
Malam perayaan pesta pernikahan Eneng sudah tiba. Eneng dan Airil memilih mengenakan pakaian santai tapi sopan dibandingkan menggunakan gaun ala sinderela. Ya kali pesta dilapangan pakai gaun segede gaban.
Para warga yang bukan tamu undangan benar-benar merasa terhibur. Artis ternama yang Jay panggil benar-benar bisa menyemarakkan pesta pernikahan Eneng dan Airil. Dan ingat tujuh hari tujuh malam ya gaess.
Sebagai bintang utama malam ini, Airil dan Eneng datang bersama keluarga besar Malik. Rekan kerja Airil dirumah sakit tak menyangka jika istri dokter tampan idola para wanita itu adalah seorang anak jutawan. Walaupun mereka tak mengetahui fakta sebenarnya.
"Wah kang pasar malam ini namanya"
"Iya bedanya gak ada area permainan sayang. Hanya konser dangdut"
"Rame banget kang"
"Alhamdulillah banyak yang mendoakan kita. Meskipun mereka datang dengan niatan melihat konser dangdut"
"Iya gapapa"
Eneng memeluk lengan Airil dan Airil menggenggam telapak tangan Eneng menggunakan tangan lainnya. Eneng bahagia melihat para sahabatnya dipersatuan asisten kece bisa datang dalam acaranya ini. Eneng mendadak viral. Karena merupakan satu-satunya asisten rumah tangga yang bisa menggaet hati dokter.
"Eh iya kang. Eneng mau tanya dong"
"Apa sayang"
"Udah pake pempers belum kang"
Airil kaget mendengar pertanyaan eneng yang ajib itu. Airil menjawab Eneng dengan berbisik.
"Kenapa emangnya sayang"
"Takut kedinginan. Nanti pralonnya bocor lagi. Kan malu kang"
"Tenang aman kok. Kecuali nanti kalau kita udah pulang. Takutnya gak aman"
"Huh. Nanti Eneng mau cari toko besi dulu"
"Mau ngapain beib"
"Beli lem pralon biar gak bocor-bocor"
Pembicaraan Eneng dan Airil didengar oleh Arash dan juga Atha.
"Apanya yang bocor neng"
"Pralon mas Atha"
"Oh pralon dirumah loe bocor neng"
"Iya mas"
"Bocornya nyembur apa merembes neng"
"Kalau yang Eneng lihat sih masih merembes mas"
"Oh masih aman itu neng. Bahaya kalau udah nyembur"
Airil tersedak minuman yang saat ini sedang dia nikmati karena perkataan Atha.
"Uhuk uhuk"
"Kang pelan-pelan dong"
"Eh iya"
Arash yang memang memiliki kepekaan tinggi langsung paham maksud yang dibicarakan oleh Atha dan Eneng baru saja.
"Saran gue neng. Loe ikat aja tuh ujung pralon pake tali khusus pralon. Jangan dilem dulu"
"Bisa emangnya mas"
"Bisa dong neng. Itu yang merembes kan sambungannya kan"
"Itu pralon gak ada sambungannya mas"
"Tha loe tuh kenapa sekarang lemot amat sih"
"Kampret loe rash. Seenaknya ngatain gue"
"Loe tuh paham gak pralon yang dimaksud Eneng sedari tadi"
"Pralon air kan rash"
"Iya air dari surga"
"Ohhhhhh. Jadi itu toh maksud Eneng"
"Masa gitu aja gak paham. Lagian Airil itu dokter ternama. Masa ya rumahnya bocor. Yang bocor yang punya rumah"
"Wah neng kalau gitu biarin aja nyembur. Kalau cuma merembes gak asyik. Hahaha"
Airil pun akhirnya ikut tertawa. Awalnya dia memang sedikit malu jika rahasianya terbongkar. Ternyata kedua anak jutawan itu mengartikan hal lain.
"Aduh mas. Banjir dong. Ogah Eneng kalau sampai banjir"
Sebelum rahasianya benar-benar terbongkar oleh Eneng. Airil langsung menarik tangan Eneng untuk menemui teman-teman sesama dokter.
"Sayang. Yuk temui teman-teman aku dulu"
"Oke kang. Bye bye mas Atha"
"Huh. Lagu loe neng. Mentang-mentang udah laku"
"Gak usah sirik kali. Anda belum laku ya. Kasian"
"Semprul emang loe neng"
Eneng mengikuti Airil menemui teman-teman sesama dokter dan juga perawat dirumah sakit tempat Airil bekerja. Salah satu tamu dokter tersebut ada dokter wanita yang belum lama ikut bergabung dirumah sakit tempat Airil bekerja. Dia juga menaruh rasa kepada Airil.
"Wah wah pengantin baru. Bintang utama malam ini. Selamat ya ril"
"Makasih semuanya. Makasih sudah mau datang keacara sederhana kami ini"
"Wah dokter Airil terlalu merendah ini. Acar semegah ini dokter bilang sederhana. Ck ck. Terlalu namanya. Hahahaha"
"Benar kata dokter Faisal. Selain megah, acara pernikahan ini benar-benar unik. Belum pernah ada yang membuat acara seperti ini"
"Hahaha. Dokter Faisal dan Dokter Sari terlalu berlebihan"
"Oya dok. Ini bener acaranya tujuh hari tujuh malam. Seperti yang tertulis di spanduk panggung itu"
"Insyaallah dok seperti itu"
"Wah wah. Sungguh luar biasa. Kalian benar-benar memberikan hiburan gratis untuk masyarakat. Insyaallah berkah pernikahan kalian. Lihat saja tamu undangan ataupun bukan sangat bahagia. Dengan wajah bahagia mereka saja doa terbaik mengalir untuk kalian"
"Aamiin aamiin dok. Terimakasih doanya"
Dokter baru yang menaruh perasaan kepada Airil, mendekat dan mengulurkan hadiah untuk pengantin baru tersebut.
"Dok selamat menempuh hidup baru"
"Terimakasih dokter Nana"
"Ini sekedar kenang-kenangan untuk sepasang pengantin baru. Semoga kalian bahagia selalu"
"Wah merepotkan. Terimakasih hadiah dan doanya. Oya kalian silahkan nikmati pesta ini. Tidak perlu sungkan. Saya harus menemui tamu yang lain"
"Oya silahkan dok"
"Huh pupus sebelum berkembang"
Suara hati dokter cantik yang mengharapkan cinta akang Airil. Eneng duduk disambil menikmati semangkok bajigur. Airil masih berbincang dengan keluarga Malik.
Malam semakin larut. Keluarga dan pasangan pengantin baru memutuskan kembali kerumah. Acara tetap berlanjut sesuai rencana. Malam ini keluarga Airil dan emak Eneng akan menginap dirumah Jay. Mereka tidak ingin mengganggu malam pertama pasangan pengantin baru itu.
"Ah akhirnya bisa ketemu kasur juga"
"Iya sayang. Lelah banget"
Airil dan Eneng melempar tubuh mereka diatas ranjang dengan arah berlawanan. Kedua tangan mereka direntangkan dan kaki menjuntai ke bawah.
"Neng kamu mau mandi dulu gak"
"Akang dulu aja"
"Barengan aja yuk"
"Gak usah usil dong kang. Ntar ngompol lagi loh"
"Hish masih ingat aja kamu yang"
"Sayang mandi dulu. Aku udah selesai"
"Okay"
Saat Eneng mandi, Airil mengganti pakaiannya. Airil sedikit terkejut melihat Eneng sudah keluar kamar mandi. Seingat Airil belum ada sepuluh menit Eneng masuk kamar mandi.
"Cepet banget yang mandinya"
"Hilih ngapain juga mandi lama-lama kang. Yang penting basah disabun dah selesai"
"Hahahaha. Pemikiran yang bagus. Ajaib emang"
"Kan yang penting gak bau asem"
"Betul"
Eneng sudah memakai daster seperti biasa jika akan tidur. Dan Airil memang lebih suka memakai sarung dan kaos tipis.
"Akang mau ronda apa sholat"
"Gak keduanya. Kan udah sholat tadi yang. Kenapa emangnya"
"Kayak orang habis sunat aja pake sarung"
"Aku biasa kayak gini sayang kalau dirumah. Biar kena udara segar"
"Gak takut terbang apa"
"Santai ada pawangnya kok. Hahaha"
Malam semakin larut. Terdengar suara aneh dari dalam kamar pengantin tersebut.
"Aduh akang kok merah"
"Lah tadi maunya apa yang"
"Ungu"
"Oh mau ungu. Bentar"
"Auh sakit kang"
"Aduh aduh maaf maaf"
"Kang ini disodok kekanan apa kekiri"
"Kirian dikit aja neng. Biar pas lobangnya"
"Yah meleset kang"
"Kurang konsentrasi kamu sayang. Dah aku aja yang nyodok"
"Okey kang. Pelan-pelan aja kang"
"Iya kamu tenang aja sayang"
"Aduh neng deg deg an kang"
"Bentar akang butuh konsentrasi neng. Kamu diam dulu. Jangan tegang gitu mukanya"
1
2
3
"Golll. Goll kan neng gak percaya sih kamu"
"Wah akang hebat. Padahal lobangnya kecil loh kok masih bisa masuk"
"Siapa dulu dong"
"Aduh kang sakit"
"Sayang berdarah ini. Bentar kamu tenang dulu biar gak nambah banyak darahnya"
"Sakit kang"
"Iya bentar. Tahan bentar saja"
Dari luar jendela kamar Airil terdengar suara timpukan batu kecil kearah jendela kamar. Dan suara kaca seperti digedor berkali-kali.
"Kang suara apa itu"
"Gak tau neng. Kan kamar akang dilantai dua, gak mungkin dipanjat orang kan"
"Kalau bukan orang berarti setan yang ngitipin kang"
"Iyakah. Kita coba lihat saja sayang. Mungkin orang iseng juga"
"Iya kang. Kalau beneran tuh setan awas aja. Eneng slepet"
"Kamu hati-hati sayang jalannya masih ngilu kan"
"Dikit"
Airil merangkul pundak Eneng dan berjalan perlahan. Eneng membuka tirainya. Dan ini kali pertama Airil melihat penampakan dua sosok makhluk transparan. Poci dan sunsun.
"Kalian ngapain ganggu istirahat gue"
"Heh harusnya yang protes itu kita. Kalian yang gangguin hari tenang kita"
"Emang gue ngapain"
"Plis deh. Kita tau kalian habis nikahan. Kalau lagi proses pembukaan lahan tuh gak usah teriak kenceng-kenceng. Kan bikin kita risi"
"Lah emang suara apaan"
"Huh sakit kang. Lubangnya kecil. Akang akan yang nyodok"
"Oh begitukah. Terus apa masalah buat kalian"
"Ya masalah lah. Mikir gak sih loe kita tuh jomblo. Huahhhhhh. Ternoda pendengaran gue"
"Oalah setan jones. Kenapa kalian gak jadian aja. Biar gak jones"
"Ogah. Gue mah gak mau sama yang bolong dipunggung"
"Gue juga ogah sama yang loncat-loncat. Capek ngejarnya"
"Ealah serah kalian lah. Sono pergi gue ngantuk"
"Kalau kita pergi awas aja kalian bikin suara aneh"
"Huh setan kok otaknya mesum. Kita tadi lagi main karambol, terus karena gue baru tahu kalau lobang papan karambol itu kecil. Terus gue gak sengaja turun dari kasur nendang ujung meja. Jempol gue berdarah. Kan sakit"
"Jadi kalian gak lagi mencangkul. Tapi main karambol"
"Iya. Kalian udah setan otak masih mesum"
"Maklum lah kita ini kesepian. Tiap malam cuma nongkrong diatas pohon"
"Sudahlah terima nasib saja. Ngenes ya ngenes aja"
"Semprul emang loe. Lagian kenapa loe gak takut sama kita sih"
"Emang kalian serem"
"Ya kalau menurut orang normal yang lihat kita serem"
"Loe kata gue gak normal"
"Ya bukan gitu nyatanya loe gak takut sama kita"
"Karena kalian gak seserem tukang tagih utang"
________
Jadi gaesss...ini cerita sengaja dicepatkan. Eneng memang nikah setelah Arash menikah. Kalau othor cerita detail. Wah tersanjung aja kalah. Yang ada jenuh. Eneng keburu marah gak nikah nikah...paham kanπππ
Jangan lupa bahagia gaesss
Jangan lupa jempolnya digoyang yuk