
Setelah mogok beberapa hari dengan Thian, akhirnya KunNo mau menampar wujudnya kembali. KunNo bersedia ikut ke kampung. Airil akan meninggalkan sikembar dikampung. Dan menjemput kembali setelah mendekati masuk sekolah. Kini mereka sudah dalam perjalanan. Awalnya si kembar Dean akan ikut. Namun mereka diminta untuk ikut Atuk Syakir ke Malaysia.
"Mah. Nanti Thian nitip sesuatu ya"
"Apa dek"
"Besok pagi atau terserah mama aja. Tolong kasih makan hasil eksperimen kami ya mah"
"Oh. oke"
Sepanjang perjalanan, Fathan lebih sering tertidur sedangkan Fathian menikmati pemandangan dari jendela mobil. Eneng dan Airil akan menginap satu malam. Esok mereka kembali ke kota untuk bekerja. Awalnya Eneng ingin tinggal dikampung bersama anak-anak. Airil tak mau jika dia hanya sendiri dikota.
Mereka tiba dikampung tengah hari. Emak tidak tahu jika cucunya akan datang. Emak sedang asyik berkebun. Semenjak kendil jennar meninggal dunia dan sang suami memilih kembali ke kampung asalnya. Emak Eneng yang mengurus kebun kendil jennar. Karena Mak Ijah alias kendil jennar tidak memiliki saudara, dan juga keturunan.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga"
Thian berlari menuju rumah emak sambil berteriak memanggil Omanya. Sedangkan Fathan masih mengumpulkan tenaga setelah bangun tidur.
"Omaaaa. Oh omaaaa"
Emak mendengar panggilan Thian. Langsung beranjak dari kebun sawi dibelakang rumah Mak Ijah. Dia berlari pelan. Namun tak jua sampai. Thian melihat emak berlari pelan. Karena emak memang masih semlehoi, membuatnya susah berlari. Thian pun berteriak yang membuat kepanikan. Dan reflek kembali masuk mobil.
"Gajah lepas. Awas ada gajah lepas"
Thian berlari dan naik ke kap mobil. Sedangkan yang lain kembali masuk ke dalam mobil. Emak yang mendengar teriakan Thian menjadi kesal"
"Dasar bocah sableng. Seenak jidat loe ngatain. Oma gajah"
Eneng dan Airil yang baru menyadari jika ynag dimaksud Thian adalah emak, mereka kompak tepuk jidat. Fathan hanya terkikik geli melihat Omanya sudah sangat kesal. Emak mendekati kearah mobil. Dia langsung menjewer telinga Thian.
"Ampun Oma. Ampun"
"Loe berani banget ngatain oma gajah. Apa oma segede itu hah"
"Ampun Oma. Oma gak segede gajah cuma segede mamoth"
Emak salah mendengar apa yang dikatakan oleh Thian. Tapi karena salah mendengar perkataan Thian, dan emak mengira jika Thian mengatakan kata marmut bukan mamoth si nenek moyang gajah.
"Nah itu baru benar. Marmut kan lucu"
"Hee lucu Oma. Lucu banget"
Emak melepaskan jewerannya di telinga Thian. Fathan tertawa geli mendengar emak bangga dijuluki mamoth oleh Thian. Thian merangkul pundak emak dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Ayo Oma mamoth kita masuk kerumah"
Eneng yang belum paham apa itu mamoth, mencoba bertanya kepada Airil. Airil pun menjelaskan dan Eneng langsung geleng kepala.
"Akang. Apa itu mamoth"
"Mamoth itu gajah dijaman purbakala sayang. Bisa dikatakan nenek moyang gajah"
"Huh. Terus apa bedanya sama gajah dong. Dasar Thian"
"Hahaha. Beda masa saja sayang"
Mereka semua masuk kedalam rumah emak. Rumah yang masih tetap sama tidak berubah sama sekali. Bahkan Eneng pernah menawari agar rumah emak direnovasi. Namun emak tidak mau.
"Kalian kenapa gak ngomong kalau mau kesini"
"Kejutan Oma"
"Mau nginep kan"
"Eneng sama akang cuma semalam Mak. Si kembar satu Minggu disini. Mereka libur sekolah"
"Baiklah. Oma akan membuat liburan kalian lebih berwarna"
Eneng mulai curiga dengan perkataan emak tadi. Karena emak itu begitu amazing dan pasti idenya juga gak kalah gila. Mereka makan siang bersama. Karena tak ada persiapan, emak memasak apa yang ada di kebun. Bahkan lauk pun hanya mengambil dari empang milik Mak Ijah yang sudah diwariskan kepada emak.
"Mama. Papa. Thian mau jalan-jalan ya"
"Gak istirahat saja kamu dek"
"Gak capek kok mah"
"Setidaknya setelah makan siang dek"
"Belum lapar pah. Nanti saja"
"Ya sudah sana. Jangan pulang sore-sore dek"
"Yoi bos. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Thian sudah mengambil sepeda milik Eneng dulu dan tak lupa kamera tergantung dilehernya. Disaat sang adek memilih menjelajah, Fathan memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan mendengarkan musik.
Thian berkeliling kampung mamanya. Banyak mata memandang Thian. Thian tak lupa tersenyum jika berpapasan dengan para 3. Karena memang liburan sekolah, kampung menjadi ramai. Anak-anak seusia Thian semua sedang asyik bermain di lapangan. Thian berhenti untuk mengambil gambar mereka saat bermain bola.
Thian tidak menyadari kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi para gadis muda disana.
"Wah ada pangeran tampan"
"Ya Allah apakah dia jawaban doa ku"
"Bening banget"
Thian sudah lima belas menit mengambil foto disana. Dia gatal ingin ikut bermain. Dengan sikap humble yang dimiliki Thian, dia sangat mudah untuk membaur.
"Hei. Boleh ikutan main gak"
"Boleh. Tapi kamu siapa"
"Oh. Kenalkan gue Thian. Anak mama Eneng"
"Oh. Anak teteh Eneng. Gue Iqbal. Ini teman-teman gue"
Mereka akhirnya bermain bola bersama. Lapangan semakin dipadati para gadis muda. Pesona Thian memang membawa daya tarik tersendiri. Bahkan setiap Thian membawa bola, semua bersorak.
"Permainan loe bagus banget"
"Kalian juga"
"Loe liburan disini Thian"
"Iya"
"Loe sendiri Thian"
"Nggak. Sama Abang"
"Abang loe gak ikut jalan"
"Nggak. Abang dirumah Oma"
"Habis ini mau kemana loe"
"Jalan-jalan aja disekitar sini"
Beberapa gadis mendekat kearah Thian dan teman-temannya. Kebetulan gadis itu termasuk kembang desa. Dia berjalan dengan gaya cantiknya bersama beberapa temannya.
"Hai. Boleh kenalan tidak"
Semua mata tertuju pada kembang desa tersebut. Thian menengok dan hanya terdiam. Dia merasa bukan dirinya yang dipanggil, Thian hanya diam saja. Dan asyik berselfie bersama teman barunya. Salah satu teman baru Thian bertanya kepada gadis itu.
"Kamu mau kenalan dengan siapa Mar"
"Yang jelas buka loe. Atau kalian semua"
"Maksud loe pasti dia kan"
Iqbal yang duduk tak jauh dari Thian, menunjuk kearah Thian sesuai kemauan gadis itu. Thian masih tak peduli. Sampai bahunya ditepuk oleh Iqbal.
"Iya gue mau kenalan sama dia"
"Oh"
Puk puk
Thian menoleh karena tepukan Iqbal. Dia masih tak memandang kearah gadis yang dipanggil Mar oleh teman Iqbal tadi.
"Ada apa bal"
"Tuh ada yang mau kenalan"
Thian baru menoleh kearah Mar setelah Iqbal memberitahu. Thian tersenyum tipis sebagai tanda penghormatan.
"Hai kenalin namaku Sina"
Selain Thian, semua yang disana tertawa. Karena Mar menyebut namanya dengan nama Sina.
"Buahahahahaha. Sina"
"Woy nama loe tuh Marsinah. Sejak kapan jadi Sina"
Wajah Marsinah cemberut mendengar perkataan Iqbal dan teman-temannya. Sedangkan Thian berusaha menahan tawanya. Mungkin jika Thian bukan tamu dikampung tersebut, sudah pasti dialah orang pertama yang tertawa terbahak-bahak mendengar nama Sina.
"Kalian sirik aja. Lagian kan gak salah. Memang namaku Sina"
"Sudahlah Mar. Biasanya juga kita manggil loe Marsinah"
Sebagai lelaki yang gentle. Thian berdiri dan menjulurkan tangannya.
"Gue Thian. Salam kenal"
__________
Maaf baru up....Mungkin untuk dua hari ke depan gak up dulu. Anak ku jatuh gaesss. Dan mukanya lukanya lumayan buat anak seusia 2tahun. Jadi mohon bersabar ya...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk