G:0

G:0
ALIEN



Tuan Priyono terbangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah jam tua yang bergelantung di salah satu dinding kamarnya. Belum ada sejam setelah tengah malam. Hanya saja nalurinya mengatakan ada yang tak beres. Suara-suara ternaknya yang terdengar aneh semakin mempertebal nalurinya itu. 


Ia segera beranjak dari ranjangnya dan mencari senter yang ada di dalam laci meja rias istrinya. Setelah memastikan senter itu masih berfungsi dengan baik, pria tua yang dikenal sebagai juragan kambing di desanya itu bersiap untuk melihat kandang ternaknya yang ada di belakang rumah. Ia meraih jaket yang tergantung di balik pintu dan berusaha keluar tanpa menimbulkan suara agar istrinya tidak terbangun juga.


Selang beberapa waktu kemudian, Tuan Priyono sudah berada di depan kandangnya. Ia menyinari sekitar kandang dengan senternya yang ternyata tidak seterang yang ia duga. Untung saja matanya masih tajam melihat di kegelapan, akibat kebiasaannya dulu yang suka berburu di tengah malam. 


Lalu terdengar suara aneh yang mengejutkannya. Kencang, namun cepat menghilang. Seperti suara sebuah pesawat jet yang melintas langit. Ketika ia sibuk mencari sumber suara, tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang menyinarinya dari atas. Ia sampai harus menutup mata dengan punggung tangannya karena sangat silau.


Tetapi ia sangat penasaran dengan wujud sumber cahaya itu. Pelan-pelan ia menggeser punggung tangannya. Terlalu silau sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa.


Anehnya, meskipun demikian, Tuan Priyono tidak melepaskan pandangannya. Ia tetap menatap sampai kesadarannya perlahan hilang. Senter yang sejak tadi ada di genggaman tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Kini pria tua itu benar-benar tidak sadarkan diri.


*          *         *


Media dihebohkan oleh rumor tentang kehadiran alien. Sudah ada lima korban yang melapor ke pihak kepolisian dengan kasus yang sama: diculik dan disiksa oleh alien. Bahkan kronologis kejadiannya juga tak jauh berbeda. Mula-mula mereka melihat sebuah sinar yang sangat menyilaukan lalu kesadaran mereka hilang. Kemudian mereka terbangun di suatu tempat yang jauh dari keramaian dengan penuh tubuh luka tanpa tahu mereka telah hilang selama beberapa hari.


“Aku sangat menyukai kasus ini,” kata Jonathan yang sedang menikmati susu coklatnya sambil tersenyum. Senyum itu hilang ketika ia sadar Clara dan Grafit telah menatapnya dengan tajam, seakan sedang memandang seonggok sampah. “Aku bukannya suka dengan apa yang dialami oleh para korban. Sebagai pecinta fiksi, cerita tentang alien dan UFO merupakan salah satu tema favoritku. Apalagi kali ini kepolisian secara terang-terangan meminta bantuan kita.”


“Tetap saja aneh melihatmu menikmati kejadian ini,” ujar Grafit.


“Ya, sekarang bukan waktunya bersenang-senang. Harus kita akui kalau kita tidak lebih hebat dari kepolisian, kecuali dalam hal pengendalian gravitasi. Jika mereka menyerah dalam kasus ini, kemungkinan besar kita juga akan mengalami hal yang sama.”


Jonathan dan Grafit mengangguk setuju. Dan itu benar-benar terjadi. Setelah dua minggu berjalan, mereka pun tidak mendapatkan petunjuk apa pun, kecuali rekaman CCTV tentang cahaya sangat terang yang tiba-tiba muncul dari langit dan seseorang yang terkena cahaya itu menghilang setelahnya.


Karena kejadiannya sangat singkat, G:0 tidak pernah sempat sampai ke lokasi sebelum seseorang benar-benar menghilang. Korbannya juga sangat random dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain sehingga mereka tidak bisa mengidentifikasi lokasi kejadian atau korban berikutnya.


“Sial, sial, sial!”


Clara tak henti-hentinya memaki setelah lagi-lagi G:0 terlambat sampai di lokasi kejadian. Padahal saat itu mereka hanya terlambat sekitar satu menit saja sebelum cahaya itu menculik seorang wanita yang baru pulang dari tempat kerjanya. Jonathan tidak berani menyela karena melihat bagaimana kesalnya Clara saat itu.


[Apakah UFO itu benar-benar tak terlihat?]


“Maksudmu?”


[Maksudku, aku tiba di sini tidak terlalu lama dari waktu cahaya itu hilang. Seharusnya aku bisa melihatnya ketika di udara tadi. Tapi aku sama sekali tidak melihat apa-apa.]


“Aku pernah membaca salah satu portal komunitas pecinta alien, di sana dikatakan UFO memiliki teknologi yang sangat canggih. Misalnya panel kamuflase di seluruh lapisan luar tubuhnya sehingga benda itu bisa tak terlihat,” kata Jonathan.


“Artinya, penculik itu benar-benar alien?”


[Teman-teman, daripada fokus pada lokasi alien itu menculik, kenapa kita tidak fokus saja pada lokasi alien itu mengembalikan korbannya?]


Clara dan Jonathan saling pandang setelah mendengar ide menarik dari G:0. 


“Benar. Selama ini kita hanya mencari petunjuk di lokasi kejadian. Jo, coba selidiki kesamaan dari semua lokasi para korban dikembalikan.”


Jonathan segera melakukan perintah Clara. Ia sibuk mengutak-atik laptopnya. Sementara menunggu, Clara kembali membaca kesaksian para korban yang ia dapatkan dari Kapten Rian. 


“Ada yang aneh. Para korban tidak pernah ditemukan, tapi selalu mereka yang datang melapor ke polisi. Di antara mereka, hanya ada dua orang yang mengingat lokasi mereka pertama kali sadar. Itu pun mereka tidak terlalu yakin. Tapi mereka semua yakin berjalan tidak terlalu jauh sebelum mencapai jalan raya,” kata Clara.


“Ya, dan lokasi yang mereka maksud sangat jarang dilalui orang, tapi tidak terlalu jauh dari keramaian. Seolah alien itu ingin para korbannya tidak kesulitan menemukan jalan pulang,” tambah Jonathan.


[Wah, alien yang baik.]


“Tidak mungkin mereka melakukannya karena baik. Pasti ada tujuannya.”


“Aku tahu kesamaannya,” kata Jonathan. “Coba lihat sepatu mereka, hampir semua rusak. Artinya, mereka tidak menempuh jarak yang dekat dan jalan yang mereka lalui pasti medan yang berat. 


“Tapi kenapa mereka mengaku berjalan tidak terlalu jauh sebelum mencapai jalan raya?”


[Mungkin mereka sempat berjalan secara tidak sadar. Seperti terhipnotis yang pernah Siren lakukan. Emm, aku juga pernah melakukannya.]


“Tunggu!” Clara menepukkan jari ke dagunya tanda ia sedang memikirkan sesuatu yang menarik. “Bukan seperti Siren, tapi sepertimu.”


[Maksud Non?]


“Maksudku adalah penghilangan ingatan,” kata Clara yang membuat Jonathan dan G:0 terkejut. “Karena kesaksian korban, selama ini kita berpikir mereka dilukai saat sedang tak sadarkan diri. Bagaimana jika seandainya saat itu mereka sadar, tapi ingatan mereka dihilangkan?”


“Benar juga. Meski tidak melakukannya seperti yang G:0 lakukan, bisa jadi mereka memiliki alat untuk menghapus ingatan. Seperti Neuralizer di film Men in Black. O ya, itu kan film tentang alien? Hmm, semakin masuk akal.”


[Jangan-jangan mereka datang dari lokasi yang sama, namun karena ingatan mereka dihilangkan, mereka tersadar ketika sudah jauh dari lokasi itu.]


Setelah mendengar dugaan dari G:0 itu, Jonathan langsung menyamakan lokasi korban-korban itu pertama kali para korban ditemukan. Dan ia menemukan yang mereka cari. “Ternyata, meski berada di lokasi yang berbeda, mereka semua berjalan dari arah bukit Mauri.”


“Tunggu apa lagi? G:0, sekarang pergi ke bukit Mauri!”