Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Limited edition



"Bang. Ini kan hari libur kita. Masa suruh cari duit"


"Karena ini hari libur, makanya buat cari duit Thian"


"Abang Al gak seru"


"Thian menyebalkan"


"Kita end aja bang. Thian benci abang"


"Abang seneng malahan"


"Nyebelin"


"Biarin"


Perdebatan Almeer dan Fathian didepan beberapa karyawan menjadi tontonan tersendiri. Almeer tidak pernah bisa didekati dengan mudah. Terutama karyawan wanita. Dean bersaudara pun sama. Almeer masih bisa tersenyum walaupun sekilas. Sedangkan Dean bersaudara sama sekali tak pernah mau tersenyum bahkan saat bersama keluarganya. Bersama Duo F saja Dean bisa lepas kontrol.


"Hari ini kita akan pemotretan di out door gaess. Jadi kalian tidak akan bosan"


"Hem"


"Jangan bete dong. Abang janji selesai pemotretan kita jalan-jalan. Mau kemanapun Abang turuti"


"Hemm"


Almeer tersenyum bahagia bisa membuat keempat adik kesayangannya badmood. Almeer mengganti semua jadwal pemotretan mereka. Yang awalnya akan dilakukan sepulang sekolah, Almeer mengganti disaat weekend. Dalam satu bulan mereka akan melakukan pemotretan selama enam kali. Libur hanya diakhir bulan.


Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya bekerja, karena Almeer selalu mengadakan pemotretan diluar ruangan. Dan mereka bisa bebas melakukan apapun untuk menghilangkan kebosanan. Seperti hari ini, Almeer mengambil view persawahan didekat resort ayahnya.


"Yuk gaesss siap-siap. Semakin cepat kalian gerak. Semakin cepat selesai"


"Hem"


Keempat bocah bersiap disalah satu kamar resort. Saat semua sudah siap mereka berjalan menuju lokasi. Wajah keempatnya berubah. Saling beradu pandang, mereka menampakkan senyuman penuh arti. Almeer tak menyadari itu.


"Oke gaess. Hari ini ada lima baju yang harus kalian pakai. Sedangkan.ua sudah disiapkan. Abang minta kalian jadi anak baik hari ini"


"Hem"


Rio sang fotografer sedikit ragu melihat mood keempat bocah ajib itu. Sambil berbisik, Rio bertanya kepada Almeer.


"Bos. Itu wajah gak enak banget. Gak akan jadi masalah kan"


"Gak. Loe gak usah takut. Dengan wajah mereka yang seperti itu, gue malah yakni hari ini akan lancar"


"Bisa gitu"


"Hem. Dah gak usah takut. Mereka aman"


"Sip deh kalau gitu"


"Bisa mulai kan"


"Pasti"


Keempatnya sudah mulai beraksi dari foto bersama hingga perseorangan. Almeer merasa keputusannya memang tidak salah mengajak duo F ambil bagian dalam pemotretan. Saat Dean bersaudara beraksi, duo F akan menggoda mereka sehingga membuat Dean bersaudara menampakkan senyum dan tawa lepas naturalnya. Itu membuat Almeer sangat puas.


"Good job. Kalian istirahat dulu. Sambil nunggu pemasangan set berikutnya"


Almeer tak mengetahui jika keempatnya sudah punya rencana. Awalnya mereka duduk tenang menikmati kudapan yang disediakan staf. Bahkan Almeer sudah menyiapkan satu set game agar mereka tidak jenuh. Almeer tidak memberikan pengawasan ketat kepada mereka.


"Gaess. Let's go"


Memanfaatkan kelengahan Almeer, keempatnya sudah pergi meninggalkan lokasi pemotretan. Almeer sepertinya tidak paham lokasi, sawah adalah area Thian dan Dean bersaudara. Fathian memilih tiduran digubuk yang berada ditengah sawah.


"Bang bawa kantong gak"


"Lupa. Terus gimana"


Dean bersaudara dan Thian sedang berburu ditengah sawah. Mereka lupa membawa kantong. Namun Ashraf tanpa sadar membawa tas milik Almeer.


"Hei. Kalau pake ini aja gimana. Kayaknya muat banyak"


Ashraf memperlihatkan tas yang bertengger dipundaknya. Ammar mencoba bertanya kepada saudara kembarnya.


"Itu tas siapa dek"


"Abang Al"


"Kok di loe dek"


"Salah ambil. Gimana. Kan yang penting bisa buat bawa"


Thian yang setuju usulan Ashraf langsung meminta isi tas tersebut dikeluarkan isinya. Karena memang tas tersebut khusus untuk membawa barang berharga Almeer.


"Ya udah keluarkan dulu isinya bang"


"Taruh mana isinya"


Thian melihat kesekeliling. Matanya melihat sesuatu berwarna hitam tak jauh dari gubuk. Thian berlari dengan semangat untuk mengambil benda tersebut.


"Gue dapat ini bang"


"Ah perfect"


Isi tas Almeer sudah berpindah kedalaman tas berwarna hitam kelam yang ditemukan oleh Thian. Mereka memasukkan semua buruannya kedalam tas milik Almeer.


Disaat keempat bocah menikmati liburan mereka. Almeer sedang mengamuk karena kehilangan tas dan keempat anak tengil kesayangannya.


"Apa tidak ada satu pun yang melihat kepergian mereka"


"Maaf bos. Kami tidak melihat mereka"


"Maaf bos"


"Ah ****. Anak tuyul kalian kemana lagi"


Almeer sudah menghubungi ponsel mereka. Namun semua ponsel mereka ditinggal dialokasi pemotretan.


"Sekarang kalian berpencar dari empat bocah nakal itu"


"Baik bos"


Almeer berlari menuju resort. Almeer berfikir mungkin mereka kembali kedalam resort. Dikamar resort Almeer tak menemukan mereka. Almeer bertanya pegawai resort, namun juga tak mengetahui keberadaan mereka.


"Ya Allah. Lama-lama stroke gue ngurusin empat bocah ini. Kalau bukan karena meningkatkan pendapatan, gue udah nyerah"


Almeer bergumam sendiri sambil mencoba mencari disekitaran resort. Saat akan kembali ke lokasi pemotretan, salah satu kru memberitahu keberadaan keempat bocah itu.


"Bos mereka sudah ketemu"


"Dimana"


"Sawah bos"


"Aish. Kenapa gue lupa. Itu kan habitat mereka. Ya sudah ayo kesana"


Almeer berlari menuju sawah. Dan benar saja mereka ada disana. Almeer menghela nafasnya. Kesal itulah yang dirasakan Almeer saat ini.


"Woy tuyul. Beraninya kalian kabut"


Mendengar suara teriakan Almeer, mereka tak bergeming. Bahkan semakin ke tengah sawah yang penuh lumpur. Almeer belum sadar jika Thian memegang tasnya.


"Woy balik kagak kalian"


"Bentar bang. Ini sebentar lagi penuh"


Thian mengangkat tas milik Almeer. Almeer memicingkan matanya sedikit untuk melihat lebih jelas.


"Seperti kenal tas itu"


Almeer berjalan menuju gubuk dan melihat Fathan tengah tertidur dengan headset ditelinganya.


"Nih bocah enak bener ya tidur"


Almeer membangunkan Fathan. Dan Fathan yang masih mengantuk terpaksa bangun.


"Than-than bangun"


"Hemm. Paan bang"


"Bangun. Kerja. Malah kabur"


"Ohhhhhh"


Almeer melihat tiga bocah lainnya sudah mulai keluar dari sawah setelah dibujuk oleh beberapa staf.


"Akhirnya. Kalian cari apa. Kenapa kabur"


"Bosan bang"


"Terus apa yang kalian dapat"


"Ini lihat aja sendiri"


Almeer sontak melotot melihat tas yang diangkat Ammar. Penuh lumpur dan tetesan air.


"Ammaaarrrr"


"Hem. Gak usah teriak kali bang. Gue disini"


"Itu tas Abang kan"


"Iya"


Almeer langsung merebut paksa tas miliknya. Dan membukanya. Almeer pun langsung emosi. Isi tas itu sudah berganti.


"Ya Allah. Apa-apaan ini Ammar, Ashraf, Thian"


Ketiganya kompak menjawab tanpa merasa bersalah.


"Itu jelas belut bang"


"Iya Abang tahu. Kenapa dimasukkan diatas Abang. Dan dimana barang-barang Abang"


Kini gantian Thian yang menunjukkan tas plastik berwarna hitam. Almeer semakin melotot.


"Jadi kalian lebih ikhlas belut-belut ini dimasukkan kedalam tas kermes Abang dan Barang-barang Abang kalian masukan dalam kresek buluk ini"


"Iya. Ada yang salah bang"


"Gak ada. Gak ada yang salah. Gue yang salah karena jadi Abang kalian"


Almeer hanya bisa meratapi nasibnya. Tas kesayangannya yang dia beli dengan harga selangit kini hanya digunakan untuk tempat belut oleh tiga tuyul ajib.


"Belut limited edition"


_______


Sabar bang Al. Orang sabar disayang emak othor....


Jangan lupa bahagia gaesss


jempol digoyang yuk