Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Tak menyangka



Eneng sudah sampai dikampung. Mang Toyib akan kembali ke kota sore nanti. Dan rencananya Airil akan datang besok subuh. Kedatangan Eneng dan keluarganya sangat dinantikan warga kampung. Mereka benar-benar merindukan Eneng dan keluarganya.


Arif dan keluarganya langsung menuju rumah eneg saat tahu Eneng sudah kembali ke kampung. Eneng langsung membersihkan rumah bagian dalam. Karena bagian luar dan kebun sudah sangat bersih dan rapi. Mungkin warga sekitar yang membersihkannya.


"Neng. Kamu balik lagi ke kota"


"Eneng iya teh. Kalau emak sama titi akan kembali tinggal disini"


"Alhamdulillah. Setidaknya kami bisa membayar kesalahan kami dulu jika emak dan adikmu masih disini. Maafkan kami semua sudah percaya omongan Tati"


"Kami tidak pernah marah dengan kalian. Jadi tak perlu meminta maaf"


"Mak. Hatimu memang seluas lapangan bola"


"Gak salah teh"


"Lah emang gimana harusnya neng"


"Biasanya teteh ngomongnya, hatimu selebar slebormu"


"Hust jangan buka kartu dong neng"


Mereka semua benar-benar melepas rindu. Belum genap setahun Eneng meninggalkan kampung, satu kampung sudah merindukan tingkah konyol Eneng.


"Neng kita mau kasih kabar heboh"


"Paan teh"


"Mantan loe, ditinggal bininya"


"Hah. Maksudnya teh"


"Tuh sipanjul Japri. Ditinggal si Tati"


"Kok bisa"


"Jadi setelah nikahan waktu itu, Japri sadar kau loe cuma bohong kalau loe udah punya anak. Japri ngotot ngejar kamu. Dihalangi Tati. Dia ngancam bunuh diri. Kare a kita masih terhasut omongan Tati, jadilah kita membela Tati. Sorry ya neng"


"Udah lupain aja. Terus Tati kabur kemana teh. Bukannya dia sudah lahirankan harusnya"


"Iya udah lahir anaknya. Habis tuh emaknya kabur sama laki lain"


"Astaghfirullah. Kok bisa"


"Jadikan ternyata bapak si Japri itu cerdas banget"


"Cerdas gimana teh"


"Jadi semua wasiat dikasih nama loe neng. Dan tanpa Japri tahu kalau bapaknya itu nyewa pengacara buat pengesahan. Tidak bisa dialihkan ke orang lain walaupun loe udah ikhlas"


"Lah terus gimana dong teh kalau kayak gitu"


"Gak juga gue neng. Loe tanya aja sama si japri"


"Hubungan sama Tati minggat apaan teh"


"Tati gak bisa mengambil warisan Japri jadi dia ngamuk. Habis lahiran anaknya ditinggal pergi. Parahnya selama ini dia udah punya cadangan buat gantiin Japri"


"Ya Allah. Kasian banget anaknya"


"Iya neng. Japri kayak orang stress. Kita-kita yang bantuin ngurusin anak Japri"


"Tega banget si Tati. Kirain dia balik kekampung udah sadar. Tapi masih sama saja"


"Orang kayak Tati gak akan sadar neng"


Eneng berbincang sambil menatap pakaian emaknya dilemari. Emak sedang temu kangen dengan warga lain didepan. Mungkin juga membahas tentang kehidupan Japri.


"Eh neng gue sampai lupa"


"Apa teh"


"Selamat ya. Loe akhirnya udah tunangan. Bener sama dokter ganteng itu neng"


"Alhamdulillah teh"


"Membuang arang dapatnya berlian neng. Hahaha"


"Bisa aja teh"


"Nikahan kita diundang dong neng. Pengen lihat kota"


"Insyaallah"


Hari semakin siang, Eneng berniat akan memasak untuk makan siang mereka. Namun para tetangga sudah datang membawakan berbagai macam makanan dari rumah masing-masing. Emak sampai menangis karena terharu.


Sore menjelang. Selepas sholat Ashar, mang Toyib berpamitan kembali ke kota. Bukan emak yang membawakan berbagai macam hasil bumi. Melainkan para warga sekitar. Bagasi dan kursi belakang mobil penuh dengan hasil bumi. Bahkan bebek dan ayam ikut mereka bawakan. Yang memliki kolam dan tambak udang, juga ikut membawakan. Mang Toyib sampai bingung meletakkan barang-barang tersebut. Karena dia membawa mobil kecil.


Saat malam tiba, Eneng baru tersadar jika dirinya belum memberi kabar kepada Airil. Bisa Eneng pastikan Airil akan sedikit ngambek. Usia mereka memang beda jauh. Walaupun Eneng lebih muda dari Airil, akan tetapi Airil lebih kekanakan dibandingkan Eneng. Apalagi jika sedang ngambek.


"Assalamualaikum kang"


"Waalaikumsalam"


Nada Airil sedikit ketus. Eneng hanya tersenyum. Dengan cepat Eneng mengalihkan ke panggilan video. Dia sangat suka melihat wajah cemberut Airil. Airil langsung menjawab panggilan video tersebut. Nampak Airil enggan menatap wajah Eneng.


"Jangan marah dong. Maaf tadi ponsel dirasakan. Tamu banyak banget yang datang. Nih lihat belum selesai beberes. Besok udah harus balik ke kota"


"Hem"


Airil hanya melirik sedikit dan kembali memalingkan wajahnya.


"Iya maaf. Aku salah. Jangan marah lagi ya. Gantengnya hilang loh"


"Hem"


"Ham hem aja. Gak sekalian nyanyi. Heem eeem hee eeemmm"


Airil berusaha menahan tawanya mendengar nada lagu Eneng dari sebuah grup musik muslim yang penomenal.


"Gak usah ditahan kentut entar"


Bruttttt breeeet


Airil dan Eneng sama-sama saling pandang. Airil mengira itu Eneng. Dan sebaliknya tapi ternyata bukan mereka.


"Huh leganya. Nahan dari tadi. Gak enak banyak tamu"


"Ya Allah Mak. Kentut kira-kira dong. Sumpah mau pingsan Eneng Mak. Ini satu rumah bagi semua"


Airil tertawa ngakak mendengar teriakan Eneng. Eneng keluar dari kamar dan ingin menghirup udara segar didepan rumah. Sat melewati ruang tamu, Eneng melihat beberapa ekor cicak terkapar.


"Mak. Ini korban pembunuhan namanya. Lihat cicaknya terkapar semua terkena gas beracun. Emang gas emak mematikan"


"Berisik kamu neng. Emak aja gak bau. Titi juga"


"Titi. Kemana tuh anak gak kedengaran suaranya"


Dengan tetap membawa ponsel yang masih terhubung dengan Airil, Eneng berjalan menuju kamar emak dan adiknya. Tak lupa hidung Eneng ditutup menggunakan baju yang dikenakannya dengan cara ditarik keatas.


Eneng masuk ke kamar emak. Emak sedang rebahan sambil memiringkan tubuhnya. Karena badan emak yang montok membuat Titi yang mungil seperti Eneng tak nampak.


"Titi mana Mak"


"Tuh dibelakang emak. Anteng dia udah tidur"


"Tidur apa pingsan. Busyet nih kamar baunya gas mematikan"


Airil masih saja tertawa. Apalagi melihat wajah Eneng yang memerah menahan bau. Eneng berjalan mengitari ranjang untuk melihat Titi. Melihat posisi Titi saat ini, Eneng tau jika Titi bukan tidur melainkan pingsan.


"Mak. Titi pingsan Mak"


"Ah bohong kamu neng"


"Coba lihat mukanya tuh"


Emak memutar sedikit badannya untuk melihat kearah Titi.


"Eh busyet nih bocah napa muka dihadepin ke slebor emak sih"


Wajah Titi memang sedang mengarah ke slebor emak. Dan dipastikan Titi orang pertama yang mendapatkan serangan bom beracun.


"Gimana gak pingsan si Titi Mak. Dia gak hanya menghirup udara beracun bisa jadi juga meng***hi***sapnya. Lihat aja mulutnya mangap. Ti sadar ti"


"La salah sendiri muka pake diarahin kesini. Ngefans kali sama slebor emak dia neng"


"Duh Gusti. Ini namanya korban keganasan emak beracun"


Airil yang dilihatkan wajah Titi. Benar-benar kram perut. Bahkan dia sudah lupa dengan marahnya. Airil terus tertawa berguling-guling. Hingga sesuatu terjadi.


"Kang itu apa basah dikaki akang"


Airil menoleh kebawah kakinya. Wajahnya berubah menjadi merah. Dia berlari masuk kedalam toilet.


"Buahahaha. Si akang ngompol"


_____


Kalau sampai up 2x khilap namanya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Detik-detik asal usul Dzaky cuy...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk