Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Poor KunNo



Weekend adalah hari yang paling Airil sukai. Semenjak sikembar lahir, Airil selalu meluangkan waktu weekend untuk keluarga. Terkadang mereka akan pergi ke mall sekedar menonton bioskop. Atau pergi ke taman wisata.


Hari ini Airil akan mengajak mereka pergi ke taman wisata. Walaupun usia mereka mendekati remaja, namun mereka sangat senang bermain diwahana permainan. Pagi hari sudah heboh dengan keusilan duo F yang tingkahnya selalu membuat KunNo pusing.


Lai-lai la lai-la lai


Panggil aku si Ono


Ono jarang pulang


Kun kun jarang dibelai


Lai lai la lai la lai


"Yihaaa. Tarik bang"


Du di du di dam dam du di du di dam


Suara si kembar sudah membuat seisi rumah menutup telinga. Fathan hanya terlihat dingin dan anteng jika diluar rumah saja. Jika hanya bersama adik kembarnya dan juga kedua pengawalnya, selalu saja menggila.


"Abang ****** merah gue kemana"


"Ya dilemari kan dek. Gue gak pinjam"


"Gak ada Abang"


"Ya udah pakai aja yang ada"


"Ck. Lagi mau yang merah Abang"


"Ya sudah nanti beli lagi aja"


Ono yang sedari tadi nangkring diatas dahan pohon balkon kamar si kembar, dengan santainya menjawab pertanyaan Thian.


"Bukannya kemarin loe lempar ke atas genting bos ****** merahnya"


Fathan dan Thian saling berpandangan. Dan mengingat ada kejadian apa sehingga ****** merah Thian bisa berada diatas genting.


"Dek. Kemarin bukannya loe mau pembuktian penolak hujan lempar ****** merah loe"


"Oh iya ya bang. Kan loe yang nyuruh. Loe yang baca artikelnya bang"


"Heem. Ternyata hoak. Bukannya reda malah tambah deras pakai angin lagi"


Ono kembali menyahut perkataan si kembar yang asyik membahas ****** merah milik Thian.


"Ck. Artikelnya gak salah kali. Kalian aja yang gak merubah isi artikelnya"


"Merubah gimana coba no"


"Setau gue ya. Sedari jaman gue masih bernapas. Yang ada ****** perawan yang dilempar ke genting. Bukan ****** perjaka"


"Yaelah kan sama aja no. Sama-sama masih suci ya gak dek"


"Iya bener itu kata Abang. Bukannya kita tidak boleh membedakan antara perempuan dan laki-laki ya no"


"Ck. Kalau gak dibedain bahaya kali Thian"


"Loh yang dipelajaran sekolah ngomongnya gitu kok"


"Masa sih. Ya udah nanti gue cari di Mbah gulgul. Baru gue jawab pertanyaan loe Thian"


Fathan sudah siap dengan pakaian casualnya. Sedangkan Thian masih ribut dengan ****** miliknya.


"Udahlah dek pakai yang ada aja. Kan banyak koleksi loe. Ada gambar sponge bob juga tuh"


"Hmm. Aku pakai yang pink ajalah. Biar indah"


Ono melotot mendengar Thian mengatakan tentang keindahan.


"Apanya yang indah si Thian. Bersemak gitu. Rumput doang"


"Loe gak tau aja ada apa dibalik rumput"


Fathan dan Ono langsung menjawab dengan kompak dan tertawa setelahnya membuat Thian kesal.


"Cacing tanah. Hahahaha"


"Abang. Ono. Sungguh terlalu kalian. Ini bukan cacing tanah kali"


"Mamaaaa. Ono sama Abang jahat"


Thian berteriak sekencang mungkin dan kembali disambut tawa oleh Fathan dan Ono. Thian mengenakan pakaian dengan perasaan kesalnya. Bahkan saat perjalanan pun Thian emas sekali tak bersuara.


"Abang adik kamu kenapa diam aja"


"Sariawan kali pah"


"Beneran dek kamu sariawan"


"Gak pah"


"Tumben loh kamu diem gini. Kamu sakit dek"


"Gak mah. Thian gapapa"


Fathian yang sedang asyik mendengarkan musik dengan headset ditelinganya yang akhirnya menjawab pertanyaan sang mama.


"Dia kesal mah. Kita katain cacing"


"Adik cacingan apa"


"Bukan cacing itu mah"


"Lah terus"


"Abang sama Ono jahat. Ngatain alat tempur adik cacing"


Airil dan Fathan tertawa lepas mendengar kejujuran Thian. Ono dan Kunkun ikut tertawa dibelakang mereka. Thian semakin cemberut. Eneng berusaha agar si bungsu kembali ceria. Karena Thian itu sama dengan Airil jika sudah kesal dan tidak segera dibujuk. Seharian dia akan diam tak mau melakukan apapun.


"Coba sini mama lihat"


"Oh mama. Malu kali. Thian udah sunat. Lihat punya papa aja"


"Udah bosan. Mama cuma buktiin aja kalau punya adik itu bukan cacing"


Fathan kembali menggoda sang adik. Namun Fathan lupa disana ada sang mama yang paling ahli membalikkan perkataan.


"Kalau bukan cacing terus apa dek"


"Abang. Apa Abang lupa kalian itu kembar cuma beda lima menit. Punya adik cacing, artinya punya kamu apa bang"


Giliran Thian yang menjawab paling kencang dan tertawa lepas.


"Cacing juga dong. Hahahaha. Mama lop u sekebon"


Thian mencium Eneng dari belakang. Airil tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka akan memiliki keluarga yang begitu ramai. Walaupun dokter sudah mengatakan jika Eneng akan sulit untuk kembali hamil. Namun bagi Airil dua jagoannya cukup membuat ramai.


Tiba ditaman bermain dengan segala jenis wahana yang menarik, Thian sangat bersemangat mengabsen wahana mana saja yang akan dia naiki nanti.


"Mah ayo buruan"


"Sabar dek. Kamu duluan saja. Ini uang buat beli tiket masuk"


Eneng masih menunggu Airil yang sedang memakirkan mobil. Si kembar dikawal duo KunNo sedang membeli tiket masuk. Dan menunggu kedua orangtuanya didepan pintu masuk.


"Sudah beli tiketnya bang"


"Sudah pah"


"Ya udah ayo kita masuk"


Mereka beriringan masuk kedalam taman bermain cukup ternama dikota tersebut. Thian sangat bersemangat langsung berlari kearah wahana tornado. Eneng dan Airil memilih menunggu mereka dikursi tunggu.


"KunNo ayo naik"


"Bos kecil kita nonton aja ya'"


"Enak aja. Kalian kan disuruh jagain kita. Ayo naik"


Ono menatap Kun yang sama-sama tak menginginkan menaiki wahana yang memacu adrenalin itu.


"No. Gue takut"


"Gue juga Kun"


"Tapi kalau kita gak ikutan naik, loe tau kan mereka berdua akan ngapain kita"


"Iya. Kun. Palingan kita disuruh ganti kain. Dan loe bakalan dikepang tuh rambut"


"Mending cuma dikepang. Fathan udah mau ngecat ribut gue warna pink no"


"Hilang martabat kita Kun"


"Hoo. Gantinya martabak aja"


"Spesial enak tuh Kun. Double telur"


"Hummm. Yummy"


KunNo yang sedang asyik membahas makanan, dikejutkan oleh Thian yang sudah berkacak pinggang dihadapan mereka. Si KunNo akhirnya mengikuti si kembar menaiki tornado.


"Huaaahhhh. Seruuuuuuj bangetttt"


"Tolonggg Ono gak kuat lagi tuhannn"


"No. Kepala gue mau copottt. Pusing no"


"Diem loe Kun. Gue juga pusing"


Si kembar menikmati permainan ekstrim itu. Setelah puas mereka berpindah ke wahana ekstrim lainnya. Lagi-lagi KunNo yang menjadi sasaran.


"Ampun dj. Mual gue mual"


"Kun. Kita kabur aja yuk. Tuh dua tuyul belum mau berhenti"


"Gak sanggup jalan lagi no"


Mereka terduduk lemas setelah keluar dari wahana rollercoaster. Si kembar datang dan duduk disamping KunNo dan kedua orangtuanya.


"Sudah capek belum"


"Belum pah"


"Mau main apa lagi"


"Waterboom"


KunNo saling menatap. Perlahan mereka ingin berlalu pergi. Dan ternyata rok kunkun sengaja diinjak Thian.


"Kalian berani kabur"


"Gak bos"


"Ayo temani renang"


"Kita gak punya baju ganti bos kecil. Nanti dimobil basah"


"Gampang kalian duduk diatas kap mobil. Nanti gue cariin rapia buat ngiket kalian biar gak jatuh"


"Kejam"


"Kan biar kering. Piye to"



Fathan



Fathian..


_____


Sabar KunNo


Jangan lupa jempolnya gaesss


Jangan lupa bahagia