Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Sah



Hari ini Airil akan mengucapkan kata sakral dihadapan penghulu. Keluarga Eneng sudah berada di Jakarta dari satu Minggu yang lalu. Dzaky juga ikut mereka bawa. Tak lupa warga kampung khusunya Kendil jennar dan Mang Komar juga datang.


Sesuai janji Jay, jika Eneng berhasil menikah dengan Airil. Maka akan dibuatkan acara konser dangdut tujuh hari tujuh malam. Awalnya Jay akan mengadakan acara dihotel atau resort miliknya. Tapi tidak memungkinkan dengan panggung hiburan yang dijanjikannya. Jadilah Jay menyewa lapangan besar didekat kompleks yang biasa dijadikan tempat pasar malam.


Panggung berukuran besar sudah terpampang ditepi lapangan. Stand makanan juga sudah disiapkan. Pesta pernikahan Eneng bertema pesta rakyat. Warga sekitar bahkan dari luar daerah yang melihat adanya panggung besar, sangat antusias untuk menonton.


Pernikahan Eneng diadakan dirumah Jay pagi ini. Dan pengantin baru akan menghadiri acara malam kesenian sekaligus resepsi bersama nantinya. Saat ini Eneng masih menunggu dikamar dan Airil sedang melawan gugupnya mengucap kata Qabul dihadapan penghulu.


"Sah"


"Sah"


"Alhamdulillah. Selamat ya neng akhirnya sudah gak jomblo lagi. Jadi istri yang patuh ya neng. Sekarang surga kamu ada di Airil. Hormati dia, patuhi dia"


"Iya non. Makasih ya non. Makasih atas apa yang keluarga ini berikan untuk Eneng. Makasih karena sudah menganggap Eneng bagian keluarga ini. Makasih dan hanya kata terimakasih yang bisa Eneng berikan"


"Kamu gak perlu seperti itu. Kamu tetap anak perempuan kami neng"


Jasmine dan Melany yang menemani Eneng didalam kamar menunggu prosesi ijab qabul selesai diucapkan. Pintu kamar diketuk oleh Icha dan Retha. Mereka bertugas menjemput Eneng. Jasmine dan Melany lebih dulu keluar kamar dan menyusul suami mereka.


"Neng yuk. Udah ditunggu suami"


"Non Icha. Non Retha"


"Jangan nangis loh neng. Gak lucu aja masak keluar dari kamar maskara beleber kayak mis kunkun"


"Neng Icha ih gitu amat"


"Dah yuk jalan. Kasian si akang sudah menunggu"


Eneng diapit oleh Retha dan Icha. Mereka berjalan ke taman belakang. Eneng mengenakan kebaya yang simpel. Walaupun berekor, kebaya tersebut tidak banyak menggunakan manik-manik jadi sangat ringan.


Airil berdiri menyambut sang istri. Senyum bahagia terpancar dari wajah dokter tampan tersebut. Eneng hanya bisa tertunduk malu. Sesekali dia mendongak melihat Airil.


"Pak dokter. Kita pasrahkan adik kami. Tolong jangan pernah disakiti"


"Pasti. Saya akan berusaha untuk melindunginya. Bukan menyakitinya"


Icha dan Retha melepaskan kaitan tangan mereka. Dan perlahan mundur kembali bergabung dengan suami dan keluarga inti. Acara dilanjutkan dengan sungkeman. Emak tak bisa lagi menahan tangisnya. Apalagi Eneng menikah dengan wali hakim.


Saatnya para sahabat dan keluarga mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru. Jay dan Arka adalah orang yang paling frontal dalam memberikan ucapan.


"Neng selamat ya sekarang statusnya udah gak jones lagi"


"Dari dulu Eneng mah gak jones kali mas Ichan"


"Kita semua disini ngucapin selamat menempuh hidup baru. Selamat berganti status baru. Semoga kalian bahagia"


Itu ucapan dari Arsya mewakili teman-temannya karena mereka bingung mau mengatakan apa. Giliran Jay dan Arka.


"Neng selamat ya. Ingat udah jadi istri kalau lihat yang bening kudu eling"


"Ya tuan besar"


"Pesan dari kami berdua buat kamu neng. Ingat nanti malam pertama. Jangan sampai kamu terkena stroke. Kalau sampai itu terjadi, suamimu yang tampan ini akan jadi rebutan kendil jennar dan emak kamu. Gak lucu kan mantuku jadi suamiku"


"Tuan Jay doanya jelek"


"Yang dikatain Jay memang ada benarnya neng. Baru dicium pingsan. Lah nanti diraba-raba kejang-kejang kamu neng"


"Iya bener pah. Lihat rudal siap meluncur malah stroke. Gak lucu kan. Serangan jantung karena malam pertama. Hahahaha"


Airil ikut tertawa. Sedangkan Eneng yang malu hanya menunduk saja. Acara pagi sudah selesai. Pengantin baru dan keluarganya diminta istirahat sebelum acara besar nanti malam.


"Ril. Jangan kamu garap dulu si Eneng. Takutnya pingsan gak bangun-bangun. Hahaha"


"Tapi kalau sekedar pemanasan uji coba boleh tuh ril. Biar siap mental eneng. Dia cuma berani ngomong pas praktek keok pasti. Hahaha"


Airil membawa Eneng kembali kerumahnya. Karena memang lokasi pesta lebih dekat dari rumah Airil. Emak dan Titi ikut juga. Sedangkan tamu yang berasal dari kampung Eneng menempati rumah milik Jay. Yang tak jauh dari rumah Arka.


"Selamat datang dirumah nyoya Airil Prasaja"


"Ini rumah akang"


"Iya. Tapi maaf hanya sederhana"


"Ini sudah cukup kang. Lagian kalau besar-besar capek bersihinnya"


"Masuk yuk"


Airil membukakan pintu untuk Eneng. Karena sudah terlalu lelah. Dan mereka nanti akan kembali dirias, mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing untuk istirahat. Begitu juga pasangan pengantin baru


"Ini kamar kita sayang"


"Luas banget kang"


"Bagus dong. Jadi kalau kita bosan dirancang bisa pindah-pindah tempat"


Airil berbicara sambil memeluk Eneng dari belakang. Nadanya pun dibuat sensual. Hingga tubuh Eneng menegang. Airil sadar jika istrinya sedang tidak dalam keadaan sadar.


"Jangan tegang sayang. Rileks. Kalau kamu tegang nanti malah sakit loh"


Eneng semakin melotot mendengar perkataan ambigu Airil. Dengan sengaja tangan Airil melepas satu persatu kancing baju kebaya milik Eneng. Pergerakan yang lambat dari jari jemari Airil membuat Eneng semakin tak karuan.


"Akang bantu buka ya. Biar gak gerah kamunya. Tapi bisa jadi habis ini akang yang gerah lihat kamu gak pake baju"


Airil masih membuka kancing baju Eneng. Sengaja dia membukanya lama. Saat kancing bagian perut Eneng terbuka dan menampakkan kain yang mengikat kain batik Eneng, tangan Airil sengaja mengusap perut yang masih tertutup kain berlapis-lapis itu.


"Disini nanti akan tumbuh anak-anak kita sayang. Dan aku ingin kita memiliki anak yang banyak. Biar kita tidak kesepian saat tua nanti"


Keringat Eneng mulai bercucuran. Dahinya sudah basah oleh keringat. Airil seolah tak peduli dengan keadaan Eneng. Dia melanjutkan kejahilannya. Jumlah kancing yang dibuka semakin banyak dan semakin naik. Dada Eneng semakin terpacu kencang. Mata yang awalnya sangat mengantuk sudah sirna semua.


Airil menghentikan tangannya disatu kancing terakhir diatas perut. Jika dia melanjutkan melangkah satu lagi, dipastikan kedua gunung kembar Eneng akan terpampang jelas. Otak eneng benar-benar sudah tak terkondisikan lagi. Dia ingin berteriak senang namun otaknya malah membuatnya takut tak bisa bergerak.


"Sayang. Apa kamu siap kalau saat ini juga aku memintamu menjadi istriku seutuhnya. Apakah kamu siap jika mulai saat ini aku menanam benihku dirahimmu"


Masih tak ada jawaban dari Eneng. Sekedar anggukan pun tak ada. Airil bisa melihat keringat terus saja bercucuran. Airil benar-benar menahan tawanya. Dari awal memang niatnya hanya menggoda mental Eneng. Tangan Airil benar-benar berniat melepas kancing area si gunung kembar Siam itu. Dan yang terjadi benar-benar diluar ekspektasi Airil. Eneng nangis tantrum sambil memanggil emaknya.


"Aku buka ya sayang. Aku sudah tak tahan lagi. Kita nikmati siang yang panas ini menjadi tambah panasssss"


"Emakkkkkkkkkk. Tolonggggg Eneng mau dipe**rawa**ninnnn. Huahhhhhh. Huahhhhhh ampun"


Brotttt bruttttt breeeet broootttt


"Hahahaha..aku cuma bercanda sayang. Hahahaha. Aduh kram perut aku. Udah gak kuat lagi ini"


Eneng melihat sesuatu mengalir dari celana Airil. Yang sudah duduk berjongkok menahan kram perut .


"Akang ngompol lagiiiii"


________


Ayo mana kadonya. Malam pertama Eneng kayak gimana ya baru dibuka bajunya udah nangis kekejer sambil kentut pula


Jangan lupa jempolnya gaesss


Jangan lupa bahagia