G:0

G:0
SAATNYA BERLIBUR



Mata Jonathan menatap Grafit yang sedang menikmati bubur kacang hijau. Di tangannya ada mangkuk bubur kacang hijau juga, namun isinya telah habis disantapnya. Seusai jam patroli, Clara mengadakan rapat singkat sekaligus sarapan bersama dengan menu bubur kacang hijau. Tujuan utamanya memang untuk menghabiskan stok bahan kacang hijau yang dikirim ibunya minggu lalu. Rasanya sangat enak dan menyegarkan tubuh yang telah begadang sepanjang malam. Ia menambahkan jahe dan susu ke dalam masakannya itu.


Usai kenikmatan itu dirasakannya, Jonathan memikirkan hal lain. Clara sangat tidak menyukai ada peralatan makan yang kotor di rumahnya. Sementara Jonathan sangat membenci pekerjaan mencuci piring. Terlebih lagi di dapur ada panci tempat memasak bubur tadi. Jika sekarang ia ke dapur, bukan hanya mangkuk dan sendoknya, ia juga harus mencuci panci itu. Jadi ia menunggu Clara pergi ke dapur terlebih dahulu. Tapi akan lebih baik jika Grafit yang melakukannya. Ia bisa sekalian menitip mangkuknya untuk dicuci. Sayangnya, kedua orang itu masih terlihat serius dengan percakapan mereka.


"Menurutmu, jika Kraken menguasai seluruh negeri ini, kenapa mereka tertarik dengan G:0 yang hanya mengurus kota Dragokarta juga?" tanya Clara.


"Benar juga. Mungkinkah mereka mengincar sesuatu yang dimiliki oleh G:0?" Grafit berspekulasi. Clara dan Jonathan mengangguk. 


"Atau sesuatu yang dimiliki oleh Dragokarta?" Clara menambahkan. Jonathan dan Grafit mengangguk. 


"Atau sesuatu yang dimiliki oleh pria jenius bernama Jonathan?" Jonathan ikut berspekulasi. Sebenarnya ia masih berkonsentrasi dengan mangkuk kosongnya. Clara dan Grafit menatapnya dan menggeleng seakan tak habis pikir. "Kenapa? Dulu aku terkenal seantero negeri sebagai anak jenius. Bisa jadi mereka mau merekrutku tapi terhambat oleh G:0."


"Kau tidak sehebat itu, bahkan saat mendapatkan pengakuan sebagai anak jenius dulu." Clara mengakhiri perdebatan tak penting itu dengan melemparkan pertanyaan yang baru. "Apakah kita perlu mencari tahu ke kota lain yang sudah dikuasai oleh Kraken?"


"Maksudmu, seperti studi banding? Aku suka, aku suka." Jonathan menyambut ide Clara dengan sukacita. Ia sudah membayangkan jalan-jalan bersama wanita yang disukainya. 


"Baiklah, kita perlu mengagendakannya suatu hari. Lagipula, Grafit perlu mengenal daerah lain di luar Dragokarta dan kita juga perlu berlibur dari patroli rutin agar tidak jenuh, meski sebenarnya kita keluar kota untuk menjalankan tugas juga."


Jonathan kembali bersorak, sementara Grafit masih bingung karena ia belum siap untuk mengunjungi tempat lain. Ia masih ingat dulu, ketika pertama kali datang ke Dragokarta, ia harus menghadapi banyak masalah karena semua hal baru baginya. Bahkan ia masih ingat wajah-wajah tertekan yang ditunjukkan Clara karena tingkahnya tiap hari.


“Karena kau yang paling bahagia dengan rencana kita, maka kau yang mencuci mangkuk-mangkuk kami. Jangan lupa pancinya juga.” Clara menaruh mangkuknya di atas mangkuk yang sedang digenggam Jonathan. Grafit melakukan hal yang sama juga.


Jonathan berhenti bersorak. Ia tak bisa membantah Clara meski hatinya harus menahan rasa sakit yang tiada tara. Sakit yang sama dengan yang diterima oleh korban pengkhianatan.


*          *         *


“Asyik, asyik. Jalan-jalan,” kata Jonathan sepanjang perjalanan. Ia tak peduli meski Clara yang sedang mengemudi membentaknya. “Grafit, kau tahu? Di kota Feliopolis, tempat yang akan kita kunjungi, ada pantai yang sangat indah. Kau tidak pernah ke pantai, kan?”


Grafit yang duduk sendirian di baris kedua tidak siap dengan pertanyaan Jonathan yang ceria. Ia menjawab dengan sedikit ragu, “Aku hanya pernah menontonnya di televisi. Apakah tempat itu benar-benar menyenangkan?”


“Tentu saja. Itu adalah tempat terindah yang bisa kau lihat sepanjang hidupmu.”


“Lalu, kenapa kita tidak tinggal di pantai saja?”


Jonathan terdiam sejenak karena bingung harus menjawabnya. “Karena jika kita tinggal di sana, tempat itu akan berhenti menjadi tempat terindah. Percayalah, yang indah itu adalah yang jarang kita lihat. Dan yang enak itu adalah yang jarang kita makan. Seperti masakan Clara. Kau bisa hitung berapa kali ia memasak dalam setahun. Makanya, bubur kacang hijau yang ia masak kemarin sangat enak.”


Clara harus memukul kepala Jonathan agar pria itu berhenti berbicara karena sangat mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi. Grafit masih belum menunjukkan kegembiraan meski Jonathan memberikan pujian tinggi pada pantai yang kemungkinan akan mereka kunjungi.


“Kenapa?” tanya Clara.


“Tidak, Non. Aku hanya cemas karena beberapa hari nanti kita tidak patroli di Dragokarta.”


“Tenang saja, Grafit tercinta. Sejak kejadian yang menimpa Prabu Arjuna, polisi bekerja semakin ekstra. Kau juga tahu kalau beberapa hari terakhir kita tidak menangani banyak kasus,” ujar Jonathan yang langsung diiyakan oleh Clara.


Hari itu mereka bersukacita dan melepas penat yang selama ini memenjarakan. Tak ada lagi beban untuk menyelamatkan orang, tak ada lagi tanggung jawab untuk mengalahkan para musuh yang super duper aneh. Saat ini mereka melayani diri mereka sendiri, memanjakan diri di dalam pelukan pasir pantai yang putih.


Ketika sudah puas bermain di pantai, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Jonathan telah memesan hotel yang menurutnya sangat bagus melalui aplikasi travel. Ia menceritakan keunggulan-keunggulan hotel tersebut menjelang ketibaan mereka di sana.


“Pokoknya kalian takkan menyesal. Hotel ini letaknya sangat strategis dan selalu mengutamakan kenyamanan tamunya. Dengan harga yang sangat terjangkau, Diamond Star Hotel menyediakan fasilitas dan layanan, antara lain kolam renang, Restoran, Coffee Shop, Bar, spa, lapangan tenis, lapangan golf dan driving range, lintasan jogging, tenis meja, indoor bowling center, fasilitas olahraga air termasuk snorkeling, menyelam dan memancing, layanan teleks, fotokopi, faksimili, pos dan SLI, jadwal penerbangan, laporan cuaca, surat kabar internasional dan lokal, layanan shuttle bus ke bandara, salon kecantikan, layanan pengasuh bayi, taman bermain anak, bank, areal parkir mobil, layanan reservasi, dokter on call 24 jam, layanan binatu, layanan valet, klinik, manajer yang bertugas 24 jam, layanan pos, layanan foto, brankas dan pusat perbelanjaan.”


Grafit sedang berjuang mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Jonathan, namun ia gagal membayangkannya dengan benar. Sementara Clara hanya menikmati musik yang bergema di mobil itu dan hanya mencoba percaya jika hotel yang dipesan Jonathan memuaskan.


Tapi sayangnya tidak.


Mereka tiba di sebuah hotel, yang mirip dengan rumah susun di tengah pemukiman kumuh padat penduduk. Seorang pria berkumis, dengan kemeja motif bunga yang kancingnya sudah memberontak ingin membebaskan diri karena tak sanggup melingkupi perutnya yang buncit, datang menyambut mereka dengan ramah. Ia segera membawa beberapa tas ke dalam.


Sesampainya di dalam, ia meletakkan tas itu ke depan meja resepsionis lalu berjalan menuju belakang meja yang sama dan tersenyum.


“Ah, ternyata anda resepsionisnya,” kata Clara yang dijawab dengan anggukan.


“Bukan hanya resepsionis, saya juga bellboy, cleaning service, teknisi, vallet dan terkadang membantu di dapur,” ujar pria berkumis itu. Clara, Jonathan dan Grafit hanya mengangguk.


“Lalu, bisakah kami bertemu dengan manajer hotel. Ada yang ingin kami katakan.”


“Katakan saja, saya juga merangkap sebagai manajer dan pemilik hotel ini.”


Clara, Jonathan dan Grafit kembali mengangguk, kini dengan wajah yang lebih skeptis akan mendapatkan pelayanan luar biasa dari hotel ini.


Setelah selesai mengurus segala sesuatunya, si pria berkumis mengantar mereka ke kamar masing-masing. Benar tebakan mereka, tempat itu dari dalam terlihat sangat menyedihkan. Koridornya sangat kotor dan menyediakan aroma yang sangat mengganggu hidung. Mereka tidak pernah menemukan bau seperti itu sebelumnya.


Akhirnya mereka sampai di depan kamar masing-masing. Kamar Jonathan dan Grafit bersebelahan, sedangkan kamar Clara ada di seberangnya.


“Bukankah lebih baik kalian sekamar saja? Bukannya ingin irit, tapi Grafit akan kebingungan menggunakan fasilitas yang ada di sini,” Clara membuka pintu kamarnya dan mengintip ke dalam. “Sepertinya tidak akan. Fasilitas di sini lebih primitif dari yang ia miliki di hutan rahasia.”


Jonathan tertawa dengan ucapan sarkas Clara, meski tidak terlalu lucu. Ia merasa bersalah karena telah tertipu oleh aplikasi penyedia layanan travel. Padahal harga yang dikeluarkan untuk menginap di sini cukup mahal dan semua biayanya ditanggung oleh Clara.


“O ya, Grafit, di mana kau simpan kostum G:0?” tanya Clara saat hendak masuk ke kamar.


“Tadi kuletak di koper warna abu-abu.”


Clara memeriksa keberadaan koper yang Grafit maksud, tapi ia tidak menemukannya. Ia bertanya pada Jonathan dan pria itu memastikan sudah mengeluarkan semua tas dan koper dari dalam mobil.


“Jangan katakan kostum itu hilang.” Clara berharap tidak terjadi hal yang buruk.


“Kostum itu hilang!” jerit Jonathan dan Grafit.