Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Periksa



"Kang. Waktu kita kerumah emak masalah Tati itu, emak pernah ngomong sesuatu sama Eneng"


"Ngomong apa sayang"


"Hmmm"


"Hmmm. Ngomong hmm gitu"


"Hush gak lah kang. Tapi anu.."


"Anu apa sayang"


"Ituloh kang. Anu.."


"Aduh jangan main kode sayang. Akang pusing. Anu apaan"


"Anak"


"Anu anak. Anak siapa sayang yang anu"


"Kok malah jadi anak anu sih kang. Bukan itu maksudku"


"Terus. Anunya sianak kenapa"


"Bukan itu juga kali kang. Jangan lemot deh. Dokter kok lemot"


"Yang jelas cintaku. Jangan main kode. Akang bukan anak Pramuka"


"Emak tanya kapan mau punya anak"


"Oalah itu toh maksudnya. Lah kamu kapan mau punya anak sayang. Akang mah siap kapan aja"


"Eneng juga sama kang. Tapi semua kan terserah yang ngasih. Mau usaha jungkir balik pake bahan yang unggulan pun kalau yang ngasih belum oke. Ya sama saja"


"Hmm. Perasaan kita nikah baru jugaima bulan sayang. Gak santai aja dulu gitu. Pacaran aja dulu. Kan enak pacaran sesudah halal. Gak ada batasan. Mau ngapain hayo aja"


"Neng sih udah jelasin ke emak gitu. Tapi malah emak bilang dikasih waktu enam bulan. Kalau belum isi juga , emak mau ngasih jurus andalan"


"Widiw emak gue jagoan dong punya jurus andalan"


"Iya jurus andalan pada masanya dulu. Sekarang lawan main aja gak punya gimana mau disebut jurus andalan. Yang anda ngomel andalan"


"Hahaha. Kamu beib kebiasaan ya kalau bully emak seenak hati"


"Bukan bully kang tapi emang kenyataannya gitu"


"Hmm. Kalau menurut akang sih neng, kita coba periksa kondisi rahim kamu dulu aja"


"Biar apa kang"


"Biar kita tahu apa ada masalah atau tidak sama rahim kamu. Gitu sayang"


"Boleh kang. Kapan mau periksa"


"Besok coba akang daftarkan kamu dulu di dokter kandungan rumah sakit tempat akang kerja"


"Oke kang. Eneng sih manut aja"


"Oya sayang katanya Japri mau ke kota nyari kerja"


"Akang tau darimana"


"Kemarin pas jaga malam, kang Arif telpon akang. Terus ya minta tolong kalau misal ada lowongan kerja gitu"


"Terus akang setuju"


"Kenapa harus nolak sayang. Lagian Japri memang harus menafkahi Dzaky"


"Iya kang"


"Kamu ada info gak lowongan kerja"


"Ada sih. Mas Atha lagi nyari supir buat istrinya"


"Emang Japri bisa nyetir sayang"


"Gak tau juga kang. Coba aja ntar akang tanya sama kang Arif atau Japri sendiri"


"Iya deh. Selain ditempat mas Atha, ada lagi gak neng"


"Rumah tuan Jay sih selalu terbuka untuk membantu kang"


"Mereka memang orang baik sayang. Akang selalu salut sama mereka. Kekayaan mereka tak terhitung. Namun gaya hidup mereka benar-benar sederhana. Bahkan bergaul lebih suka dengan masyarakat biasa"


"Mereka itu luarnya aja kayaknya nakutin kang. Padahal dalamnya biasa aja. Bahkan pakaian mereka kebanyakan obralan"


"Masa sih sayang. Akang pernah lihat mereka pakai baju bermerek kok"


"Cuma punya satu doang. Warnanya biru dongker kan"


"Iya. Kok tau"


"Ya taulah. Itu baju harganya mihil banget. Dibeli waktu pernikahan si uwak bule. Karena kalah taruhan. Habis beli baju mihil itu, tuan Jay cemberut terus selama tiga hari. Tahu gak kang apa kata dia"


"Apa neng"


"Kemarin buat beli baju dimall udah dapat satu truk. Ini timbang dipake sekali aja harganya bikin panas dingin"


"Hahaha. Sampai segitunya"


"Hmm. Tapi dia gak pernah pelit sama pegawai dan keluarganya. Setiap mereka beli pakaian, pegawainya juga dibelikan"


"Beruntungnya kamu sayang. Dua kali kerja mendapat majikan. yang benar-benar baik banget"


"Iya kang"


.


.


.


Airil sudah membuat janji dengan dokter kandungan dirumah sakit tempat dia bekerja. Yang pasti Airil memilih dokter wanita. Ada beberapa dokter wanita, Airil memilih dokter senior. Mengingat salah satu dokter kandungan yang muda pernah menyatakan cinta kepada Airil dua hari sebelum dia menikah. Airil bukannya tidak ingin jujur, tapi bagi Airil itu masih dalam tahap wajar. Dia hanya menyatakan dan berhenti setelah ditolak.


"Sayang jangan lupa nanti siang periksa kandungan"


"Jam berapa kang"


"Jadwalnya jam dua sayang"


"Oke. Berarti Eneng berangkat naik taksi aja ya"


"Gapapa kan sayang. Nanti akang ada operasi. Kalau selesai sebelum jam dua, akang jemput"


"Gak usah kang. Eneng udah lama gak naik bis. Pengen naik bis. Biasanya banyak cowok cakep nya"


"Ehem. Apa yang dihadapan kamu ini kurang tampan"


"Cari yang fresh kang. Buat penyegaran mata"


"Akang jemput"


"Gak nanti nyasar"


"Gak akan nyasar. Eneng udah hafal jalurnya kok"


"Bukan nyasar jalan. Tapi nyasar haluan lihat yang bening dikit. Padahal gak tau aja hasil permakan"


"Ih kok gitu sih kang"


"Pokoknya akang jemput"


"Gak usah. Ntar bareng Mbak Seila aja. Lagian kalian satu rumah sakit kan"


"Beneran loh. Awas kalau naik bis"


"Hmmm"


Selesai sarapan, Airil langsung bergegas berangkat. Gama sudah menelpon dan mengatakan jadwal operasi dimajukan. Eneng pun meninggalkan rumah setelah membereskan pekerjaan dirumahnya. Hari Eneng tidak perlu datang kerumah Jay, dia langsung menuju rumah Gahydan.


Hari ini Seila juga masuk praktek pagi. Eneng sengaja mengabari Airil saat dia sedang operasi. Secara otomatis pesannya tidak langsung dibaca dan dibalas. Eneng berangkat menggunakan bis.


"Wah ini ni yang disebut gak dapat ridho suami. Niat hati mau cari yang fresh dapatnya keriputan semua. Nasib-nasib"


Sampai dirumah sakit Eneng sedikit kesal. Ditambah Airil saya juga menunggunya didepan loby. Airil juga kesal karena Eneng melanggar perkataannya.


"Assalamualaikum kang"


"Waalaikumsalam. Gimana enak naik bisnya"


Dengan wajah cemberut, Eneng menggeleng. Melihat sang istri bermuram durja, Airil ingin tertawa tapi ditahan. Apalagi dirumah sakit dia jarang tertawa.


"Yuk ke ruangan akang dulu. Dokternya baru datang setengah jam lagi"


"Hem"


Airil merangkul pundak Eneng. Pemandangan yang membuat hati para perawat dan dokter wanita hancur. Apalagi Airil tersenyum begitu tulus dan pandangannya hanya kepada Eneng saat berbicara.


"Kenapa muka ditekuk gitu"


"Lagi kesel"


"Kenapa. Bukannya tadi pagi semangat ya mau lihat yang bening-bening"


"Huahhhhhh. Inikah yang dinamakan karma istri pembangkang"


"Heh kok gitu ngomongnya. Jangan nangis dong. Dikira kamu akang anu-anuin loh"


"Anuin aja ikhlas eneng"


"Haha maunya. Cepetan ngomong kenapa nangis"


"Gak dapat yang bening. Dapatnya keriputan semua. Mana ada yang ompong lagi. Huahhhh. Hariku suram deh"


"Hahaha. Makanya jangan bandel. Rasain kan dapat karma terindah. Hahahaha"


"Ih akang gitu deh"


"Udah. Gak usah nangis. Yuk ke ruangan dokter Mela"


Lengan Airil dipeluk erat oleh Eneng. Sesekali mereka bercanda. Memang lorong ruangan aiirl sedikit sepi. Karena bukan dokter umum. Didepan ruangan dokter kandungan, Airil kembali mendaftar.


"Wah istri dokter Airil sudah isi ya"


"Insyaallah sus"


"Bu Airil diperiksa tekanan darahnya dulu. Sama ditimbang berat badannya"


"Ya sus"


Airil terus saja berdiri disamping Eneng. Seperti takut Eneng akan hilang. Sikapnya itu membuat iri beberapa ibu muda yang juga ikut mengantri.


"Sudah. Silahkan duduk dulu. Nanti dipanggil lagi"


"Makasih sus"


Airil merangkul pundak Eneng seolah memapahnya untuk duduk di kursi tunggu. Karena sudah mendaftar terlebih dahulu, Eneng tak perlu menunggu lama sudah dipanggil.


"Nyonya Suci"


"Ya"


Airil kembali merangkul pundak Eneng. Saat masuk kedalam ruang pemeriksaan, dokter senior itu sedikit terkejut melihat siapa pasiennya.


"Loh istrinya dokter Airil toh"


"Iya dokter Mela"


"Gimana ada keluhan atau sudah telat"


"Kita mau periksa kondisi rahim istri saya dok"


"Kayaknya belum lama kan nikahnya. Udah ngebet banget"


"Bukan dok. Cuma pastiin aja sehat atau tidak. Lebih baik kita periksa diawalkan dok. Daripada pas hamil ada masalah"


"Iya benar sekali dokter Airil. Sebaiknya kita periksa sekarang ya. Bu Airil bisa tiduran dulu. Sus tolong dibantu"


"Baik dok"


Eneng sudah tidur diatas bed pemeriksaan. Bajunya sudah disingkap keatas. Airil masih setia berada disampingnya. Perawat mulai mengoleskan gel. Dokter Mela langsung mengambil alat transduser dan mulai memeriksa.


"Hmm kalau kita lihat disini. Sepertinya tidak ada masalah. Tapi sebaiknya kita lakukan USG transvaginal agar bisa diketahui kualitas ovarium dan kondisi sesungguhnya rahim ibu. Bagaimana"


Eneng melihat kearah sang suami. Karena sungguh dia tidak paham apa maksud dokter tersebut.


"Lakukan saja dok"


"Tidak bisa langsung sekarang dok. Harus saat Bu Suci masa subur"


"Hmm begitu ya dok"


"Nanti datang kesini sehari setalah datang bulan ya Bu. Dan tolong usahakan sudah buang air kecil. Agar mempermudah pemeriksaan"


"Baik dok"


"Saya resepkan vitamin saja ya"


"Ya dok"


Dokter Mela menulis resep untuk Eneng. Setelah diberikan kepada Airil mereka berpamitan. Saat menunggu diapotek. Airil mendapat pesan dari dokter Mela. Meminta menemuinya secara khusus setelah Eneng pulang.


_______


Hmmm ada apakah....


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk