Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Melihat Mu



Sepulang dari kampung halaman, Eneng merasa sangat lega. Keputusannya meninggalkan Japri adalah yang paling tepat. Eneng lebih merasa tenang tanpa beban batin. Eneng sedang berkemas. Bahkan dia belajar bahasa Inggris yang tak jelas. Membuat si kembar kesal namun juga suka menggoda sang pengasuh.


Si kembar sudah berusia empat tahun. Karena memiliki gen dengan IQ diatas rata-rata, menjadikan mereka lebih pandai dibandingkan anak seusia mereka lainnya. Bahkan kedua orangtuanya pusing menghadapai sikap tengil si kembar.


"Eneng aura kasih. Where are you"


"Yuhu mas ganteng Eneng coming" (baca dengan huruf asli ya gaesss. Ingat ini markoneng)


Eneng berjalan ala peragawati catwalk dengan dress bunga-bunga dan topi pantai yang lebar. Cara jalan eneng cukup aneh. Karena dia menggunakan wedges pemberian Jasmine. Setiap satu meter pasti kaki Eneng akan terselip. Membuat Arash kesal.


"Aduh"


"Ck. Pakai swallow aja napa neng. Kaki loe bisa terkilir neng"


"Mas Arash gak geol. Masa udah dandan cetar membahana gini. Suruh pake swallow. Gak banget kali"


"Serah loe neng. Tapi kalau sampai kaki loe terkilir, loe pasti gak diijinin sama Daddy ikut ke Jerman"


"Yah jangan dong mas. Eneng udah nyebar di group kompleks kalau Eneng mau goes to Jerman"


"Neng bacanya gos bukan goes. Emang loe mau ke Jerman naik sepeda"


"Salah dikit aja mas. Keseleo nih lidah Eneng"


"Dah lah gak usah sok Inggris. Pusing pala Arsya"


"Mas tadi manggil Eneng kenapa"


"Laper"


"Ya makanlah. Apa mau Eneng makan"


"Ck. Neng Arash gak suka menu hari ini. Mau yang lain"


"Apa mas"


"Sepedaan yuk neng. Kewarung depan"


"Mau beli apa sih mas"


"Yang seger-seger neng"


"Es batu seger"


"Buat numpuk loe neng"


"Mas Arsya kejam"


"Udah ayo. Siapa tau loe dapat brondong depan komplek neng"


"Boleh-boleh. Eneng ganti baju dulu"


"Iya"


Arsya dan Arash kembali memainkan game sambil menunggu Eneng selesai berdandan. Si kembar bermain sambil berdebat. Tak ada yang mau mengalah. Eneng datang sudah menggunakan training dan kaos panjang tak lupa topi petnya.


"Hai gaesss yuk cuz"


"Lama"


"Mas Arash Eneng cuma bentar kok ganti bajunya"


"Lima belas menit neng ganti baju loe"


"Hehe"


Eneng mengikuti si kembar dari belakang. Mereka mengambil sepeda masing-masing. Eneng juga begitu. Si kembar berjalan lebih dulu dan eneng mengikuti dari belakang. Saat akan berbelok ke arah taman, mereka berpapasan dengan mobil milik Jay.


"Kalian mau kemana"


"Cari angin dad"


"Kekurangan oksigen boy"


"Kelebihan"


"Ya kentut aja biar gak kelebihan"


"Hmm"


Si kembar berlalu pergi tanpa menghiraukan Jay. Eneng memberikan cium jauh kepada Jay. Dan Jay seolah memuntahkan sesuatu dari mulutnya.


"Tuan. Muah. Bay bay"


"Huekkkk. Pait pait"


Eneng tertawa melihat tingkah tuannya. Mobil Jay berlalu kembali ke rumah. Eneng mengejar kedua tuan mudanya. Mereka sudah berhenti didepan gerbang komplek dan sedang memesan semangkok bakso dan mie ayam.


"Ck. Mas kembar cepat banget. Eneng haus nih"


"Tuh ember penuh air neng"


"Suruh minum gitu mas"


"Siapa tau loe mau"


"Gak ada yang lebih kotor gitu mas"


"Selokan mau. Ntar loe tinggal sedot pake selang apa paralon"


"Amazing banget mas"


Rashsya menikah makanannya, Eneng masih menikmati segelas es jeruk penghilang dahaganya.


"Neng kalau laper makan sono. Jangan minum terus. Bese kamu nanti"


"Iya nanti mas. Masih pengen minum"


Rashsya kembali menyantap makanan mereka. Warung bakso di pintu masuk komplek perumahan Jay memang terkenal enak dan murah. Banyak pembeli datang dari luar kompleks.


"Mas eneng mau makan siomay aja nanti"


"Hmm"


Setelah membayar makanan, mereka kembali melajukan sepedanya mengelilingi taman komplek. Eneng yang mulai lapar, berhenti membeli siomay. Sambil mengawasi si kembar dia menikmati siomay nya.


"Wah neng tumben sore-sore loe kesini jajan"


"Iya mang. Tuh momong bocah"


"Mereka anak-anak baik ya neng"


"Banget mang"


Arash berhenti didepan Eneng. Karena kelelahan dan meminta sebotol air mineral.


"Neng minum dong"


"Bening apa berwarna mas"


"Transparan"


"Woke"


Eneng berjalan ke penjual didekat warung siomay membelikan sebotol air minum untuk si kembar.


"Ini mas minum dulu"


"Hmm"


"Mas pulang yuk. Nanti sore mau ke mall kan"


"Iya. Yuk"


Eneng berpamitan kepada penjual siomay dan kembali pulang kerumah. Memang sore ini, Eneng berjanji menemani si kembar dan Ghaydan ke mall. Ada beberapa batang yang harus mereka beli untuk dibawa ke Jerman besok malam.


.


.


.


"Akhirnya sampai juga di tanah air"


Seorang pria tampan baru saja tiba di tanah air. Dia juga sudah dijemput teman lamanya. Beruntung rumahnya yang dulu ditempati sudah tidak ada yang menyewa lagi. Dia akan kembali kerumah lamanya.


"Hai bro. Long time no see"


"Hai. Apa kabar"


"Baik. Loe tambah gagah aja. Gimana udah ada cewek belum"


"Masih menanti yang dulu. Hahaha"


"Setia apa emang gak bisa move on"


"Dua-duanya hahaha"


"Dah yuk jalan"


Keduanya sudah meninggalkan area bandara. Karena pria tampan itu tiba ditanah air sudah mendekati makan malam. Dia meminta singgah di mall untuk makan malam.


.


.


.


Eneng dan si kembar sudah berada didalam Mall. Mereka sedang asyik bermain diarea Timezone.


"Neng lapar. Cari makan yuk dilantai tiga"


"Ayolah mas"


Sikembar memang hanya bersama Ghaydan dan si Eneng saja beserta sopir. Kedua orangtua mereka sudah memberikan pengawalan dari jauh. Rashsya tak suka jika pengawal mereka jaraknya terlalu dekat.


"Neng makan apa"


"Apa saja mas"


"Hotplate aja bang. Lagi pengen"


"Ya udah yuk. Kayaknya gak rame restoran hotplate nya"


Mereka menuju warung hotplate yang mereka mau. Mereka duduk didekat jendela karena meja paling luas cuma disana. Sambil menunggu makanan datang. Ghaydan yang terbiasa manja dengan eneng, langsung menyenderkan kepalanya di bahu Eneng.


Jika pengunjung yang melihat. Akan mengira Eneng seorang ibu muda dengan tiga orang anak tampan. Tak lama makanan mereka datang. Sesekali Ghaydan meminta disuapi oleh Eneng. Eneng yang memang menyayangi mereka bertiga dengan ikhlas menyuapi mereka.


Dua orang pria tampan melintas didepan restoran tempat dimana Eneng sedang makan. Awalnya dia tidak tahu jika Eneng ada disana. Dia memilih masuk ke restoran yang berada didepan restoran hotplate tadi.


"Loe mau makan apa bro"


"Gue yang berkuah saja"


"Oke"


Mereka menunggu pesanan makanan sambil berbincang. Sudah lima tahun dia meninggalkan tanah air. Menggapai sebuah asa. Namun sayang usahanya untuk melupakan seseorang tak pernah berhasil. Kali ini dia kembali dengan tekad untuk meminang gadis itu.


Eneng dan anak-anak asuhnya sudah selesai makan. Mereka bergegas pulang kerumah sebelum malam semakin larut. Saat Eneng melintas, seorang pria yang melihatnya secara spontan mengejar eneng. Namun karena kondisi mall yang rame, dia kehilangan jejak.


"Neng. Aku melihatmu. Aku akan menemuinya segera neng"


_____


Hai gaeessss maaf agak telat. Othor pindah lapak disebelah. hahahaha


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempolnya digoyang. yuk