
Semenjak menandatangani kontrak dengan Almeer, duo F benar-benar menjadi model iklan pakaian milik perusahaan Malik. Berkat bakat alami mereka, kini usaha fashion milik Almeer menjadi semakin berkembang pesat. Bahkan sekalian Dean bersaudara, duo F juga menjadi terkenal. Eneng tak kalah hebohnya kala melihat kedua putranya menjadi model iklan.
Satu minggu setelah iklan mereka diluncurkan, satu sekolah menjadi heboh. Pasalnya untuk pertama kali mereka bisa melihat senyuman dibibir duo Dean dan juga Fathan. Fathan dan Fathian ikut menjadi buah bibir karena kepiawaiannya menjadi model iklan.
"Gak sangka kita kalian bisa jadi model iklan juga"
Nando sahabat mereka ikut berkomentar. Pasalnya mereka sangat tau jika si kembar F tidak suka menjadi model"
"Iseng aja"
"Iseng tapi duitnya gede. Gue juga mau ya gak Ndo"
Riki pun tak mau kalah untuk ikut berkomentar. Dua pasang anak kembar itu memang hanya memiliki dua teman dekat. Riki Zalendra dan Fernando Abrisam. Keduanya kakak kelas duo F. Sama seperti Dean bersaudara.
"Oya. Kalian berdua gak ikut ekskul"
Riki mencoba bertanya bkepada duo F. Karena sebagai ketua basket sekolahnya, Riki berharap agar duo F bisa ikut dalam ekstrakulikuler tersebut. Bukan tanpa alasan. Riki tau pasti kemampuan keduanya.
"Males bang"
"Ikutlah. Masuk basket aja. Bentar lagi gue pensiun. Gue pengen salah satu dari kalian berdua bisa gantiin posisi gue"
"Ntar lah bang. Belum kepikiran"
Mereka sedang berada dikantin. Satu meja yang memang ditempati khusus mereka berenam. Kali ini kantin memang heboh setelah para fans duo Dean dan duo F melihat iklan mereka. Senyuman misterius mereka menjadi perbincangan. Dean bersaudara mulai jengah dengan suara-suara tak jelas disekitarnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Almeer. Mengadukan kondisi sekitarnya dan keberatan mereka mengenai foto yang mereka luncurkan.
Mauren dengan berani kembali mendekati meja duo F. Kepercayaan diri Mauren memang tinggi. Bahkan dia tidak takut jika fans si kembar akan mengamuk. Membawa nampan berisi makanan . Banyak mata tertuju kepada Mauren.
"Hai. Boleh gabung gak"
Hanya Riki dan Nando yang menatap kearah Mauren. Namun tak satupun yang menjawab pertanyaan Mauren.
"Maaf semua meja penuh. Dan gue lihat disini masih ada kursi kosong satu"
Tanpa banyak kata dua pasang anak kembar tadi diikuti kedua tempatnya langsung berdiri. Mereka kompak meninggalkan meja tersebut. Bahkan makanan Thian belum habis. Mauren yang awalnya tersenyum manis, kini berubah jadi masam.
"Kalian mau kemana. Makanan kalian kan belum habis"
Keenam pangeran tampan itu tetap melenggang pergi. Mauren semakin kesal. Mauren tetap menduduki tempat duo Dean dan teman-temannya. Beberapa siswi mencibir Mauren. Namun Mauren cuek tak peduli. Seorang siswa mendekati Mauren untuk berkenalan.
"Hai. Gue Alfin. Boleh kenalan"
Mauren melihat kearah Alfin dan menyambut uluran tangan Alfin dengan senyuman.
"Gue Mauren. Salam kenal"
"Boleh gue duduk disini"
"Silahkan"
Alfin menemani Mauren makan siang. Alfin juga berwajah tampan, namun tak setenar sikembar dan teman-temannya.
"Loe pindahan dari mana Ren"
"Gue dari kota S"
"Oh. Gimana, asyik gak sekolah disini"
"Ya lumayan"
"Semoga betah ya"
"Semoga"
Alfin dan Mauren meneruskan percakapan dengan menikmati makanan mereka. Hingga suara bel tanda masuk pelajaran dimulai. Mereka kembali ke kelas masing-masing.
Tak terasa jam pelajaran telah usai. Hari menjelang sore dan mereka kini beranjak satu persatu meninggalkan sekolah untuk kembali kerumah masing-masing. Airil sudah menunggu kedua putranya diterbangkan sekolah. Begitu juga sopir pribadi Dean bersaudara. Lagi-lagi mereka selalu menjadi pusat perhatian. Termasuk Mauren yang sedang menatap keempatnya bersama Alfin.
"Mereka memang seperti itu ya Fin"
"Setau gue sih iya"
"Gak pernah senyum"
"Kecuali Fathian, gue memang belum pernah melihat senyum mereka semua"
"Oh begitu ya. Apa ada kelainan ya. Hahaha"
"Hust jangan asal bicara loe. Mereka bukan keluarga sembarangan. Salah ngomong bisa kena masalah"
"Benarkah. Sehebat itu mereka"
"Hem. Jadi hati-hati kalau ngomong"
Mauren melangkah keluar gerbang sekolah. Disana sang sopir sudah menunggu. Mauren sempat melihat jenis mobil yang digunakan Dean bersaudara.
"Wow. Beneran horang kaya"
Sepulang sekolah tadi, Almeer sempat menghubungi duo F. Mengingatkan mereka jadwal pemotretan untuk besok. Semenjak duo F bergabung diperusahaan Arash, pemasukan dibidang fashion semakin meningkat. Airil selalu mendukung kedua putranya begitu juga emang.
"Pah mampir mini market ya"
"Mau beli apa dek"
"Es campur yang didepan mini market"
Mereka berhenti didepan mini market dekat komplek perumahan mereka. Thian turun dari mobil bersama Fathan untuk membeli es campur.
"Bang es campur empat"
"Ya dek. Antri dulu ya"
"Oke"
Fathan dan Thian menunggu sambil berdiri didekat gerobak. Mereka tak menyadari jika foto mereka kini sedang terpampang jelas di baliho toko seberang. Salah satu pembeli es campur menyadari jika model dibaliho itu sedang ikut mengantri.
"Lihat deh. Bukannya mereka berdua yang ada dibaliho itu"
"Weh iya. Beneran mereka"
"Gila aslinya emang ganteng banget. Gue pikir editan komputer"
"Wuih. Asli ini ganteng bener"
Dua orang wanita yang sedari tadi sedang menikmati es campur, kini terfokus pada duo F. KunNo yang disamping mereka langsung memberitahukan kepada sang majikan.
"Bos. Ternyata sekarang sudah jadi artis ya"
"Siapa"
"Ya kalian berdualah"
"Masa sih"
"Noh lihat foto siapa itu"
Duo F kompak melihat baliho didepannya. Keduanya pun langsung saling menatap. Dan kompak menaikan kedua bahunya.
"Tuh cewek dua. Dari tadi gosipin kalian tau"
"Biarin aja Kun. Pura-pura saja lupa kalau kita model"
"Ada gitu"
"Ya adalah. Buktinya kita"
"Sesukamu lah bos"
Panggilan sang penjual es campur menghentikan kedua perempuan yang sedang bergosip tadi. Mereka bahkan sengaja berdiri untuk berkenalan dengan duo F.
"Terimakasih pak"
"Sama-sama dek"
Thian mengajak Fathan kembali ke mobil. Langkah mereka terhalang oleh kedua wanita tadi.
"Hai boleh kenalan gak"
Fathian dan Fathan hanya diam saja. Mereka tetap berjalan. Salah satu wanita tadi berani memegang lengan Thian.
"Boleh kenalan kan. Kalian model di baliho itu kan"
"Maaf kak. Kakak salah orang"
"Masa sih. Wajah kalian sama persis kok"
"Kakak salah orang. Permisi kita mau pulang kak"
Perempuan tadi ternyata tak menyerah. Tetap memegang lengan Thian.
"Nama kalian siapa"
"Huh. Aldo dan Aldin"
"Terimakasih"
Fathan dan Fathian bergegas masuk kedalam mobil. Airil yang sedari tadi melihat didalam mobil menjadi penasaran.
"Siapa mereka dek"
"Gak tau pah"
"Loh gak tau kok bisa megang tangan kamu dek"
"Maksa kenalan pah. Gara-gara tuh iklan"
Airil baru menyadari jika ada baliho foto kedua putranya. Airil pun sempat mengambil gambar baliho tersebut dengan ponselnya.
"Widih. Anak papa pemes sekarang. Artis oey"
"Biasa aja kali pah. Gak usah lebay"
______
Dua bab.....
jangan lupa bahagia gaesss
jempol digoyang yuk