Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Dunia Eneng



Sudah sembilan bulan lebih sepuluh hari eneng bekerja dirumah salsa. Kalau bumil mah udah brojol. Salsa sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya. Panji juga berusaha memperbaiki hubungannya dengan salsa. Panji baru tahu jika dokter yang dilihatnya saat itu adalah Gama sepupu salsa dari pihak papinya.


Hari ini akan ada acara keluarga lebih tepatnya syukuran atas kesembuhan salsa. Seleruh keluarga salsa yang berada di Jakarta akan hadir. Sedari pagi setelah mengurusi keperluan salsa, eneng ikut membantu di dapur. Makanan khas timur tengah yang akan menjadi hidangan. Eneng memperhatikan setiap apa yang koki kerjakan. Walaupun oleng, daya ingatnya sangat kuat.


"Neng loe ikut mang Sueb ke market depan komplek buat beli minuman kemasan"


"Ya teh"


"Ini uangnya. Dan ini daftar belanjaannya. Kalau loe gak mudeng tanya sama pramuniaga disana"


"Iya teh. Ada lagi gak"


"Sama mampir toko roti sekalian neng. Ambil pesanan punya nyonya. Ini notanya. Sudah dibayar nyonya"


"Okay teh. Neng pergi dulu. Jangan rindu ya"


"Dah pergi sono. Gue gak akan rindu"


Eneng keluar melalui pintu belakang. Dia mencari keberadaan mang Sueb didekat taman belakang. Setelah mengatakan apa yang diminta geulis, mereka berangkat menggunakan mobil. Mereka menuju mini market terlebih dahulu. Karena toko kue yang akan mereka kunjungi berlawanan arah dan lebih jauh.


"Neng loe mau gue temenin gak"


"Gak usah mang. Ini cuma dikit kok"


"Ya udah. Nanti kalau loe udah selesai, langsung panggil gue. Biar gue yang angkat belanjaannya"


"Asyiaaap"


Eneng masuk kedalam mini market tersebut. Ternyata beberapa barang yang dicari Eneng cukup sulit dia mengerti. Eneng mencari bantuan. Seingatnya dia harus mencari orang yang bernama pramuniaga. Eneng bingung bagaimana caranya mencari orang yang bernama pramuniaga itu.


"Mana sih yang namanya pramuniaga. Dari tadi kok yang pake label nama gak ada yang namanya pramuniaga"


Karena terlihat bingung, seorang pramuniaga toko mendekati Eneng menawarkan bantuan.


"Selamat siang kak. Ada yang bisa saya bantu"


Eneng menoleh. Pertama yang dia lihat adalah nama yang tertera didadanya.


"Yah nama dia Toni bukan Pramuniaga. Ck mana sih yang namanya pramuniaga"


Eneng bergumam dalam hati sambil menatap pria bernama Toni tersebut.


"Kak. Halo kak. Bisa saya bantu"


"Eh anu mas. Pramuniaga mana ya mas. Saya butuh bantuan"


"Saya pramuniaga disini kak. Barang apa yang kakak cari"


"Masa. Bukannya mas namanya Toni bukan Pramuniaga"


Toni mengerutkan keningnya. Karena dia tak paham apa yang dimaksud oleh Eneng.


"Maksudnya gimana kak"


"Gini loh mas. Saya mau minta bantuan sama yang namanya pramuniaga bukan Toni"


"Saya memang pramuniaga disini kak. Bisa kakak lihat dari seragam saya kak"


"Iya saya tau mas pegawai disini. Tapi mas bukan pramuniaga"


Toni yang bingung hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Ini gue yang salah jelasin apa emang dia yang gak paham"


Toni bergumam dalam hatinya. Eneng mencoba kembali bertanya kepada Toni dan itu semakin membuat Toni bingung.


"Mas tau yang namanya pramuniaga. Saya butuh dia"


"Ya saya kak"


"Kok ngeyel sih mas. Mas amsesia apa sampai lupa sama nama sendiri"


"Amsesia ?"


"Iya amsesia yang artinya lupa ingatan"


"Oh amnesia kak maksudnya"


"Heleh sama saja. Dah cepat panggilin si pramuniaga"


Seseorang yang sedari tadi berdiri dibelakang Eneng akhirnya tak bisa menahan tawanya. Berkat dia Toni merasa terselamatkan.


"Hahaha. Mas sudah sana kembali kerja saja. Sebelum mas semakin stres dibikin dia"


"Kakak kenal kakak ini"


"Iya saya kenal. Biar saya saja yang membantunya"


"Oh terimakasih banyak ya kak. Selamat sudah hidup saya"


Toni langsung pergi dengan perasaan lega seperti terbebas dari sebuah hukuman. Eneng yang masih terkejut melihat seseorang yang sering ditemuinya saat dirumah sakit, masih menatap dengan tatapan terpana.


"Mana catatan belanjaan kamu neng. Sini saya bantuin"


"Ah pangeran ku. Kamu selalu datang disaat yang tepat"


"Hahaha saya pangeran tanpa kuda putih neng"


"Gak masalah. Yang penting bisa ditunggangi"


"Hahaha dasar otak kamu selalu saja oleng"


"Ah salah sendiri dokter Airil tampan. Eneng kan jadi oleng"


"Hahaha. Kamu neng. Udah yuk saya bantu neng"


"Ah bahagianya. Serasa lagi belanja sama suami. Peluk boleh"


"Boleh boleh. Hahaha"


Eneng langsung memeluk lengan Airil. Airil tak merasa risih. Karena dia sudah terbiasa dengan kelakuan Eneng. Eneng bahkan menceritakan kepada Airil tentang pramuniaga yang dicarinya. Airil benar-benar dibuat tertawa oleh Eneng. Segala penatnya setelah kerja hilang sudah.


"Eneng gak salah kan A'. Tapi orang yang namanya Toni saja yang gak mudeng"


"Iya kamu gak salah neng. Dia aja yang gak pinter. Dah sekarang kan ada saya. Jadi saya yang akan bantuin"


"Emang Aa gak kerja"


"Baru saja pulang neng. Saya masuk malam"


"Enak gak enak neng. Tapi karena itu pekerjaan saya, jadi saya suka"


"Kalau sama Eneng suka gak"


"Suka dong. Hahaha"


"Pak penghulu dimana ya"


"Mau ngapain"


"Mau halalin Aa'"


"Hahaha harusnya saya yang bilang gitu neng"


"Sama saja A'. Tujuannya pun sama"


"Hahaha ya ya. Kamu benar"


Mereka berjalan dengan Eneng tetap saja bergelayut manja pada lengan Airil. Dia membantu mencari belanjaan Eneng hingga selesai. Airil juga sudah selesai dengan belanjaannya. Tragedi kembali dikasir. Belanjaan Eneng sedang dihitung.


"Kakak total belanjanya empat ratus enam puluh lima ribu"


"Oh ya Mbak. Bentar"


Eneng mengambil dompet dalam tas kecilnya mengeluarkan uang sejumlah yang diberitahukan oleh kasir.


"Ini uangnya mbak"


"Baik kak. Oya apa kakak berkeinginan membeli produk yang berada dikasir"


"Kenapa emangnya mbak"


"Jika kakak membeli salah satu barang disini, artinya kakak menyumbang untuk anak yatim-piatu"


"Oh gitu. Baiklah. Saya pilih dulu"


Eneng melihat kotak berwarna merah. Dia langsung mengambilnya dua box. Airil ya g mengerti apa yang Eneng ambil, ingin dia cegah tapi terlambat karena Airil berada di antrian yang berbeda. Airil hanya bisa menggaruk tengkuknya. Sedangkan sang kasir hanya tersenyum.


Airil juga selesai membayar. Dia membantu Eneng membantu membawa barang belanjaan eneng sampai mobil. Mang Sueb yang melihat Eneng langsung membantu. Eneng ingat membeli dua kotak permen dan akan memberikan kepada Airil sebagai ucapan terimakasih.


"Dok. Makasih udah dibantuin. Ini permen buat dokter"


Mang Sueb yang melihat kotak yang Eneng berikan kepada dokter tampan itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Airil juga kaget Eneng memberikan kotak yang tadi hendak Airil cegah. Airil salah tingkah. Apalagi mang Sueb berusaha menahan tawanya. Akhirnya Airil mengajak Eneng berbicara berdua didalam mobilnya.


"Ikut saya sebentar yuk neng"


"Kamana A'"


"Udah ayo. Bentar saja"


Eneng mengikuti langkah Airil dan masuk kedalam mobil. Perlahan Airil menjelaskan kepada Eneng tentang kotak itu.


"Neng dengerin saya ya. Jangan dijawab dulu"


"Iya A'


"Neng yang kamu berikan kepada saya ini, kamu tahu gak apa"


"Permen karet"


"Tahu dari mana kalau itu permen karet"


"Tadi ada mbak-mbak yang ambil juga. Terus cowok dibelakangnya bilang. Yang strawberry aja yang biar asem-asem seger. Berati permen kan"


Airil tersenyum canggung. Setelah menghela nafas cukup dalam, Airil kembali menjelaskan.


"Eneng ini bukan permen karet. Tapi ini adalah konmod"


"Apa itu A'"


"Kamu gak tau beneran"


"Nggak"


"Lihat pernah belum"


"Baru sekarang"


"Hem. Jadi ini sarung buat anu neng"


"Anu siapa A'"


"Ya itu anu. Halah itu loh neng masa gak paham"


"Iya anu apa A'. Bingung Eneng"


Terpaksa Airil menunjukkan gambar yang ada dipetunjuk pemakaian barang tersebut. Eneng langsung melongo.


"Jadi ini"


"Iya neng. Dan bukan permen"


"Eneng malah jadi penasaran deh A'"


"Apa"


"Apa Otong juga ikut sholat kok disarungin segala"


"Hadeh. Pusing neng"


"Kok pusing sih A'. Kan Aa' lebih paham. Terus gimana caranya Otong pake sarungnya"


"Jangan bilang kamu suruh saya praktekkan neng"


"Boleh boleh"


"Duh Gusti. Tolong Airil ya Allah. Selamat datang di dunia Eneng"


____


Eneng datang gaesss...Eneng itu emang otaknya mesum ya gaesss tapi aslinya masih polos. Jadi jangan heran setiap omongannya menjurus dan oleng sama yang ganteng-ganteng


Jangan lupa bahagia


jempolnya digoyang yuk