
Peristiwa malam pertama kemarin sangat berkesan untuk Airil. Bagaimana tidak. Mereka menghabiskan malam bermain karambol bersama pasangan sunsun dan poci. Eneng kasian melihat mereka jones. Hingga subuh mereka bermain karambol. Airil mulai terbiasa dengan kehadiran makhluk transparan itu.
Malam ini Airil akan memberikan kejutan untuk Eneng. Malam pertama yang tertunda. Airil sudah menyewa hotel didekat pusat kota. Dan itu tanpa sepengetahuan Eneng. Harusnya memang Airil cuti selama empat hari. Namun ternyata Gama yang menggantikannya jatuh sakit dan hari ini Airil mau tak mau datang kerumah sakit untuk melakukan operasi dadakan.
"Neng, akang berangkat dulu. Gak lama kok cuma operasi saja"
"Ya kang"
"Ingat nanti kita mau jalan-jalan"
"Iya kang"
Airil mengulurkan tangannya. Namun Eneng salah mengartikannya. Bukan berjabat tangan dan mencium telapak tangan Airil, Eneng malah menaruh uang lima ribu diatas telapak tangan Airil. Airil langsung melongo.
"Kok uang neng"
"Lah kan akang minta uang saku kan. Ya itu. Lima ribu cukup gak"
"Buahahahahaha. Kamu kira aku anak TK mau sekolah neng"
"Lah terus"
Airil menarik telapak tangan Eneng dan langsung menggenggamnya. Diarahkan telapak tangan tersebut kearah wajah Eneng.
"Ini maksudnya sayang ku"
"Oh mau salim toh. Ya maap"
Airil menarik pucuk kepala Eneng dan mendaratkan sebuah kecupan disana. Melihat Eneng masih tersenyum aman, sesuatu yang sudah lama menarik minat Airil dan belum juga bisa terlaksana walaupun sudah sah. Airil memiringkan wajahnya dan memberikan kecupan pada bibir tipis merah itu.
"Akang pergi sayang. Baik-baik dirumah. Assalamualaikum"
Bukan jawaban salam yang Eneng berikan melainkan..
Brugh
"Sayang kamu kenapa"
"Kepalaku muter-muter kang. Gak kuat berdiri. Sepertinya vertigoku kambuh. Ini semua gara-gara akang"
"Akang kenapa"
"Kayak soang suka nyosor"
"Hahahaha. Untung cuma vertigo gak sampai kejang"
"Jahat ih akang. Dah sono pergi"
"Kamu beneran gak mau akang tolongin masuk kerumah dulu"
"Gak Eneng masih bisa sendiri"
"Loh katanya kaki kamu lemes sayang"
"Pinggulku kan enggak. Ngesot aja bisa"
"Awas aja suster ngesot ngamuk. Kamu ambil lahannya"
"Bodo"
Airil hanya tertawa sambil melangkah masuk kedalam mobil. Bukan tak ingin menolong, tapi efek dari serangan dadakan Airil akan hilang sebentar lagi.
Eneng yang sudah sendirian didalam rumah, menggunakan waktunya untuk menjelajahi rumah sang suami yang baru satu malam dia tempati. Rumah dua lantai dengan enam kamar berukuran besar. Dua dilantai bawah dan sisanya berada dilantai atas. Salah satu kamar tersebut digunakan sebagai ruang kerja Airil.
Dihalaman belakang rumah Airil, terdapat kolam ikan koi dengan air mancur. Ada juga kolam renang berukuran sedang dan tanaman hias yang menambah sejuk suasana taman belakang rumah tersebut. Sedangkan di bagian depan memang tumbuh pohon mangga yang cukup rindang. Disanalah poci dan sunsun tinggal.
Eneng membersihkan rumah dan menata kembali taman belakang Airil yang cukup berantakan. Eneng juga membersihkan ruang lainnya dan kamar-kamar yang tak ditempati. Melihat isi dalam kulkas, Eneng hanya bisa menghela nafas saja. Karena didalam kulkas hanya ada telur satu butir dan buah jeruk serta apel masing-masing satu butir.
"Ealah. Emang dasar bujangan. Isi dalam kulkasnya pun juga jomblo. Yang sabar ya kalian. Nanti mama carikan teman untuk kalian"
Sebenarnya Eneng dan Airil sudah sarapan pagi tadi. Walaupun hanya dua lembar roti dengan selai kacang dan segelas susu. Namun bagi Eneng belum makan nasi disebut belum makan. Jadilah dia menggoreng satu butir telur tersebut untuk sarapan ulang. Eneng juga sudah menanak nasi sedikit.
"Huh. Kenyang juga. Gue makan roti tiap pagi, lama-lama lidah gue berubah bahasanya. Emang nasi terbaik. Pake telur ceplok sama kecap. Sadap"
Karena kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah, eneng tertidur didepan televisi ruangan tengah. Airil yang baru saja pulang setelah empat jam berjibaku dengan gunting dan pisau, mencoba mencari istrinya yang tak nampak wujud dan suaranya.
"Kemana Eneng. Kok sepi banget"
Airil berjalan menuju tangga. Sebelum kakinya melangkah naik, Airil melihat kaki menjuntai diujung sofa. Dan dia mendekatinya.
"Tidur ternyata"
Airil berjongkok hendak membangunkan Eneng. Perlahan Airil mulai memanggil nama Eneng dengan lembut dan usapan kecil. Namun tetap tak berhasil. Airil ingat cara yang diberikan emak jika membangunkan Airil.
"Eneng Lee Minho datang"
Dalam hitungan detik Eneng sudah bangun dan berlari keluar rumah. Airil benar-benar tertawa ngakak. Sampai hampir bocor. Eneng kembali dengan muka masamnya.
"Jahil banget sih jadi orang"
"Lah dari tadi dibangunin susah banget"
"Mbok ya kayak dipilem-pilem itu kang. Bangunin dicium kek. Pakai kata-kata mesra. Eh ini malah diteriaki"
"Gak ingat. Tadi pagi lagi dikecup dikit aja udah vertigo. Kalau sampai aku nyium lagi, yakin semakin gak bangun. Tapi pingsan"
"Bisanya cuma ngejek"
"Jangan ngambek sayang. Yuk jalan-jalan"
"Kemana"
"Ketempat yang indah. Jangan lupa bawa baju ganti sayang"
"Lama kang kita perginya"
"Cuma tiga hari sayang"
"Ya sudah. Aku siapin dulu kang"
"Aku juga mau mandi. Gak enak banget habis operasi"
"Ya kang"
Airil masuk kedalam kamar mandi dan Eneng menyiapkan keperluan mereka selama tiga hari kedepan. Setelah semua siap, mereka berangkat menuju taman hiburan.
"Wah kang kita akan main disini selama tiga hari"
"Ya gaklah sayang. Nanti kita main disini sampai puas sayang"
"Kirain. Gempor tiga hari main disini"
"Yuk kita masuk. Oya kamu punya baju renang gak sayang"
"Gak punya kang"
"Ya udah nanti kita beli dulu untuk kamu sayang"
"Yang sekseh ya"
"Pake sarung aja gak usah baju renang"
"Gak bawa sarung akang"
Airil benar-benar memanjakan Eneng siang hingga sore ini. Karena mulai lelah, Airil langsung membawa Eneng ke hotel yang tak jauh dari lokasi tempat hiburan.
"Kita tidur disini kang"
"Iya. Gimana suka gak"
"Wah seneng banget kang"
Airil merangkul pundak Eneng masuk kedalam kamar mereka. Kamar yang dipesan oleh Airil sudah dihias layaknya kamar pengantin. Eneng terkagum dengan dekorasi kamar tersebut.
"Cantik sekali kang"
"Suka"
"Heem"
Airil memeluk eneng dari belakang. Dia menyibak rambut yang menutupi leher Eneng. Eneng menegang saat Airil mengecupi lehernya. Tak terasa Eneng mengeluarkan suara seksinya.
"Emphhhh"
Eneng mencengkram lengan Airil kuat. Ada getaran kuat yang dia rasakan saat Airil mulai menggerakkan tangannya menelusuri lekuk tubuh Eneng.
"Emphhhh"
Airil menuntun Eneng ke arah ranjang. Perlahan dia merebahkan tubuh Eneng. Kecupan itu kini beralih pada bibir mungil Eneng. Dengan penuh cinta Airil melakukan hal tersebut. Eneng hanya bisa memejamkan mata. Walaupun masih kaku, Eneng bisa membalas apa yang Airil lakukan pada dirinya saat ini.
"Emphhhh"
Perlahan kancing baju Eneng sudah terlepas. Tangan Airil bergerilya tak tentu arah. Bibirnya juga tak kalah lincah.
"Emphhhh. Aduh"
"Kenapa kang"
Bruttttt
Airil berlari menuju toilet karena tiba-tiba mendapat serangan alam. Sedangkan Eneng yang sudah panas dingin hanya bisa melongo. Bingung itu yang saat ini dia rasakan
________
Hahahaha...emang enak dikerjain. Tidak semudah itu Ferguso
Jangan lupa bahagia gaesss.
Jangan lupa jempolnya digoyang yuk