Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Geng Onar....



"Sayang kamu ngapain"


"Ini kang lagi ngitung tabungan buat haji emak"


"Bukannya kita sudah buatin tabungan haji emak sendiri sayang"


"Iya bang. Eneng cuma takut aja nanti kurang"


"Insyaallah tidak sayang. Kalaupun kurang, akang sudah punya tabungan cadangan. Jadi gak perlu pakai uang kamu sayang"


"Gapapa kang. Ini tabungan Eneng dari hasil kerja dirumah keluarga Malik"


Airil memang tidak pernah bertanya kepada Eneng berapa gaji yang diperoleh dari keluarga Malik. Dan Airil sangat terkejut saat kotak yang selama ini tersimpan rapi didalam lemari pakaian mereka di buka oleh Eneng.


"Perhiasan ini kamu yang beli sayang"


"Gak kang. Semua ini dari nyonya Melany dan nona Jasmine"


"Sertifikat rumah ini juga sayang"


"Iya. Ini sertifikat rumah yang diberikan ke emak saat dulu tinggal disini. Dan sekarang untuk tinggal Japri dah Titi. Dan ini sertufat rumah hadiah pernikahan dari tuan Arka dan tuan Jay. Rumah yang kita kontrakan"


"Subhanallah. Semulia itu mereka sayang"


"Makanya Eneng gak pernah mau keluar dan tetap ingin bekerja untuk mereka kang. Karena apa yang mereka berikan ini jauh sangat jauh dari yang Eneng lakukan sampai saat ini"


Airil memeluk Eneng dan mencium seluruh wajah Eneng. Airil pun merasa keluarga Malik begitu loyal kepada Eneng dan keluarganya.


"Alhamdulillah dipertemukan dengan orang yang begitu baik sayang"


"Iya kang"


Mereka merapikan kembali barang-barang Eneng. Airil berjalan menuju lemari dan mengambil sesuatu dari dalam laci pakaian. Dia membawa map dan meletakkan dipangkuan Eneng.


"Ini apa kang"


"Ini adalah tabungan haji untuk ibu dan bapak juga emak sayang. Namun sayangnya mereka tidak bisa berangkat tahun depan"


Eneng membuka map tersebut dan memeriksa isinya. Air mata Eneng mengalir begitu saja. Bahagia itu yang kini mereka rasakan. Apa yang dihadapannya adalah impiannya untuk memberangkatkan haji emak. Eneng memeluk erat tubuh Airil dan menangis bahagia didalam dekapan sang suami.


"Makasih kang. Makasih. Akang sudah membantu Eneng mewujudkan impian Eneng selama ini"


"Kamu adalah istriku sayang. Sudah sepantasnya aku melakukan ini. Emak juga ibuku"


Eneng benar-benar bahagia mendapatkan suami seperti Airil. Airil juga menyiapkan satu kejutan lagi untuk Eneng. Airil memberikan amplop berwarna putih kepada Eneng.


"Ini apa lagi kang"


"Bukalah sayang"


Eneng membuka perlahan. Tiket pesawat dan juga paspor dan visa untuk emak dan kedua mertuanya.


"Ini untuk apa kang"


"Akang akan mengajak emak umroh sayang. Walaupun belum bisa terwujud menunaikan ibadah haji, umroh juga disebut haji kecil. Setidaknya ada pengalaman terlebih dahulu sebelum menjalankan haji yang sesungguhnya"


Eneng benar-benar sudah tak bisa berkata-kata lagi. Mungkin air matanya saat ini adalah ungkapan dalam hatinya saat ini. Airil sengaja menyiapkan ini, karena Airil takut jika mereka tak ada usia lagi sebelum bisa menginjakkan kakinya ditanah suci.


"Ini memang cuma sembilan hari sayang. Namun setidaknya mereka sudah bisa menginjakkan tanah suci seperti harapan mereka selama ini"


"Iya kang. Eneng pun setuju. Apalagi usia emak semakin berkurang tiap tahunnya. Emak pasti bahagia sekali kang. Makasih kang"


"Sama-sama sayang. Oya nanti kita juga akan ikut mengantar mereka sayang. Kita akan umroh juga. Akang sudah mengajukan cuti"


"Alhamdulillah. Tapi kang si kembar gimana"


"Hem. Kalau dititipin sama Titi dulu mau gak ya mereka"


"Kayaknya gak mau deh kang. Thian gak cocok sama Anita. Abang pun sama"


"Lah terus mau dititipin siapa. Kalau suruh ikut Juna gak mungkin sayang. Mereka kan harus sekolah"


"Nanti biar Eneng bilang sama tuan Jay. Mungkin tuan Jay mengijinkan mereka tinggal disana dulu selama sembilan hari"


"Oh iya. Fathan dan Fathian juga harus kerja sama Almeer"


Eneng dan Airil akan menemui Jay dan Arka seminggu sebelum keberangkatan mereka ke tanah air. Waktu keberangkatan mereka masih satu bulan lagi. Sesegera mungkin mereka akan mengabari emak dan kedua orangtua Airil.


Saat kedua orangtuanya sedang terlarut dalam kebahagian karena impian mereka akan segera terwujud, kedua pangeran Prasaja sedang kembali berulah.


"Gaes bantuin Abang dong. Ayolah"


"Kata ayah gak boleh Abang. Abang harus mau ketemu Tante itu"


"Kok Tante sih Thian. Dia masih muda kok"


"Masa sih. Tadi Thian lihat foto yang dikasih ayah wajahnya gak jauh beda dari mama"


"Ah yang bener saja. Masa disamain sama Eneng"


"Ini lihat aja"


Thian menyodorkan satu lembar foto kepada Almeer. Almeer mengamati baik-baik foto tersebut. Dan memang jauh beda dengan foto yang ada pada Almeer.


"Yakin ini foto dari ayah"


"Iya. Kalau gak percaya tanya aja mereka saja bang"


Ketiga bocah lainnya mengangguk. Almeer memegang dagunya mencoba berfikir. Dalam benaknya terlintas fikiran negatif tentang sang ayah.


"Gak mungkin kan ayah jodohin Abang sama yang sudah berumur gini"


"Mungkin saja. Abang kan gak laku-laku"


"Eh omongannya ya. Kalian kan tau masalah Abang"


"Hemmm"


Almeer bingung mencari cara agar bisa menolak perjodohan yang diatur kakek buyutnya. Atuk Syakir.


"Gaess bantuin ya. Ntar Abang traktir sepuas kalian deh"


Keempatnya saling pandang dan akhirnya menyetujui permintaan Almeer.


"Gaklah. Ya udah yuk kita temui cewek ini"


"Hem"


Keempatnya sudah menggunakan pakaian kasual. Karena ada pemotretan dadakan, sepulang sekolah mereka langsung menuju kantor Almeer. Kini mereka menuju kafe yang dipesankan oleh Atuk Syakir.


"Hem. Ini restoran bukan kafe bang"


"Iya. Kayaknya kita dikerjain ini. Mana kafe mewah lagi"


"Ya udahlah bang. Kita masuk dulu. Siapa tau cantik"


"Eh tunggu. Sesuai rencana kita tadi gaess"


"Yoi"


Kelima pangeran tampan beda usia itu masuk kedalam restoran. Almeer mencari ciri-ciri wanita yang sudah diberitahu oleh Arash. Setelah menemukan wanita sesuai dengan ciri-ciri yang dia cari, Almeer mendekati meja tersebut dengan perasaan was-was.


"Selamat siang. Nona Audrey"


"Siang. Kak Almeer ya"


"Maaf ya lama nunggunya"


"Gapapa kak. Kita belum kenalan secara resmi"


"Aku Audrey Khairunnisa Lukman"


Audrey mengulurkan tangannya. Almeer sedikit terkejut. Almeer langsung menangkapnya. kedua tangannya didepan dada.


"Saya Almeer"


"Maaf kak"


"Gapapa. Silahkan duduk"


Mereka kembali duduk. Almeer bisa melihat jika Audrey tersipu malu. Yang membuat Almeer sedikit terkejut adalah penampilan Audrey. Atuk Syakir akan mencarikan jodoh para cucu dan buyutnya sesuai dengan syariat Islam. Dengan kata lain pasti berhijab. Sedangkan Audrey, pakainya pun kurang bahan.


"Apa selera Atuk berubah ya"


Almeer berbicara dalam hatinya. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Hening tanpa kata. Audrey berinisiatif untuk memecah kesunyian.


"Kak Almeer mau pesan makanan apa"


"Apa saja"


"Audrey pesan yang spesial disini ya"


"Oke"


Almeer memberi kode kepada empat bocah onar. Keempatnya berdiri dan berjalan mendekati meja Almeer. Namun kali ini ada tambahan personel dadakan.


"Papi"


"Papi"


"Loh kalian. Kok Disni"


"Sama mami mau makan. Papi makan disini gak ajakin kita"


"Maaf. Papi tadi ketemu klien"


Almeer melihat kearah Audrey yang sudah mematung. Keempat bocah onar hanya menatap sekilas saja. Dan kembali kepada Almeer.


"Papi. Gak meluk mami. Mami kan baru saja pulang"


Seorang wanita cantik dan anggun dengan gamis kekinian berdiri dihadapan Almeer. Gadis itu langsung berlari memeluk Almeer.


"Papi. Mami kangen tau"


"Mami kapan sampainya. Kok gak ngabarin papi"


"Tadi pagi. Kan mau kasih kejutan"


Almeer bahkan tak segan mencium kening dan pipi wanita itu. Audrey merasa kesal. Dia berdiri dan meluapkan kemarahannya.


"Maaf kakak ini siapa. Kenapa datang-datang langsung memeluk kak Almeer"


"Saya istri Almeer. Kenalkan Raisya"


"Apa istri. Bukannya kak Almeer belum menikah"


"Siapa bilang. Saya istrinya dan mereka berempat anak kami"


"Kalian bohong kan"


"Nggaklah"


Audrey pergi meninggalkan Almeer dan komplotannya. Kesal dan malu menjadi satu. Sedangkan Almeer tertawa bahagia.


"Kakak tercantik gue. Makasih banget"


"Huh. Loe ya dek. Kalau Atuk marah kakak gak nanggung"


"Iya sante saja. Kak Meera kapan sampainya"


"Pagi tadi. Eh kebetulan kakak ada janjian sama teman lama direstoran ini. Kok ketemu empat anak bebek sama bapaknya. Jadilah ide gila"


"Ah. Kakak emang terbaik"


Muah


Almeer mencium pipi Almeera. Kakak kembarnya. Meera selama ini memang tinggal di London.


_______


Geng onar turunan Icha dan Eneng beraksi ..


jangan lupa bahagia gaesss


jempol digoyang yuk