota ini. Matanya diam-diam melihat ke sekeliling.


Dan ternyata tebakannya benar Ia mendeteksi Hartono yang berjualan balon hidrogen berbagai karakter kartun. Ada juga Ferry yang sedang menyapu jalan dan di dekatnya Cahyo sedang merawat tanaman. Ia tidak melihat Dahlan si sopir dan Toni si mahasiswa, tapi itu tidak bisa menyangkal tebakannya.


Clara duduk di salah satu bangku taman. Ia tetap mengawasi tiga orang itu dengan sikap senatural mungkin tanpa tahu sampai kapan ia harus melakukannya. Hartono, Ferry dan Cahyo melakukan tugas mereka tanpa ada sikap yang patut dicurigai. Sementara menunggu momen penting terjadi, ponsel Clara berdering. Ia melihat nama Jonathan di layar ponselnya.


[Ada laporan hilangnya salah satu anggota dewan bernama Prabu Arjuna. Dia berasal dari komisi lima yang mengurus beberapa bidang, termasuk pendidikan. Ia dilaporkan hilang sehari setelah Clara dan Jonathan melacak percakapan menteri pendidikan yang lalu.]


“Apakah kau bisa melacak rancangan undang-undang apa yang sedang dibahas komisi itu? Khususnya yang ditentang Prabu Arjuna.”


[Dia sedang menentang pemberian suara untuk rancangan undang-undang daerah tentang modernisasi sistem pendidikan nasional. Inti dari undang-undang tersebut adalah mengganti penggunaan buku fisik menjadi buku digital yang terintegrasi dengan aplikasi khusus dari pemerintah. Hal ini bertujuan demi pemerataan mutu pembelajaran di seluruh negeri.]


Di negeri ini, setiap rancangan undang-undang akan sah menjadi undang-undang jika mendapatkan suara terbanyak melalui sistem voting oleh para anggota dewan pusat sebelum diserahkan kepada presiden untuk ditandatangani. Uniknya, sebelum voting, setiap perwakilan komisi yang mengurus bidang terkait dari dewan daerah akan memberikan pendapat tentang rancangan undang-undang tersebut, terutama pengaruhnya terhadap daerah yang mereka wakili. Tak jarang pendapat yang disampaikan dengan sangat baik akan mempengaruhi suara para anggota dewan pusat.


[O ya, dia punya prestasi beberapa kali mengubah suara anggota dewan pusat saat rapat dengar pendapat pra-voting pengesahan rancangan undang-undang. Wajar saja dia menjadi ancaman yang serius bagi pihak-pihak yang diuntungkan dari rancangan undang-undang tersebut.]


Clara mengangguk-angguk karena sudah mulai mendapatkan banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya. “Kalau boleh tahu, kenapa Prabu Arjuna menentang?”


[Katanya rancangan undang-undang itu akan mengurangi peran guru sebagai pendidik dan beresiko tinggi untuk doktrinisasi pemerintah bagi para pelajar karena sumber pengetahuan yang terbatas. Misalnya saja, pemerintah ingin masyarakat percaya bahwa bumi itu datar. Maka di buku digital yang mereka sediakan untuk para pelajar akan ditulis seperti itu.]


Clara bergidik. Ia tak bisa membayangkan betapa mengerikannya jika itu terjadi. Apalagi jika benar pemerintah, khususnya kementerian pendidikan telah disusupi Kraken.


“Kita harus segera menemukan Prabu Arjuna. Mungkin saat ini ia sedang disandera di suatu tempat,” kata Clara.


[Tidak perlu. Tiga hari setelah laporan itu masuk ke kantor polisi, Prabu Arjuna kembali dan mengatakan ia hanya pergi memancing ke suatu tempat secara diam-diam karena baru bertengkar dengan istrinya. Sangat janggal karena sang istri tidak pernah membahas tentang pertengkaran itu sebelumnya.]


“Biar kutebak, setelah itu ia tak lagi menentang rancangan undang-undang tersebut.”


[Bingo. Artinya, ia telah bertemu dengan anggota Kraken. Dia bisa menjadi sumber informasi kita untuk mencapai tentakel-tentakel Kraken.]


“Ya, kita harus berbicara dengannya.” Clara kembali melihat ketiga orang itu. “Walau sepertinya sangat sulit karena kemungkinan orang-orang ini dikirim untuk mengawasi Prabu Arjuna atau anggota dewan lain yang berpotensi mengganggu rencana dari Kraken di pemerintahan. Kita harus mengalihkan perhatian mereka.”


[Ah, aku ada ide.]